Proses pembuatan setiap jenis kerajinan perak ada sedikit perbedaan, meskipun ada perbedan tahap-tahap dasar pembuatan kerajinan perak Celuk sebagai berikut.
1. Membuat plat, kawat, dan jawan. Plat dibuat dengan cara membakar perak hinggga membara, kemudian perak yang masih membara itu diangkat dengan sepit (alat penjepit) ditaruh di atas paron kemudian dipenteng (dipukul-pukul sampai pipih dan melebar). Pembuatan kawat diawali dengan proses nyangat (menggunting plat perak dengan cara melingkar menjadi menjadi batangan-batangan tipis memanjang seperti bentuk pir/peer). Pir perak tersebut kemudian ditempa atau dipukul-pukul supaya gilik (berbentuk bulat) lalu dimasukkan kedalam urutan (alat pembuat ukuran kawat) dan ditarik dengan kuat supaya memanjang. Jawan dibuat dengan cara memotong kawat menjadi potongan-potongan kecil. kemudian dicampur arang halus, lalu ditaruh di atas mangkuk tanah liat, dibakar sampai panas dan meleleh. Lelehan perak di dalam arang halus jika sudah dingin akam membentuk butiran-butiran perak
2. Membuat cangkok mata dan dasar mata, terbuat dari plat kecil yang nantinya berfungsi sebagai tempat permata. Jika tidak menggunakan permata, maka tidak melakukan proses pembuatan cangkok mata. Setelah selesai pembuatan cangkok mata, maka dibuatkan dasar mata berupa bidang datar yang nantinya berfungsi sebagai tempat menempelkan permata.
3. Membuat tatakan adalah alas sementara untuk menempelkan kawat dan hiasan yang disusun menjadi motif hiasan. Tatakan ini terbuat dari plat besi yang cukup tebal. Bentuk tatakan menyesuaikan dengan bentuk desain produk kerajinan yang dibuat.
4. Memasang tatakan, tatakan dipasang sebelum melakukan proses ngebun (menempelkan motif-motif hiasan). Tatakan berfungsi sebagai media menempelkan motif khususnya ketika membuat perhiasan jenis terawang (berlubang-lubang).
5. Membuat lis. Lis adalah bingkai yang dipasang pada bagian luar kerajinan yang dibuat. Berfungsi sebagai bingkai penahan agar ukuran desain yang dibuat tidak berubah bentuk dan tidak melebar ke sisi-sisi lain.
6. Ngebun adalah memasang kawat berbentuk lekukan dan gulungan-gulungan menjadi motif-motif tertentu seperti liman paya, bun-bunan, bun util jejawan, dan sebagainya. Supaya motif-motif ini menempel satu dengan lainnya, harus direkatkan dengan ancur (bubur lem sementara terdiri atas campuran biji buah piling-piling/Adenenthera Pavonina, pijer, dan sedikit air).
7 Masang Jawan adalah memasang bola-bola perak dengan berbagai ukuran mulai dari ukuran yang agak besar sampai dengan ukuran halus. Jawan dapat dipasang dengan cara menyusun dan merekatkanya satu persatu di atas plat menggunakan ancur (lem sementara) sehingga membentuk motif-motif yang diinginkan.
8 Masang Serbuk Patri, dilakukan setelah proses pembuatan motif (ngbun dan masang jawan). serbuk patri dipasang dengan cara mengoleskan di atas motif hiasan bun dan jejawan. Kemudian dibiarkan sementara sampai mengering Serbuk patri ini berfungsi sebagai alat perekat permanen semua motif terbuat dari campuran perak dan tembaga dengan perbandingan 2:1 (dua bagian perak dan satu bagian tembaga).
9. Matri, adalah proses pembakaran untuk merekatkan hiasan dan motif secara permanen, dilakukan setelah pemasangan serbuk patri.
10.Ngampelas adalah menggosok permukaan perak agar bersih dan halus, tidak tajam bergerigi, dilakukan selesai proses pembakaran dan pendinginan.
11. Ngasemin, adalah proses memberi cairan asam pada barang produksi kerajinan perak bertujuan untuk membersihkan dan memperoleh warna putih. Campuran pembersih ini terdiri atas buah asam (Tamarin) atau belimbing wuluh, air, dan garam. Air, asam, dan garam direbus mendidih, kemudian barang-barang kerajinan perak dimasukkan lalu direbus bersama-sama. Perebusan dilakukan sampai perak tampak berwarna putih .
12.Nyikat adalah proses membersihkan kerajinan perak dengan cara menggosok menggunakan sikat kawat halus dan larutan buah kererek (lerak). Jika tidak ada lerak bahan pembersih diganti menggunakan detergen cair pencuci piring.
13.Nyelemin adalah proses pemberian warna hitam untuk memberi gradasi warna antara bagian-bagian cekung dan cembung. Jika tidak menginginkan gradasi warna maka tidak perlu melakukan proses nyelemin.
14. Masang mata (pemasangan permata) disesuaikan dengan ukuran cangkok mata yang telah dibuat mengikuti bentuk dan ukuran permata. Permata dimasukkan ke dalam cangkok mata, kemudian dikuatkan dengan menekan melengkungkan bagian pinggir tempat permata sehingga bagian pinggir permata tertutup.
15. Ngelap, dilakukan setelah pemasangan permata selesai. Proses mengelap menggunakan kain halus supaya kotoran, debu, dan bekas-bekas sidik jari dan tangan tidak menempel pada permukaan kerajinan perak. Cara mengelap tidak boleh terlalu keras dan kasar karena dapat merontokkan motif hiasan yang telah dipasang