Sejarah kejadian bencana yang pernah terjadi di suatu wilayah akan menjadi dasar dalam pengkajian risiko bencana di wilayah tersebut.
Catatan sejarah kejadian bencana beserta besaran dampak yang ditimbulkan dapat dijadikan sebagai pemahaman terhadap risiko bencana terkait dengan kerentanan, kapasitas, paparan, karakteristik bahaya dan lingkungan sehingga dapat diketahui upaya yang dapat dilakukan untuk pengurangan terhadap risiko bencana tersebut.
Catatan kejadian bencana yang pernah terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur menurut catatan Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) yang dikeluarkan oleh BNPB dapat dilihat pada tabel berikut.
Sumber : https://sejarah.dibi.bnpb.go.id Kontributor M. chowahir zadah
Dari data tersebut, wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur telah mengalami 843 kejadian bencana dalam 22 tahun terakhir. Masing-masing bencana memberikan dampak berupa korban jiwa serta kerugian dan kerusakan, Jenis bencana dengan jumlah kejadian terbanyak adalah cuaca ekstrim (angin puting beliung).
Sedangkan jenis bencana dengan dampak terbesar adalah banjir. Penanganan cepat diperlukan untuk penyelenggaraan penanggulangan bencana terkait pengurangan risiko terhadap dampak terjadinya bencana maupun terhadap potensi kejadian setiap bencana. Secara keseluruhan dari bencana tersebut, persentase jumlah kejadian bencana tersebut dapat dilihat pada grafik diatas.
Berdasarkan kajian kerentanan pada tingkat Kabupaten/ Kota, dua belas jenis ancaman yang ada di Provinsi NTT di kategorikan dalam kelas tinggi dengan potensi penduduk terpapar terbanyak pada jenis bencana Gempabumi dan Kekeringan sebanyak 4.264.239. jiwa dan 4.253.212 jiwa masuk kategori tinggi.
Tabel di samping menunjukan, potensi penduduk terpapar wilayah NTT terbanyak disebabkan oleh ancaman bencana Gempabumi dan Kekeringan sebanyak 4.264.239. jiwa dan 4.253.212 jiwa masuk kategori tinggi, jumlah penduduk terpapar ancaman bencana wilayah NTT adalah sebagai berikut:
Tabel di samping ini menunjukan tingkat kerugian di Provinsi NTT yang terdiri dari kelas kerugian baik fisik dan ekonomi dalam bentuk rupiah dan juga kerusakan lingkungan dalam Ha. Nilai kerugian terbesar disebabkan oleh ancaman Gempa bumi dengan total kerugian mencapai 13.892.270,97 juta rupiah; dan berada pada kelas sedang. Secara terinci kerugian fisik yaitu sebesar 13.834.001,97 juta rupiah, dan kerugian ekonomi sebesar 58.269,00 juta rupiah. sedangkan tingkat kerusakan lingkungan paling tinggi disebabkan oleh Banjir dengan total kerusakan seluas 1.798.514,00 ha.
Tabel disamping menunjukkan luasan multibahaya yang mungkin terjadi di Wilayah Provinsi NTT. Dari tabel tersebut, terlihat sebaran potensi multibahaya di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Hasil kajian menunjukan bahwa luas multi bahaya di Provinsi NTT adalah 4.768.925 dan berada pada kelas Sedang. Hasil analisis tersebut juga menunjukkan bahwa Kabupaten Sumba Timur memiliki luasan potensi multi bahaya tertinggi yaitu 719.575 ha, sehingga menjadi daerah dengan pengaruh bencana terbesar.
Informasi tingkat risiko bencana di Provinsi Nusa Tenggara Timur, berdasrkan dokumen Kajian Risiko Bencana Provinsi NTT untuk 12 jenis bencana berada pada tingkat bahaya, kerentanan dan risiko tinggi, sedangkan untuk tingkat kapasitas pada tingkat rendah, sesuai dengan tabel sebagai berikut:
Dari tabel di atas menunjukkan tingkat risiko berbagai jenis bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) berdasarkan analisis tahun 2021. Setiap bencana dinilai berdasarkan tingkat bahaya, kerentanan, kapasitas, dan menghasilkan tingkat risiko. Hasilnya menunjukan bahwa:
Bencana dengan Tingkat Risiko Tinggi: Semua bencana yang dianalisis, termasuk banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem, gempa bumi, tanah longsor, tsunami, dan likuefaksi, memiliki tingkat risiko tinggi. Hal ini disebabkan oleh kombinasi tingkat bahaya dan kerentanan yang tinggi serta kapasitas mitigasi yang rendah.
Bencana dengan Tingkat Kerentanan Sedang: Kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan memiliki tingkat kerentanan sedang, tetapi tetap memiliki risiko tinggi karena bahaya tinggi dan kapasitas rendah.
Telaah Tata Ruang dan Penggunaan Lahan yang Berisiko Terhadap Risiko Bencana, Pertumbuhan pembangunan yang tidak sesuai dengan peruntukan tata ruang di daerah resapan dan tangkapan air di Provinsi NTT mengakibatkan ketika musim hujan air terhambat meresap ke dalam tanah dan membentuk genangan sehingga akhirnya terjadi banjir. Pembuangan sampah di sepanjang daerah aliran sungai atau cemaran dari limbah pabrik menyebabkan terjadinya pendangkalan, rusaknya ekosistem sungai, menurunkan kualitas air tanah dan memicu risiko banjir.
Berdasarkan Kajian RTRW Provinsi NTT Kawasan Rawan Bencana Alam terdiri atas Kawasan rawan bencana di Provinsi NTT, terdiri atas: kawasan rawan longsor dan gerakan tanah kawasan rawan banjir. Kawasan rawan bencana Geologi.
Longsor
Kawasan rawan longsor dan gerakan tanah terdapat di Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Belu, Kabupaten Alor, Kabupaten Lembata, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Sikka, Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Barat
Banjir
Kawasan rawan banjir terdapat di Takari dan Noelmina di Kabupaten Kupang, Benanain di Kabupaten Belu, Dataran Bena dan Naemeto di Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Ndona di Kabupaten Ende.
Sumber : https://sejarah.dibi.bnpb.go.id Kontributor Alifia Novi Earlydani
Gunung Berapi
Kawasan rawan bencana gunung berapi meliputi :
Kawasan Gunung Inelika, Gunung Illi Lewotolo, Gunung Illi Boleng, Gunung Lereboleng, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Lewotobi Perempuan di Kabupaten Flores Timur;
Kawasan Gunung Anak Ranakah di Kabupaten Manggarai;
Kawasan Gunung Iya dan Gunung Kelimutu di Kabupaten Ende;
Kawasan Gunung Inerie di Kabupaten Ngada;
Kawasan Gunung Ebulobo di Kabupaten Nagekeo;
Kawasan Gunung Rokatenda dan Gunung Egon di Kabupaten Sikka;
Kawasan Gunung Sirung di Kabupaten Alor; dan
Kawasan Gunung Batutara dan Gunung Ile Ape di Kabupaten Lembata.
Bencana Alam Geologi
Kawasan rawan bencana alam geologi, terdiri atas :
Kawasan rawan bencana gempa terdapat di Kabupaten Ende, Kabupaten Sikka, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Timur, dan Kabupaten Alor;
Kawasan rawan bencana gelombang pasang dan tsunami terdapat di Maumere Kabupaten Sikka, Daerah Atapupu/Pantai Utara Belu, Pantai Selatan Pulau Sumba, Pantai Utara Ende, Pantai Utara Flores Timur, Pantai Selatan Lembata, dan Pantai Selatan Pulau Timor, Pantai Selatan Pulau Sabu dan Pantai Selatan Pulau Rote;
Sumber : Disarikan ulang dari Dokumen Pemaduan Unsur Penanggulangan Bencana ke dalam Rancangan Awal RPJMD Provinsi NTT Tahun 2025 - 2029