ciptaan : Asaduddin karim (dodhy)
Ikatan mahasiswa pelajar soppeng
universitas hasanuddin
bersatu dalam tekad menuju masa depan
demi pembaharuan
demi, daerahku, generasi tercinta
wija’ latemma’mala
ikatan mahasiswa pelajar soppeng
universitas hasanuddin
mewujudkan semangat pengabdian yang mulia
untukmu soppengku
kami siap korbankan jiwa dan raga ini
untuk perubahan
ku abdikan semua hidup ini
ku amalkan ilmu yang kudapat
dengan semangat “yassisoppengi
Jangan Takut Salah, Kita Belajar dari Kesalahan
Oleh : Fadhil Adiyat ( 2017 )
Setelah merencanakan pertemuan beberapa waktu sebelumnya, akhirnya pada 20 Oktober 2019 saya berhasil meminta waktu pada Ernania B Amaral untuk diwawancarai soal studi, kesan, dan bagaimana ia akhirnya kuliah di Amerika. Erna, sapaan akrabnya berasal dari Timor Leste dan sedang dalam tahap penyelesaian studi bachelornya di Missouri State University.
Kami dikenalkan oleh Sharon, teman saya dari Indonesia yang sedang mengambil masternya di universitas yang sama. Erna, fasih lima bahasa. Inggris, Indonesia, Portugis, Tetun, dan Makasae. Ketika wawancara berlangsung, ia kadang lupa menemukan kata dalam bahasa Indonesia dari apa yang hendak ia ucapkan. Saya bilang, kau bisa menggabungkannya dengan bahasa Inggris, selama bukan Portugis dan dua bahasa lain yang kau tahu. Saya akan berusaha paham. Betapa wawancara yang menyenangkan.
Hasil wawancara ini sebisa mungkin saya menulisnya seperti apa yang ia maksudkan, saya mengubah beberapa bagian pada redaksi kalimatnya tanpa sedikit pun bertendensi menghilangkan konteks yang ingin ia sampaikan. Percampuran bahasa dan beberapa kata yang tidak saya temukan esensinya ketika diterjemahkan saya tulis seperti hasil aslinya.
Selamat membaca;
Kenapa kuliah di Amerika?
Jadi sebenarnya itu cerita yang panjang, jadi barangkali aku akan jelaskan intinya saja. Aku dapat beasiswa dari US Department State, nama beasiswanya itu USTL (United States Timor Leste) semacam kerjasama antar negaraku dan US. Tapi pembiayaannya penuh dari pemerintah Amerika.
Jadi ada tahapan-tahapan tes yang dilalui, ya?
Iya, tes pertama itu, mengirim dokumen. Terus, tes TOEFL kemudian wawancara.
Berapa orang dari negaramu yang lulus?
Tiga orang, itu dari ratusan orang, saya kurang tau tepatnya sih. Itu setiap tahun ada yang berangkat. Dulunya banyak, yah tapi jumlahnya dari tahun ke tahun berkurang. Beasiswa ini mulai dari tahun 2002 sampai sekarang.
Sebelum dapat beasiswa ini memang sudah punya keinginan untuk ke Amerika?
Iya, tapi kalau harus jujur, Amerika bukan negara tujuan utama untuk kuliah di luar negeri. Kalau harus aku urutkan, Amerika itu di nomor dua. Nomor satunya Australia. Selain karena dekat, aku sudah pernah ke sana juga. Kebetulan, keluarga dan kerabat ada yang tinggal di sana sih. Hehe. Mungkin itu akan lebih nyaman buat aku (that will be more convenience for me).
Jadi sudah berapa lama tinggal di Amerika? Masih ingat tanggal pertama kali tiba di sini?
Dua tahun, aku pertama kali sampai di US itu Agustus tanggal 13, 12, apa 11 ya kalau tidak salah, itu pertama kalinya aku menginjak Amerika, dan sebelum ke sini, aku ke DC dulu, di kantor beasiswa ini.
Dari dua tahun itu, hal yang paling menarik tentang Amerika apa?
Wah that’s hard question actually, banyak sih. Tapi menurutku yang paling menarik adalah adanya personal space. Jadi orang-orang benar respect yang namanya personal space itu. Juga, di sini kamu bisa speak your mind. Kita punya kebebasan untuk berbicara tentang apapun.
Jadi kamu belajar apa di sini?
Wildlife Conservation Management, main focusnya sih sebenarnya lebih ke natural resources. Kayak air, tanah, pohon dan hal-hal yang dekat dengan itu.
Kira-kira sepulang dari sini, apa yang akan kamu lakukan?
Jadi, syarat dari beasiswaku itu mewajibkan harus bekerja sepulang dari sini selama dua tahun sebelum lanjut master atau melakukan hal lain. Tapi aku benar-benar ingin memberi kontribusi baik itu di dunia pendidikan atau pun pekerjaan. Juga, aku mau berbagi ke orang-orang, sedikit banyaknya soal apa yang kudapatkan di sini. Maksudnya, berbagi pengalaman atau apa pun lah. Terutama misalnya masalah penanggulangan sampah. Di sana, kesadaran masyarakat soal sampah masih kurang. Tapi sudah mulai banyak juga orang-orang muda yang bergerak secara sukarela untuk menyadari itu. Misal; bersih pantai dan hal semacam itu. Nah, cuman ada satu juga yang menurutku masalah serius; soal air, air bersih. Terutama di daerah terpencil. Jadi itu juga sebenarnya yang mendorongku mengambil jurusan ini karena aku ingin mengaplikasikan ilmunya nantinya untuk provide air bersih di sana.
Sebagai orang yang belajar soal lingkungan, apa permasalahan secara universal yang menurutmu sedang kita hadapi?
Climate change itu sih sebenarnya, bahkan seorang scientist meramalkan bahwa suhu bumi akan bertambah di akhir abad ini. Kalau itu benar terjadi, dampaknya akan besar, es kutub mencair, volume air laut akan naik dan dampaknya akan menenggelamkan beberapa tempat di bumi ini, apalagi kita yang bentuk geografis negaranya berpulau. Ini kan penyabab utamanya juga soal sampah plastik, penggunaan energi fosil, serta produksi CO2 dari kendaraan dan industri negara-negara di dunia ini, terutama negara maju seperti Amerika. Kan yang terjadi itu CO2 terperangkap di udara kemudian melepaskan diri menuju atmosfer dan itulah yang menimbulkan hawa panas pada planet kita ini. Lalu, kita masih dengan entengnya memproduksi plastik, hasil fosil, dan CO2 itu tanpa rasa bersalah. Saya juga cukup setuju dengan pernyataan Greta Thunberg (gadis 16 tahun yang menyuarakan secara lantang masalah ini) soal saving our planet.
Nah itu tadi soal yang terlalu serius ya, kita coba pindah ke pertanyaan yang lebih santai, bagaimana kalau soal homesick?
At the first time, aku benar-benar excited banget. Dua minggu di sini itu aku benar-benar senang bahkan aku tidak terlalu merindukan keluarga. Tapi pas sadar kalau aku akan menjalani semua ini sendirian tanpa mereka, di situ aku mulai sedih sih. Anehnya, sewaktu di Timor Leste sebelum berangkat, aku tidak terlalu ini sama saudara-saudaraku tapi pas di sini, I don’t know why I was really thinking about them. Moreover, homesicknya bukan cuma soal keluarga sih, tapi juga cuaca, makanan, teman, dan bahasa waktu awal-awal. Terutama karena aku langsung masuk ke sini tanpa English course dulu kan. Jadi awalnya itu masih sulit menangkap pembicaraan orang-orang sini. Pokoknya masa-masa transisi itu sempat cukup berat sih.
Terus cara mengatasinya?
Yah nangis. Hahaha. Cara mengatasinya paling menelfon dengan keluarga, curhat, dan kalau mereka sudah menyemangati itu udah agak mendingan. Kan ini juga sudah kupilih sebagai jalan, jadi konsekuensinya yah harus begini.
Menurutmu cuaca di sini bagaimana?
Pasti beda ya. Tapi aku suka fall sih karena itu suasanya bagus, dan dinginnya juga bukan yang freezing banget.
Pas winter, reaksimu pas pertama kali liat salju?
Waaaaaah. I was really really exciting. Pertama kaliku itu pas di St. Louis, aku pulang liburan, aku di rumah teman kamarku. Waktu itu, pas dia bilang, look up the window, it’s snowing. Aku bangun, buka jendela, dan wow everything is white. Pokoknya itu senangnya luar biasa karena dulu-dulu hanya diliat di TV sekarang sudah benar lihat aslinya. Waktu itu, I took time, just to enjoy that moment. Tapi sekarang, haha sudah biasa. Bahkan mulai tidak senang karena ternyata aku tidak suka cuaca dingin.
Oke ini pertanyaan terakhir, pertanyaan ini seringkali saya ajukan ke orang-orang yang saya temui. Jadi, jika kau punya kesempatan menghilangkan satu hal di bumi ini, apa yang akan kau hilangkan?
Poverty. Setiap kali aku lihat orang yang kesusahan terus kayak tidak dapat makanan, aku tidak cukup kuat liat mereka. Papa aku juga dulu bukan dari keluarga yang cukup. Jadi seringkali, jika kami makan bersama dan lihat salah seorang dari kami tidak menghabisi makanannya. Dia sering bilang; di luar sana masih banyak orang yang belum tentu makan dalam satu hari. Jadi itu yang akhirnya membuatku sadar dan merasa bahwa kemiskinan benar-benar harus dihilangkan di dunia ini. (Hei it was emotional question)
Terakhir, pesan untuk anak muda yang ada di negaramu atau orang yang akan membaca hasil wawancara ini.
Just dream it. If you have a dream then you want to pursue your dream. Put yourself out there. Don’t afraid to make mistake because we learn from mistake and it’s okay if you make mistake. Just espouse whatever situation is. Even if it’s scary, put courage and yourself out there.
Oke Erna, terima kasih atas waktu dan kesempatanmu untuk saya wawancarai. Semoga segala yang kau rencanakan akan sesuai dan menemui kebaikan-kebaikan.
Ini persoalan ketabahan dan kegigihan, karena passion hanya untuk kalian orang kota.
Oleh : Fadhil Adiyat ( 2017 )
Ia baru saja selesai, dari segala urusan mengantar aneka macam kue di rumah-rumah keluarga dan kerabat. Hari itu, sebagaimana dari sekian banyak yang sudah jadi tradisi, ketika ada barang baru yang masuk ke rumah, mobilnya yang baru ia beli, telah usai juga dibacakan doa-doa selamat. Satu hajatnya sudah tercapai lagi, membeli tumpangan baru untuk istri, mertua, dan anak semata wayangnya.
Sedikit mundur ke belakang, ia semacam membuat janji dengan dirinya untuk tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mungkin. Ia tidak biasa jauh dari ibunya, karena ia anak bungsu. Atawa, alasan lebih prinsipil bahwa tubuhnya sudah telanjur akrab dengan rekahan sawah hijau yang berbanjar, giat usaha tani, dan juga kerja-kerja yang membutuhkan tenaga tidak sedikit.
Temukanlah Handphonenya bakal sering berdering di waktu-waktu tanaman padi telah memasuki masa untuk dipupuk. Oleh banyak pegiat usaha tani di kampung ini, juga di kampung-kampung sebelah, ia mudah saja dikenali dengan Toyota Kijang open kap berwarna biru malam. Sebuah akrab baginya sebagai distributor pupuk.
Di belakang stir, ia sudah lihai mengantar karung-karung berisi pupuk dari gudang penyimpanan ke tujuan demi tujuan. Ke satu rumah ke rumah yang lain. Ke satu kelompok tani ke kelompok tani lainnya. Sering kali, di tengah perjalanan, jika bertemu dengan kalangannya, klakson dan lambaian tangan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Semacam ritual rekanan saling menyemangati dalam hidup dan penghidupan.
Di kaca depan mobil kijangnya, ia pasangi stiker yang menuliskan nama anaknya. Dalam dugaanku, selain tanda pengenal, di nama itulah, telah ia sandarkan segala ambisi kehidupannya. Segenap cintanya telah ia dedikasikan untuk menghidupi keluarganya.
Selain wirausaha pupuk yang dijalankan secara independen, ia juga mengelola beberapa petak sawah di beberapa tempat yang berbeda. Cukup luas jika misal diukur secara penghasilan dan rata-rata. Didikan agrikultura-terapan, yang ayahnya sudah ajari sejak kecil, sudah bisa ia tuai dengan baik. Selain turun langsung bertani, ia juga mempekerjakan beberapa orang di sawah kelolaannya. Kalau meminjam terma korporasi, ia menjabat posisi direktur yang merangkap komisaris, juga pelaksana teknis sekaligus pemilik saham. Wajar belaka, di kalangan sanak saudaranya ia akrab juga disebut juragan.
Meski masih sangat jarang terlihat di awam, pekerjaan yang ia tekuni ini sebenarnya memiliki tekanan kerja yang cukup tinggi. Manajemen waktu, tenaga, dan operasional mesti dipertimbangkan dengan baik. Belum lagi, modal dan income yang harus saling menopang, agar tidak tumpang tindih (overlap).
Tapi entah ikatan kerja apa kusebutnya, meski tanpa melalui proses perekrutan atau wawancara, orang-orang yang bekerja padanya, tidak bisa diragukan loyalitasnya. Hubungan emosional mereka terikat begitu kuat sebagai rekan kerja. Setiap musim panen tiba, hasil tetap dibagi sesuai kesepakatan awal, entah harga Dolog sedang stabil atau tidak. Pola kehidupan yang simbiosis mutualisme ini terus mereka pertahankan, di tengah kebijakan pemerintah yang terus berubah dari waktu ke waktu.
Jika merujuk pada istilah passion dalam bekerja, yang belakangan ini banyak diperbincangkan orang di linimasa, ia dan rekan kerjanya tidak mengenali inklusi motivatif semacam itu. Dalam tahapan yang lebih jauh, bekerja sebagai petani bukan hal yang mengenal tawar menawar dalam hal prospek kerja. Dalam sebuah percandaan, sering terdengar istilah yang diplesetkan dari klausa bahasa jawa, Ora iso ora ene: de muakkareso, de muanre (kalau kau tidak giat bekerja, kau tidak makan).
Segala risiko untung rugi, kondisi ekonomi-politik daerah, strategi bisnis rekan usaha, dan cuaca juga sangat mempengaruhi kerja-kerjanya menjalani profesi ini. Ia juga harus terbiasa sesekali pulang malam, jam kerja yang mobile, dan yang paling sederhana adalah sengatan serangga sawah. Sudah hal yang lumrah kalau gatal-gatal seluruh badannya akibat serangga putih yang beterbangan serupa kupu-kupu kecil, yang jumlahnya kadang menutupi penglihatan pada langit malam.
Melalu data yang dikeluarkan BPS, pandemi telah berbicara secara lugas bagaimana Produk Domestik Bruto (PDB) dari sektor agrikultur tidak mengalami penurunan yang signifikan selama pagebluk ini. Justru, cenderung stabil dan mengalami kenaikan. Berbeda dengan sektor pariwisata dan infrastruktur yang babak belur.
Ia patut berbangga dengan rekan-rekannya karena telah menjadi andil di tingkat tapak, sebagai penyedia pangan pokok ke daerah-daerah jauh. Mereka tetap turun bekerja ke sawah selama pemerintah memberlakukan lockdown, ini bukan karena mereka golongan pseudosains atau penganut teori konsiprasi, lebih kepada virus tengik ini memang sangat metropolitan, baik dari segi penularan mau pun penanggulangannya.
Sudah berulang kali ia mencari mobil bekas di lapak-lapak daring dan luring. Di masa pencarian itu, berulang kali pula ia menelepon dan mengecek sana-sini. Ada kondisi bagus, namun harganya yang masih dekat dengan harga baru. Ada yang sudah sesuai, tapi kondisinya yang meragukan. Cukup berdinamika lah pencarian itu. Hingga akirnya, tak lama berselang, untuk mempercepat pemulihan ekonomi, pemerintah mengumumkan pajak 0% pada setiap pembelian kendaraan baru. Mobil yang ia inginkan, termasuk dalam daftar tersebut. Seperti pepatah, hendak ulam pucuk menjulai. Satu hajatnya segera tunai.
Jadilah ia kemudian tidak membeli mobil bekas, melainkan yang baru tanpa harus menjaminkan sertifikat asetnya di bank. Awalnya, ia memang dimafhumi untuk menunggu panen berikutnya, agar uang yang tadinya kurang, bisa cukup untuk beli yang baru. Lagipula, didikan keluarga memang tidak pernah membolehkan, membeli kebutuhan tersier dengan cara mencicil. Itu pun, segalanya harus stabil dari segi primer dan sekunder dulu. Hal tersebut tentu saja bisa dengan mudah ditemukan di buku-buku pembahasan enterpreneurship dan kawan-kawannya. Ia sudah mengaplikasikannya, meski tidak pernah bersentuhan dengan buku-buku tersebut.
Setelah selesai mengantar kue ke rumah keluarga dan kerabat, ia meminta untuk diajari mengoperasikan on board computer di mobilnya, sebuah layar kecil yang memisahkan antara kursi supir dan kursi depan kiri. Setelah ia cukup yakin sudah bisa memutar lagu-lagu Bugis yang telah saya unduhkan melalui Youtube, saya akhirnya pamit padanya untuk pulang.
Sebelum berlalu, samar-samar kudengar suara dari mobilnya, sebuah lagu bugis yang liriknya begini: “Aja tapettu rennuang, marillau ri puange, natepu minasaku.”
Hidup begitu indah, jika mensyukuri apa yang kita punya.
2021
Oleh : Andi Muhammad Farid Wajidi RA
Pengurus BE IMPS KOOPERTI UNHAS Periode 2021-2022
Untuk semua yang patah, kali ini izinkan aku menyerah, garis takdir sudah tergambar jelas dan dinding itu seolah pembatas bahwa diantara kita harus saling melepas.
Memilih untk lepas dari semua hal yang sekiranya kita tidak kuat lgi untk bersama
Tentang hari indah yang pernah lewat, anggap saja itu bonus.
Iya aku pecundang, aku yang memulai segalanya menjadi hancur.
Maaf untk segala tuduhan dan rasa curigaku yang berlebihan kepadamu.
Klo bersamaku bisanya hanya segini hidupku juga tidak terlalu indah.
Jdi buat apa lgi kalau aku ad namun hanya memberi kecewa.
Usahaku mungkin akan selesai, aku tidak ahli membuat orang jatuh terlalu dalam.
Sedang aku sendiri mati rasa untk memulainya kembali dengan orang baru.
Aku gagal dan aku payah dan katamu benar aku salah dalam mengekspektasikan semuanya.
Kukira kita indah, ternyata kita selesai juga.
Terima kasih mau bersamaku dalam 166 harinya.
Bukan salahmu, yang salah adalah harapanku.
Aku yang terlalu menaruh harapan dihatimu untk terus terjaga akan namaku.
Aku yang terlalu ingin kamu menjadi jauh lebih baik ketika denganku dan mungkin hari ini telah usai.
Komitmentku mungkin akan kulepas sama seperti yang kau katakan. "Buat apa lgi ada komitment klo tak lagi sejalan"
Mungkin yang belum kau tahu kita ini terlalu dalam, atau sebenarnya hanya aku yang terlalu dalam.
Inginku terlalu banyak saat kita berada dalam satu tempat yang sama, anganku terlalu tinggi.
Sampai pada akhirnya kau keberatan, maaf untk itu.
Dan janji tidak akan memberatkan langkahmu lagi untk pergi.
mungkin selama ini tingkah konyol dan kebodohanku ini jdi merepotkanmu.
Harusnya dulu kupikir akunya saja yang terlalu lancang.
Maaf untk waktumu yang terpotong karena hadirku.
Anggap saja, waktu denganku tidak ada yang menyenangkan.
Jdi bisa dengan mudah kau lupakan.
Aku mundur untk baikmu yang harus terus berjalan, aku mundur atas semua sifatku yang tak kau inginkan dan tak kunjung berubah ini.
Dan aku selesai, Dari semua hal baik denganmu yang akan kusimpan rapat2
Semoga harimu baik ya dan semoga tidak salah orang lagi seperti aku.
Oleh: Muh. Ilmi Ikhsan Sabur
Kader HmI Cabang Makassar Timur
Fenomena pete-pete menghadang bus kerap kali menjadi berita yang hangat terjadi akhir-akhir ini. Munculnya inovasi Teman Bus Mamminasata membuat supir pete-pete gusar karena mulai kehilangan penumpangnya. Bagaimana tidak, Si Bus Coklat menawarkan harga murah dan kenyamanan bagi penumpang sehingga orang-orang mulai berangsur pindah ke Bus Coklat dibanding si Biru.
Pete-pete (dibaca: angkot) adalah transportasi yang lazim dijumpai di kota-kota besar. Di Makassar istilah pete-pete yang berarti uang koin yang dulunya menjadi alat pembayaran ketika menggunakan angkot. Nama itu melekat puluhan tahun untuk angkot di Kota Makassar. Dibalik kedigdayaan pete-pete yang sering disebut sebagai penguasa jalanan, kadang berhenti tiba-tiba tanpa aba-aba lampu sein dan membuat pengguna jalan di belakangnya gusar, tapi Si Biru ini telah sangat membantu orang-orang yang ingin menggunakan transportasi minim biaya. Akankah pete-pete mampu bertahan di tengah gempuran disrupsi transportasi?
Setelah fenomena ojek pangkalan yang hilang, kini pete-pete terancam. Ojek pangkalan kini hampir tidak ditemukan lagi di Makassar berganti dengan ojek online berseragam, hijau atau kuning. Begitu juga dengan taxi, kini sisa dihitung jari karena tergantikan oleh ojol mobil yang lebih mudah digunakan dan biaya yang terukur. Satu hal yang membuat ojek pangkalan, taxi, dan pete-pete ditinggalkan adalah tidak adanya inovasi. Sementara keinginan konsumen selalu berubah dan menginginkan kemudahan dalam menggunakan produk atau jasa.
Sesuatu yang konstan adalah perubahan itu sendiri. Kalimat ini acap kali keluar, apalagi pasca pandemi baru-baru ini. Perubahan terasa begitu cepat, bahkan Prof. Renald Khasali menyebutnya double disruption, digitalisasi dan transformasi interaksi manusia seketika menjadi asing karena pandemi. Akan tetapi, mau tidak mau semuanya harus mampu menyesuai dengan kondisi yang hadir. Seperti ungkapan Darwin dalam survival of the fittest, bahwa yang hanya mampu beradaptasi yang mampu bertahan.
Saya masih ingat pesan guru kimia saya sewaktu SMA. Saya hampir melupakan semua mata pelajaran yang diajarkan tapi saya masih mengingat dua kalimat yang beliau lontarkan di akhir kelas. "Siapa yang melambat akan tertinggal. Siapa yang diam akan terlindas." Kenyataan itu memang benar dan menuntut kita untuk terus bergerak dan berinovasi.
Pertanyaan besarnya sekarang adalah apakah kita ingin jadi change maker atau change consumer? Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing, dan dibuktikan dengan ikhtiar yang kita lakukan.
Oleh : Munawarah (2017)
Sensus Penduduk 2020 merupakan sensus penduduk yang ketujuh setelah pelakasanaan sensus penduduk sebelumnya di tahun 1945, 1961, 1971, 1980, 1990, 2000 dan 2010. Sensus penduduk 2020 mendatang akan menggunakan tiga prinsip dasar ABC, adapun prinsip tersebut yakni akurat (accurate) sehingga dapat dijadikan sebagai “benchmark” atau toloak ukur karena memiliki cakupan yang menyeluruh (comprehensive). Selain itu, pelaksanaan sensus penduduk 2020 juga akan menggunakan tiga metode, diantaranya PAPI (Paper and Pencil Interviewing), CAPI (Computer Assited Personal Interviewing) dan CAWI (Computer Assited Webinterviewing) (Ipot News, 2018).
Berdasarkan informasi tersebut, sensus penduduk 2020 telah dipersiapkan sebaik mungkin untuk memperoleh data penduduk Indonesia yang akurat. Namun,dalam pelaksanaan sensus penduduk terdapat beberapa masalah yang dikutip dari Deputi Bidang Statisitik BPS diantaranya isu privasi yang semakin dominan, kepercayaan masyarakat serta waktu luang yang sulit ditemui. Permasalah ini tentu akan menghambat sensus penduduk 2020 mendatang untuk mendapatkan data penduduk yang akurat (Ipot News, 2018).
Setelah mengetahui tentang sensus penduduk 2020 serta permasalahan yang akan dihadapi dalam sensus penduduk tersebut lantas apa pentingnya sensus penduduk ini dilakukan?. Sensus penduduk akan melahirkan data kependudukan yang lengkap, akurat, terkini dan menyeluruh serta dapat menjadi database yang digunakan pemerintah dalam mengambil suatu kebijakan dalam masalah kependudukan. Dikutipoleh menteri perencanaan pembangunan nasional bahwa sensus penduduk dapat membantu pemerintah membuat proyeksi lebih akurat. Selain itu, bappenas bergantung pada hasil sensus penduduk maupun survei penduduk antar sensus untuk merencanakan kebijakan terkait isu strategis pembangunan kependudukan (Info nawacita, 2019).
Setelah mengetahui pentingnya sensus penduduk, tentu masih ada yang mempertanyakan fungsi dari data penduduk tersebut bagi pemerintah?. Jawabannya ialah, jika sensus penduduk tersebut telah berhasil mengumpulkan data yang akurat maka pemerintah akan mengetahui perkembangan jumlah penduduk, tingkat pertumbuhan penduduk, persebaran dan kepadatan penduduk, komposisi penduduk dan mengetahui arus migrasi penduduk. Dari informasi inilah kemudian pemerintah akan merencanakan pembangunan sarana dan prasarana sosial sesuai dengan kondisi kependudukan daerah. Jika kita ingin menganalogikan hal tersebut maka kita dapat membandingkan daerah padat penduduk yang sering terkena macet dengan yang tidak, maka yang perlu dibangunkan jalan tol sudah pasti daerah yang padat penduduk tersebut.
Seperti yang diketahui saat ini bahwa Indonesia tengah mengalami bonus demografi atau kondisi dimana jumlah usia produktif (15-64 tahun) lebih tinggi dibandingkan dengan usia nonproduktif (usia muda dan usia tua), meskipun diperkirakan terjadi 2030-3045 mendatang namun saat ini Indonesia tengah mengalami hal tersebut. Bonus demografi terjadi karena adanya tingkat kelahiran tinggi pada tahun 1960-1970 sehingga menyebabkan banyaknya jumlah penduduk usia produktif. Sebagian besar penduduk yang termasuk dalam bonus demografi tersebut disebut sebagai generasi milenial, yaitu generasi yang melek teknologi. Generasi milenial sangat akrab dengan penggunaan media komunikasi berbasis digital. Penggunaan teknologi digital oleh generasi milenial menjadikan Indonesia sebagai salah satu Negara pengguna Internet terbesar di dunia (Armansyah, 2019).
Jika kita ingin menarik benang merah antara sensus penduduk 2020 dengan generasi milenial di era revolusi industri 4.0 maka hal tersebut sangat saling bergantung satu sama lain. Sensus penduduk akan menghasilkan data mengenai jumlah penduduk yang masuk dalam kategori generasi milenial, selanjutnya pemerintah akan mengatur bagaimana cara membuat generasi milenial yang memiliki banyak potensi ini untukmemanfaatkan era revolusi industri sehingga dihasilkan generasi milenial yang bermanfaat bagi baangsa Indonesia.
Seluruh masyarakat Indonesia haruslah ikut berpartisipasi dalam sensus penduduk 2020 mendatang. Hal ini dikarenakan Indonesia akan mengalami bonus demografinya. Sebagai masyarakat yang sadar akan pentingnya bonus demografi tersebut bagi Indonesia maka berbagai permasalahan sensus penduduk yang telah diuraikan di atas tidak lagi menjadi suatu alasan bagi masyarakat untuk tidak ikut berpasrtisipasi dalam sensus penduduk 2020 mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Admin (2018, 14 Februari). Sensus Penduduk 2020, BPS Akui Masalah Privasi Jadi Kendala . Dikutip 23 Agustus 2019 dari IPOT NEWS: https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=Sensus_Pe nduduk_2020__BPS_Akui_Masalah_Privasi_Jadi_Kendala&news_id=87191&group_news=IPOTNEWS&news_date=&taging_subtype=ECONOMICS&name=&search=y_general&q=BPS,sensus%20penduduk&halaman=1Info nawacita.
Admin (2019, 21 Agustus). Pentingnya Sensus Penduduk. Dikutip 23 Agustus 2019 dari https://infonawacita.com/ini-kata-kepala-bappenas-tentang-pentingnya-sensus-penduduk-oleh-bps/.Armansyah. 2019. Menjawab Tantangan Demografi. Jakarta: Guepedia
Oleh: Andi Maulidin
Seseorang tentu pernah merasakan yang namanya depresi, merasa sangat putus asa, entah itu persoalan cinta, pekerjaan, atau bahkan keluarga. Ketika hal itu terjadi, apa yang ada dibenak kita? Mungkin kita akan berpikir bahwa itu adalah hal yang normal atau manusiawi. Paling penting, kita harus mengetahui bahwa perasaan itu ada karena pikiran kita yang salah.
Kita selalu saja bersedih Ketika apa yang direncanakan ataupun diharapkan tidak sesuai dengan realitas yang terjadi. Nah, bagaimana cara kita menghilangkan perasaan seperti itu agar keadaan seperti depresi dapat dihindari? Pemikir kuno telah memberikan sesuatu yang solutif dalam keadaan tersebut.
Seorang pemikir yang bernama Zeno of Elea memberikan metode untuk hidup Bahagia dan damai, yang dikenal dengan nama stoisisme ataupun stoa. Terdapat dua contoh manusia yang luar biasa dan telah mengaplikasikan stoisisme dalam hidupnya, yakni Marcus Aurelius yang seorang kaisar dan Epictetus yang seorang budak, sehingga mampu hidup merdeka dengan segala tekanan hidup. Berdasarkan contoh tersebut kita juga dapat menyimpulkan kalau stoisisme ini relevan bagi semua kalangan.
Inti dari filsafat stoisisme terletak dalam pandangan bahwa tidak ada yang lebih otoritas dibandingkan nalar kita, jika kita menulusuri konsekuensi konsekuensi dari pandangan itu, kita akan sampai pada Sebagian besar pokok ajaran stoisisme. Para penganut falsafah stoa ini biasanya mampu menghadapi berbagai rintangan dalam kehidupan dengan tenang dan tegar.
Stoisisme ini didasarkan pada ide bahwa tujuan hidup adalah hidup selaras dengan alam. Alam itu sendiri didefinisikan sebagai keseluruhan kosmos, termasuk rekan-rekan kita sesama manusia. Dalam filosofi stoia ini terdapat empat prinsip yaitu 1.) Tuhan akan selalu perhatian pada semua makhluk hidup, 2.) Hidup yang penuh kebijaksanaan itu penting untuk kebahagiaan kita, 3.) Alam semesta bekerja dalam harmoni, dan kita harus hidup harmonis dengan alam, 4.) Semua hal yang terjadi pasti ada alasannya, baik buruknya sesuatu pasti diatur oleh satu kekuatan yang lebih besar dari segala yang ada di semesta.
Stoisisme mengelompokkan kendali dalam hidup kita menjadi dua, yaitu sesuatu yang bisa kita kendalikan, dan sesuatu yang di luar kendali kita. Sesuatu yang bisa kita kendalikan contohnya persepsi kita, emosi kita, dan upaya kita. Sesuatu yang di luar kendali kita misalnya pendapat orang lain atas usaha kita, Epictetus, memberitahu kita cara mewujudkan ide ini. Dia berkata, “ada hal-hal yang berada dalam kendali kita dan ada hal-hal yang tidak berada dalam kendali kita.” Maka, jika sesuatu tidak berada dalam kendali kita, tidak layak mengerahkan energi untuk itu.
Dalam pengaplikasian filosofi stoa ini, kita perlu mengingat 4 prinsip tadi, selain percaya bahwa suatu hal telah ada yang mengaturnya kita dituntut untuk bijaksana serta hidup harmonis dengan alam, nah untuk hidup harmonis dengan alam kita perlu mengandalkan akal kita atau senantiasa berpikir rasional. Sebagai contoh dalam kehidupan sehari hari, misalnya kita terkena musibah kehilangan uang, orang rasional tentu tidak akan mengeluh atau marah marah, ataupun sedih, mereka tau kalau tingkah laku seperti itu adalah tingkah laku yang irrasional dan hanya akan membuang energinya dengan percuma. Orang rasional akan berpikir dan mengevaluasi sebabnya kehilangan uang, kalaupun uangnya benar benar hilang dia pasti akan bersyukur hal itu bisa ia jadikan pelajaran. Kalaupun dipikir pikr toh kita hanya makhluk yang hoki untuk berkesempatan hidup di alam semesta yang sangat luas ini, mengapa kita harus kesal karena kehilangan uang. Hal tersebut adalah contoh dalam menerapkan stoisisme
Mungkin beberapa orang berpikir, sebenarnya apasih kerennya filosofi stoa ini? Jadi, meskipun orang stoa percaya akan takdir dan rencana besar Tuhan, bukan berarti dia tidak rasional, justru dia sangat rasional dan mampu mengontrol emosinya. Aliran stoisime ini sangat berkaitan dengan bagaimana kita berekspektasi. Contohnya, kalau kita berspektasi bahwa yang akan kita lakukan berjalan baik tapi pada akhirnya yang terjadi malah sebaliknya, yah tentu kita akan merasa sedih ataupun kecewa, dibandingkan Ketika hal tersebut tidak berjalan baik dan kita tidak berharap apa apa, jadi ekspektasi sangat berpengaruh terhadap emosi, dan tentu saja kedamaian kita itu dapat dibunuh oleh ekspektasi kita. Dalam stoisisme, ekspektasi yang baik itu Ketika kita berekspektasi yang terburuk dalam memandang masa depan.
Untuk senantiasa hidup damai dan Bahagia, kita harus mengatur ekspektasi kita agar tidak berpotensi merusak kedamaian dan kebahagiaan hidup kita. Dengan berekspektasi yang terburuk dalam memandang masa depan, mungkin kita akan negative thinking, dengan pikiran seperti itu tentu kita akan lebih siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang ada didepan, misalnya kita akan menghadapi pengumuman nilai semester, jika ekspektasi kita terlalu tinggi dan yang terjadi tidak sesuai ekspektasi, tentunya kita akan sangat kecewa dan sedih, namun Ketika kita berekspektasi yang terburuk, kita akan siap menghadapi segala kemungkin, dan misal Ketika nilai kita bagus kita akan Bahagia karena realitasnya melebihi ekspektasi kita. Ini karena ekspektasi kita memang negative, jadi Ketika ada sesuatu yang positif messki sedikit tentunya kita akan merasa senang.
Sebagai seorang tokoh dalam perkembangan falsafah stoa ini Aurelius mengatakan “Jika kamu merasa susah karena hal eksternal, maka perasaan susah itu tidak datang dari hal tersebut. Tetapi oleh pikiran/persepsimu sendiri. Dan kamu memiliki kekuatan untuk mengubah pikiran dan persepsimu kapan pun juga.”
Jadi, ayo mendamaikan diri dengan metode stoisisme
Sumber:
Manampiring Henry. 2018. Filosofi Teras. Kompas
http://lsfdiscourse.org/menikmati-dinamika-hidup-dengan-stoisisme/ diakses pada 10 mei 2020 pukul 23:10 wita
https://iqra.id/hidup-tenang-dengan-filsafat-stoikisme-220604/ diakses pada 10 mei 2020 pukul 23:00 wita
https://theconversation.com/stoisisme-filsafat-romawi-penawar-depresi-87687 diakses pada 10 mei 2020 pukul 00:20 wita
Oleh : Indah Puspitasari
Perkenalkan saya Indah Puspitasari mahasiswa jurusan sastra Inggris dari Universitas Hasanuddin. Mahasiswa dengan semangat dan antusias yang tinggi dalam mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Tanah Air Nusantara- Sistem Alih Kredit dengan Teknologi Informasi (PERMATA-SAKTI) 2020. Tahun 2020 merupakan tahun dimana dunia menghadapi penyebaran virus SARS CoV-2 sebagai etiologi penyebab Covid-19 dengan tingkat penyebaran dan peningkatan yang tinggi sehingga pertanggal 11 Maret 2020, WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemic. Indonesia sebagai salah satu Negara yang terdampak Covid-19 membuat segala jenis kegiatan yang dilaksanakan secara luring di Indonesia dialihkan secara daring, Salah satunya program PERMATA SAKTI tahun 2020 ini.
Kondisi ini, sempat membuat saya patah semangat namun, berkat pertimbangan dan saran dari sahabat saya yang mengatakan bahwa “Bukan tentang melalui apa kita belajar tapi bagaimana kita bisa memanfaatkan masa kita sebagai mahasiswa untuk tetap produktif serta untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya”. Hingga akhirnya, membuat semangat saya bangkit kembali.
Program PERMATA SAKTI menjadi salah satu program yang sangat berkesan hal ini dimulai ketika saya melakukan pendaftaran pada tanggal 2 September 2020 yang merupakan hari terakhir pendaftaran program PERMATA-SAKTI di Universitas Hasanuddin. Tepat pada hari itu, saya masih berada di kampung halaman sehingga mengharuskan saya segera ke Makassar untuk melakukan proses pendaftaran. Meskipun terdengar kepepet, namun satu hari sebelumnya saya telah membuat janji dengan pihak kemahasiswaan fakultas untuk membantu saya menyelesaikan berkas pendaftaran program PERMATA-SAKTI. Ketika melakukan pendaftaran program ini saya cukup kesulitan dalam menentukan universitas yang akan saya pilih. Akhirnya, saya memutuskan untuk memilih Universitas Negeri Yogyakarta yang merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia . Saya mengambil dua mata kuliah ( 4 sks) yaitu English For Business dan Kewirausahaan Sosial.
Setelah saya mengikuti perkuliahan mata kuliah Kewirausahaan Sosial membuat saya paham bahwa hidup bukan tentang diri kita sendiri tapi masih banyak orang di luar sana yang butuh diberdayakan. Kewirausahaan Sosial ada dikarenakan keprihatinan terhadap sosial yang hadir menjadi suatu model bisnis baru yang mampu menyejahterahkan masyarakat. Terdapat banyak tokoh wirausaha sosial yang bisa menjadi contoh dan motivasi untuk saya dalam mempelajari Kewirausahaan Sosial salah satunya dr.Gamal Albinsaid. Beliau merupakan seorang dokter yang memiliki kepekaan tinggi pada masyarakat. Disini saya juga belajar bahwa keputusan untuk menjadi seorang pengusaha bukan berarti tidak memilik prestasi di bidang akademik. Namun, ini merupakan suatu wadah untuk kita mencari sebuah pengalaman dan belajar untuk menjadi seorang pemimpin. Kewirausahaan Sosial bukan hanya sekedar mata kuliah biasa, melainkan sebuah mata kuliah yang hadir untuk menumbuhkan jiwa Wirausaha Sosial kita. Berwirausaha bukan hanya tentang profit tapi juga pemberdayaan yang dapat menjadi ladang pahala untuk para wirausaha sosial.
Kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta memberi saya banyak pelajaran dan pengalaman. Selama satu semester saya kuliah di UNY, saya banyak belajar dari teman-teman mahasiswa PERMATA-SAKTI 2020 maupun dari mahasiswa UNY sendiri. Semangat belajar yang tinggi, kerendahan hati dan kekeluargaan yang mungkin bahkan tidak saya dapatkan di kampus asal saya. Awalnya, saya berfikir bahwa sulit untuk mendapatkan teman baru di karenakan via daring. Namun, ternyata dugaan saya salah, teman teman PERMATA-SAKTI dan mahasiswa UNY ramah sehingga membuat saya mudah beradaptasi. Begitupun dengan para staf kemahasiswa yang sangat baik dan ramah dalam melayani kami selama kuliah di UNY. Meskipun kuliah melalui via daring tapi, saya mengakui staf UNY telah banyak membantu saya dalam kegiatan administrasi maupun kegiatan lainnya. Selain itu, dosen pengampuh mata kuliah Kewirausahaan Sosial ini MasyaAllah hebatnya. Beliau selalu memotivasi, memberikan semangat dan nasehat kepada kami. Sosok beliau dapat menjadi guru maupun teman bagi kami.
Saya ingin tulisan ini menjadi reflektif yang bisa saya ingat di kemudian hari. Seiring mengikuti mata kuliah Kewirausahaan Sosial, Allah memberikan saya Amanah untuk menjadi bagian tim desa binaan disalah satu desa di kampung halaman saya. Ilmu yang saya pelajari dimata kuliah Kewirausahaan Sosial dapat saya implementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut, berhubungan dengan salah satu Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian Masyarakat. Pada hakikatnya, Ilmu yang dipelajari di kampus menjadi suatu bekal untuk dibawa ke masyarakat.
Universitas Negeri Yogyakarta tidak hanya memberikan saya pelajaran tapi juga pengalaman yaitu pengalaman dalam belajar kebudayaan yang ada di Yogyakarta seperti Tarian, Wayang dan masih banyak lainnya. Yogyakarta merupakan kota pelajar yang menjadi saksi dalam merajut mimpi saya. Mimpi yang bahkan baru dimulai tapi tidak berakhir. Terima kasih Yogyakarta atas pelajaran dan pengalamannya.
Pengalaman menjadi mahasiswa PERMATA-SAKTI tidak akan saya lupakan dan merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman PERMATA-SAKTI dan mahasiswa UNY, bapak/ibu staf kemahasiswa dan bapak dosen terbaik kami. Terima kasih telah menerima saya selama satu semester dan Semoga kita bisa bertemu di Yogyakarta tahun ini ketika pandemi COVID-19 sudah berakhir. Terima kasih juga untuk seluruh pihak yang telah mendukung saya selama mengikuti Program PERMATA_SAKTI.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh : Andi Maulidin (2017)
Karl Heindrich Marx lahir pada tahun 1818 di kota Trier, Karl marx bukan hanya terkenal sebagai seorang filsuf, melainkan juga sebagai seorang ekonom, sosiolog, politisi dan aktivis. Karl marx banyak belajar filsafat ketika berada di Berlin, Selama di berlin marx banyak menyerap pemikiran Hegel bahkan ia merasa telah menjadi pengikut Hegel yang matang. Marx juga mengikuti filosof Jerman yang sezaman dengannya, yaitu Feuerbach dengan membangun filsafat materialistisnya sendiri yang berbeda dari Hegelianisme.
Marx bukan sekedar meminjam pemikiran dari kedua tokoh tersebut namun juga mengkritiknya, bahkan menurutnya pemikkiran kedua tokoh tersebut masih melayang-layang,idealis. Menurutnya teori harus menjadi praktis,pemikiran harus menjadi unsur pendorong perubahan sosial. Salah satu kritik marx terhadap Hegel yaitu Hegel hanya merumuskan pikiran dan tidak menyentuh hal-hal praktis. Selain dua orang itu ada nama Friedrich engels yang merupakan teman karib marx selama hidupnya dan juga menjadi sosok yang sangat berjasa terhadap pemikiran-pemikiran marx nantinya.
Salah satu pemikiran Karl marx yang terkenal yaitu tentang teori kelas, teori bertumpu pada pemikiran bahwa sejarah dari masyarakat yang ada sampai sekarang adalah sejarah perjuangan kelas. Menurut marx kenyataan paling menentukan struktur masyarakat dan perkembangan dalam sejarah adalah struktur kelas-kelas sosial. Kelas sosial menurut marx sendiri yaitu gejala khas masyarakat pascafeodal. Kelas disini terbagi atas dua yaitu kelas atas dan kelas bawah,kelas atas yakni pemilik alat-alat produksi seperti pabrik,mesin,dan tanah atau sering kita sebut sebagai borjuis atau kapitalis. Sedangkan kelas bawah merupakan kelas pekerja (proletar) untuk pemilik alat-alat produksi.
Hak milik atas alat-alat produksi memungkinkan kelas-kelas atas dapat hidup pengisapan tenaga kerja kelas-kelas bawah. Adanya kelas sosial dan hak milik pribadi yang dikatakan marx bukan karena kebetulan namun karena adanya motif untuk memperbaiki tatanan hidup yang memaksa untuk melakukan pembagian kerja yang nantinya akan menghasilkan kesenjangan antara kelas-kelas yang tidak perlu bekerja dan mereka yang harus bekerja. Pada pembagian kelas ini marx memberi perhatian lebih terhadap ketidakadilan yang terjadi antara kedua kelas tersebut. Pasalnya, para pemilik alat-alat produksi melakukan kegiatan ekonomi yang ekploitatif terhadap kaum proletar artinya harga yang dibayarkan kaum borjuis kepada kaum proletar atas tenaganya tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh.
Adanya kelas atas dan kelas bawah menimbulkan perbedaan yang sangat mencolok antara si pemilik modal dan si pekerja dalam dalam segi ekonomi dan posisi mereka dalam masyarakat, perbedaan kelas sosial ini menimbulkan kesenjangan sosial. Kesenjangan sosial menurut Marx merupakan pembedaan kelas sosial berdasarkan kepemiilikan alat produksi. Sampai sekarang kesnejangan sosial masih menjadi masalah sosial sampai saat ini. Perilaku para borjuis dalam memanfaatkan tenaga para proletar yang sangat ekploitatif merupakan salah satu factor yang menjadi penyebab kesenjangan sosial. Hal ini dibenarkan dalam pemikiran marx tentang ketidakadilan yang terjadi antara kelas atas dan kelas bawah. Demonstrasi-demonstrasi yang sering dilakukan oleh kaum buruh dalam upaya untuk menuntut hak-hak yang mereka rasa dirampas oleh para kelas atas merupakan bentuk protes yang muncul akibat adanya kesenjangan sosial. Diskriminasi, primordialisme, ketidakadilan, dan seksisme merupakan masalah-masalah yang dihadapi oleh kelas bawah.
Memang, pengentasan kesenjangan ekonomi tidak lain dan tidak bukan merupakan sesuatu yang wajib dilakukan untuk menjaga stabilitas sosial. Kesenjangan ekonomi menjadi penyebab utama kesenjangan sosial. Kepemilikan kekayaan berlebih oleh suatu kelompok dikatakan memiliki kelas sosial yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh tidak lain dan tidak bukan adalah kepemilikan alat produksi.
Lebih jauh lagi, kesenjangan-kesenjangan tersebut tentu dapat menimbulkan kriminalitas oleh karena motif ekonomi. Kesenjangan yang besar menimbulkan kecemburuan sosial. Menurut saya, ini bukan karena kurangnya usaha atau kerja keras dari kelas sosial ekonomi bawah tetapi karena lingkungan kelas bawah memungkinkan lingkaran setan kemiskinan.
Karl Marx menyumbangkan pemikiran, agar kepemilikan faktor produksi dikuasai oleh pemerintah, kemudian memanfaatkannya untuk keadilan setiap individu. Namun, pemikiran ini sulit untuk diaplikasikan. Tetapi, guna menjaga kesenjangan tidak begitu dalam maka memang faktor produksi perlu dikontrol kepemilikannya.
Semisal, pasal 33 ayat 2 UUD 1945 “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.” Namun, pada kenyataannya cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak sebagian masih dikuasai oleh perusahaan asing atau swasta semisal pertambangan batu bara, nikel, emas, dan sebagainya.
Pengelolaan kepemilikan cabang-cabang produksi memang sulit, pelbagai regulasi juga kadang menjadi tumpang tindih sehingga multitafsir dalam pengaplikasiannya termasuk kepemilikan cabang produksi sebagaimana yang dimaksud pasal 33 diatas. Ditambah, rezim dengan kebijakan yang tidak pro pemerataan ekonomi menjadi penyebab utama.
Jika ditelisik secara makro, kesenjangan di negeri ini memang luar biasa parah. Prof Dr. Muhammad Firdaus, guru besar IPB dalam orasi ilmiah guru besarnya mengungkap bahwa perlu dua ratus tahun untuk Indonesia Timur untuk mencapai kemajuan seperti halnya Indonesia Barat tanpa intervensi pemerintah. Persoalannya adalah, bagaimana jika Indonesia bagian barat mengalami diskriminasi? Tentu lebih buruk dari dua ratus tahun. Penguasaan institusi pemerintah yang cerdas, bijak, dan adil adalah syarat perlu untuk mendorong terjadinya pengelolaan alat produksi sebagaimana keadilan yang ideal yang mungkin diungkapkan Marx.
Referensi
Magnis,Franz-suseno.2001.Pemikiran Karl Marx.Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama.
Todaro, Michael P.2008.Pembangunan ekonomi jilid 1 .Jakarta:Erlangga
Oleh : Fadhil Adiyat (2017)
Bapak dan Ibu hadirin sekalian, terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk datang di kantor desa kita tercinta ini. Tidak lama lagi, jabatan kepala desa yang saya emban akan selesai, muskil jika terpilih untuk ketiga kali. Maka, pada kesempatan berbahagia ini, saya hendak menyampaikan cerita yang telah saya pendam sejak bertahun-tahun yang lalu. Tentu, ingatan manusia memang tidak sebaik seekor gajah tetapi kejadian itu terekam dengan baik di kepala saya.
Baru-baru ini saya mengikuti pelatihan kepala desa “Lokakarya Kesadaran Membaca Masyarakat” di ibukota kabupaten, pembicaranya itu orang dari kota, profesor dari universitas. Katanya sih begitu, saya juga tidak tahu dari universitas mana ia berasal. Tapi memang beliau itu kelihatannya pandai dari caranya berbicara—membawakan materi.
Hal yang membuat saya menyampaikan ini juga bagian dari pesan beliau yang ingin saya teruskan. Katanya, untuk membantu program pemerintah mewujudkan masyarakat literasi, kita harus membudayakan kebiasaan membaca. Membaca, katanya dapat meningkatkan kemampuan berpikir kita dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Lebih lanjut, Pak Profesor itu juga berpesan untuk bersiap menghadapi perkembangan sains dan teknologi. Maka,kita harus membatasi cara percaya kita dengan hal-hal mistis atau takhayul.
Jadi, saya berencana membangun perpustakaan desa untuk mewujudkan itu. Tapi saya tentu sadar sekali, Bapak-Ibu sekalian akan lebih memilih datang ke sawah ketimbang datang ke perpustakaan yang rencananya akan saya buat bersama dengan anggota LMD.
Biarlah saya tetap membuat perpustakaan itu, soal pelaksanaan dan efisiensi kedepan, cukup menjadi tugas kepala desa selanjutnya. Semacam Win towinlah. Paling tidak, saya punya laporan pertanggung jawaban.
Tapi, di luar dari hal itu,sebagai pribadi, izinkan saya bercerita saja soal cerita tentang kuburan di kampung kita yang selalu didatangi menjelang musim panen tiba. Adapun hal-hal yang saya ceritakan, saya pastikan adalah keterangan sebenarnya yang saya tahu, simak, dan alami.
***
Usia saya baru saja memasuki pangkal remaja,awal tahun 1950an, beberapa tahun sebelum H. A. Wana dilantik untuk pertama kali sebagai bupati yang menandai berakhirnya masa kekuasaan Datu di Watansoppeng.
Di kampung kitaCaruwala, kala itu, aroma ranum padiselalu tercium begitu kuat dari arah rumah Arajang. Setiap kali panen besar usai, orang-orang di kampung harus menyetor hasil panennya ke Datu Tondong. Datu kecil yang menguasai wilayahtertentu, seperti lurah atau camat lah kalau sekarang. Tentu, sebagian besar Bapak dan Ibu sekalian kenal atau bahkan akrab dengan nama itu. Ini saya tidak mencoba mengungkit-ungkit masa lalu ya! Hanyaberusaha menyampaikan yang sebenar-benarnya.
Sebelum jadi datu, Tondong begitu rajin menyambangi rumah kami ketika masih bertani. Ia belum dilantik mengganti saudaranya Tonding yang ditemukan mati di kamarnya. Tidak ada yang bertanya bukan? Apalagi waktu masa transisi itu orang masihberpantang berbicara sesuatu tentang keluarga berdarah biru itu. Kematian Datu Tonding begitu tiba-tiba, ia ditemukan begitu saja tidak bernyawa di kamarnya oleh istrinya, ketika hendak membawakan sirih dan sarapan pagi.
Tondong sering datang ke rumah menemui Ayah sebelum musim tanam tiba, Ayah saya, seorang pandai besi nomor satu di kampung ini, dulu. Selain itu, tangan dinginnyadapat dengan cekatan membuat rakkala, alat bajak sawah ditarik oleh kerbau atau sapi, agar tanah-tanah habis panen cepat gembur. Kualitas buatan rakkala Ayah tidak pernah mengecewakan. Paling top sampai kampung sebelah. Ia memberi rakkala pada Tondong yang waktu itu tidak punya uangdengan membolehkannya membayar nanti setelah panen.
***
“Tidak usahlah kau beri ponakanmu itu begituan, Ndong. Kau simpan saja-lah sendiri.” Begitu Ayah menangkis tangan Tondong ketika hendak memberiku sebuah bungkusan kecil di ruang tamu kami malam itu.
“Ini cuma penolak bala biasa, kalau dia besar nanti, pastilah berguna. Lagi pula aku berhutang budi sama kau, Modding. Tidak lama lagi aku akan jadi Datu, tidak susah-susah lagi jadi petani, saya akan jadi bosnya petani.” Sambil terkekeh, Tondong meletakkan bungkusan itu di meja. “Siapa tahu kau berubah pikiran.” Ia berlalu.
***
Sabar Bapak dan Ibu hadirin sekalian!Saya tidak bermaksud mengungkit kejelekan masa lalu kampung kita. Jangan beranjak dulu! Saya belum cerita bagian paling intinya, sabar sedikit ya! Ini tidak akan lama. Bapak dan Ibu sekalian pasti pernah dengar tentang kayu Tondong, kan? Ah, yang kalian punya itu palsu. Bukan asli dari aslinya. Itu cuma kayu biasa yang rupanya dimirip-miripkan. Diberi nama kayu Tondong karena muasalnya memang dari tongkat kayu Datu Tondong. Ia yang menemukan dan itulah yang mengubah hidupnya untuk selamanya. Ceritanya kurang lebih begini:
Bungkusan yang ditinggalkan di rumah kami malam itu berisi kayu yang lebih menyerupai ranting kecil, seukuran jari kelingking anak kecil. Potongan kayu kecil itu berasal dari setangkai kayu yang memiliki panjang kurang lebih lengan orang dewasa. Karena memang itu bukan kayu biasa, kayu itu didapati beberapa saat setelah langit mendung dan gulungan awan berjejer berkeliling di petala. Seorang lelaki masih mantap dengan cambuk di tangan kanannya, memandu dua kerbau di hadapannya mengelilingi petakan sawah. Beberapa orang sudah memperingatkannya untuk beranjak karena sebentar lagi ada hujan besar. Tetapi ia menolak selesai sebelum tuntas. Hujan ya hujan, bertani ya bertani, tidak ada hubungannya. Katanya pada orang-orang yang mengajaknya pulang. Mati ya mati, Tondong, kau sudah gila? Cetus salah seorang petani memperingatkannya.
Jika langit seperti itu kelihatan dan gemuruh-gemuruh kecil samar kedengaran, kemungkinan besar petir akan turut serta. Dan benar, petir besar menyambar sebuah pohon dan membelahbatangnya menjadi dua bagian.
Lelaki tadi yang menolak pulang gemetaran bukan main. Pohon itu hanya berjarak satu petak sawah dari posisinya berdiri. Ia melihat dengan jelas kilatan itu sebelum menyambar pohon. Hujan turun begitu deras.
Setelah melepaskan rakkalanya, ia menarik—dengan bantuan cambuk, dua kerbaunya menepi dengan sekuat tenaga. Serangan air hujan membuatnya berkutat lebih keras dengan tali yang ia genggam. Kerbau yang ketakutan karena suara petir tentu bukanlah tandingannya. Kedua tali kerbau itu lepas dari genggamannya dan melukai telapak tangannya.
Dengan telapak tangan yang masih belum berhenti mengeluarkan darah, ia berjalan begitu lemas mendekati jalan tani, hendak menuju pulang. Namun ia terhenti di dekat pohon tersambar petir itu dan menemukan sebuah kayu yang tertancap di tengah belahan pohon itu. Dengan sangat berani, ia mencabutnya dan tangannya yang tadinya luka, sembuh sekedipan mata. Sejak saat itulah Tondong menamai kayu yang ia temukan dengan namanya sendiri.
***
Kehadirankayu sakti itu, rakkala buatan Ayah tidak lagi laku banyak. Bahkan, saking dipercayai khasiat kayuTondong itu, orang tidak lagi membajak sawahnya berkali-kali untuk mendapatkan tanah gembur. Orang-orang lebih percaya pada berkat dari kayu sakti Datu Tondongyang diketuk-ketukkan di atas tanah sawah sebelum ditanami. Persis seperti ketukan Musa ketika hendak membelah lautan. Ayah saya akhirnya harus bertahan hidup dengan hasil jualan parang, sabit, cangkul yang tidak seberapa.
Bapak dan Ibu hadirin sekalian! Alasan itulah orang-orang terus menerus datang hingga hari ini ke makamnya. Datu Tondongmembawa kampung kita selangkah lebih sejahtera dari kampung lainnyakarenamenghasilkan beras kualitas bagus. Petani-petani kampung sebelah tidak ketinggalan kabar itu,juga beberapa kampung lainnya yang berjarak seperempat hari berjalan kaki.
Seperti pisau bermata dua, tongkat itu pula yang membuat Datu Tondong menduduki kursi kekuasaan. Memonopoli harga beras. Hasil panen harus melewati titahnya sebelum dijual. Datu Tondong mematok sepuluh hingga dua puluh persen pada petani yang selesai panen. Atau, kadang seenak hatinya.
Anak-anak remaja yang berusia belasan seperti saya waktu itu sering dipanggil ke rumah Arajang untuk bantu-bantu sortir beras. Kami diajari membedakan mana beras berkualitas bagus, mana sedang-sedang. Mana bisa dijual, mana untuk dikonsumsi semata.
Inilah bagian intinya yang perlu saya katakan Bapak-Ibu sekalian, ini agak tidak mengenakkan tetapi beginilah kenyataannya. Bukankah kenyataan disembunyikan karena fakta terlalu mengecewakan untuk kita terima?
Datu Tondong sering memanggil salah satu dari remaja lelaki untuk masuk ke kamar, kawan saya Salim pernah cerita waktu itu disuruh buka celana dan dipijit selangkangannya. Supaya kuat bekerja, kata Datu Tondong setiap kali Salim berusaha menghalau tangan yang menggeranyangi tubuhnya. Awalnya, saya tidak percaya perkataan Salim sampai akhirnya.
“Masuklah! kau pasti kelelahan.” saya teringat suaranya,pelan ia membuka baju dan merapatkan pintu kamar. Baru saja ia selangkah mendekat, Datu Tondong melihat bungkusan kecil berkalung di leher saya. Barangkali, karena merasa berhutang budi pada Ayah saya ketika masih bertani, atau bungkusan itu memangampuh. Datu Tondongseketika pucat gemetar, iamenyodorkansejumlah uang, meminta saya merahasiakan perbuatannya. Ia bahkan bilang, kalau butuh uang, bilang saja ke dia.
Begitulah cerita yang sebenarnya, saya sama sekali tidak melebih-lebihkan apa pun. Saya bercerita apa adanya. Borok masa lalu tidak boleh disimpan, ini demi maslahat kita kedepan untuk tidak membiarkan kejadian seperti itu terulang. Apalagi, menganggap DatuTondong itu seorang yang layak memberi berkat.Maka dari itu, saya meminta pada sekalian yang hadir hari ini, kita harusmenghentikan kebiasaan datang mohon berkat ke makamnya sebelum musim tanam tiba.
Yah, walau Datu Tondong pernah menyejahterakan kampung kita, dialah yang sebetulnya membunuh saudaranya, Datu Tonding, menggunakan kayuitu. Dicelupkannya ke air mandi Datu Tondingyang mati keesokan harinya tanpa satu pun tanda. Keserakahannya memonopoli hasil panen, juga mengingatpara remaja lelaki korbannya,membuang diri di rantau karena malu untuk kembali, barangkali, cukup menjadi alasan kuat untuk berhenti datang ke makamnya, untuk urusan apa pun. Ada pun uang yang pernah ia berikan, saya pikir sudah impas dengan puluhan tahun menutup rahasia. Tetapi, yang paling penting dari itu semua, Bapak-Ibu hadirin sekalian harus percaya dengan apa yang baru saja saya kisahkan.
Biodata Penulis
Fadhil Adiyat, saat ini masih sementara berkutat dengan bangku perkuliahan di Sastra Indonesia, Universitas Hasanuddin. Ia pembaca yang lamban. Mengamini bahwa dunia adalah paradoks dan selalu menghindari naras-narasi tunggal. Di dalam kepalanya, ia seringkali mengulang-ulang seutas kalimat dari Nietzsche “Whenever I climb, I amfollowedby a dog called Ego.”
KILAS BALIK : KEBIJAKAN-KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM SATU TAHUN PANDEMI COVID-19 DI INDONESIA. APAKAH EFEKTIF?
Oleh : Hamaluddin (Ketua BE IMPS UNHAS 2021-2022)
Virus Corona atau Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 ( SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian. Infeksi virus Corona pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menyebar menular dengan cepat dan telah menyebar ke hampir seluruh semua Negara, termasuk Indonesia hanya dalam waktu beberapa bulan.
Virus Corona ( SARS-CoV-2 ) mulai masuk di Indonesia pada 2 maret 2020 untuk pertama kalinya. Pemerintah mengumumkan dua kasus pasien Covid-19 di Indonesia. Namun, Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menyebutkan virus corona jenis SARS-CoV-2 sudah masuk ke Indonesia sejak awal Januari 2020 dalam diskusi daring bertajuk “ Mobilitas Penduduk Dan Covid-19 : Implikasi Sosial, Ekonomi Dan Politik” pada Senin ( 4/5/2020).
Data pasien yang terpapar virus corona update terakhir 7 Juli 2021 ( Satuan Tugas Penaganan COVID-19 ) untuk global terdiri atas 223 negara terkonfirmasi sebanyak 184.324.026 dan meninggal sebanyak 3.992.680 ( WHO. Untuk di Indonesia sendiri terkonfirmasi positif sebanyak 2.379.397, sembuh sebanyak 1.973.388 dan meninggal sebanyak 62.908. Pandemi COVID-19 di Indonesia tidak dipungkiri menyebabkan kerugian pada berbagai sektor. Mulai dari wisata, transportasi, perekonomian Negara, sampai pedagang kaki lima.
Kebijakan-Kebijakan Pemerintah Selama Pandemi Covid-19
Kurang lebih satu tahun pandemi COVID-19 di Indonesia berbagai kebijakan telah dikeluarkan pemerintah dalam upaya menekan laju penularan virus corona mulai dari penetapan PSBB sampai penetapan PPKM darurat yang beraku mulai tanggal 3 juli sampai 20 juli 2021 diberbagai daerah di Indonesia. Berikut ini adalah kebijakan-kebijakan pemerintah selama pandemic COVID-19 di Indonesia :
1. Penetapan PSBB
Sebulan setelah pandemic melanda, Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar. Tindakan PSBB ini meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan juga pembatasan kegiatan ditempat atau fasilitas umum. Hal ini sangat berdampak pada penurunan pendapatan pedagang kaki lima. Dalam hal ini Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan ( Kontras ) menilai cara pemerintah melakukan penetapan PSBB terlalu birokritas.
2. Terbitnya Perpu Covid-19
Presiden Joko Widodo mengeluarkan Perpu Nomor 1 Tahun 2020 yang mengatur tentang kebijakan keuangan Negara dan stabilitas keuangan untuk penanganan pandemic Covod-19 dan dalam rangka menghadapi ancaman yang membahayakan perekonomian nasional dan stabilitas sistem keuangan. Sesaat setelah diterbitkan pada akhir Maret 2020, Perpu tersebut digugat oleh tiga pemohon ke Mahkamah Konstitusi. Ketiganya adalah perkumpulan masyarakat Anti Korupsi Indonesia ( MAKI ) dan kawan-kawan, Politisi Partai Amanat Nasional ( PAN ) Amien Rais dan kawan-kawan, serta aktivis Damai Hari Lubis. Perpu tersebut dinilai menciptakan impunitas bagi pejabat pengambil keputusan dan menutup kewenagan BPK untuk memeriksa dan mengaudit penggunaan anggaran.
3. Pembentukan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.
Presiden Joko Widodo membentuk komite ini pada juli 2020 untuk menggantikan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Sejumlah pengamat menilai fungsi pembentukan komite tidak jelas karena komposisi keanggotaannya yang tak jauh beda dari kabinet pemerintahan.
4. Sanksi Bagi Pelanggar Protokol Kesehatan
Presiden Joko Widodo meminta kepala daerah membuat aturan turunan dari Inpres Nomor 6 Tahun 2020 tentang peningkatan Kedispilinan dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Dalam Pencegahan Dan Pengendalian Covid-19 dan membuat sanksi bagi pelanggar. Dalam pelaksanaan kesehatan di masyarakat.
5. Penerapan PPKM
Pemerintah menerapkan PPKM Mikro dipulau Jawa dan Bali mulai tanggal 11 sampai 25 Januari 2021, yang di klaim berbeda dengan PSBB. Menteri Kordinator Bidang Perekonomian Airlanga Hartarto beberapa waktu lalu menyebutkan PPKM membatasi kegiatan masyarakat di titik-titik yang dianggap sebagai zona merah. Tindakan PPKM Mikro ini meliputi kegiatan perkantoran/ tempat kerja baik perkantoran pemerintah memberlakukan work from home ( WFH) bagi perkantoran yang berada di zona merah dan oranye Covid-19, kegiatan belajar mengajar di zona merah dilakukan secara daring, restoran hanya diizinkan buka hingga pukul 20.00 dan hanya boleh melayani pesanan take away , kegiatan di pusat perbelanjaan, mal, pasar, dan pusat perdagangan diberlakukan pembatasan jam operasional sampai dengan pukul 17.00 dan pembatasan pengunjung palik banyak 25% dari kapasitas, kegiatan tempat ibadah ditiadakan sementara sampai dinyatakan aman yang berada di zona merah dan kegiatan di area public ( fasilitas umum, taman umum, tempat wisata umum, area publik lainnya ditutup sementara sampai dinyatakan aman yang berada di zona merah.
Dan baru baru ini pemerintah mengeluarkan kebijakan lain yakni PPKM darurat dengan target penurunan penambahan kasus konfirmasi harian kurang dari 10.000 kasus per hari. Adapun aturan pada PPKM darurat ini meliputi menerapkan 100% work from home ( WFH), seluruh kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring atau online,untuk pusat perbelanjaan yang menjual kebutuhan sehari-hari dibatasi jam operasional sampai pukul 20.00 waktu setempat dengan kapasitas pengunjung 50%. Untuk apotik dan took obat bisa buka full 24 jam. Kegiatan pada pusat perbelanjaan/ mal/ pusat perdagangan ditutup. Dan pelaksanann kegiatan makan/minum di tempat umum ( warung makan, rumah makan, kafe, pedagang kaki lima, lapak jajanan ) baik yang berada dilokasi tersendiri maupun yang berlokasi di pusat perbelanjaan hanya menerima delivery atau take away dan tidak menerima makan ditempat ( dine in ), kegiatan di tempat ibadah serta fasilitas umum di tutup sementara.
Dan itulah beberapa kebijakan pemerintah selama satu tahun pandemi Covid-19 di Indonesia. Apakah efektif ? Ini semua kembali lagi dari ketegasan pemerintah setempat yang mengadakan PPKM dan kesadaran dari masyarakat setempat untuk mencegah penularan virus corona di Indonesia. Sekian dan terima kasih.