Pengarang : Meidiana Dwidiyanti, Diyan Yuli Wijayanti, Badrul Munif, Kandar Kandar, Titik Suerni
Tanggal Terbit : 2025/3/6
Deskripsi : Competent psychiatric nurses are required to be capable of treating schizophrenia patients so that they can behave adaptively. This study aimed to determine differences in violent behavior among patients with schizophrenia before and after the happy spiritual intervention through the RUFA Caring System. The research employed a pre-experimental study with a pre-post-test without a control group design was conducted among 50 schizophrenia patients in stable wards. The sample in this research is schizophrenia patients who were diagnosed with violent behavior and able to communicate and were purposively recruited. The happy spiritual intervention was given four times for 30 minutes each. Data on violent behavior were collected using the RUFA (General Response of Adaptive Function) scale presented in the RUFA caring system application. The paired t-test was used for data analysis. The mean±SD of the RUFA caring system score was (29.0±3.4) and (19.3±8.7), before and after the intervention, respectively. The paired t-test analysis found a decreased score of 10.3±5.3 with a p-value of 0.000 (p< 0.005) and an effect size of 1.94 (d> 0.8). Happy spiritual intervention through the RUFA Caring System is highly effective for mentally disordered patients to control their emotions so that they can reduce violent behavior.
Pengarang : Diyan Yuli Wijayanti, Kandar, Meritha Aulia, Fika Saputri, Irma Afrilia, Juan Lucy Saputra, Muhammad Seno
Publised : 2025-03-25
Pendahuluan: Internet menawarkan beberapa peluang untuk mengeksplorasi seksualitas dikalangan remaja. Internet menjadi salah satu cara yang mudah diakses untuk menemukan seksualitas remaja tanpa standar seksual yang membatasi seperti melihat pornograline atau terlibat dalam aktivitas seksual online. Tujuan: memahami perilaku cybersex di kalangan Remaja. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif. Populasi anak remaja diberbagai daerah, besar sampel sebanyak 40 remaja dengan teknik quota sampling. Instrument menggunakan Internet Sex Screening Test (ISST) dan pengumpulan data melalui google form. Analisis data univariat dalam bentuk distribusi frekuensi. Hasil: Mayoritas remaja berjenis kelamin laki-laki sebanyak 65%, memiliki status hubungan jomblo ( 62,5%), tinggal bersama orang tua (65%) dan menggunakan Handphone untuk mengakses internet (97,5%). Perilaku cybersex pada remaja menunjukkan kategori rendah sebanyak 60%. Kesimpulan: perilaku cybersex yang masih rendah tetap menjadi perhatian bagi orang tua dan perawat untuk memberikan edukasi dampak negatif perilaku cybersex terhadap kesehatan mental.
Link : https://journal.linkpub.id/index.php/LJHS/article/view/40
Pengarang : Alexander Prayogi Nugroho, Blacius Dedi, Dwi Indah Iswanti, Fery Agusman Motuho Mendrofa
Published : 2026
ABSTRACT:
Daily medical device checks are essential to patient safety, yet monitoring through the hospital's SIMANIS system declined from 72.98% in 2023 to 54.64% in 2024 and 37.92% by June 2025. This study developed and applied the PRAYOGI supervision model to strengthen nursing-service quality through structured device monitoring. A qualitative participatory action research design was implemented in two cycles at RSJD Dr. Amino Gondohutomo, Central Java, during January 2026. Fifteen purposively selected participants (13 nurses and two electromedical technicians) joined two focus-group rounds; three hospital managers completed in-depth interviews. Participant observation, field notes, audio recordings, member checking, and triangulation supported data collection. Data were analysed thematically using Colaizzi's steps and interpreted through the Neuman Systems Model and Total Quality Management. Three themes emerged: supervision as a mechanism for adaptation and teamwork; device monitoring as quality assurance through stressor prevention and continuous improvement; and sustainable nursing-service quality through feedback and theoretical integration. Across the two cycles, the checklist was simplified, supervision was embedded in shift handover, coordination with electromedical technicians became more direct, and SIMANIS completion approached 100%. PRAYOGI offers a feasible, theory-informed structure for daily device supervision, but its sustainability depends on formal procedures, recurring training, management feedback, and integration with hospital information systems.
Keywords: clinical governance, digital health, nursing management,
patient safety, quality improvement
Link : https://drive.google.com/file/d/1uM7u8wAlHrsAG83b7D1uKz-SRtViqBzw/view?usp=sharing
Pengarang : Kandar, Mustaqin, Tri Wahyuningsih
Published : 2025-04-28
Latar belakang: Permasalahan komplek yang dialami orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di rumah sakit jiwa adalah Masalah Sosial, Readmision, RBD tinggi, Usia > 65 th, Usia < 15 th, > 21 hari, Perkiraan biaya tinggi, 1 rumah > 3 ODGJ, Resti complain, Kontinuitas ke Faskes, 1 Pasien 3 DPJP, pasien lari. Tujuan: Menggambarkan permasalahan komplek pada ODGJ pasca rawat inap. Metode: Penelitian kuatitaif deskriptif dengan menggunakan metode survey. Populasi 1052 ODGJ yang mengalami permasalahan komplek pasca rawat inap. Teknik sampling adalah total sampling. Instumen yang digunakan ceklist dengan data skunder dari tahun 2021 - 2023. Analisa data dalam bentuk distribusi Frekuensi. Hasil: Pasien ODGJ yang memiliki permasalahan komplek pasca rawat inap selama tahun 2021 - 2023 yang paling tinggi adalah Permasalahan sosial sejumlah 373 ODGJ. Adapun permasalahan sosial yang dihadapi ODGJ terdiri dari tidak diterima lagi oleh keluarga (46%), tidak diterima masyarakat (20%), pasien terlantar 15%), hidup sendiri 16%), tidak memiliki penjamin (3%). Kesimpulan: Dengan Permasalahan komplek pada ODGJ ini maka peran Perawat Manajer Pelayanan Pasien (MPP) perlu ditingkatkan dalam berkoordinasi antara Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama, Perangkat Desa dengan keluarga ODGJ sehingga kontinuitas layanan dapat berkesinambungan.
Link : https://journal.linkpub.id/index.php/LJMH/article/view/45
Pengarang : Dwi Indah Iswanti, I Made Moh. Yanuar Saifudin, Rian Kusuma Dewi, Lee-Lee Lai, Kandar, Dessy Dwi Cahyaningrum
Published : 31-05-2024
ABSTRACT
Introduction:
Non Suicidal Self Injury (NSSI) among adolescents is a prevalent issue in Indonesia. Comprehensive understanding of NSSI is essential for uncovering the factors that trigger and predispose adolescents to such behavior.This knowledge serves as a foundation for crafting targeted nursing interventions to address and mitigate NSSI among this vulnerable population. This study aimed to identify determinant factors contributing to the occurrence of Non Suicidal Self-Injury behavior in adolescents.
Methods:
The study employed a cross sectional approach conducted between October and December 2023, with 570 respondents selected through simple random sampling. Socio demographic, precipitating, and predisposing
factors were measured using a checklist sheet. The Self Harm Inventory (SHI) instrument was utilized to assess NSSI. Data analysis involved Pearson correlation and multiple regression to examine the relationships between variables.
Results:
The study revealed significant relationships among five variables. Gender (p-value = 0.004), bullying (p-value= 0.002), disappointment (p-value = 0.001), sharing place (p-value = 0.002), and communication pattern (p-value =
0.010) were identified as factors associated with Non-Suicidal Self-Injury behavior in adolescents. On the other hand,personality (p-value = 0.174), environment (p-value = 0.260), coping mechanism (p-value = 0.458), and parenting style (p-value = 0.054) showed no association with Non-Suicidal Self-Injury behavior.
Conclusions: The findings underscore the significance of disappointment and the absence of a supportive
environment in influencing NSSI. This highlights important considerations for healthcare professionals,
educators, and policymakers. Strategies should encompass comprehensive approaches, early detection, and targeted interventions to foster supportive environments and address the complex nature of NSSI among adolescents.
Link : https://e-journal.unair.ac.id/JNERS/article/view/54610
Jelaskan apa yang kamu pelajari dan mengapa hal itu penting.
Pengarang :
Published : Februari, 2024
Abstract
Self-harm merupakan suatu bentuk perilaku menyakiti diri sendiri tanpa adanya atensi untuk bunuh diri. Meskipun tidak berniat untuk bunuh diri, terdapat banyak kasus self-harm yang berujung pada kematian. Meskipun tingginya prevalensi perilaku self-harm namun pengetahuan yang diperlukan untuk mencegah perilaku tersebut dan memberikan intervensi yang efektif masih kurang di antara sebagian besar layanan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi bagaimana manajemen individu yang memiliki risiko self-harm dalam mengelola risiko dan bahayanya. Metode penelitian ini kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Wawancara mendalam dilakukan kepada pasien ruang UPIP RSJD Dr. Amino Gondhoutomo Semarang yang memiliki pengalaman melakukan self-harm serta keluarga. Manajemen partisipan dalam penelitian ini yang memiliki riwayat perilaku self-harm dalam mengelola risiko dan bahayanya adalah dengan menghabiskan waktu dengan keluarga dan bercerita kekhawatiran yang mereka rasakan kepada keluarga, berdoa dan beribadah, melakukan hobi mereka, hingga memeriksakan diri ke tenaga professional. Mengingat pentingnya dukungan keluarga dan kegiatan spiritulitas sebagai pencegahan perilaku self-harm diharapkan stakeholder, tenaga kesehatan, masyarakat, dan keluarga dapat bersama membantu individu dengan resiko perilaku self-harm mengelola resiko dan bahaya pada diri mereka.
Link : https://e-journal.unair.ac.id/JNERS/article/view/54610
Pengarang : Kandar, Rian Kusuma Dewi, Dessy Dwi Cahyaningrum, Dina Wimala, Hesti Anggriani, Theresia Asri Luberingsih and Dwi Indah Iswanti
Published : Juni 2025
Non-suicidal self-injury (NSSI) is a mental health problem that often occurs in adolescents in Indonesia. Even though NSSI does not have the intention of suicide, some cases result in death. This research aimed to identify the predisposition and precipitation factors associated with the dynamics of NSSI behaviors among adolescents.
This research is an explanatory research design with a cross-sectional study. Out of 4000 students, 904 students from State High School and Vocational School in Central Java Province were selected as respondents using non-probability sampling and a purposive sampling approach. This research was carried out using Google Forms from September to November 2023. The instrument used was the Self-Harm Inventory (SHI). Data analysis in this study used the chi-squared test.
The results of this study indicate that the most significant predisposition factors of NSSI behaviors experienced by respondents in this study are introverted personality and the environment that supports NSSI behaviors. In contrast, the precipitation factors are bullying and deep disappointment. Otherwise, based on the data analysis, the maladaptive coping mechanism (P-value = 0.029) has become a predisposition factor related to the dynamics of NSSI behaviors. In contrast, bullying (P-value = 0.000) and deep disappointment (P-value = 0.000) still become precipitation factors related to the dynamics of NSSI behaviors.
The results of this study can be evidence-based for stakeholders to provide interventions, especially for the vulnerable population affected by NSSI behaviors.
Link : https://reference-global.com/article/10.2478/fon-2025-0029
Pengarang : Risma Aulina Khoirunnisa, Ulfa Nurullita, Tri Dewi Kristini
Published : April, 2021
Abstrak
Beban kerja mental yang tinggi pada perawat menjadi perhatian serius, terutama di rumah sakit jiwa yang memiliki kompleksitas tugas tinggi. Studi pendahuluan di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang menunjukkan tingginya beban kerja mental perawat, terutama karena rasio perawat dan pasien yang tidak seimbang serta tingginya tekanan emosional saat menghadapi pasien dengan gangguan kejiwaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status perkawinan, status kepegawaian, masa kerja, dan kejenuhan dengan beban kerja mental pada perawat di RSJD Dr. Amino Gondohutomo. Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan populasi berjumlah 58 perawat jiwa di bangsal akut. Instrumen yang digunakan adalah NASA-TLX untuk mengukur beban kerja mental dan kuesioner untuk variabel lainnya. Hasil analisis deskriptif menunjukkan rata-rata usia responden 39,21 tahun, masa kerja 13,24 tahun, skor kejenuhan 54,33, dan skor beban kerja mental 51,31. Analisis bivariat menggunakan uji Rank Spearman menunjukkan hubungan signifikan antara usia (p=0,001; r=0,437) dan masa kerja (p=0,000; r=0,642) dengan beban kerja mental. Sementara itu, kejenuhan tidak menunjukkan hubungan signifikan (p=0,158). Uji chi-square menunjukkan bahwa status perkawinan berhubungan signifikan dengan beban kerja mental (p=0,031), sedangkan jenis kelamin (p=0,079), tingkat pendidikan (p=0,069), dan status kepegawaian (p=1,000) tidak signifikan. Disimpulkan bahwa beban kerja mental perawat di RSJD Dr. Amino
Gondohutomo secara signifikan dipengaruhi oleh usia, masa kerja, dan status perkawinan. Sementara itu, faktor-faktor seperti kejenuhan kerja, tingkat pendidikan, jenis kelamin, dan status kepegawaian menunjukkan hubungan, namun tidak signifikan secara statistik terhadap beban kerja mental.
Keywords: Beban Kerja Mental; Perawat; Rumah Sakit Jiwa
Link : https://drive.google.com/file/d/1wvGI60nuYYl3G_q6xVreQYR3y80wJo9K/view?usp=sharing
Pengarang : Dwi Agustina, Ulfa Nurullita, Zoky Abadi Harahap, Ratih Sari Wardani
Published : September 15, 2025
Abstract
Keperawatan merupakan suatu profesi yang menitik beratkan pada upaya penanganan perawatan pasien dengan tuntutan pekerjaan yang beragam sehingga perawat mengalami beban kerja yang berlebih dan dapat mengakibatkan terjadinya stres kerja. Tujuan penelitian ini ada untuk menganalisis perbedaan tingkat beban kerja fisik dan mental pada perawat unit pelayanan umum dan pelayanan jiwa. Desain penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari 123 perawat di RSJD Dr. Amino Gondohutomo yang bertugas di unit rawat inap pelayanan umum dan pelayanan jiwa. Sampel berjumlah 58 perawat yang ditentukan menggunakan rumus Finite Population Correction (FPC), terdiri atas 23 perawat pelayanan umum dan 35 perawat pelayanan jiwayang bertugas pada shift pagi. Pengambilan data beban kerja fisik menggunakan denyut nadi dengan metode Cardiovascular Load (CVL) dan beban kerja mental menggunakan kuesioner NASA-TLX dengan wawancara. Analisis data dengan uji mann-whitney. Data hasil skor beban kerja fisik unit pelayanan umum sebesar 31,465 dan unit pelayanan jiwa sebesar 21,441 sedangkan skor beban kerja mental unit pelayanan umum sebesar 38,809 dan unit pelayanan jiwa sebesar 64,380, uji beban kerja fisik antara perawat pelayanan umum dan pelayanan jiwa (p=0,000) sedangkan beban kerja mental antara perawat pelayanan umum dan pelayanan jiwa (p=0,000). Simpulan terdapat perbedaan signifikan tingkat beban kerja fisik dan mental antara perawat unit pelayanan umum dan pelayanan jiwa.
Link : https://drive.google.com/file/d/1vrW5_P3wnUNicF4lg3FI3_UtK7__0J-E/view?usp=sharing
Pengarang : Nanik Widiastuti, Sadimin, Salikun
Published : Januari, 2024
Abstract
Penderita skizofrenia mengalami defisit perawatan diri dan gangguan kognitif sehingga cenderung mengabaikan kebersihan gigi dan mulutnya, Hasil studi pendahuluan di RSJD dr Amino Gondohutomo tahun 2024 diketahui dari 15 pasien 80% kondisi OHI-Snya tidak pada kriteria baik. Pendidikan dan pengetahuan keluarga berperan dalam mendukung kebersihan gigi dan mulut pasien psizofrenia, dengan pendidikan dan pengetahuan yang baik keluarga bisa melibatkan diri membimbing dan mendampingi dalam praktik menjaga kebersihan gigi dan mulut pasien skizofrenia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan pengetahuan keluarga pasien dengan status kebersihan gigi dan mulut pada pasien skizofrenia rawat jalan di RSJD dr Amino Gondohutoma Semarang. Jenis penelitian ini adalah descriptive correlation study dengan metode pendekatan cross sectional. sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 45 responden terdiri dari keluarga pasien dan pasien skizofrenia. Analisa data menggunakan analisa univariat dan analisa bivariat, dengan uji Rank Spearman untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat.
Hasil penelitian tingkat pendidikan keluarga terbanyak kategori menengah 40%, pengetahuan keluarga terbanyak kategori sedang 60% dan OHI-S pasien skizofrenia terbanyak kriteria sedang 44,4%. Berdasarkan uji statistik Rank Spearman terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan keluarga pasien dengan status OHI-S pasien skizofrenia p value = 0,000 dan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan keluarga pasien dengan status OHI-S pasien skizofrenia p value = 0,001. Penelitian ini menyimpulkan keluarga pasien dengan tingkat pendidikan tinggi dan pengetahuan baik cenderung memiliki anggota keluarga dengan kondisi kebersihan gigi dan mulut yang baik.
Kata Kunci: Pendidikan, pengetahuan, keluarga, OHI-S skizofrenia.
Link : https://drive.google.com/file/d/1ikwXxFcLp2K_L_QzbmEnlqU8I2Tc-YBL/view?usp=sharing
Pengarang : Dhani Yulianto
Published : 2026
RINGKASAN EKSEKUTIF
Dokumen administratif seperti akta kelahiran merupakan syarat penting bagi individu untuk mendaftar atau mendapatkan berbagai pelayanan publik di Indonesia, termasuk kesehatan. Di sisi lain, akta kelahiran juga menjadi bukti identitas seorang anak yang secara sah di mata hukum dan diakui oleh negara. Namun, kepemilikan akta kelahiran di negeri ini masih menghadapi hambatan struktural yang cukup kompleks, mulai dari birokrasi, kendala geografis, serta rendahnya kesadaran administratif masyarakat. Di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) dr. Amino Gondohutomo (Amino Hospital) Semarang kondisi tersebut salah satunya berdampak pada terhambatnya pendaftaran kepesertaan jaminan sosial kesehatan bagi bayi baru lahir. Akibatnya, muncul celah kerentanan pada fase pelayanan medis di periode emas pertumbuhan anak. Inovasi ADIK BABY (Administrasi Kelahiran Bebas Biaya) Amino Hospital hadir sebagai instrumen intervensi kebijakan publik yang memindahkan beban pengurusan administrasi kependudukan dari ranah individu ke sistem kelembagaan rumah sakit. Melalui kemitraan strategis satu atap dan penyatuan sistem elektronik bersama Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Semarang, setiap bayi yang lahir di RSJD dr. Amino Gondohutomo Semarang dapat langsung memperoleh hak identitas hukum sipilnya secara cepat, tepat, dan bebas biaya. Melalui sistem ini, orang tua mendapatkan kemudahan dalam memastikan validitas relasi hukum dengan anak mereka. Hal ini secara langsung juga bertujuan untuk mendorong partisipasi masyarakat yang lebih aktif terhadap hak identitas anak.
Link : https://drive.google.com/file/d/1MJbvET4EmJAp8GuxTM4mncHdKVf0Iowp/view?usp=sharing
Pengarang : Kandar, Rian Kusuma Dewi, Dessy Dwi Cahyaningrum, Dina Wimala, Hesti Anggriani, Theresia Asri Luberingsih
Published : Juni, 2025
Abstract:
Objective: Non-suicidal self-injury (NSSI) is a mental health problem that often occurs in adolescents in Indonesia. Even though NSSI does not have the intention of suicide, some cases result in death. This research aimed to identify the predisposition and precipitation factors associated with the dynamics of NSSI behaviors among adolescents.
Methods: This research is an explanatory research design with a cross-sectional study. Out of 4000 students, 904 students from State High School and Vocational School in Central Java Province were selected as respondents using non-probability sampling and a purposive sampling approach. This research was carried out using Google Forms from September to November 2023. The instrument used was the Self-Harm Inventory (SHI). Data analysis in this study used the chi-squared test.
Results: The results of this study indicate that the most significant predisposition factors of NSSI behaviors experienced by respondents in this study are introverted personality and the environment that supports NSSI behaviors. In contrast, the precipitation factors are bullying and deep disappointment. Otherwise, based on the data analysis, the maladaptive coping mechanism (P-value = 0.029) has become a predisposition factor related to the dynamics of NSSI behaviors. In contrast, bullying (P-value = 0.000) and deep disappointment (P-value = 0.000) still become precipitation factors related to the dynamics of NSSI behaviors.
Conclusions: The results of this study can be evidence-based for stakeholders to provide interventions, especially for the vulnerable population affected by NSSI behaviors.
Link : https://drive.google.com/file/d/1KoPM8q1H8NcMAyji0JyFaZsg6bL-Epmg/view?usp=sharing