Sundul adalah sebuah nama desa di Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur.
Keadaan Umum Desa Sundul:
Tahun berdiri Desa : 1903 (mengacu berdirinya Kabupaten Magetan)
Luas Wilayah : 310,435 Ha
Letak Dunia : 7.51976˚ S/LS dan 111.46129˚ E/BT
Batas Wilayah Desa Sundul:
Utara : berbatasan dengan Desa Banjarpanjang
Timur : berbatasan dengan Desa Giripurno
Selatan : berbatasan dengan Desa Krowe
Barat : berbatasan dengan Desa Krajan
Orbitasi:
Jarak dari Pusat Pemerintahan Kecamatan : 5 Km
Jarak dari Ibu Kota Kabupaten : 12 Km
Jarak dari Ibu Kota Provinsi : 200 Km
Dusun/Lingkungan:
Jumlah Dusun : 5 Dusun
Jumlah RT : 22 RT
Jumlah RW : 10 RW
Versi 1
Dahulu kala di wilayah ini, tepatnya di Sendang Teleng, ada sebuah pohon yang sangat tinggi sekali. Pohon itu namanya Sotok. Karena begitu tingginya, ada seseorang yang penasaran untuk mengetahui seberapa tinggi pohon itu. Dengan membawa bekal yang sangat banyak, dia mulai memanjat pohon tersebut. Sampai beberapa hari memanjat, dan perbekalannya sudah habis, dia belum bisa mencapai puncak pohon tersebut. Karena begitu tingginya, maka dianggapnya puncak pohon itu mencapai langit (Sundul langit). Maka daerah ini dinamakan SUNDUL. Sampai sekarang pangkal pohon itu masih ada, di tengah-tengah sumber Sendang Teleng.
Versi 2
Seperti banyak orang ketahui bahwasannya daerah Parang wilayah Kabupaten Magetan merupakan daerah kering dan kurang adanya air. Tetapi daerah SUNDUL merupakan satu-satunya wilayah Parang yang ada banyak sumber airnya bisa. Dimana-mana ada sumber air yang menggenangi wilayah itu. Menurut cerita orang tua dulu bahwa daerah ini bisa disebut rawa-rawa, karena ada sebagian tanahnya berlumpur dan sangat dalam (Embak yang dalam). Karena daerah ini banyak air yang keluar dari tanah, maka daerah ini disebut SUNDUL. Yang maksudnya banyak air yang menembus (Nyundul) keluar dari tanah. Sekarang ini keberadaan tanah yang berlumpur dalam sudah jauh berkurang. Tetapi cerita yang ini masih bisa dilanjutkan karena di SUNDUL sendiri sekarang sangat dikenal masyarakat sekitar dengan sumur artetisnya, yaitu mata air yang di ambil dari dalam tanah dengan kedalaman sekitar 30 M, dan airnya bisa naik ke atas tanah sekitar 1,5 M. Memang tidak salah kiranya bahwa nenek moyang kita dulu menamakan daerah ini dengan SUNDUL. Maka air di sini mampu menembus (Nyundul) ke atas tanah sekitar 1,5 M tanpa bantuan alat seperti pompa dan lain sebagainya.
Versi 3
Pada masa akhir perang yang dipimpin Pangeran Diponegoro, dimana Pangeran Diponegoro dan pasukannya sudah dalam keadaan tidak seimbang dalam hal peralatan dan logistik. Para pengikut dan pasukannya rata-rata para petani sudah sekian tahun bekerja tidak bertani. Maka habislah persediaan logistiknya. Maka Pangeran Diponegoro memerintahkan pasukannya untuk memperjuangkan pasukannya dari Belanda. Salah satu perintah beliau ialah memerintahkan pasukannya untuk ke sebelah timur Gunung Lawu. Konon ada sebagian kecil pasukan Pangeran Diponegoro yang terdiri dari 3 orang yang sampai di wilayah Parang. Dalam perjalanan yang memakan waktu beberapa hari mereka kelaparan dan kehausan maka berhentilah mereka. Dalam istirahatnya salah satu dari mereka bernama Raden Mas Haryo Ngadbiri melihat pohon yang tinggi menjulang lebih dari pohon-pohon yang lain di hutan itu. Karena merasa kehausan akhirnya ke 3 orang pasukan Diponegoro tersebut berbagi tugas mencari mata air. Raden Mas Haryo Ngadbiri yang juga seorang ahli da’wah dan seorang guru tersebut menghampiri dua pohon yang menjulang tinggi tersebut. Akhirnya sampailah Mbah Ngadbiri di tempat pohon tersebut, betapa herannya Mbah Ngadbiri dengan apa yang dilihatnya, ternyata pohon itu adalah pohon otok yang sangat tinggi. Biasanya pohon otok itu tumbuh pendek tetapi yang satu ini sangat luar biasa. Dan dibawah pohon itu terdapat banyak sumber air, maka berkatalah Mbah Ngadbiri “Iki ana wit otok kok duwure sak pendeleng lan sak kiwa tengene akeh banyu si jumundul nyundul lemah, yen ngono sumber iku tak jenengke Sumber Teleng lan desane Sundul”. Mbah Ngadbiri memutuskan untuk tinggal di daerah tersebut yang sekarang diberi nama Desa Sundul.
Potensi bisa mencakup segala hal yang dapat memberikan nilai atau manfaat kepada masyarakat desa, seperti sumber daya alam, manusia, maupun infrastruktur.