IHT Penyusunan Kurikulum SMKN 6 Kota Jambi Hadirkan Semangat Baru untuk Arah Pendidikan Sekolah
KOTA JAMBI, 4 Desember 2025, SMK Negeri 6 Kota Jambi melaksanakan In House Training (IHT) Penyusunan Kurikulum Satuan Pendidikan pada 3–4 Desember 2025 di ruang Teaching Factory (TeFa) Kuliner. Selama dua hari, ruang praktik itu berubah menjadi ruang gagasan. Para guru dari berbagai jurusan duduk dalam satu lingkaran kerja, menyusun ulang arah pendidikan sekolah agar semakin relevan dengan kebutuhan zaman dan dunia kerja.
IHT diikuti Tim Pengembang Kurikulum yang terdiri dari Hj. Maya Ramayang Diandika, Lili Dayani Sinaga, Nikmah Fauziah Adinna, Anie Marini, Khosiah, Merischa Soviani Sihite, Aprini Elastri, Nurul Anggini, Hariyani, Irwansyah, Alisha Juwita, Syamsul Bahri, Mat Rikin, serta Shilma Anggraini. Dalam kegiatan ini, para peserta tidak sekadar hadir sebagai pendengar. Mereka aktif menyusun dokumen kurikulum, mempresentasikan rancangan, lalu melakukan revisi secara langsung berdasarkan catatan narasumber.
Untuk memastikan proses berjalan terarah, sekolah menghadirkan dua narasumber berpengalaman, yakni H. Adi Triono, M.Pd., mantan anggota BAN Provinsi Jambi, serta Jompi Sariandi, S.Sn., M.Pd., akademisi sekaligus praktisi seni. Keduanya memandu diskusi dengan pendekatan yang hangat tetapi tetap tegas. Mereka mengajak peserta menempatkan kurikulum bukan sebagai tumpukan administrasi, melainkan identitas sekolah yang harus selalu dipelihara, diperbarui, dan dijaga keterhubungannya dengan realitas siswa.
Dinamika ruang pelatihan terasa hidup. Di sela penyusunan, peserta saling bertukar pandangan tentang kebutuhan pembelajaran yang lebih kontekstual: apa yang harus diperkuat, apa yang perlu disederhanakan, dan bagian mana yang harus disesuaikan agar tidak tertinggal dari perubahan.
Kepala Satuan Pendidikan SMKN 6 Kota Jambi, Endra Gunawan, M.Pd., hadir memantau jalannya kegiatan sekaligus memberi dukungan penuh. Ia menegaskan penyusunan kurikulum tidak boleh dipahami sebagai kerja rutin yang selesai ketika dokumen dicetak dan dijilid. Bagi Endra, kurikulum adalah kompas sekolah.
“Kurikulum adalah arah. Jika arahnya jelas, perjalanan kita akan lebih mudah,” ujar Endra, memberi semangat kepada tim.
Salah satu anggota tim, Alisha Juwita, menyampaikan bahwa bimbingan langsung dari narasumber membuat proses penyusunan terasa lebih ringan dan tertata. Ia menilai diskusi yang terjadi selama IHT membantu sekolah menemukan kesepahaman bersama, terutama mengenai langkah-langkah pembelajaran yang ingin dikuatkan.
“Kami jadi punya gambaran bersama tentang ke mana sekolah ini ingin melangkah,” kata Alisha.
Di akhir kegiatan, IHT tidak hanya menghasilkan draf dokumen kurikulum satuan pendidikan, tetapi juga meninggalkan energi kebersamaan yang terasa nyata. Ada kesadaran kolektif bahwa mutu sekolah tidak lahir dari kerja satu-dua orang, melainkan dari kolaborasi yang konsisten, saling mengingatkan, dan sama-sama mau belajar.
SMK Negeri 6 Kota Jambi menutup IHT ini dengan harapan baru: kurikulum yang lebih tertata, langkah yang lebih mantap, serta komitmen bersama untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik. (id.12.'25)
Mahasiswa MTP Unja Belajar Teknopreneurship
dari Kebun, Bukan dari Slide
JAMBI, 13 Desember 2025, Kebun hidroponik yang biasanya identik dengan deretan pipa dan aliran air, Sabtu pagi berubah jadi ruang kuliah terbuka. Mahasiswa Program Studi Magister Teknologi Pendidikan (MTP) Universitas Jambi (Unja) mengikuti praktikum Teknopreneurship di Arsy Hidroponik untuk menyaksikan langsung bagaimana kewirausahaan dijalankan dalam rutinitas harian, mulai dari menyemai, menakar nutrisi, menghitung potensi panen, sampai bernegosiasi dengan pasar.
Kegiatan studi lapangan ini berlangsung Sabtu (13/12/2025) pukul 08.00–12.00 WIB di Arsy Hidroponik, Telanaipura. Setelah kunjungan, agenda dilanjutkan dengan diskusi pelaporan di Anjungan Puisi Jambi.
Praktikum dipandu dosen mata kuliah Teknopreneurship, Dr. Dra. Zurweni, M.Si. Ia mendampingi mahasiswa mengamati langsung pelaksanaan kebun hidroponik sebagai bagian dari pembelajaran, agar teori tidak berhenti di ruang kelas.
Agenda ini juga ditempatkan dalam kerangka visi Unja yang menargetkan diri menjadi “A World Class Entrepreneurship University” dengan fokus agroindustri dan lingkungan. Di dalamnya, kampus mendorong lahirnya lulusan berjiwa wirausaha melalui kurikulum, riset, pengabdian, penguatan kreativitas bisnis, penciptaan startup, hingga kemitraan strategis.
Pemilik kebun, Jompi Sariandi, S.Sn., M.Pd., membuka sesi dengan cerita yang terasa dekat bagi generasi yang belajar dari internet. Ia mengisahkan pengalaman memulai usaha, termasuk perbedaan antara gambaran modal awal yang tampak sederhana dan kebutuhan nyata di lapangan yang datang bertahap, hingga biaya awal meningkat.
Bagi Jompi, perjalanan usaha tidak selalu mulus. Saat tanaman sempat tumbuh bagus, hama dan penyakit datang. Ia tidak membingkainya sebagai kisah heroik, tetapi sebagai situasi yang menuntut pilihan realistis. Di momen itu ia menyebut istilah “tanggung basah”, sebuah kalimat yang singkat tapi cukup menggambarkan konsekuensi ketika sudah terlanjur masuk ke pekerjaan.
Mahasiswa kemudian diajak masuk ke aspek teknis yang menentukan hidup-matinya produksi. Kemiringan instalasi, misalnya, bukan urusan estetika. Terlalu miring membuat air cepat lewat, terlalu datar membuat air menggenang dan berisiko merusak akar. Pembahasan berlanjut ke nutrisi. Kadar yang terlalu tinggi bisa membuat selada pahit, sementara kekurangan nutrisi membuat daun menguning dan pertumbuhan melemah.
Dari sisi bisnis, Jompi menekankan pentingnya ritme panen. Ia menolak pola panen besar sekali waktu karena persoalan berikutnya sering lebih “mematikan” daripada hama, yaitu pasar yang tidak selalu siap menampung banyak hasil dalam satu waktu. Ia mencontohkan pola empat meja agar proses semai, tanam, hingga panen bisa bergilir dan panen lebih rutin.
Ia juga berbagi gambaran harga jual pada kisaran Rp22.000–Rp25.000 per kilogram, bergantung grade dan saluran. Dalam membaca pasar, ia mengingatkan bahwa komoditas bisa bergerak dengan satuan yang berbeda: selada sering lebih lancar dijual per batang, sedangkan pakcoy dan caisim lazim per kilogram. Ia menyebut adanya permintaan selada dengan bobot sekitar 60 gram per batang, serta permintaan komoditas tertentu yang bisa mencapai delapan kilogram per hari, sehingga kapasitas kecil berisiko memicu keluhan berantai.
Soal promosi, Jompi memilih jalur “bukti”. Ia menilai menawarkan rencana produksi ke hotel atau restoran kerap mentok pada pertanyaan sederhana, “Produknya mana?” Karena itu ia memutuskan membangun kebun terlebih dulu, lalu menjadikan panen awal sebagai momen sosial: warga dipersilakan memetik, kegiatan dipublikasikan lewat kanal media sosial, dan jejaring lokal juga diajak hadir agar informasi menyebar. “Orang sekarang butuh bukti nyata,” katanya.
Dalam pemasaran, ia memilih langkah yang menurutnya paling aman untuk menjaga ketepatan pasok dan menekan risiko operasional. Ia sempat mencoba marketplace, tetapi menyadari ada kebutuhan tambahan seperti admin dan tenaga pengepakan, sehingga ia memilih berkolaborasi dengan penjual sayur online yang sudah punya sistem.
Di sela kegiatan, salah satu mahasiswa, Suhardi Amir, tampak aktif mendokumentasikan kunjungan dengan kamera. Dalam catatan kegiatan, ia antusias mengabadikan momen sebagai konten dan inspirasi untuk berusaha. Bagi Tara mahasiswa sekaligus guru di salah satu sekolah swasta unggulan di Jambi, kuliah lapangan tidak hanya berhenti pada laporan, tetapi juga menumbuhkan keberanian untuk memulai.
Menutup sesi, Jompi juga menyinggung nilai berbagi pengetahuan yang ia pegang sebagai orang pendidikan, termasuk pengalamannya mengajar hidroponik di Bapas dan mendampingi kegiatan serupa. Ia menegaskan komitmennya untuk terbuka dalam berbagi ilmu.
Melalui praktikum ini, mahasiswa MTP Unja membaca kewirausahaan bukan sebagai slogan, melainkan rangkaian keputusan kecil yang konkret: mengakui keterbatasan modal, merapikan proses, menjaga ritme panen, dan memulai dari bukti. (id,13/12/’25)
SMKN 6 Jambi Ujian via Android, Cepat dan Terukur. Perlu Pembenahan lebih Lanjut
JAMBI, 8 Desember 2025, SMK Negeri 6 Kota Jambi mulai menerapkan ujian berbasis android melalui laman web sekolah sebagai bagian dari langkah digitalisasi evaluasi pembelajaran. Pelaksanaan ujian ini dinilai lebih efisien karena hasil dapat diketahui segera, tanpa guru harus mengoreksi satu per satu lembar jawaban seperti ujian kertas.
Kepala Satuan Pendidikan SMKN 6 Kota Jambi, Endra Gunawan, menyambut baik pelaksanaan ujian berbasis teknologi informasi tersebut. Menurut dia, pemanfaatan sistem evaluasi digital merupakan kebutuhan sekolah vokasi yang sedang bergerak mengikuti ritme dunia kerja yang serba cepat dan terukur.
“Saya merasa puas dengan informasi yang diaplikasikan sekarang dalam proses evaluasi atau asesmen. Ini langkah yang lebih baik berbasis IT di SMK yang kami pimpin,” kata Endra di sela pemantauan ujian.
Ujian dilaksanakan dengan mengakses web SMKN 6 Kota Jambi melalui perangkat android milik siswa. Sistem ini sekaligus menjadi pintu masuk pengembangan layanan digital sekolah ke depan. Pihak sekolah menargetkan laman tersebut tidak hanya menjadi media ujian, tetapi juga pusat informasi sekolah dan ruang pembelajaran jarak jauh, terutama bagi siswa yang sedang menjalani praktik kerja lapangan (PKL).
Dalam konsep yang disiapkan sekolah, siswa PKL diharapkan tetap dapat mengikuti pembelajaran dan evaluasi secara daring. Selain itu, sekolah juga menyiapkan pemanfaatan komponen digital lain untuk memantau proses belajar, sehingga data perkembangan siswa tidak tercerai-berai dan dapat dibaca lebih cepat oleh guru maupun manajemen sekolah.
Dari sisi pelaksanaan, panitia mencatat hambatan paling nyata adalah gangguan jaringan. Pada beberapa sesi, koneksi internet yang tidak stabil membuat akses ujian tersendat, bahkan menyebabkan siswa harus memuat ulang halaman. Kendala ini menjadi catatan penting karena ujian digital bergantung pada ketersediaan jaringan yang stabil, baik dari sisi sekolah maupun perangkat peserta.
Meski demikian, panitia menilai keuntungan ujian berbasis android terasa nyata pada efisiensi waktu. Hasil ujian dapat langsung ditampilkan dan direkap, sehingga guru memperoleh gambaran capaian kelas lebih cepat. Pekerjaan administratif juga berkurang karena tidak ada lagi proses penggandaan soal, pembagian kertas, atau pengumpulan lembar jawaban.
Nikmah, salah satu guru yang menjadi panitia, menjelaskan bahwa penerapan ujian digital ini adalah upaya sekolah menghadirkan asesmen yang lebih efektif dan terukur. Ia menekankan fitur pengamanan yang disiapkan untuk menjaga fokus dan kejujuran peserta.
“Ini upaya kita meningkatkan asesmen yang lebih efektif dan terukur. Karena siswa tidak bisa membuka aplikasi lain saat ujian. Kalau berpindah aplikasi, ia akan terlempar dari ruangan ujian secara otomatis,” ujar Nikmah.
Menurut dia, mekanisme tersebut membuat siswa lebih serius karena ruang ujian tidak lagi mudah “disambi” dengan aplikasi lain. Nikmah menambahkan, sistem yang dipakai saat ini masih akan terus diperbaiki, baik dari sisi kestabilan, tampilan, maupun kebutuhan pelaporan guru.(id, 8/12/'25)
Ekskul Sinematografi SMKN 6 Kota Jambi Produksi Video Deklamasi Puisi, Minat Siswa Masih Rendah
Ekstrakurikuler Sinematografi SMK Negeri 6 Kota Jambi menutup rangkaian kegiatan semester ini dengan memproduksi video deklamasi puisi. Di tengah gempuran konten pendek yang serba cepat, langkah ini menjadi upaya sekolah menjaga ruang kreatif siswa agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pembuat karya.
Namun, semangat itu masih menghadapi kenyataan yang tidak sepenuhnya mudah. Jumlah peserta ekskul hanya 12 orang. Angka itu dinilai belum menggembirakan, terlebih minat dari siswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) sendiri terbilang rendah. Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa kegiatan perlu pembenahan, baik dari sisi konsep, promosi, maupun fasilitas pendukung.
Pembina kegiatan, Ide Aprianto Putra, mengatakan ekskul sinematografi sejatinya memiliki potensi besar karena berada di sekolah yang memiliki jurusan DKV dan ekosistem kreatif yang tumbuh. Ide dikenal sebagai pelaku sinema di Jambi dan pernah terlibat dalam produksi film lokal hingga proyek yang telah tayang di layar lebar. Meski begitu, ia mengakui pembinaan belum maksimal.
“Saya masih aktif studi di Magister Teknologi Pendidikan Universitas Jambi, jadi waktu untuk pembinaan belum bisa fokus. Nanti setelah S-2 selesai, saya ingin serius membangun ekskul ini,” ujarnya.
Ide yang juga pendiri Anjungan Puisi Jambi menaruh harapan ekskul sinematografi kelak mampu melahirkan karya yang lebih menantang, bukan hanya video deklamasi, tetapi film pendek yang layak diperhitungkan dan bisa dibawa ke lomba. Menurut dia, video puisi adalah pintu masuk yang realistis untuk melatih dasar produksi: pengambilan gambar, suara, ritme editing, hingga kepekaan terhadap ekspresi.
Dari sisi peserta, Nurdin mengaku kegiatan belum berjalan sebagaimana yang diimpikan. Keterbatasan alat dan ruang produksi menjadi hambatan berulang, mulai dari ketersediaan perangkat audio, tripot, lampu, dan lain-lain hingga tempat yang memadai untuk pengambilan gambar dan latihan.
“Kegiatannya belum berjalan baik karena alat dan ruang waktu terbatas. Tapi saya bersyukur karena kami sudah bisa memproduksi dua video deklamasi puisi,” kata Nurdin.
Firman, peserta yang sudah terbiasa menggunakan kamera Canon mirrorless, menyampaikan kepuasan karena produksi tetap bisa berjalan meski dengan keterbatasan. Namun, ia juga menyebut capaian itu belum sesuai target kelompoknya.
“Kami puas bisa produksi, tapi belum sesuai target. Kami bermimpi sudah bisa bikin film pendek, bahkan ada ide film bertema judi online yang lagi booming,” ujarnya.
Sementara itu, Khaisya dan Umai mengaku terhibur sekaligus bangga karena berhasil memproduksi video pembacaan puisi. Keduanya merupakan deklamator andalan SMKN 6 Kota Jambi. Mereka beberapa kali menjuarai lomba baca puisi di lingkungan sekolah, bahkan pernah diundang tampil dalam sebuah kesempatan bersama mahasiswa internasional dari Thailand yang sedang menjalani studi di Universitas Jambi.
Khaisya berharap ekskul sinematografi dapat menjadi “rumah” bagi bakat-bakat siswa yang selama ini muncul di panggung, tetapi belum punya ruang produksi yang serius. Umai menambahkan, mereka ingin kegiatan ini berkembang hingga mampu mewujudkan film pendek seperti yang mereka bayangkan, dengan dukungan banyak pihak.
Di tengah berbagai catatan, para peserta sepakat satu hal: ekskul ini memiliki arah, tetapi perlu tenaga, waktu, dan fasilitas yang lebih rapi agar tidak berjalan setengah hati. Mereka juga berharap pembinaan ke depan dapat lebih intens, terutama setelah pembina kegiatan memiliki waktu yang lebih longgar.
Beberapa siswa menyebut dukungan moral dari orang-orang terdekat pembina turut memberi semangat, termasuk “Ayah Ide” yang sering terlihat membantu meski pembina masih sibuk dengan studi. Bagi mereka, harapan itu sederhana tetapi penting: ekskul sinematografi tidak sekadar hadir di daftar kegiatan sekolah, melainkan benar-benar menjadi ruang latihan yang hidup, produktif, dan melahirkan karya yang bisa dibanggakan.
Jika pembenahan dilakukan mulai dari perangkat produksi, ruang kreatif, hingga strategi menarik minat siswa, terutama dari jurusan DKV, ekskul sinematografi SMKN 6 Kota Jambi berpeluang naik kelas. Dari dua video deklamasi puisi, bukan tidak mungkin langkah berikutnya adalah film pendek yang lebih matang, lebih berani, dan lebih siap bertemu penonton yang lebih luas. (id, 05/12/'25)
Gedung TeFa Kuliner SMKN 6 Kota Jambi Siap Diresmikan Wagub, Sekolah Siapkan Atraksi Rasa dan Tari Penyambutan
SMK Negeri 6 Kota Jambi menjadwalkan peresmian gedung Teaching Factory (TeFa) Kuliner yang baru pada Selasa, 23 Desember 2025. Peresmian rencananya dilakukan Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani dan menjadi penanda dimulainya pemanfaatan fasilitas praktik yang dibangun melalui program Revitalisasi SMK dari pemerintah pusat.
Revitalisasi SMK merupakan program untuk memperbaiki dan mengembangkan sarana prasarana sekolah kejuruan agar layanan pendidikan vokasi lebih berkualitas, aman, dan nyaman bagi peserta didik. Program ini juga mendorong pelaksanaan berbasis swakelola sekolah dengan pelibatan masyarakat sesuai prinsip manajemen berbasis sekolah.
Kepala SMKN 6 Kota Jambi Endra Gunawan membenarkan kesediaan Wakil Gubernur Jambi untuk hadir meresmikan gedung tersebut. Ia berharap seluruh rangkaian acara berjalan lancar, karena gedung TeFa Kuliner ini, menurut dia, menjadi salah satu ikhtiar sekolah untuk meningkatkan mutu lulusan.
“Bantuan ini memang kami perjuangkan untuk menaikkan mutu lulusan. Ini upaya saya menjalankan amanah sebagai kepala sekolah dengan baik,” kata Endra.
Sejalan dengan itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dalam sejumlah kesempatan menekankan bahwa revitalisasi tidak boleh dimaknai sebagai pembangunan fisik semata, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem pembelajaran yang lebih bermutu. Ia juga mengingatkan agar setiap anggaran negara dijalankan dengan integritas dan dipertanggungjawabkan secara transparan.
Di tingkat nasional, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat anggaran revitalisasi untuk SMK pada 2025 mencapai Rp2,75 triliun. Pemerintah menegaskan program ini juga memberi kesempatan yang setara bagi SMK swasta dan negeri, dengan sasaran ditentukan berdasarkan kondisi kerusakan bangunan sekolah.
Irwansyah, salah satu panitia peresmian, mengatakan sekolah tidak ingin acara berhenti pada seremoni pemukulan gong dan penandatanganan prasasti. Panitia menyiapkan penampilan siswa sebagai “wajah” utama TeFa, agar publik melihat gedung ini bukan sekadar bangunan baru, melainkan ruang kerja dan ruang latihan kompetensi.
“Selain seremoni peresmian, kami akan isi dengan performa siswa jurusan kuliner yang menghadirkan berbagai makanan tradisional. Akan ada juga tarian penyambut dari siswa,” ujar Irwansyah.
Ketua jurusan kuliner SMKN 6 Kota Jambi, Aprilini, menyebut persiapan sudah cukup matang. Ia memandang momen peresmian sebagai kesempatan untuk berkabar kepada masyarakat tentang kompetensi siswa yang selama ini dibina melalui praktik yang semakin mendekati standar dunia kerja.
Aprilini mengakui jurusan kuliner relatif baru dari sisi jumlah angkatan lulusan. Namun, ia menilai performa siswa sudah mulai “berbicara” karena pengalaman magang di luar daerah memberi ukuran nyata tentang kesiapan mereka. Ia menyebut siswa dapat diterima baik di tempat praktik kerja lapangan, termasuk di Bali, Lombok, dan Yogyakarta, serta mendapatkan apresiasi terutama pada pengolahan kuliner tradisional Jambi.
Pernyataan serupa disampaikan Dr. Sofyan, M.Pd yang ikut melakukan monitoring siswa magang di luar provinsi. Menurut dia, pengalaman magang dan jejaring industri menjadi salah satu tolok ukur penting, karena sekolah vokasi harus mampu menunjukkan kompetensi melalui kerja nyata, bukan sekadar nilai rapor.
Di kalangan siswa, kabar hadirnya fasilitas baru memunculkan antusiasme tersendiri. Fuji, siswi kelas XI Kuliner, mengaku gembira karena praktik di TeFa akan lebih maksimal. Ia menyebut informasi yang ia terima, fasilitas TeFa Kuliner dilengkapi dengan peralatan dan mobel yang lebih baik, bahkan dikabarkan berstandar internasional.
“Senang, karena praktik jadi lebih maksimal. Apalagi fasilitasnya bagus, mobelernya juga baik,” kata Fuji.
Dukungan juga datang dari Komite Sekolah. Kahar, perwakilan komite, berharap gedung TeFa yang baru dapat menambah semangat belajar siswa dan meningkatkan kepercayaan orang tua terhadap SMKN 6 Kota Jambi. Ia menyebut komite turut memantau progres pembangunan TeFa Kuliner agar pemanfaatannya tepat sasaran.
Bagi sekolah, peresmian ini bukan garis akhir. Endra menekankan tantangan berikutnya adalah memastikan gedung baru benar-benar hidup, dipakai rutin, terhubung dengan industri, dan berdampak pada kualitas lulusan. Pada titik ini, TeFa diharapkan bekerja sebagai jantung pembelajaran, tempat siswa belajar produksi, layanan, disiplin kerja, standar kebersihan, manajemen waktu, hingga cara berkomunikasi dengan konsumen.
Di level kebijakan, ini sesuai dengan pernyataan menteri Abdul Mu’ti juga menekankan penguatan karakter dan keterampilan, agar SMK tidak berhenti pada target meluluskan pencari kerja, tetapi mendorong lahirnya generasi yang mandiri, kreatif, dan mampu berdaya saing.
Jika semua berjalan sesuai rencana, Selasa, 23 Desember nanti bukan hanya tentang pita, prasasti, atau foto bersama. Di panggung kecil peresmian itu, siswa jurusan kuliner akan “bicara” lewat rasa dan karya. Dan gedung TeFa yang baru akan mulai menjalankan fungsi utamanya, menjadi ruang tumbuh kompetensi yang bisa diuji langsung oleh dunia kerja. (id, 14/12/'25)
Penjemputan PKL di Aston Jambi, Obrolan Santai di Tepi Kolam dan Catatan Serius Dunia Kerja
KOTA JAMBI, 19 Desember 2025 - Tidak ada panggung, tidak ada mikrofon, apalagi seremoni yang kaku. Penjemputan siswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) SMK Negeri 6 Kota Jambi di Hotel Aston Jambi, Jumat sore, berlangsung seperti temu keluarga yang lama tidak berjumpa: dimulai dari bincang santai di area kolam, diselingi tawa, lalu ditutup dengan foto bersama.
Di lokasi itu berkumpul Hariani Fitri, HRD Hotel Aston Jambi, Aprinie Lastri selaku Ketua Jurusan Kuliner sekaligus pembimbing, Ide Aprianto Putra sebagai pembimbing jurusan Perhotelan, serta para siswa peserta PKL dari dua jurusan, Perhotelan dan Kuliner. Aston menjadi salah satu tempat penempatan siswa untuk belajar ritme kerja industri, dari disiplin waktu, standar pelayanan, sampai kebiasaan kecil yang menentukan kualitas.
Sesi foto menjadi penanda bahwa masa PKL mereka, setidaknya untuk periode ini, selesai. Tetapi suasana tidak seperti “penjemputan” pada umumnya. Tidak ada kalimat formal berlapis. Yang muncul justru obrolan ringan yang pelan-pelan masuk ke inti: evaluasi.
Hariani, yang akrab disapa “Kak Rani” oleh siswa, menyampaikan penilaian manajemen hotel dengan nada bersahabat. Ia menyebut ada beberapa catatan kecil yang menjadi bahan perbaikan, tetapi secara umum semua siswa dinilai menjalankan tugas dengan baik. Di sela-sela itu, ia juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih karena Aston dipercaya menjadi tempat PKL.
“Anak-anak melaksanakan tugas dengan baik,” ujarnya singkat, lalu tertawa kecil ketika beberapa siswa saling melirik, seperti lega karena “rapor” sudah dibacakan.
Keakraban yang terbangun selama PKL membuat suasana cepat mencair. Kak Rani terlihat mengayomi, tetapi tidak kehilangan ketegasan. Ia mengakui sesekali “ngomel”, lalu menambahkan kalimat yang membuat anak-anak tertawa karena jujur sekaligus hangat.
“Kalau saya ada ngomelnya dan sering dimaafkan ya, nasihatnya dengan senyum bersahabat. Itu untuk kebaikan kalaian juga. Kalian harus tahu dunia kerja itu perlu keseriusan dan ada tuntutan kerjanya,” katanya.
Di momen itu, nama David disebut. Kak Rani menyinggungnya sebagai salah satu siswa yang terlihat sungguh-sungguh. David, yang dikenal santun dan ramah, menanggapi dengan malu-malu. Ia tidak banyak bicara, hanya mengangguk dan mengakui bahwa ia memang berusaha serius menjalankan tugas. Kalimatnya pendek, tetapi cukup memberi kesan bahwa anak ini belajar bukan hanya soal pekerjaan, melainkan juga cara membawa diri.
Aprinie Lastri kemudian mengambil giliran, mewakili sekolah. Ia menyampaikan terima kasih kepada pihak Aston karena telah menerima siswa SMK Negeri 6 Kota Jambi untuk PKL. Ia juga menyampaikan harapan agar kerja sama terus berlanjut, karena pengalaman di hotel memberi ruang pembelajaran yang tidak bisa diganti oleh teori kelas.
Senyum HRD menguatkan jawaban. Hariani menyatakan manajemen Aston mengapresiasi kerja anak-anak, termasuk dengan rencana pemberian uang saku sebagai bentuk terima kasih. Kabar itu langsung disambut ekspresi cerah para siswa. Tetapi ada catatan: untuk periode berikutnya, program uang saku akan tetap ada dengan konsekuensi kuota peserta PKL dikurangi.
Di titik ini, suasana kembali riuh. Sebagian siswa tampak saling berbisik. Ada yang tersenyum lebar, ada yang spontan bertepuk tangan kecil. Uang saku bukan sekadar angka, tetapi juga pengakuan bahwa kerja mereka dilihat dan dihargai.
Meski PKL berakhir hari itu, para siswa tetap diperbolehkan datang ke hotel untuk menyelesaikan laporan. Hariani menegaskan, urusan laporan bukan pelengkap belaka. Ia mengaku akan mengawal penulisan dengan ketat.
“Saya baca betul. Jadi mirip dosen pembimbing skripsi,” katanya, lalu tertawa. “Seperti kita kuliah dulu.”
Kalimat itu memancing gelak tawa, tetapi sekaligus memukul halus pesan utamanya: dunia kerja menuntut ketelitian, termasuk dalam menulis laporan. Bukan hanya bekerja rapi, tetapi juga melaporkan rapi.
Ide Aprianto Putra, pembimbing dari jurusan Perhotelan, lebih banyak mengamati dan sesekali menimpali. Kehadirannya seperti penegas bahwa proses belajar siswa tidak berhenti ketika mereka pulang. PKL boleh selesai, tetapi kebiasaan profesional harus dibawa pulang ke sekolah, ke rumah, dan ke pekerjaan apa pun nanti.
Sore menutup acara dengan cara yang sederhana: minuman, kudapan ala hotel, dan obrolan yang pelan-pelan reda. Gerimis yang sempat turun pun berhenti, menyisakan udara lembap dan langit Jambi yang berwarna lembayung tipis. Para siswa pulang membawa satu hal yang tidak tertulis di sertifikat PKL: pengalaman tentang bagaimana kerja dinilai, bagaimana disiplin diuji, dan bagaimana senyum bisa tetap hadir di tengah tuntutan yang serius.(id/19/12/’25)