SEJARAH DESA
Pengkol adalah desa di Kecamatan Karanggede, Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia. Desa Pengkol terdiri dari empat (4) Dusun diantaranya Klencong, Durenan, Waru dan Pengkol. Pada awalnya desa pegkol merupakan hutan.Kemudian Pada awalnya desa pengkol juga merupakan salah satu tempat yang digunakan Pangeran Diponegoro melakukan perang Gerilya melawan Belanda. Dimana Pangeran Diponegoro pada saat itu menunjuk perempuan 3 bersaudara untuk menjadi pemimpin prajurit dan salah satunya Bernama Ratu Serang. Mereka menjadi pemimpin prajurit dalam perang geriya Bersama Pangeran Diponegoro pada tahun 1825. Tiga bersaudara tersebut menjadi pimpinan prajurit dengan pembagian wilayah di Pengkol, Kemusu dipegang Ratu Serang dan Bringin Salatiga
Pada saat perang gerilya berlangsung dan hamper selesai karena pada saat itu Pangeran Diponegoro tertangkap oleh Belanda, dan pada saat itu akhirnya Ratu Serang dan ke dua saudaranya tersebut memencar bersama prajuritnya. Salah satu Bukti sejarah ialah terdapat tempat sebagai persinggahan atau markas salah satu ratu pemimpin prajurit di Desa Pengkol yang sekarang ini pada tahun 2023 menjadi bangunan Masjid di Dusun Pengkol, dan disitulah beliau mulai berumah tangga dan berkeluarga. Kemudian Adapun asal mula terkait nama pemakan umum yang berada diantara Balai desa dengan jembatan cinta Braholo ialah pada saat itu terdapat tentara prajurit Bernama Mbah Sapar yang meninggal dunia karena kecapeaan dan dimakamkan di tempat tersebut, sehingga nama tersebut dinamakan Pemakaman Sapar.
Lalu Desa Pengkol sendiri tidak berdiri langsung menjadi Desa dan dulu belum Bernama Pengkol. Pada Pemerintahan Karaton Surakarta, Pada jaman pemerintahan Pakubuwono IX mulai ada pembagian kekuasaan, Demang dan Lurah. Demang dapat diartikan kepala distrik pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda tau dapat disebut gelar kepala daerah. Lurah ialah kepala tingkat terendah di Keluraha sebagai kepala desa dari Prangkat Daerah Kabupaten atau Kota. Terdapat pembian wilayah menjadi para demang dimana memiliki wilayah 3 kelurahan dan 2 kelurahan. Pada saat itu kakek dari Bapak Suripno (kades tahun 2023) merupakan demang dan kebetulan 9 saudara kakeknya juga Demang. Pada waktu itu desa pengkol belum termasuk dalam kademangan karena masi belum ada masyarakat yang mendiami pengkol dan masi bergabung dalam kademangan Mojosari. Wilayah Kademangan Mojosari salah satunya Pengkol . Kemudian Dusun Klencong dan Dusun Durenan termasuk kedalam Kademangan Karang Kepoh. Setelah Para Demang memiliki Keturunan, keturunan mereka diangkat menjadi lurah. Lurah Pengkol Pertama merupakan salah satu kakek pak Suripno yang Bernama Mbah Sumo. Setelah mereka sepuh digantikan anaknya dimana dapat dikatakan system lurah merupakan turunan
Kenapa dinamakan Pengkol, pada saat itu terdapat pembagian wilayah atara Kecamatan Klego dan Karanggede dengan Batasan Sungai Braholo. Kebetulan kediaman Bapak Lurah Pertama dan Kedua berada disebelah timur sungai yang masuk kedalam bagian wilayah Kecamatan Klego, dan lurah tersebut merupakan lurah panewon Karanggede maka dari itu administrasi desa menjadi berkelok/mengkol dari situlah penyebutan/asal mula desa ini Bernama Desa Pengkol. Dan dukuh satu satunya yang berada di sana hanyalah dukuh pengkol.
Kemudian dari lurah pertama di lanjutkan lurah ke dua, keturunannya Bernama Bapak Sastro, Kemudian digantikan lagi oleh saudaranya Bernama Bapak Taruno Prawiro sebagai lurah ke 3. Asal lurah ke 3 berdomisili dari dukuh tegalsari desa pegkol yang sekarang ini merupakan bagian RT2 RW 3. Namun lurah yang ke 3 ini menjabat tidak lam karena memang pada saat itu diangkat sebagai lurah pada usia yang dapat dibilang sudah sepuh. Kemudian digantikan Bapak Marnotiyoso sebagai lurah ke 4 yang tempat tinggal nya di Jabong RT 4 RW 3, yang sekarang ini dekat dengan SDN 1 Pengkol.