Nama Desa Kecapi berasal dari kata "Kecapi Saka", yang diberikan oleh penduduk awal karena keberadaan sebuah pohon kecapi besar yang tumbuh di tengah hutan belantara tempat mereka pertama kali menetap. Nama ini tidak hanya merujuk pada pohon secara fisik, tetapi juga memiliki makna filosofis sebagai simbol kekuatan, keteguhan, dan identitas wilayah. Seiring waktu, nama tersebut disederhanakan menjadi "Pekon Kecapi", dan kini dikenal sebagai Desa Kecapi.
Masyarakat pertama yang membuka wilayah ini berasal dari Desa Pematang di Sabah Umbul. Mereka dipimpin oleh seorang tokoh adat bergelar Pangeran Pukuk Sabuai, yang menjadi figur sentral dalam membentuk tatanan sosial dan budaya awal masyarakat. Dalam perkembangannya, struktur kepemimpinan adat terbagi menjadi tiga kelompok besar yaitu Pangeran Pukuk Sabuai, Pangeran Kusuma, dan Pangeran Kecattokh. Mereka berperan penting dalam membangun pondasi sosial, pertanian, dan keagamaan di wilayah tersebut.
Wilayah ini mulai dihuni secara tetap sekitar tahun 1906, saat masyarakat pindah ke jalur Marga yang dibuka oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian pada tahun 1912, permukiman ini resmi diberi nama Pekon Kecapi, dan akhirnya pada tanggal 25 Agustus 1930, desa ini diakui secara administratif sebagai Desa Kecapi, dengan kepala desa pertama bernama Intan Mas Yahya.
Pada masa awal, wilayah Desa Kecapi mencakup area yang luas, termasuk wilayah Merambung dan sebagian dari Umbul Liyoh. Namun, pada tahun 1977, wilayah Merambung memisahkan diri dan bergabung dengan Desa Tanjung Heran di Kecamatan Penengahan. Sejak saat itu, Desa Kecapi berfokus pada pengembangan wilayah inti yang ada sekarang dan terus beradaptasi dengan perubahan administratif di bawah naungan Kecamatan Kalianda.
Perubahan sosial masyarakat Desa Kecapi sangat dipengaruhi oleh dinamika budaya yang dibawa oleh berbagai suku, seperti Lampung Pesisir, Jawa, Sunda, dan Padang. Meskipun masyarakat kini telah berkembang secara modern, nilai-nilai kearifan lokal dan adat istiadat masih dilestarikan, seperti dalam upacara adat, gotong royong, dan musyawarah desa. Perkembangan teknologi dan pendidikan juga mulai memperkuat posisi budaya lokal dalam konteks kekinian.
Sejak dahulu, mayoritas masyarakat Desa Kecapi menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan. Salah satu potensi lokal yang khas adalah produksi emping melinjo, yang dikerjakan secara tradisional oleh warga. Kini, usaha emping berkembang menjadi bentuk UMKM yang menopang ekonomi lokal dan ikut diperkenalkan melalui berbagai program promosi desa, seperti infotainment map dan pameran produk desa.
Seiring perkembangan zaman, Desa Kecapi mengalami kemajuan pesat di bidang infrastruktur. Jalan desa yang dahulu hanya berupa tanah kini sudah beraspal. Fasilitas umum seperti sekolah, kantor desa, balai desa, dan sarana kesehatan telah tersedia dan terus ditingkatkan. Pemerintahan desa pun berkembang secara demokratis, dengan pergantian kepala desa yang tercatat secara teratur sejak tahun 1930 hingga sekarang. Berikut adalah daftar singkat beberapa kepala desa dari masa ke masa: