Culture Shock
Setelah perjalanan panjang yang membuat pantat tepos, akhirnya aku dan temanku sampai di bandar udara Schiphol, Belanda. Dari bandara kami menggunakan taksi ke hotel karena tibanya jam sebelas malam, hanya memakan waktu sekitar sembilan menit. Aku lupa nama hotelnya, tapi view-nya danau. Termasuk murah pada waktu itu untuk harganya. Tujuh malam kalau di-rupiahkan sekitar dua jutaan.
Tiba di hotel, kami langsung tepar. Mungkin terlalu lelah karena total perjalanan hampir 24 jam. Tidur pakai sepatu lengkap dengan jaket tebal dan koper yang bercerai-berai. Persis habis digusur.
Kekacauan pertama terjadi saat di museum bawah tanah Vondel Park. Perutku tiba-tiba mules selepas makan stamppot. Katanya, sih, ini makanan khas Belanda yang terbuat dari kentang rebus lalu dihancurkan dan dicampur dengan sayur-sayuran lain. Dihidangkannya dengan sosis besar. Ada juga yang pakai daging.
Kembali ke perut mules. Aku pamit ke toilet sebentar, temanku mengiyakan. Perut sudah lega, tapi aku baru sadar kalau di toilet itu nggak ada semprotan bahkan air sama sekali. Hanya ada tissue. What?
Aku bolak-balik menghubungi temanku. Tidak tersambung. Yaiyalah, Markonah! Wong hand wifi ada di tanganku. Rencana ngirit bikin kecepirit.
Aku memberanikan diri meminta bantuan orang yang ada di toilet. Beruntung ada seseembak bule yang mau bantuin mengambilkan air dari wastafel dan mengorbankan botol minumnya untuk aku cebok. Wkwkwkwk. Perkenalan yang sangat tidak elegan. Cih!
Itu salah satu budaya yang membuatku shock. Cebok menggunakan tissue. Selanjutnya ada beberapa hal lain yang membuatku kaget, porsi makan di sana super besar, bisa untuk dua sampai tiga orang Indonesia. Engap-engapan habisin makanan sepiring.
Kebiasaan di Indonesia setiap bertemu orang selalu memberikan senyum. Jurus ini aku pakai di sana. Eh, dicuekin, dong. Yang lebih parah lagi saat jalan-jalan di Vondel Park, aku dipelototin emak-emak karena senyum dan melambai-lambaikan tangan ke anaknya yang menggemaskan. Nasib lah memang.
Matahari yang terbit lebih cepat dan tenggelam lebih lama juga sukses membuatku melongo. Bayangkan aja, jam tiga malam di sana udah terang. Lalu, jam sembilan malam juga masih terang-benderang. Gelapnya hanya beberapa jam saja. Tergantung musim.
Saat belanja di supermarket, jangan harap ada Mba-mba yang bantuin masukin belanjaan ke kantong kresek. Eh, nggak ada kresek juga. Harus bawa tas sendiri dari rumah atau beli shopping bag yang disediakan dan masukin sendiri belanjaannya. Orang sana kebanyakan bayar pakai card, jarang yang cash.
Di sana orang-orang lebih suka memakai sepeda ke mana-mana. Beda jauh dengan di Indonesia, jarak seratus meter aja pakai motor. Wkwkwkwk. Itu aku.
Kebetulan di sana kami punya teman, tepatnya guest yang menjadi teman akrab, sih, sewaktu bekerja jadi tour guide dulu. Dia mengundang kami ke acara ulang tahunnya saat itu. Mereka menyebutnya party.
Di pikiranku yang namanya party pasti besar-besaran kayak di Indonesia. Oops, kesempatan cari jodoh, nih. Lhadalah, pas tiba di rumahnya, kok, tamunya cuma ada beberapa orang aja. Musnah sudah rasa ingin caper. Gagal bertemu jodoh, deh.
Sebenarnya masih banyak hal-hal yang membuat kaget sekaligus terkagum-kagum saat di sana. Kali ini itu aja dulu, deh. Lagi mampet mau nulis apa.