Himpunan Keluarga Muslim Asal Tapanuli Riau Kompleks
Amak Lampis atau Tikar lapis dua adalah sebuah tikar khusus dari tanah Mandailing, ini menjadi elemen unik dalam adat Suku Mandailing, kini suku ini mendiami kawasan dengan nama Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Uatara terutama sebagai alas duduk yang digunakan dalam berbagai upacara adat. Tikar ini memiliki peran penting, terutama untuk tempat duduk para petinggi adat atau raja yang bergelar harajaon.
Amak lampis dibuat dari anyaman daun pandan dengan desain dan ornamen yang khas. Proses pembuatannya mencerminkan tradisi masyarakat Mandailing yang kaya akan seni kerajinan tangan. Salah satu ciri khas amak lampis adalah penggunaan warna-warna tertentu seperti kuning, hijau, merah, hitam, dan biru, yang memiliki filosofi mendalam dalam budaya Mandailing. Selain itu, tikar ini dibuat dengan jumlah lapisan yang ganjil, mulai dari satu hingga tujuh lapisan, sebagai bagian dari aturan adat.
Tujuan utama dari Prosesi Mangupa adalah mengembalikan roh agar dapat kembali kedalam raga manusia tersebut (Mulak Tondi Tu Ruma), dan memohon berkah Tuha agar selalu selamat, sehat, dan murah rezeki. Berdasarkan fungsi dan tujuan, upacara Mangupa dapat dibagi menjadi empat jenis:
Mangupa Selamat sebagai rasa syukur ketika seseorang selamat dari berbagai bencana dan maut, seperti selamat dari gempa bumi, diterkam harimau, ataupun kecelakaan.
Mangupa Sembuh Sakit sebagai rasa syukur ketika berhasil sembuh dari penyakit keras/kronis.
Mangupa Hajat Tercapai sebagai rasa syukur ketika berhasil mendapatkan rezeki seperti mencapai prestasi, atau sukses dalam usaha/karier.
Mangupa Khusus saat seseorang telah melalui fase kehidupan seperti menikat, atau dikhitan.
Gordang Sambilan merupakan kebudayaan Suku Mandailing yang diperkirakan telah muncul sejak tahun 1475 di daerah Mandailing Natal saat kepemimpinan Raja Sibaroar dari Kerajaan Nasution. Saat itu alat musik ini digunakan dalam kegiatan pesta pernikahan dan hiburan rakyat. Alasan penggunaan kata sembilan memiliki beragam versi sejarah. Menurut satu versi, kata sambilan berasal dari pemain gendang yang berjumlah sembilan yang terdiri dari naposo bulung atau pemuda, anak boru yaitu saudara perempuan dari keturunan Ayah, kahanggi yaitu saudari laki-laki dari keturunan ayah, serta raja.
Versi lain beranggapan bahwa kata sambilan melambangkan sembilan raja yang berkuasa di daerah Mandailing Natal, yaitu Nasution, Pulungan, Rangkuti, Hasibuan, Lubis, Matondang, Parinduri, Daulay, dan Batubara.
Baju adat Mandailing merupakan warisan budaya yang kaya akan makna filosofis dan estetika dari suku Mandailing, salah satu sub-etnis Batak yang mendiami wilayah selatan Sumatera Utara, khususnya di Kabupaten Mandailing Natal, sebagian Tapanuli Selatan, dan beberapa daerah di perantauan seperti di Riau dan Sumatera Barat. Pakaian adat ini tidak sekadar busana, tetapi juga mengandung simbol-simbol adat, status sosial, moralitas, serta nilai religiusitas yang telah mengakar dalam masyarakat Mandailing sejak dahulu.
Pada masa lampau, Mangulame bukan hanya sekadar makan bersama, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap tamu, penyatuan dua keluarga, serta simbol kebersamaan (siala sampagul — saling mengangkat derajat).
Nilai-nilai dalam Mangulame sangat erat dengan filosofi Dalihan Na Tolu yang menjadi dasar tatanan hidup Mandailing: mora (pemberi perempuan), kahanggi (saudara semarga), dan anak boru (penerima perempuan). Dalam pelaksanaan Mangulame, ketiga unsur ini mendapat posisi dan peran masing-masing, baik dalam mengatur, menyajikan, maupun menerima hidangan. Melalui Dalihan Na Tolu, tercipta keseimbangan peran dan penghormatan yang menjamin harmoninya acara adat. Dengan demikian, Mangulame bukan hanya tradisi makan bersama, tetapi wujud nyata dari falsafah Dalihan Na Tolu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Mandailing.
Marsialapari adalah suatu tradisi saling membantu dalam budaya masyarakat Mandailing. Tradisi ini biasanya dilakukan pada saat menggarap persawahan, mereka saling membantu satu sama lain dan menggarap sawah mereka secara bergantian. Selain untuk memudahkan dalam menggarap sawah, tradisi ini juga sangat berkaitan dengan nilai-nilai serta filosofi masyarakat Mandailing. Dimana rasa persatuan dan tolong menolong mereka junjung tinggi dan mereka curahkan dalam tradisi Marsialapari.
Bulang, Ampu dan Bagas Godang merupakan ciri khas Suku Mandailing