Wonorejo merupakan desa yang terletak di Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Dengan sumber daya yang ada, pemerintah desa terus berupaya mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki Desa Wonorejo. Berbagai program pemberdayaan masyarakat, pembangunan infrastruktur, dan lainnya telah diupayakan. Melalui kerja sama yang erat antara pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga, Desa Wonorejo terus bertransformasi menjadi desa yang lebih maju, namun tetap menjaga kearifan lokal dan kelestarian alam. Desa ini menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat pedesaan dapat memadukan pembangunan dengan pelestarian tradisi dan lingkungan hidup.
Desa wonorejo merupakan Desa yang berbatasan langsung dengan Kota Solo. Wilayahnya yang sekitar 400 ha. Dihuni sekitar 10.000 jiwa, Wonorejo merupakan Desa paling padat dibandingkan desa-desa lain di Gondangrejo. Letaknya yang berbatasan langsung dengan Mojosongo dan Kadipiro, Kota Solo, menjadi pilihan realistis pengembang perumahan untuk memperluas usaha properti. Seiring harga tanah di Solo yang semakin mahal, Wonorejo semakin dilirik masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal baru. Sedikit demi sedikit Alas (hutan) Wonorejo di tebang untuk di jadikan tempat tinggal. Tahun demi tahun jumlah penduduk di Wonorejo semakin padat, hal ini tentunya merupakan situasi yang jauh berbeda dengan kondisi Wonorejo puluhan tahun silam. Menurut Informasi yang dihimpun, Desa Wonorejo dahulu kala merupakan alas gung lewang lewung alias hutan yang sangat lebat, bahkan binatang liar berbahaya hidup bebas di hutan Wonorejo.
Sejarah menceritakan, tersebutlah sosok Kiai Saudo yang konon menjadi tokoh sentral lahirnya Desa Wonorejo. Ditemani beberapa orang, Kiai Saudo tinggal di salah lokasi di hutan Wonorejo. Ketika itu wilayah Wonorejo masih tanpa nama. Tak banyak kesaksian yang didapat tentang sosok Kiai Saudo, dari sejumlah tokoh dan sesepuh Desa Wonorejo. Salah seorang sesepuh Desa Wonorejo, Mangun Diharjo, 84, menuturkan cikal bakal Wonorejo adalah sosok Kiai Sauda. Diduga kuat beliau mengabdi kepada Keraton Kasunanan Surakarta. “Kira-kira Mbah Kiai Sauda adalah abdi dalem Keraton Solo. Jabatannya semacam bekel. Begitu kira-kira. Yang jelas beliau adalah yang memulai tinggal di hutan Wonorejo” tutur Mbah Mangun saat ditemui kediamannya. Mbah Mangun mengisahkan suatu ketika Kiai Sauda pernah menyampaikan kepada pengikutnya, bila suatu ketika tempat yang ditinggalinya tersebut telah banyak penghuninya, dia ingin menamainya dengan nama Wonorejo. Pernyataan dari sang kiai sontak menyebar dari mulut ke mulut. Bahkan cerita sosok Kiai Sauda dan pernyataannya tentang Desa Wonorejo menyebar secara turun temurun. Mbah Mangun adalah salah satu generasi kesekian yang mendapat cerita tersebut. "Suk yen ana rejaning zaman, panggonan iki tak jenengi Wonorejo, begitu lebih kurang ungkap Kiai Sauda,” tutur Mbah Mangun. Wonorejo sendiri berarti semakin ramai. Kini Wilayah Wonorejo kian lama kian padat penduduk. Sedikit demi sedikit area hutan di alih fungsikan menjadi perumahan. Sebagian masyarakat Wonorejo sendiri diketahui merupakan pendatang. Mbah Mangun mengatakan yang tertinggal dari sosok Kiai Sauda adalah pusaranya di sudut dusun. Anak keturunan dari Kiai Sauda telah berpencar ke berbagai wilayah. Walau saat ini masih ada beberapa keturunan Kiai Sauda yang tinggal di Wonorejo. Tempat di mana Kiai Sauda pernah tinggal diberi nama Saudan. Tempat tersebut diakui sebagai pusat dan cikal bakal lahirnya Desa Wonorejo.
Berkembangnya kemajuan Desa Wonorejo di sektor industri dan keberadaan wilayah desa yang semi kota, tidak membuat desa ini kehilangan tradisi-tradisi lokal yang ada di desa tersebut. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan hingga saat ini adalah tradisi "Karawitan", yang masih tetap terjaga keberlangsungannya oleh pengurus karang taruna Desa Wonorejo. Salah satu pengurus karang taruna menyebutkan bahwa setiap beberapa minggu sekali diadakan pelatihan rutin Karawitan. Biasanya acara Karawitan ini akan digunakan di acara-acara desa seperti khitanan warga desa atau hajatan yang dilaksanakan oleh warga desa setempat.