dr. ZILPA WIDYASTUTI, Sp.D.V
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Amino Hospital
Tren perawatan wajah kini bergeser ke arah yang lebih natural. Salah satu yang sedang populer adalah Baby Botox, yaitu teknik penyuntikan botulinum toxin (Botox) dengan dosis kecil untuk hasil yang halus dan tidak berlebihan.
Berbeda dengan Botox konvensional yang cenderung membuat wajah tampak sangat kencang, Baby Botox bekerja lebih lembut. Tujuannya bukan menghilangkan semua kerutan, melainkan menyamarkan garis halus tanpa mengganggu ekspresi alami. Dengan kata lain, wajah tetap bisa tersenyum dan berekspresi, namun terlihat lebih segar.
Lalu, kapan waktu ideal untuk melakukan Baby Botox?
Umumnya, perawatan ini mulai dipertimbangkan pada usia akhir 20-an hingga awal 30-an, ketika garis halus mulai muncul terutama di area dahi, sekitar mata, dan di antara alis. Pada fase ini, kerutan biasanya masih bersifat dinamis (muncul saat berekspresi), sehingga lebih mudah dicegah agar tidak menjadi permanen.
FIT & STRONG AFTER 40+: Panduan Olahraga yang Tepat
untuk Perempuan Usia 40 Tahun ke Atas
dr. Nurika Amalina, Sp.KFR, AIFO-K
Instalasi Rehabilitasi Medik - RSJD Dr. Amino Gondohutomo
Memasuki usia 40 tahun ke atas, perempuan mengalami berbagai perubahan fisiologis, mulai dari perubahan komposisi tubuh, penurunan massa dan kekuatan otot, hingga perubahan hormonal menjelang menopause. Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan tulang, kebugaran, dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, bertambahnya usia bukan alasan untuk mengurangi aktivitas fisik. Justru, olahraga yang tepat dan teratur menjadi salah satu kunci untuk mempertahankan kesehatan dan kualitas hidup.
Melalui konsep “Fit & Strong After 40+”, perempuan diajak memahami bahwa olahraga bukan sekadar upaya menurunkan berat badan, tetapi juga investasi untuk menjaga kekuatan otot, kesehatan jantung, kepadatan tulang, keseimbangan, dan kemandirian hingga usia lanjut.
FLATFOOT PADA ANAK: NORMAL ATAU PERLU PENANGANAN?
dr. Nurika Amalina, Sp.KFR, AIFO-K
Instalasi Rehabilitasi Medik - RSJD Dr. Amino Gondohutomo
Mengenal Kaki Datar pada Anak
Pernahkah orang tua memperhatikan telapak kaki anak tampak datar ketika berdiri atau berjalan? Kondisi ini disebut flatfoot atau kaki datar. Tidak sedikit orang tua yang khawatir karena menganggap bentuk kaki tersebut dapat mengganggu cara berjalan, menyebabkan anak mudah lelah, atau memengaruhi postur tubuh di kemudian hari.
Namun, kaki datar pada anak tidak selalu merupakan suatu kelainan. Pada bayi dan anak usia dini, lengkung telapak kaki memang sering belum tampak jelas karena proses perkembangan kaki yang masih berlangsung. Seiring bertambahnya usia, lengkung kaki dapat terbentuk secara alami.
Oleh karena itu, penilaian flatfoot tidak cukup hanya berdasarkan bentuk telapak kaki, tetapi juga perlu mempertimbangkan usia, kelenturan kaki, ada tidaknya nyeri, dan kemampuan anak melakukan aktivitas sehari-hari.
Apa Perbedaan Flatfoot Fleksibel dan Kaku?
Secara umum, flatfoot dibedakan menjadi dua jenis.
1. Flexible flatfoot (kaki datar fleksibel)
Pada kondisi ini, lengkung telapak kaki tampak datar ketika anak berdiri, tetapi dapat terlihat kembali saat kaki tidak menumpu berat badan atau ketika anak berjinjit. Kondisi ini sering ditemukan pada anak dan umumnya tidak memerlukan terapi khusus apabila tidak disertai nyeri atau gangguan fungsi.
2. Rigid flatfoot (kaki datar kaku)
Pada kondisi ini, lengkung telapak kaki tetap datar meskipun kaki tidak menumpu berat badan, dan gerakan kaki dapat terasa terbatas. Kondisi ini perlu dievaluasi oleh dokter karena dapat berkaitan dengan kelainan struktur tulang atau sendi.
GUSI BERDARAH: WASPADAI TANDA INFEKSI SEBELUM GIGI GOYANG
drg. Hapsari Kartika, Sp.Perio
Poli Gigi Periodonsia Amino Hospital Semarang
Gusi adalah salah satu jaringan lunak dalam mulut yang berfungsi menutupi serta melindungi akar gigi dan tulang. Gusi yang sehat berwarna merah muda (pink coral), memiliki tekstur yang kenyal, tidak sakit saat disentuh, dan tidak mudah berdarah.
Gusi yang mudah berdarah saat menyikat gigi atau makan sering dianggap hal biasa, padahal kondisi ini bisa jadi merupakan tanda awal dari infeksi gusi.
Infeksi atau radang pada gusi umumnya berasal dari plak, lapisan berisi bakteri yang melekat pada gigi, yang berasal dari sisa makanan. Jika tidak segera dibersihkan, plak akan mengeras menjadi karang gigi yang akan melukai gusi sehingga menyebabkan peradangan.
Kondisi radang gusi yang masih ringan biasanya tidak terlalu menimbulkan keluhan dan dapat hilang dengan sendirinya. Namun jika tidak segera ditangani, kondisi ini akan kembali lagi untuk menetap dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Radang pada gusi juga dapat mengakibatkan kerusakan pada jaringan penyangga gigi lainnya, seperti tulang penyangga dan serat ligamen gigi, yang berakhir pada kegoyangan gigi.
Kapan perlu diperiksakan?
1. Gusi berdarah saat menyikat gigi atau makan
2. Warna gusi menjadi lebih merah
3. Gusi tampak membesar (kadang disertai nanah), terasa mengganjal dan nyeri
4. Bau mulut yang terus menerus
5. Gigi mulai terasa renggang dan goyang
Hemangioma Oral dan Xerostomia pada Pasien Geriatri
Ratu Dania, Widodo Sarjana AS, Alifiani Nurrohmah
Diponegoro University, Dr. Amino Gondohutomo Regional Psychiatric Hospital
ABSTRACT
Background Managing suicidal psychotic depression requires rapid, coordinated clinical pathways beyond isolated pharmacological containment. Establishing durable recovery demands interprofessional collaborative care that integrates psychiatric emergency nursing, medical psychopharmacology, and clinical psychological intervention into an unbroken continuum of care.
Case Description
A 33-year-old Male presented with severe psychotic depression, mood-congruent delusions, marked psychomotor agitation, and imminent suicide risk. The emergency team instituted immediate environmental containment and achieved rapid behavioural stabilization using intramuscular Olanzapine 10 mg stat. Following acute de-escalation, the medical team established inpatient maintenance therapy using oral Risperidone 2 mg twice daily coadministered with Sertraline 50 mg daily, systematically remitting delusional ideation and depressive affect. Once cognitive accessibility was restored, a clinical psychologist conducted targeted psychotherapeutic sessions focused on distress tolerance, emotional regulation, and co-creating an individualized crisis safety plan alongside family psychoeducation.
From Crisis to Recovery: Interprofessional Collaborative Care for Psychotic Depression with Suicide Risk (A Case Report)
drg. Maria Dionisya Gerarda Despriani, drg. Rizki Laila Salsabila, drg. Karisa Hasna Maharani ,drg. Fasha Asila Hashfi
Latar belakang : Pembesaran gingiva merupakan kondisi peradangan gingiva yang ditandai dengan gingiva yang membesar, halus, mengkilat, konsistensi lunak, warna merah, dan tepi gingiva tampak membulat. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh faktor sistemik, seperti penggunaan obat-obatan calcium channel blocker jangka panjang.
Laporan kasus : Pasien perempuan berusia 61 tahun mengeluhkan gusi pada gigi depan kiri bawah dan kanan atas terasa membesar dan mudah berdarah saat menggosok gigi sejak kurang lebih 1 bulan yang lalu. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes mellitus dengan konsumsi amlodipine 5 mg dan metformin 500 mg sejak 5 tahun yang lalu. Dosis amlodipin kemudian ditingkatkan menjadi 10 mg dua kali sehari sekitar 2 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan intra oral tampak pembesaran gingiva pada labial gigi 12, interdental gigi 32-33 dengan konsistensi lunak, edama, hiperemi, dan permukaan unstippling. Keluhan ini masih dirasakan pasien setelah dilakukan perawatan pembersihan karang gigi 1 minggu yang lalu sehingga perlu dilakukan tindakan gingivektomi dan gingivoplasti dengan electrocauter.
Manajemen kasus :
Perawatan diawali dengan dilakukan asepsis dan anestesi area kerja, kemudian dilakukan pembuatan bleeding point lalu dilakukan gingivektomi dan gingivoplasti dengan electrocauter serta adaptasi jaringan serta pembalutan area luka dengan periodontal dressingoral aid.
Pembahasan : Drug-Induced Gingival Enlargement (DIGE) pada kasus ini berkaitan dengan penggunaan amlodipine jangka panjang dan tidak menunjukan perbaikan setelah dilakukan scaling dan root planning sehingga perlu dilakukan gingivektomi untuk mengeliminasi pembesaran gingiva dan gingivoplasti untuk mengembalikan kontur gingiva pada gigi anterior rahang atas dan bawah pasien. Kemudian diikuti dengan penggantian amlodipin dengan captopril.
Kesimpulan : Penatalaksanaan Drug-Induced Gingival
Enlargement (DIGE) memerlukan pendekatan multidisiplin, yaitu penggantian obatpenyebab, tindakan gingivektomi, serta pemeliharaan kebersihan mulut yang baik. Substitusi amlodipin dengan captopril membantu mencegah kekambuhan, sedangkan elektrokauter efektif menghilangkan jaringan gingiva berlebih.
LAPORAN KASUS DRUG INDUCED GINGIVAL ENLARGEMENT
drg. Maria Dionisya Gerarda Despriani, drg. Rizki Laila Salsabila, drg. Karisa Hasna Maharani ,drg. Fasha Asila Hashfi
Latar belakang : Pembesaran gingiva merupakan kondisi peradangan gingiva yang ditandai dengan gingiva yang membesar, halus, mengkilat, konsistensi lunak, warna merah, dan tepi gingiva tampak membulat. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh faktor sistemik, seperti penggunaan obat-obatan calcium channel blocker jangka panjang.
Laporan kasus : Pasien perempuan berusia 61 tahun mengeluhkan gusi pada gigi depan kiri bawah dan kanan atas terasa membesar dan mudah berdarah saat menggosok gigi sejak kurang lebih 1 bulan yang lalu. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes mellitus dengan konsumsi amlodipine 5 mg dan metformin 500 mg sejak 5 tahun yang lalu. Dosis amlodipin kemudian ditingkatkan menjadi 10 mg dua kali sehari sekitar 2 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan intra oral tampak pembesaran gingiva pada labial gigi 12, interdental gigi 32-33 dengan konsistensi lunak, edama, hiperemi, dan permukaan unstippling. Keluhan ini masih dirasakan pasien setelah dilakukan perawatan pembersihan karang gigi 1 minggu yang lalu sehingga perlu dilakukan tindakan gingivektomi dan gingivoplasti dengan electrocauter.
Manajemen kasus :
Perawatan diawali dengan dilakukan asepsis dan anestesi area kerja, kemudian dilakukan pembuatan bleeding point lalu dilakukan gingivektomi dan gingivoplasti dengan electrocauter serta adaptasi jaringan serta pembalutan area luka dengan periodontal dressingoral aid.
Pembahasan : Drug-Induced Gingival Enlargement (DIGE) pada kasus ini berkaitan dengan penggunaan amlodipine jangka panjang dan tidak menunjukan perbaikan setelah dilakukan scaling dan root planning sehingga perlu dilakukan gingivektomi untuk mengeliminasi pembesaran gingiva dan gingivoplasti untuk mengembalikan kontur gingiva pada gigi anterior rahang atas dan bawah pasien. Kemudian diikuti dengan penggantian amlodipin dengan captopril.
Kesimpulan : Penatalaksanaan Drug-Induced Gingival Enlargement (DIGE) memerlukan pendekatan multidisiplin, yaitu penggantian obat penyebab, tindakan gingivektomi, serta pemeliharaan kebersihan mulut yang baik. Substitusi amlodipin dengan captopril membantu mencegah kekambuhan, sedangkan elektrokauter efektif menghilangkan jaringan gingiva berlebih.
GAMBARAN KLINIS KONDISI GIGI DAN MULUT PADA PASIEN DENGAN TERAPI ELEKTROKONVULSIF DI RSJD DR AMINO GONDOHUTOMO
Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018, proporsi masalah kesehatan gigi dan mulut di masyarakat Indonesia yakni 57,6% menunjukkan bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut. Hasil riset menyatakan bahwa proporsi terbesar masalah gigi di Indonesia adalah gigi rusak atau berlubang 45,3%. gigi hilang karena dicabut atau tanggal sendiri 19,0% dan gigi goyang sebesar 10,4%. Kehilangan gigi paling umum terjadi pada lansia, tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi pada remaja atau dewasa. Pada tahun 2018, angka kehilangan gigi asli kurang dari 28 gigi individu (edentulous) sebesar 51,4%, angka kehilangan gigi asli lebih dari 28 gigi pada individu (edentulous) sebesar 1,3% (Riskesdas, 2018). ECT merupakan terapi kejang listrik dengan menghantarkan arus listrik pada elektroda dan dipasang pada kepala sehingga menyebabkan konvulsi. Selama kejang motorik yang berhubungan dengan terapi elektrokonvulsif (ECT), otot dan anggota badan berkontraksi secara kuat dan berulang-ulang, sehingga dapat menyebabkan cedera (Göterfelt, 2020). Distribusi beban oklusi yang tidak merata selama proses dilakukannya ECT dapat memberikan potensi untuk menyebabkan lepasnya gigi, gigi goyang atau gigi patah.
Recurrent Aphthous Stomatitis
drg. Naufal Zidan Arighi, drg. Fridha Ayu Amanda, drg. Bang, Vania Christina Budiono, drg. Rezha Amalia
drg. Helsa Fitria Harismaya
ABSTRAK
Stomatitis aftosa rekuren (RAS) adalah salah satu penyakit mukosa mulut yang paling umum, ditandai dengan ulserasi berulang dan nyeri pada mukosa mulut yang bergerak atau tidak berkeratin. Lesi ini sering ditemukan pada lidah, mukosa labial, dan mukosa bukal. Secara klinis, RAS dibagi menjadi tiga jenis: minor, mayor, dan herpetiform. Faktor-faktor yang mempengaruhi respons imunologis pada RAS meliputi predisposisi genetik, infeksi virus dan bakteri, alergi makanan, kekurangan vitamin, penyakit sistemik, stres, dan gangguan hormonal. Seorang pasien laki-laki berusia 28 tahun datang dengan keluhan nyeri di bagian dalam gusi yang telah berlangsung selama 5 hari. Pemeriksaan intraoral menunjukkan ulkus unilateral berwarna putih kekuningan pada bagian dalam gusi di regio 45-46 dan regio 16 yang dikelilingi oleh eritema kemerahan yang jelas. Lesi pada regio 45-46 berukuran sekitar 15 mm, sedangkan pada regio 16 berukuran sekitar 1-2 mm, lunak, dan terasa nyeri. Pengobatan berfokus pada tindakan paliatif, yaitu mengurangi gejala yang dirasakan pasien dan mempercepat pemulihannya. Dalam kasus ini, gel triamsinolon asetonik 0,1%, obat kumur klorheksidin glukonat 0,2%, dan multivitamin digunakan untuk mengobati stomatitis aftosa yang dialami pasien. Pada hari ke-4 rasa sakit telah hilang tetapi lesi masih ada dan setelah 14 hari kondisi ulkus sembuh sepenuhnya.
BEHAVIORAL ADDICTION: GAMBLING DISORDER
Alifiani Nurrohmah, Sp. KJ
Psikiater Amino Hospital
Konsep kecanduan perilaku adalah konsep baru dan revolusioner dalam psikiatri Amerika. Dalam teks Amerika pertama tentang penyakit mental edisi 1812, Benjamin Rush, pendiri American Psychiatric Association, meminta perhatian pada sifat patologis yang berpotensi dari hasrat seksual yang berlebihan.
Tetapi baru pada tahun 2010 Kelompok Kerja Manual Diagnostik dan Statistik untuk DSM-5, menambahkan istilah kecanduan perilaku ke dalam diagnosis psikiatri resmi. Proposal mereka mendokumentasikan era baru dalam konseptualisasi kecanduan. Kelompok kerja berpendapat bahwa frasa gangguan terkait kecanduan adalah deskripsi yang lebih tepat daripada istilah lama yaitu penyalahgunaan dan ketergantungan zat (Rosenberg & Feder, 2014). Mereka berpendapat bahwa tidak semua orang yang bergantung pada zat adalah pecandu (misalnya, pasien kanker yang membutuhkan opiat) dan kecanduan
itu lebih dari sekadar ketergantungan fisiologis. Mereka mengingatkan dokter bahwa craving dan perilaku terlarang dan/atau ego-distonik umumnya terkait dengan kecanduan. Faktanya, penyalahgunaan dan ketergantungan zat pada akhirnya dihilangkan di DSM-5, dan kriteria untuk gangguan akibat penggunaan
zat tidak lagi memasukkan kriteria hukum terkait zat, dan berfokus pada craving dan perilaku di luar kendali (American Psychiatric Association, 2013). Lebih penting lagi, kelompok kerja mencatat bahwa ilmu saraf yang muncul mendukung teori neurobiologis terpadu tentang kecanduan, terlepas dari zat adiktif tertentu,
substrat, atau kegiatan, yang sekarang memungkinkan untuk dimasukkannya kecanduan perilaku seperti kecanduan kimiawi.
GUIDED IMAGERY SEBAGAI TERAPI ADJUVAN UNTUK MANAJEMEN KECEMASAN PADA PASIEN SJOGREN SYNDROME
dr. Bobby Adhyartono, Sp. KJ
Psikiater Amino Hospital
Sjögren Syndrome (SS) merupakan penyakit autoimun sistemik kronik yang ditandai dengan infiltrasi limfosit pada kelenjar eksokrin, terutama kelenjar lakrimal dan saliva, yang mengakibatkan xerostomia (mulut kering) dan xerophthalmia (mata kering) (Baldini et al., 2024). Manifestasi ekstra glandular seperti kelelahan, artralgia, gangguan neurologis dan vaskulitis juga sering ditemukan (Saldanha et al., 2023). Di Indonesia, prevalensi pasti Sjögren Syndrome (SS) belum diketahui secara jelas karena keterbatasan data epidemiologis dan rendahnya kesadaran diagnostik, namun kasus penyakit autoimun termasuk Sjögren Syndrome (SS) menunjukkan peningkatan dalam dekade terakhir (Kemenkes RI, 2022). Selain gejala fisik, pasien Sjögren Syndrome (SS) sering mengalami gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, stres kronik akibat nyeri muskuloskeletal, kelelahan dan gangguan tidur yang berlangsung lama (Cui et al., 2020; Nguyen et al., 2022). Aktivasi sistem imun kronis dapat menyebabkan disregulasi neuroendokrin, terutama pada sumbu hipotalamus pituitari adrenal (HPA), yang memperburuk gejala psikiatri dan kualitas hidup pasien (Sambataro et al., 2024).