Sejarah telur asin bermula dari kisah pilu masyarakat Tionghoa yang tinggal di pesisir pantai pada masa transisi kemerdekaan. Bagi mereka, telur asin tak hanya menjadi penganan istimewa, tetapi sumber mata pencaharian yang mereka miliki untuk bertahan hidup di masa sulit. Selepas revolusi, pada masa transisi periode 1945-1949, terjadi dekolonisasi yang mengakibatkan konflik minoritas kaum Tionghoa kian memanas. Pada saat itu, masyarakat Tionghoa yang melarikan diri, bertahan hidup berbekal makanan yang diawetkan, yang salah satunya adalah telur.
Proses pengawetan makanan tersebut, merupakan keterampilan tradisional yang sudah mendarah daging dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa di awal abad ke-20. Di mana proses pengawetan makanan tersebut mengandung filosofi gotong royong, teknologi pangan, dan pengetahuan tradisional masyarakat Tionghoa.
Telur asin dibuat dengan cara mencampurkan telur ke dalam cairan garam lalu mengeringkan dan memadatkannya dengan lapisan garam kasar, pasir, atau tanah liat. Proses pengasinan ini dipercaya dapat memperpanjang usia telur, karena pada saat itu belum ada teknologi pendinginan.
Di tahun 1950an, telur asin menaruh banyak perhatian dari berbagai kalangan dan mulai di produksi dalam jumlah besar. Menurut cerita yang diyakini oleh masyarakat Tionghoa, di Indonesia, telur asin mulai dipopulerkan oleh pasangan suami-istri bernama In Tjiau Seng dan Tan Polan Nio.
Hingga saat ini, eksistensi telur asin kian merebak ke berbagai olahan makanan. Istilah "Salted Egg" yang populer di kalangan milenial, kini menjadi menu andalan di berbagai restoran lokal hingga mancanegara.
Sumber : https://infogarut.id/public/asal-usul-telur-asin-lahir-dari-kisah-pilu-masyarakat-tionghoa
Sumber anti Oksidan, Sumber karotenoid, Sumber Selenium, Vitamin D, Vitaman A, Vitamin B5, Vitamin B12, Vitamin B2, Vitamin E, Sumber Protein, Sumber Antioksidan, Sumber Mineral dan meningkatkan penyerapan Nutrisi.
Sumber, Dokter sehat