“Sudah bertahun-tahun menjalani terapi namun tak kunjung pesat perkembangannya. Sering kali rasa, capek pengen nyerah, pengen teriak menghinggapi diri ini” kata seorang Ibu kepada Saya.
Apakah wajar perkataan tersebut? Jelaslah sangatlah wajar. Hal ini menandakan bahwa kita hanyalah manusia, makhluk lemah yang perlu sandaran agar bisa bangkit kembali
Cepek ya…, nggak pernah selesai-selesai, ada aja yang musti dikerjain, belum lagi omongan-omongan tetangga, orang yang nggak dikenal bahkan keluarga dekat terkait Anak kita
Pasti pernah terbesit “kenapa musti saya yang diberikan anak spesial ini? Kenapa bukan orang lain? Saya kan sudah kasih gizi yang terbaik, memberikan stimulus semaksimal mungkin, serta memilih dokter terbaik pula, tapi kenapa saya?
Bukan kah tidak adil jika demikian? Bukan kah memang tidak adil, orang lain gembira atas kelahiran buah hati yang selama ini ditunggu-tunggu, tapi bagaimana dengan saya? Untuk tersenyum pun tidak mampu, karena terbayang masa depan anak ini akan seperti apa? Belum lagi terbayang begitu beratnya proses yang harus dijalani mulai dari terapi, kontrol dokter, kesana kemari yang nggak pernah tau sampai kapan akan berjalan seperti ini
Bukankan tidak adil Tuhan?”
Begitulah kira-kira isi hati, pikiran dari seorang ibu dan keluarganya yang saya rangkum dan saya cerna setiap sesi.
Kalau melihat cerita diatas pastilah memang tidak akan pernah adil sampai kita meyakini bahwa Tuhan Memang Adil.
Ustadz saya pernah bercerita mengenai temannya yang dulunya memang berasal dari keluarga yang berada, sampailah dititik dimana usaha orangtuanya bangkrut setelah Ayahnya terkena stroke dan terdapat masalah yang menyertainya seperti afasia global. (Mungkin terapis atau keluarga yang jauh mengetahui seberapa sulitnya komunikasi akibat afasia global).
Saat itu Ustadz saya menawarkan untuk umroh bersama, tapi beliau menolak “Maaf, saya belum bisa, karena ada orangtua saya yang harus saya rawat”
Ustad saya berkata “ya allah ya Rabb, jika saya diberikan kesempatan… Saya tidak akan menolak diposisi dia, bukankah ini yang Engkau namakan surga sebelum surga”
Yap benar sekali “surga sebelum surga”
Melihat pengorbanan beliau setiap harinya, rela nyuapin, rela mandiin, sabar menanggapi apa yang orangtuanya coba sampaikan, belum lagi nganter kesana kemari untuk kontrol, terapi, dan masih banyak lagi
Kenapa tidak dibiarkan saja? Toh juga sudah tua
Karena beliau tau, bahwa ini hanya persinggahan sementara. Dan beliau yakin setiap detik waktu bersama orangtuanya, sejatinya seperti aliran pahala yang mengalir
Bagaimana bisa hamba yang usahanya lebih ekstra, tapi hasilnya tidak sesuai?. Meskipun hasil tersebut tidaklah nyata didunia, tapi yakinlah akan menuai di akherat.
Pada dasarnya jika sudut pandang kita terkait segala perkara yang ada pada diri kita hanya berdasar ukuran dunia, pastilah sangat capek, pengennya udahan aja, nggak mau ngapa-ngapain lagi.
Tapi dari cerita diatas, kita bisa mengambil kesimpulan setiap detik setiap menit, setiap jam, hari bulan dan tahun yang ayah bunda korbankan itu tidaklah perkara yang sia-sia. Sekalipun Allah belum kasih kemajuan atau progress yang signifikan didunia, tapi Allah tidak akan menyia*kan usaha ayah bunda. Semakin banyak usaha yang dikeluarkan semakin besar yang dikorbankan pastinya setimpal pula hasil yang akan didapatkan.
Ingat juga, ada beberapa perkara yang memang manusia tidak bisa memelih atau merubahnya, namanya adalah “takdir”. Termasuk diberikan keturunan dengan kondisi yang bagaimana meskipun sudah berusaha semaksimal mungkin.
Ketika perkara tersebut kita tidak bisa memilih, maka tidak akan dimintai pertanggung jawaban, bahkan setiap kebaikan yang kita lakukan terhadap perkara tersebut akan bernilai pahala.
Begitupun dengan terapis, bukan berarti hasil ditangan Allah lantas kita tidak belajar tidak upgrade diri terkait keilmuan. Semakin banyak usaha yang terapis lakukan untuk perkembangan pasien semakin banyak pula imbalan dari yang Maha Kuasa.
Minimal nggak bingung jawab pertanyaan malaikat “Bagaimana tanggung jawabmu atas pasien?” –
karena ini perkara yang bisa kita pilih (mau mengusahakan atau tidak)
Do’a tanpa usaha itu tidaklah sempurnya begitupun sebaliknya.
Saya tahu tulisan ini bukanlah artikel ilmiah yang rasional, logic, serta ada bukti nyatanya.
Hanya saja saya sadar diri bahwa saya manusia yang sejatinya kehidupan ini tidak akan pernah bisa lepas dari campur tangan Sang Pencipta.