✨ “Membaca bukan sekadar kegiatan, tapi jendela menuju dunia tanpa batas.”
💡 “Yuk, kerjakan literasi dengan sungguh-sungguh dengan menonton video dan bacaan berikut ini! Jadikan momen ini sebagai langkah kecil menuju kesuksesan besar.”
SANG PENJUAL TEMPE
Ini adalah kisah dari seorang ibu penjual tempe. Pada suatu hari, seperti biasanya, pada saat ia akan pergi ke pasar untuk menjual tempenya. Ternyata pagi itu, tempe yang terbuat dari kacang kedele itu masih belum jadi tempe alias masih setengah jadi. Ibu ini sangat sedih hatinya. Sebab jika dalam suasana hatinya yang sedih, si ibu yang memang aktif beribadah teringat akan firman Tuhan yang menyatakan bahwa Tuhan dapat melakukan perkaraperkara ajaib, bahwa bagi Tuhan tiada yang mustahil. Lalu ia pun mengangkat kedua tangannya berdoa di antara beberapa batangan kedele yang masih dibungkus dengan daun pisang tersebut.
“Tuhan, aku mohon kepada-Mu agar kedele ini menjadi tempe, Amin.” Demikian doa singkat si Ibu yang dipanjatkannya dengan sepenuh hatinya. Ia yakin dan percaya pasti Tuhan menjawab doanya. Lalu, dengan tenang ia menekan-nekan dengan ujung jarinya bungkusan bakal tempe tersebut. Dengan hati yang deg-deg-an si Ibu tidak kecewa. Ia berpikir bahwa mungkin doanya kurang jelas didengar Tuhan. Lalu kembali ia mengangkat kedua tangannya berdoa diantara beberapa batangan kedele tersebut. “Tuhan, aku tahu bahwa bagi-Mu tiada yang mustahil. Tolonglah aku supaya hari ini aku bisa berdagang tempe karena itulah mata pencaharianku. Aku mohon Tuhan jadilah ini menjadi tempe.” Dengan berharap ia pun kembali membuka sedikit bungkusan tersebut. Lalu apa yang terjadi? Dengan kaget ia melihat bahwa kacang kedele tersebut. Tempe tersebut masih tetap begitu.
Sementara hari semakin siang di mana pasar tentunya akan semakin ramai. Si ibu dengan tidak merasa kecewa atas doanya yang belum terkabul, merasa bahwa bagaimana pun sebagai langkah iman ia akan tetap pergi ke pasar membawa keranjang berisi barang dagangannya itu. Ia berpikir mungkin mukjizat Tuhan akan terjadi di tengah perjalanan ia pergi ke pasar. Lalu ia pun bersiap-siap untuk berangkat ke pasar. Semua keperluannya untuk berjualan tempe seperti biasanya sudah disiapkannya. Sebelum beranjak dari rumahnya, ia sempatkan untuk mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. “Tuhan, aku percaya, Engkau akan mengabulkan doaku. Sementara aku berjalan menuju pasar, Engkau akan mengadakan mukjizat buatku, Amin.” Lalu ia pun berangkat.
Di sepanjang perjalanan ia tidak lupa membaca doa dalam hati. Tidak lama kemudian sampailah ia di pasar. Dan seperti biasanya ia mengambil tempat untuk menggelar barang dagangannya. Ia yakin bahwa tempenya sekarang pasti sudah jadi. Lalu ia pun membuka keranjangnya dan pelan-pelan menekan dengan jarinya bungkusan tiap bungkusan yang ada. Perlahan ia membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat isinya. Apa yang terjadi? Ternyata, tempenya benar-benar belum jadi. Si Ibu menelan ludah. Ia menarik napas dalam-dalam. Ia mulai kecewa pada Tuhan karena doanya tidak dikabulkan. Ia merasa Tuhan tidak adil. Tuhan tidak kasihan kepadanya. Ia hidup hanya mengandalkan hasil menjual tempe saja. Selanjutnya, ia hanya duduk saja tanpa menggelar dagangannya karena ia tahu bahwa mana ada orang mau membeli tempe yang masih setengah jadi.
Sementara hari semakin siang dan pasar sudah mulai sepi dengan pembeli. Ia melihat dagangan teman-temannya sesama penjual tempe yang tempenya sudah hampir habis. Rata-rata tinggal sedikit lagi tersisa. Si ibu tertunduk lesu. Ia seperti tidak sanggup menghadapi kenyataan hidupnya hari itu. Ia hanya bisa termenung dengan rasa kecewa yang dalam. Yang ia tahu bahwa hari itu ia tidak akan mengantongi uang sepeserpun. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sapaan seorang wanita. “Bu, maaf ya, saya mau tanya. Apakah ibu menjual tempe yang belum jadi? Soalnya dari tadi saya sudah keliling pasar mencarinya.” Seketika si ibu tadi terperangah. Ia kaget. Sebelum ia menjawab sapaan wanita di depannya itu, dalam hati cepat-cepat ia berdoa, “Tuhan, saat ini aku tidak butuh tempe lagi. Aku tidak butuh lagi. Biarlah daganganku ini tetap seperti semula, Amin.”
Tetapi kemudian, ia tidak berani menjawab wanita itu. Ia berpikir jangan-jangan selagi ia duduk-duduk termenung tadi, tempenya sudah jadi. Jadi, ia sendiri saat itu dalam posisi ragu-ragu untuk menjawab wanita itu. “Bagaimana nih?” ia pikir. “Kalau aku katakan iya, jangan-jangan tempenya sudah jadi. Siapa tahu tadi sudah terjadi mukjizat Tuhan?” Ia kembali berdoa dalam hatinya, “Ya Tuhan, biarlah tempeku ini tidak usah jadi tempe lagi. Sudah ada orang yang kelihatannya mau beli. Tuhan tolonglah aku kali ini. Tuhan dengarkanlah doaku ini,” ujarnya berkali-kali. Lalu, sebelum ia menjawab wanita itu, ia pun membuka sedikit daun penutupnya. Lalu, apa yang dilihatnya? Ternyata, memang benar tempenya belum jadi. Ia bersorak senang dalam hatinya. “Alhamdulillah,” katanya.
Singkat kisah, wanita tersebut memborong semua dagangan si ibu itu. Sebelum wanita itu pergi, ia penasaran kenapa ada orang yang mau beli tempe yang belum jadi. Ia bertanya kepada si wanita. Dan wanita itu mengatakan bahwa anaknya di Yogyakarta mau tempe yang berasal dari desa itu. Berhubung tempenya akan dikirim ke Yogyakarta jadi ia harus membeli tempe yang belum jadi, supaya agar setibanya disana, tempenya sudah jadi.
Setelah menyaksikan video dan membaca cerita inspiratif ini. Silakan lakukan refleksi melalui link ini ya: https://forms.gle/uFbtAKUYxSCUcK8YA