Karateristik kebencanaan Provinsi NTT dari aspek geografis, geologis, topografis, hidrologis, klimatologis dan demografis adalah sebagai berikut
Peta Multi Bahaya Kajian Risiko Bencana Provinsi NTT
Secara astronomis, Provinsi Nusa Tenggara Timur terletak pada posisi 8° – 12° Lintang Selatan dan 118° – 125° Bujur Timur. Berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 100.1.1-6117 Tahun 2022 tentang Pemberian dan pemutakhiran Kode, Data Wilayah Administrasi Pemerintahan dan Pulau, Provinsi Nusa Tenggara Timur terdiri dari 609 Pulau dan meliputi 21 Kabupaten dan 1 Kota Madya, 315 kecamatan, 305 Kelurahan dan 3137 Desa dengan total luas wilayah 46.446,644 km2. Wilayah administratif terluas adalah Kabupaten Sumba Timur 6.984 km², sedangkan wilayah terkecil adalah Kota Kupang dengan luas 159 km².
Posisi geografisnya, batas administratif Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Flores.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia.
Sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Sebelah Timur berbatasan dengan Negara Timor Leste.
Secara fisik batas wilayah Provinsi NTT berbatasan dengan negara Timor Leste dan Australia sehingga berpotensi terjadinya bencana sosial di daerah perbatasan. Selain itu sangat rentan terhadap penyebaran wabah zoonosis yang mengancam keanekaragaman hayati maupun manusia.
Kondisi Tektonik di Wilayah NTT(Sumber: BMKG.2024)
Wilayah Indonesia secara tektonik berada pada jalur pertemuan tiga lempeng aktif dunia yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng IndoAustralia. Hal ini menyebabkan banyak wilayah di Indonesia memiliki aktivitas tektonik yang tinggi termasuk di antaranya wilayah Nusa Tenggara Timur. Menurut Hamilton (1979) sebagian besar busur kepulauan NTT dibentuk oleh zona subduksi lempeng Indo-Australia yang berada tepat dibawah busur Sunda-Banda. Hal ini mengakibatkan wilayah tersebut merupakan salah satu daerah dengan tingkat kegempaan yang cukup tinggi di Indonesia. Struktur tektonik di wilayah NTT sangat kompleks, di bagian utara terdapat Sumber Gempa Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust), Sesar Kalaotoa, Sesar Sape (Sape Strike Slip) dan dibagian tengah Sesar Semau (Semau Fault). Kemudian di bagian selatan terdapat Sesar Naik dan Lipatan Timor-FTB (Timor Fold and Thrust Belt), Sesar Naik Sawu (Sawu Thrust) ,Sesar Sumba (Sumba Strike Slip), Sesar Bondowatu dan Zona Megathrust Sumba yang merupakan pemicu gempa bumi dengan magnitudo M 8.5 yang mengakibatkan tsunami pada tahun 1977 (Aktivitas tektonik yang tinggi ini mengindikasikan perlunya persiapan rencana kontingensi bencana gempa bumi dan tsunami di wilayah NTT khususnya.
Wilayah NTT berada tepat pada zona subduksi lempeng Indo-Australia yang menunjam di bawah lempeng Eurasia. Penunjaman ini ditandai dengan terbentuknya palung laut (oceanic through) dibagian Selatan yang merupakan perpanjangan Java Trench, yaitu Timor Through. Tatanan tektonik Nusa Tenggara Timur dapat dilihat pada Gambar berikut ini.
Tektonik Setting di wilayah NTT (Sumber : Koulali, et al. 2016)
Peta Sebaran Episenter Gempa bumi di NTT dan sekitarnya periode 1814-November 2024 (Sumber: BMKG.2024)
Data BMKG, hasil monitoring gempabumi di wilayah NTT dari tahun 1814 s/d November 2024 telah terjadi gempa bumi sebanyak 25.336 dengan didominasi oleh gempa bumi berkedalaman dangkal (D<70 Km) sebanyak 21.538 kejadian (lihat Gambar di samping). Kejadian gempabumi di laut sebanyak 26.479 kejadian (84%) dan di darat sebanyak 5.080 kejadian (16%). Di wilayah Kabupaten Rote Ndao dan sekitarnya terjadi gempa bumi sebanyak 101 dengan didominasi oleh gempa bumi berkedalaman dangkal (D<70 Km) sebanyak 89 kejadian (Gambar 2.4). Kejadian gempabumi di laut sebanyak 90 kejadian (89%) dan di darat sebanyak 11 kejadian (11%)
Data Katalog Tsunami Indonesia tahun 2024 BMKG dan NOAA tercatat pernah terjadi 21 kejadian tsunami yang terjadi wilayah NTT.
Lokasi Episenter Gempabumi Mengakibatkan Tsunami di wilayah NTT (Sumber: BMKG.2024)
Sebaran Penyebab Tsunami Secara Global dan Regional (1900-2020). a. Global,
b. North West Pasific,
c. North East Pacific,
d. Mediterranean,
e. Central West Pacific,
f. South West Pacific,
g. South East Pacific,
h. Caribbean
(Sumber : Reid dan Money, 2022)
Pranantyo, et al, (2021) menyatakan bahwa sumber tsunamigenic di wilayah NTT sangat beragam yang mencakup gempa bumi, longsoran tebing maupun submarine mass failure (SMF) dan aktivitas gunung api. Reid dan Money (2022) menemukan bahwa berdasarkan statistik kejadian tsunami di Indonesia yang termasuk dalam Kawasan Pasifik Barat Tengah (CW Pacific) selama periode tahun 1900-2020, 85% tsunamigenic di Kawasan ini dipicu oleh aktivitas gempa bumi, 8% disebabkan karena longsor, dan 7% disebabkan karena letusan gunung berapi. Statistik yang kurang lebih serupa untuk wilayah NTT dimana dari data base Katalog Tsunami Indonesia tercatat bahwa dari 21 (dua puluh satu) kejadian tsunami di NTT, 17 (tujuh belas) diantaranya bersumber dari aktivitas tektonik (81%), 2 (dua) dari non-tektonik (10%) dan 2 (dua) tidak diketahui sumber tsunamigenic-nya (10%).
Kondisi topografis Nusa Tenggara Timur sebagian besar berbukit-bukit dan bergunung. Kawasan yang tergolong datar hingga landai menyebar secara sporadis pada gugusan-gugusan yang sempit, di antara lekukan perbukitan atau memanjang mengikuti garis pantai. Lahan dengan kemiringan <40, yang cocok untuk kawasan budidaya mencapai 82,87%, sebagian besar di antaranya (36,58% dari total luas lahan) memiliki tingkat kemiringan rendah 2-15%. Selanjutnya tingkat kemiringan sedang sebesar 22,07% dengan kemiringan 25-40%. Dan untuk wilayah dengan Tingkat kemiringan curam >40% sebesar 17,13% yang meski secara teoritis tidak dapat dikelola sebagai areal budidaya, namun dalam prakteknya lahan-lahan seperti ini tetap dikelola sebagai lahan budidaya pertanian dengan Teknik tebas-bakar (slah-and-burnt cultivation) yang minim upaya konservasi tanah dan air. Kondisi geomorfologis/bentang alam yang demikian menimbulkan potensi erosi yang sangat tinggi. Akibatnya, laju degradasi sumberdaya lahan yang tinggi dan penurunan kesuburan tanah alami.
Konfigurasi kondisi tropografi NTT yang berbukit dan bergunung dengan tingkat kelerengan yang agak curam-sangat curam ini juga menjadi salah satu factor determinan tingginya risiko longsor di NTT yang tersebar di semua wilayah di NTT. Dimana dengan sudut lereng > 180 dapat menjadi pemicu terjadi longsor Ketika terdapat input hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan saturasi tanah, kondisi tanah yang kurang padat, batuan/geologi yang kurang kuat sehingga dapat menjadi bidang gelincir longsor, kondisi tata guna lahan yang rentan terhadap longsor dan deforestasi, serta terdapat getaran yang kontinu dan beban tambahan yang dapat memicu terjadinya longsor.
Faktor Penyebab Tanah Longsor (Sumber : Riwu Kaho, 2021)
Gambaran kondisi hidrologi wilayah Provinsi NTT dapat dilihat dari potensi air permukaan dan air tanah. Secara umum, potensi hidrologi di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur, terutama air permukaan, tergolong kecil. Kondisi ini mengakibatkan sulitnya eksploitasi sumber air permukaan untuk kepentingan pembangunan.
Djuwansah, et al (2001) menyatakan bahwa potensi air tanah setiap Daerah di NTT, disamping tergantung pada sifat batuan, jumlah luah setiap lapisan pembawa air (akifer) ditentukan oleh jumlah curah hujan yang jatuh di daerah resapannya. Sebaran air tanah di wilayah Provinsi NTT meliputi batuan kuarter yang dicirikan dengan luasnya batuan teras-teras terumbu karang sebagai akibat adanya proses pengangkatan (uplift) dan ditandai dengan dominasi endapan vulkanik kuarter. Batuan termuda di seluruh kepulauan NTT adalah sedimen aluvial tak-padu yang menempati cekungan lembah-lembah sungai dan pesisir. Prediksi potensi sumber daya air, batuan-batuan tersebut memiliki karakter dalam kemampuannya menyimpan dan mengalirkan air. Berdasarkan peta sebaran akuifer produktif di Pulau Flores dan Pulau Timor (Toto & Purwanto, 2000 dalam Djuwansah, et al, 2001; Regganis, 2016), secara umum daerah potensi sumber daya air tinggi terletak di bagian barat pulau Flores. Daerah potensi sumber daya air paling rendah, terletak di bagian timur NTT yang meliputi rangkaian pulau pulau Solor, Alor, dan Wetar, sedangkan daerah lainnya bisa digolongkan berpotensi sedang.
Jumlah DAS Per Kab/Kota di Provinsi NTT
Secara umum DAS-DAS yang ada di NTT memiliki ukuran yang terkategori sangat kecil sebanyak 3895 DAS atau dengan persentase mencapai 98%, DAS kecil sebanyak 77 DAS (1.9%), sedangkan DAS berukuran sedang hanya 5 DAS yakni DAS Benain (luas DAS 327.502 ha) dan Noelmina (189.529 ha) di Timor Barat, DAS Kambaniru (140.931 ha) di Sumba Timur, serta DAS Aesesa (124.862 ha) dan DAS Reo Waepesi (104.394 ha) di Flores.
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan bentang lahan di daratan dengan penciri utama Batasan alam yaitu punggung bukit dan gunung yang sama yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air hujan melalui satu outlet sungai utama. Di wilayah NTT terdapat 3977 DAS yang tersebar pada 609 pulau di NTT. Jumlah DAS yang banyak ini diduga dipengaruhi oleh fakta wilayah NTT sebagai wilayah kepulauan yang dicirikan salah satunya yaitu pulau-pulau berukuran kecil dan tersebar. Dengan demikian, bisa terlihat pada grafik dibawah ini jumlah DAS per wilayah kabupaten/kota di NTT dimana Kab Manggarai Barat dan Alor terdapat masing-masing > 600 DAS pada kedua kabupaten tersebut. Sebaliknya pada Kab Malaka hanya terdapat 10 DAS karena Sebagian besar wilayah Kab Malaka didominasi oleh DAS Benain.
Semakin luas suatu DAS, hasil akhir (water yield) yang diperoleh akan semakin besar, karena hujan yang ditangkap juga semakin banyak. Oleh karena itu dengan bentuk penampang DAS-DAS yang sangat didominasi berukuran sangat kecil ini, maka dapat diperkirakan persoalan ketersediaan dan kontinuitas air dapat menjadi salah satu faktor penghambat dalam pengembangan produktifitas lahan di Prov NTT, jika praktek-praktek konservasi tanah dan air luput untuk dilakukan untuk menahan selama mungkin air permukaan ataupun air tanah yang merupakan aliran dasar (base flow) saat musim kemarau serta memperkecil peluang terjadinya erosi dan sedimentasi yang membawa dampak negatif, baik on-site maupun off-site.
Jika ditilik berdasarkan klasifikasi DAS, maka DAS dapat dibagi menjadi 2 yaitu DAS yang dipertahankan dan DAS yang perlu dipulihkan (nomenklatur dulu : DAS kritis) sesuai daya dukung DAS. DAS yang dipulihkan daya dukungnya adalah DAS yang kondisi lahan serta kuantitas, kualitas dan kontinuitas air, sosial ekonomi, investasi bangunan air dan pemanfaatan ruang wilayah tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sedangkan DAS yang perlu dipertahankan adalah DAS yang masih berfungsi sebagaimana mestinya. Dari total 3.977 DAS di NTT, 1.510 DAS diantaranya merupakan DAS yang perlu dipulihkan (38%) dan sebanyak 2.467 DAS di NTT merupakan DAS yang dipertahankan (62%). Jika dibandingkan dengan jumlah DAS dipulihkan di seluruh wilayah Indonesia sebanyak 4.489 DAS, maka 1/3 atau lebih tepatnya 34% DAS dipulihkan di Indonesia berada di Provinsi NTT.
Warming Stripes beberapa kota di NTT Periode 1950 – 2023 (Atas) & Proyeksi Suhu Udara NTT periode 2021 – 2050 Berdasarkan Pemodelan CMIP5, RCP4.5 (Sumber : Riwu Kaho, 2024)
Kerentanan Provinsi NTT yang tinggi dari aspek hidrologi dapat terlihat dari tingginya frekuensi dan intensitas serta adanya tren peningkatan kejadian bencana hidrometeorologi di NTT serta dampak dari bencana yang sangat terasa pada berbagai aspek sosial ekonomi serta perikehidupan masyarakat Dalam Laporan ke-6 oleh Intergorvernmental Panel on Climate Change (IPCC, 2022) telah disebutkan bahwa perubahan iklim dan bencana memiliki korelasi yang sangat tinggi dimana perubahan iklim akan menyebabkan peningkatan dan bahaya bencana iklim (climate hazard) yang “tidak terelakkan” (unavoidable), baik bagi ekosistem maupun manusia dengan tingkat kepercayaan yang tinggi.
Konfigurasi geografis NTT sebagai provinsi kepulauan dan letaknya pada posisi silang di antara dua benua yaitu Asia dan Australia, dan di antara dua samudra yaitu Hindia dan Pasifik, menentukan karakteristik iklim di wilayah ini. Klasifikasi kelas hujan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) umumnya berada pada kategori rendah (0-20 mm dan 20-50 mm) kecuali sebagian besar kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Sumba Barat dan Sumba Tengah. Wilayah Provinsi NTT secara umum termasuk ke dalam tipe iklim tropis, dengan variasi suhu dan penyinaran matahari yang rendah. Rata-rata suhu minimum dan maksimum, masing-masing, 24°C dan 32°C, dengan panjang hari ±12 jam.
Pola umum iklim wilayah ini adalah pola musim hujan dan musim kemarau. Wilayah NTT secara umum merupakan wilayah yang dominan beriklim kering, dimana dalam setahun musim hujan berlangsung selama 5 bulan (November – Maret), dan musim kemarau berlangsung selama 7 bulan (April – Oktober) (Faqih, dkk, 2015). Keragaman iklim pada wilayah NTT erat kaitannya dengan pola monsoonal (musiman) yang dicirikan oleh bentuk pola hujan yang bersifat unimodal (satu puncak musim hujan, yaitu pada Januari atau Februari). Tipe hujan eratik yang erat kaitannya dengan pola monsoon ini menyebabkan hujan akan terkonsentrasi pada waktu yang singkat, namun sebaliknya musim kemarau akan terjadi lebih lama dibandingkan musim hujan (8 bulan) dalam satu tahun.
Jika dikaitkan dengan konfigurasi DAS di NTT yang umumnya merupakan DAS berukuran sangat kecil dan kecil serta masih cukup banyaknya DAS yang terkategori sebagai DAS dengan daya dukung perlu dipulihkan yang mengindikasikan DAS kritis serta adanya pergerakan gelombang atmosfer maupun laut seperti fenomena Madden-Jullian Oscillation (MJO), Rossby, Kelvin dan variabilitas iklim seperti ENSO dan Indian Ocean Dipole (IOD), maka dengan pola musim dan variabilitasnya yang seperti ini akan menyebabkan NTT akan berada pada 2 “pendulum” yang berbeda dimana pada saat musim hujan kejadian bencana seperti banjir dan longsor menjadi fenomena yang jamak, sebaliknya pada saat musim kemarau akan menyebabkan bencana kekeringan (drought) dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tinggi di NTT. Konfigurasi kepulauan dan topografi wilayah juga merupakan pengendali iklim lokal yang berpengaruh terhadap karakteristik iklim lokal. Akibatnya, keragaman iklim antar wilayah di daerah ini juga sangat besar.
Peta Indeks Risiko Bencana Banjir (Sumber Kajian Risiko Bencana Provinsi NTT)
Peta Risiko Banjir Bandang (Sumber Kajian Risiko Bencana Provinsi NTT)
Peta Indeks Risiko Bencana Tanah Longsor (Sumber Kajian Risiko Bencana Provinsi NTT)
Peta Indeks Risiko Bencana Kekeringan (Sumber Kajian Risiko Bencana Provinsi NTT)
Peta Indeks Risiko Bencana KARHUTLA (Sumber Kajian Risiko Bencana Provinsi NTT)
Peta Indeks Risiko Bencana Cuaca Ekstrem (Sumber Kajian Risiko Bencana Provinsi NTT)
Proyeksi Laju pertumbuhan penduduk NTT Tahun sejak Tahun 2011 sampai dengan Tahun 2023 cenderung menurun. Pada Tahun 2011 diproyeksikan laju pertumbuhan penduduk NTT sebesar 1,75% yang terus menurun hingga Tahun 2023 sebesar 1,64%. Kepadatan penduduk Provinsi NTT dalam kurun waktu 10 tahun terakhir cenderung meningkat. Pada Tahun 2013 kepadatan penduduk Provinsi NTT 78 jiwa/km2 yang mengalami peningkatan sampai Tahun 2010 menjadi 98 jiwa/km2 dan terus meningkat hingga Tahun 2023 senilai 120 jiwa/km2. Kepadatan Provinsi NTT sejak Tahun 2002 sampai dengan Tahun 2023 masih berada di bawah kepadatan penduduk secara nasional.
Pada tahun 2023 jumlah penduduk Provinsi Nusa Tenggara Timur mencapai 5.569.068 jiwa. Dilihat dari komposisi penduduk menurut jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2023 sebanyak 2.784.901 jiwa atau 50,01% dari jumlah keseluruhan penduduk, lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan yaitu sebanyak 2.784.167 jiwa atau 49,99%. Nilai sex ratio Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2023 sebesar 100,03. Hal ini menunjukkan secara keseluruhan wilayah Nusa tenggara Timur jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk Perempuan atau jumlah penduduk laki-laki per 100 penduduk perempuan.
Pada tahun 2023, secara keseluruhan di Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki kelompok umur tertinggi terdapat pada kelompok umur 0 – 4 sebanyak 569.544 jiwa. Dilanjutkan yang tertinggi kedua terdapat pada kelompok umur 5 – 9 sebanyak 546.240 jiwa. Kemudian kelompok umur terendah terdapat pada kelompok umur 70 - 74 sebanyak 98.853 jiwa.
Berdasarkan data kependudukan diatas maka perlu diantisipasi kesesuaian pemanfaatan ruang dalam pembangunan dengan jumlah penduduk, karena disinyalir karena adanya keterbatasan ruang maka akibatnya banyak warga membangun di daerah lereng, bantaran sungai dan ruang lain yang tidak diperuntukan untuk pemukiman. Perlu adanya Pola pemukiman yang tidak meninggalkan kearifan lokal dan memperhatikan ketahanan terhadap bencana.
Sumber : Disarikan ulang dari Dokumen Pemaduan Unsur Penanggulangan Bencana ke dalam Rancangan Awal RPJMD Provinsi NTT Tahun 2025 - 2029