DATA UMUM JEMAAT
Demografi Jemaat
Nama : GKST Jemaat Rehobot Pebooa
Jumlah KK : 165 KK
Jumlah Baptis : 479 Jiwa
Jumlah Sidi : 307 Jiwa
KATEGORIAL
Jumlah Persekutuan Anak : 101 Orang
Jumlah Persekutuan Remaja : 53 Orang
Jumlah Persekutuan Pemuda : 78 Orang
Jumlah Persekutuan Bapak : 103 Orang
Jumlah Persekutuan Perempuan : 113 Orang
Jumlah Lansia : 66 Orang
Partisipasi Jemaat
Rasio kehadiran jemaat dalam ibadah sekitar 80% dari jumlah anggota. Hal ini dipengaruhi oleh lokasi yang berada di kawasan industri. Banyak anggota jemaat yang terikat aturan kerja, termasuk kewajiban bekerja di hari Minggu. Masalah yang dihadapi adalah jika mereka mulai kerja pagi, biasanya selesai malam dan waktu istirahat menjadi prioritas. Selain itu, ada juga yang melanjutkan pendidikan diluar daerah akibat kurangnya fasilitas pendidikan di daerah ini.
Partisipasi jemaat di Rehobot Pebooa sangat tinggi, terutama dalam berbagai kegiatan seperti Persekutuan Anak Sekolah Minggu, Remaja, Pemuda, hingga orang tua. Contohnya ketika ada program ibadah alam terbuka yang telah saya laksanakan orang tua anak remaja sangat mendukung, sehingga persekutuan remaja banyak yang hadir dalam program ibadah alam terbuka tersebut.
Namun, dalam kerja bakti, partisipasi sedikit berkurang karena banyak anggota jemaat bekerja di perusahaan. Meski begitu, ada juga anggota jemaat yang memberikan uang dan juga konsumsi sebagai bentuk partisipasi mereka karena tidak hadir. Di Gereja Rehobot Pebooa, beberapa tahun terakhir, partisipasi jemaat dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan. Ini menunjukkan bahwa pemimpin yang mampu mengayomi jemaat dapat mendorong kesadaran mereka untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan yang ada.
Keuangan Jemaat
Dalam beberapa tahun terakhir, jemaat mengalami masa sulit dalam penyusunan dan realisasi anggaran pendapatan dan belanja. Namun, pada saat perusahaan masuk, anggaran dapat dipenuhi dengan sangat baik karena jemaat termasuk dalam lingkar tambang sehingga mereka mendapatkan kompensasi dari perusahaan tersebut. Hampir semua program jemaat bisa terlaksana, terutama setelah hasil pemeriksaan keuangan menunjukkan kondisi yang sangat baik. Tingkat kesadaran dan rasa syukur jemaat Pebooa sangat tinggi, yang berkontribusi besar dalam mendukung pencapaian ini.
Meskipun jumlah jemaat tidak begitu banyak, keuangan gereja tetap tinggi. Hal ini karena banyak jemaat bekerja di sektor industri, sehingga mereka tetap bersyukur dengan cara memberi ucapan syukur. Mereka tidak selalu hadir untuk memberi, namun biasanya menyerahkan melalui pengurus kelompok, yang kemudian meneruskannya ke gereja. Ucapan syukur jarang diberikan pada hari Minggu, melainkan diberikan saat ibadah rumah tangga atau ibadah evangelisasi di kelompok masing-masing.
Jemaat Rehobot Pebooa memiliki kebijakan yang jelas mengenai transparansi dalam pengelolaan sumber daya keuangan. Majelis memastikan bahwa setiap pengeluaran dan pemasukan tercatat dengan baik dan disajikan dalam laporan keuangan yang bisa diakses oleh jemaat. Laporan ini disampaikan secara rutin, misalnya setiap minggu melalui warta jemaat dan juga barcode yang ditampilkan dilayar infocus dan juga melalui pertemuan jemaat. Selain itu, ada juga tim BPP yang secara berkala meninjau laporan keuangan untuk memastikan bahwa dana dikelola dengan benar dan sesuai dengan misi gereja. Maka dari itu, semua anggota jemaat merasa yakin bahwa dana gereja digunakan dengan bijak dan sesuai kebutuhan.
Penggunaan Fasilitas dan Aset Jemaat
Gedung Gereja Rehobot Pebooa saat ini dimanfaatkan secara maksimal untuk kegiatan ibadah rutin. Dalam upaya memenuhi kebutuhan jemaat, Gereja Rehobot Pebooa memiliki program untuk menambah fasilitas, yaitu gedung sekolah minggu. Gereja juga ingin menjadi “gereja ramah anak,” dengan menciptakan lingkungan yang membuat anak-anak merasa diperhatikan dan tidak terabaikan.
Anggota yang Pindah atau Meninggalkan Jemaat
Ada beberapa anggota jemaat Rehobot Pebooa yang pindah atau meninggalkan gereja karena alasan pernikahan. Biasanya, ini terjadi ketika salah satu pasangan menikah dengan seseorang yang berasal dari jemaat lain atau bahkan dari tempat yang jauh, sehingga mereka memilih untuk ikut bergabung dengan gereja pasangan mereka. Hal ini wajar terjadi, karena dalam pernikahan, pasangan seringkali memutuskan untuk membangun kehidupan bersama, termasuk dalam hal keanggotaan gereja. Meskipun ini bisa mengurangi jumlah jemaat di gereja, banyak dari mereka tetap menjaga hubungan baik dengan gereja Rehoboth Pebooa dan tetap berpartisipasi dalam kegiatan gereja jika memungkinkan, meskipun mereka tidak lagi secara aktif menjadi anggota.
Perencanaan dan Evaluasi Program Kerja
Jemaat ini memiliki fokus utama pada pengembangan atau pembangunan jemaat, yang artinya segala aktivitas dan program kerja dirancang untuk memperkuat dan meningkatkan kualitas kehidupan berjemaat. Saat ini, Gereja Rehobot Pebooa sedang dalam proses pembangunan pastori yang baru. Pastori ini akan digunakan sebagai tempat tinggal bagi pendeta dan keluarganya, serta sebagai pusat kegiatan gereja yang lebih nyaman dan representatif. Pembangunan pastori yang baru ini menjadi bagian dari perencanaan gereja untuk memperbaiki fasilitas yang ada, agar bisa lebih mendukung pelayanan gereja dan kebutuhan jemaat. Proses pembangunan ini tentu memerlukan perencanaan yang matang, baik dari segi dana, bahan bangunan, maupun waktu pelaksanaannya. Gereja sudah mulai mengumpulkan dana melalui sumbangan jemaat dan pihak lain yang mendukung, serta merencanakan segala kebutuhan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek ini. Dengan pastori baru, gereja berharap dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan mendukung pertumbuhan rohani jemaat, khususnya dalam mendekatkan hubungan antara pendeta dan jemaat.
Rapat dan Pengambilan Keputusan
Di Jemaat Rehobot Pebooa, rapat jemaat berjalan dengan tertib dan terbuka. Semua keputusan yang diambil dalam rapat dicatat dengan baik oleh sekretaris dan notulis khusus. Setelah rapat selesai, notulen atau catatan rapat ini dirapikan, sehingga usulan-usulan yang muncul bisa lebih jelas dan sesuai dengan maksud awalnya. Dalam rapat-rapat tersebut, tidak ada isu yang terlalu rumit atau berat, jadi semua yang direncanakan bisa berjalan dengan lancar. Hasil keputusan rapat kemudian digandakan dan dibagikan kepada kelompok-kelompok jemaat, dan para penatua atau pemimpin kelompok bertugas untuk menyampaikan informasi ini kepada jemaat. Dengan begitu, semua orang tahu tentang program yang akan dilaksanakan, seperti kegiatan pelayanan, pembangunan, dan kebutuhan umum jemaat. prinsip utama di sini, terutama terkait keuangan. Semua informasi rapat dibuka untuk jemaat, karena ini adalah program bersama, bukan hanya milik majelis. Jemaat pun merasa lebih terlibat dan paham arah tujuan gereja.
KONDISI INTERNAL JEMAAT
a. Iklim
Di GKST Jemaat Rehobot Pebooa, jemaat sangat peduli satu sama lain, sehingga suasana di antara jemaat sangat baik dan saling mendukung. Setiap orang merasa diterima dan dihargai, baik dalam kebaktian, kegiatan gereja, maupun dalam pelayanan-pelayanan yang ada. Jemaatnya sangat aktif berpartisipasi, dan hubungan antar sesama terasa dekat seperti keluarga. Komunikasi antar jemaat juga lancar, jadi semua orang bisa saling berbagi dan mengerti satu sama lain. Hal ini membuat jemaat merasa nyaman dan aman untuk tumbuh bersama dalam iman. Jemaat Rehobot Pebooa memiliki grup WhatsApp untuk komunikasi. Melalui grup ini, informasi tentang kegiatan dan pengumuman bisa disampaikan dengan cepat dan langsung ke semua anggota jemaat.
Setiap kali ada rapat, anggota jemaat Pebooa bebas menyampaikan persoalan yang ada, kecuali untuk masalah yang sifatnya sangat sensitif, yang hanya dibahas oleh majelis. Jika ada keterbukaan, jemaat bisa bersama-sama mencari solusi untuk setiap masalah yang dihadapi. Dalam rapat, semua orang dianjurkan untuk berbicara dengan baik dan tenang, tanpa emosi. Agar suasana rapat tetap nyaman dan masalah bisa dibahas dengan kepala dingin. Di jemaat Rehobot, keputusan penting tidak diambil sepihak oleh pendeta. Semua keputusan dibuat bersama-sama dalam rapat. Namun, untuk hal-hal khusus seperti masalah keluarga, pendeta tetap bertanggung jawab penuh dan berkoordinasi dengan majelis.
b. Kepemimpinan
1) Kepemimpinan-Anggota
PH dan majelis memiliki hubungan yang solid. Dalam setiap keputusan, PH selalu mendiskusikannya terlebih dahulu dengan anggota lain sebelum dibawa ke rapat majelis. Jika ada hal-hal tertentu yang membutuhkan keputusan langsung dari PH, maka PH yang mengambil keputusan tersebut. Hal ini menunjukkan adanya kepercayaan dan koordinasi yang baik dalam organisasi ini. Setiap anggota memiliki tugas yang jelas dan bertanggung jawab penuh atas tugas tersebut. Setelah tugas dilaksanakan, akan ada evaluasi untuk menilai keberhasilan atau kegagalannya. Jika ada yang mengalami kesulitan atau gagal, PH memberikan perhatian khusus agar ada perbaikan dan pembelajaran untuk ke depan.
PH berperan sebagai contoh dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. Sikap dan cara kerja yang ditunjukkan oleh PH menjadi model bagi majelis lainnya. PH diharapkan bisa menjadi pemimpin yang baik yang dapat diteladani oleh anggota majelis lainnya. Setiap kali ada rapat untuk pengambilan keputusan, kesepakatan dicapai secara bersama-sama. Tidak ada kekerasan verbal atau kata-kata kasar dalam rapat, sehingga suasana tetap kondusif dan nyaman. Kritik yang diberikan kepada PH dianggap sebagai pelajaran atau motivasi untuk meningkatkan kinerja, bukan sebagai hal negatif.
2) Anggota-Anggota
Majelis di jemaat Rehobot Pebooa, saling tolong-menolong dalam melaksanakan tugas. Misalnya, jika ada anggota majelis seperti Penatua atau Diaken yang sedang sibuk, anggota majelis lainnya siap membantu mengambil alih tugas yang perlu dikerjakan. Bantuan ini bukan hanya dalam bentuk tenaga, tapi juga dengan memberikan nasihat, informasi, dan dukungan moral. Ini menunjukkan bahwa majelis di jemaat Rehobot Pebooa saling peduli dan mendukung satu sama lain dalam pelayanan. Sebagian besar anggota majelis sadar bahwa sikap dan perilaku mereka mencerminkan kualitas pelayanan mereka. Mereka paham bahwa mereka adalah teladan bagi jemaat, sehingga berusaha menjaga sikap yang baik. Namun, ada juga beberapa yang mungkin hanya sekadar “berpura-pura” atau belum menyadari pentingnya sikap yang baik dalam pelayanan, sehingga terkadang tidak menunjukkan karakter sebagai pelayan Tuhan. Kesadaran ini penting untuk menjaga integritas dalam melayani.
Di jemaat Pebooa, majelis selalu berupaya bekerja dalam tim. Mereka juga siap menerima perbedaan pendapat dan kritik dari sesama majelis, tanpa membuatnya menjadi masalah besar. Dengan demikian, mereka dapat terus belajar dan memperbaiki diri melalui masukan dari orang lain. Sikap terbuka terhadap kritik ini membuat hubungan kerja mereka lebih harmonis dan memperkuat kerja sama tim.
Rehobot Pebooa memiliki program bulanan di mana ibadah pelayan diadakan bergiliran di rumah anggota para pelayan Tuhan. Hal ini memberi kesempatan bagi anggota majelis untuk saling berkunjung, menguatkan hubungan, dan semakin mengenal satu sama lain. Program ini juga memberi ruang bagi anggota jemaat lainnya untuk melihat dan merasakan pelayanan yang lebih personal dari majelis mereka.
c. Struktur
Di jemaat Rehobot Pebooa, majelis memiliki hubungan yang baik dan saling mendukung dengan semua pekerja gereja. Hal ini sangat positif karena menunjukkan adanya kerjasama yang solid dalam menjalankan tugas pelayanan. Ketika majelis dan pekerja gereja bekerja sama, pelayanan dapat berlangsung dengan lebih lancar dan efektif, yang pada akhirnya akan memberikan dampak baik bagi seluruh jemaat. Setiap kelompok di jemaat diberi wewenang untuk menyelesaikan masalah internalnya masing-masing. Artinya, jika ada masalah yang terjadi di dalam kelompok, maka kelompok tersebut harus berusaha mencari solusi sendiri terlebih dahulu. Majelis Jemaat di percayai untuk memberdayakan setiap kelompok untuk bertanggung jawab atas permasalahannya. Namun, jika masalahnya cukup besar atau tidak bisa diselesaikan dalam kelompok, barulah majelis akan turun tangan untuk membantu mencari solusi bersama.
d. Tujuan dan Tugas
1) Tujuan
Di jemaat Rehobot Pebooa , tidak semua anggota mengerti tujuan utama berjemaat, sementara sebagian lainnya sudah paham. Karena itu, majelis gereja berusaha menjelaskan tujuan berjemaat dengan cara yang mudah dipahami oleh semua anggota. Dengan adanya penjelasan ini, harapannya semua anggota bisa memahami mengapa penting untuk ikut serta dalam kegiatan gereja. Ketika semua anggota jemaat punya pemahaman yang sama, mereka akan lebih mudah bekerja sama dan saling mendukung dalam kegiatan gereja. Hasilnya, jemaat akan menjadi lebih kompak dan kuat karena semua orang tahu arah yang ingin dicapai bersama.
2) Tugas
Jemaat Rehobot Pebooa berpegang pada keputusan rapat jemaat dalam menjalankan program-programnya. Untuk itu, mereka perlu memilah mana program yang harus diprioritaskan dan mana yang bisa ditunda. Misalnya, program yang mendesak dan sangat dibutuhkan jemaat akan diprioritaskan, sementara program yang tidak terlalu mendesak bisa ditunda hingga waktu dan dana tersedia. Tugas bendahara menjadi penting di sini, karena bendahara perlu memilah antara program jangka pendek (yang segera dilaksanakan) dan program jangka panjang (yang bisa direncanakan untuk waktu mendatang). Dengan cara ini, keuangan jemaat dapat dikelola lebih baik sehingga setiap program yang disepakati bisa terlaksana dengan lancar.
Setiap program atau keputusan yang diambil dalam rapat jemaat melibatkan warga gereja. semua anggota jemaat diberi kesempatan untuk ikut berpendapat dalam menentukan program apa yang akan dilaksanakan dan program yang dijalankan lebih sesuai dengan kebutuhan nyata jemaat. Program-program yang dilakukan jemaat Rehobot Pebooa berfokus pada hal-hal yang nyata dan dibutuhkan oleh jemaat. Artinya, program dirancang berdasarkan situasi dan kebutuhan jemaat yang sebenarnya, bukan hanya berdasarkan rencana di atas kertas.
Menentukan prioritas dalam pelayanan adalah langkah penting, terutama untuk program-program yang menyangkut kebutuhan jemaat dan persekutuan di dalamnya. Dengan menentukan program mana yang perlu didahulukan, jemaat Rehobot Pebooa dapat menjalankan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan utama jemaat.
e. Identitas
Jemaat Rehobot Pebooa dikenal di Klasis sebagai jemaat yang "suka memberi". Artinya, mereka punya rasa memberi yang tinggi, tidak merasa berkekurangan dalam memberi. Contohnya ketika ada jemaat lain yang datang lelang lagu, mereka selalu memberi dengan penuh sukacita, sehingga ini membuat jemaat luar selalu terkagum dengan pemberian dari jemaat Rehobot Pebooa. Pemimpin jemaat memainkan peran penting dalam membangun hubungan antara jemaat dengan Klasis. Keikutsertaan jemaat dalam program Klasis sering bergantung pada arahan dan dorongan pemimpin. Oleh karena itu, pemimpin jemaat diharapkan mampu mendekatkan jemaat kepada Klasis, agar mereka dapat ikut aktif dan terlibat dalam program bersama. Hal ini juga bertujuan agar jemaat tidak merasa terpisah atau berbeda dari jemaat lain dalam Klasis.
Jemaat Rehobot Pebooa merupakan salah satu jemaat yang menjadi sumber kekuatan di Klasis. Artinya, mereka memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam Klasis, khususnya dalam kegiatan Anak, pemuda dan remaja. Namun, agar potensi ini bisa dimaksimalkan, penting bagi pemimpin untuk merangkul jemaat dengan baik dan memastikan bahwa mereka merasa bagian dari Klasis, bukan hanya sebagai jemaat yang berdiri sendiri.
Jemaat Rehobot Pebooa memiliki budaya yang dominan dari anak suku Watu. Namun, mereka tetap menerima suku-suku lain yang ada di dalam gereja termasuk suku Pamona. Artinya, ada keragaman budaya di jemaat ini, dan setiap suku dihargai dan diakui keberadaannya, yang membuat jemaat lebih inklusif dan terbuka.
Hubungan Eksternal Jemaat
Hubungan Jemaat Rehobot dengan jemaat lain di Petasia Timur, menunjukkan adanya ikatan yang kuat dan penuh kerjasama di antara gereja-gereja setempat, meski berasal dari berbagai denominasi. Contohnya siapapun yang melaksanakan acara pasti mengundang untuk acara tersebut. Misalnya perayaan HUT, Perayaan Natal dan juga Ibadah KKR. Setiap jemaat pasti selalu menghadiri undangan, meskipun berbeda denominasi.
KARYA GEREJA
a. Bina Iman
Di Jemaat Rehobot Pebooa, memiliki program katekisasi untuk persiapan sidi yang dilakukan secara berkala untuk anggota jemaat yang ingin memulai perjalanan iman mereka secara lebih serius. Prosesnya dilakukan dengan kelas pembelajaran Alkitab Di samping itu, khotbah-khotbah disampaikan dengan perhatian terhadap struktur yang berkesinambungan, mengacu pada kebutuhan jemaat dan tema-tema yang relevan. Khotbah dan liturgi juga dilaksanakan dengan mempertimbangkan ibadah kategorial dan fungsional, seperti ibadah untuk anak-anak atau remaja, yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan rohani mereka. Gereja juga sangat mendorong warga untuk memiliki kedekatan dengan firman Tuhan, melalui waktu teduh pribadi, membaca Alkitab, dan disiplin rohani lainnya.
b. Koinonia
Hubungan antar anggota jemaat di Rehobot Pebooa sangat dekat dan penuh dukungan. Ada persekutuan yang kuat antar anggota, di mana mereka saling menjaga dan saling membantu. Meskipun ada perbedaan pendapat atau konflik kecil, mereka selalu berusaha menyelesaikan masalah dengan dialog dan kasih. Di luar jemaat, hubungan dengan gereja-gereja lain dan umat beragama lain dijaga dengan penuh rasa hormat dan saling pengertian Jemaat Rehobot Pebooa berusaha menjaga sikap terbuka terhadap perbedaan, menjadikan persekutuan semakin kuat dan inklusif.
c. Diakonia
Jemaat Rehobot Pebooa memiliki program diakonia untuk membantu mereka yang membutuhkan, contohnya ketika ada anggota jemaat yang sakit mereka memberikan bantuan sebagai tanda kasih mereka berupa beras dan uang. Ini menunjukkan rasa peduli mereka terhadap anggota jemaat yang sakit, dan mereka memberi dengan penuh kerelaan hati dan tulus ikhlas untuk menopang pelayanan yang ada sebagai satu persekutuan di dalam Kristus.
d. Pastoral
Gembala di Jemaat Rehobot Pebooa sangat memperhatikan tugas penggembalaan dengan melakukan kunjungan rumah bagi mereka yang membutuhkan. Pemeliharaan jiwa tidak hanya terbatas pada jemaat yang hadir di gereja, namun juga berusaha menjangkau mereka yang jarang hadir atau yang menghadapi kesulitan dalam hidup mereka. Gembala berusaha untuk selalu hadir dan membantu jemaat menemukan jalan keluar dari masalah rohani atau kehidupan yang mereka hadapi. Selain itu, gembala juga melakukan upaya pastoral untuk memperkenalkan model penggembalaan yang lebih bersifat pribadi dan mendalam, agar setiap anggota jemaat merasa diperhatikan dan dicintai.