Bayangkan kamu lagi scroll TikTok malam-malam. Tiba-tiba muncul video orang curhat soal hidupnya dan kamu merasa "Wah, ini gue banget." Tapi... setelahnya? Kamu tetap merasa sendiri.
Itulah yang ingin kami bahas di proyek ini.
TikTok sekarang bukan cuma hiburan, tapi juga tempat orang curhat, cari perhatian, bahkan pelarian dari kenyataan.
Misi kami sederhana, tapi penting:
Kami ingin mengangkat bagaimana kesepian bisa tetap terasa meski kamu “terhubung” dengan ribuan orang secara online. Lewat riset ini, kami mencoba:
Memahami kenapa banyak Gen Z merasa sendirian di dunia digital yang kelihatan “ramai”.
Menelusuri bagaimana video, audio, dan algoritma TikTok memengaruhi cara kita berpikir dan merasa.
Membangun literasi media digital yang sehat: supaya kita tahu kapan harus offline, dan tahu kapan perlu cari bantuan nyata.
Menyuarakan pentingnya kesehatan mental digital dan validasi yang otentik.
Jadi kalau teman-teman tanya, kami akan jawab:
“Proyek ini bicara tentang kesepian yang nggak kelihatan. Kami ingin bantu sesama Gen Z untuk lebih sadar, lebih kuat secara emosional, dan lebih cerdas saat hidup di dunia online.”
Semua berawal dari keresahan kecil yang kami rasakan sendiri.
Sebagai bagian dari Generasi Z, kami Fifin, Gifa, Najwa, Rossy, dan Rasyid hidup di era digital yang serba cepat, penuh interaksi virtual, namun sering kali terasa... sunyi. Di balik video TikTok yang menghibur, komentar yang ramai, dan notifikasi yang tak henti, ada perasaan hampa yang diam-diam tumbuh.
Kami mulai bertanya-tanya:
“Kenapa banyak teman kita merasa kesepian padahal setiap hari online?”
“Kenapa curhat di TikTok bisa terasa lebih nyaman daripada bicara dengan teman sendiri?”
Pertanyaan itu membawa kami menyelami fenomena “loneliness in the crowd”, sebuah konsep yang ternyata sangat nyata di era TikTok. Kami menemukan bahwa konten-konten coping stress yang viral bisa menciptakan hiperrealitas emosional realitas semu yang seolah menyembuhkan, tapi sebenarnya memperdalam kesepian.
Dari sanalah kami menyusun ide ini, membentuk tim, dan memberanikan diri mengajukan proposal ke Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH).
Dengan bimbingan Dr. Fajar Junaidi, kami mengembangkan riset ini menjadi lebih dari sekadar proyek kampus. Kami ingin riset ini menjadi gerakan sadar media, sadar emosi, dan sadar relasi.
Kami percaya: Riset ini bukan hanya soal akademik. Ini adalah usaha kami untuk membantu sesama Generasi Z melihat bahwa mereka tidak sendiri, dan bahwa ada cara sehat untuk hidup berdampingan dengan dunia digital.
Lolos Pendanaan PKM-RSH 2025 oleh Kemdikbudristek
Pada bulan Juli 2025, tim kami dinyatakan LOLOS PENDANAAN dalam skema Program Kreativitas Mahasiswa – Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek RI).
Capaian ini merupakan hasil dari:
Gagasan orisinal yang menjawab fenomena aktual generasi muda,
Proses seleksi ketat dari ribuan proposal di seluruh Indonesia,
Kolaborasi intens antara mahasiswa dan dosen pembimbing,
Komitmen kami untuk memberikan kontribusi nyata dalam bidang kesehatan mental digital dan literasi media.
Rangkuman Prestasi:
Topik Unik & Relevan: Menggabungkan teori hiperrealitas dan loneliness di TikTok.
Tim Interdisipliner: Mahasiswa aktif UMY yang aktif dalam organisasi, lomba, dan media kampus.
Dibimbing oleh Pakar: Dr. Fajar Junaidi – Dosen & Peneliti Kajian Media.
Didanai Langsung oleh Belmawa: Total pendanaan sebesar Rp 9.290.000 untuk menjalankan riset & diseminasi publik.
Kenapa Ini Penting?
Lolos pendanaan PKM bukan hanya soal dana, tapi pengakuan bahwa ide kami layak diteliti, berdampak nyata, dan berkontribusi pada Indonesia Emas 2045. Ini adalah langkah awal kami untuk menjadikan riset ini sebagai gerakan sosial: membawa suara Generasi Z yang ingin sehat secara mental, cerdas secara digital, dan sadar terhadap realitas yang mereka hadapi.