Ginjal Merupakan organ yang sangat penting bagi tubuh karena memiliki fugsi untuk menyaring darh dan membuang cairan, elektrolit dan zat sisa hasil metabolisme tubuh (racun) melalui urine. Jika fungsi ginjal mengalami penurunan maka racun dan cairan akan menumpuk dalam tubuh yang dapat berakhibat fatal.
Keadaan dimana fungsi ginjal menurun atau sama sekali tidak berfungsi dengan normal selama minimal 3 bulan disebut penyakit ginjal kronis. Penyakit ginjal kronis sendiri adalah kondisi dimana ketika fungsi ginjal secara bertahap akan menurun karena kerusakan ginjal. Ketika hal ini terjadi, maka cairan, elektrolit dan zat sisa metabolisme akan menumpuk di dalam tubuh dan meybabakan gangguan.
Sebelum mengalami penyakit ginjal kronis tahap akhir, pasiennya akan mengalami 5 stadium datau tahapan. Pada penyakit gagal ginjal kronis tahap akhir, fungsi ginjal sangat menurun atau hampir tidak berfungsi, sehingga zat sisa dan cairan yang berlebiha akan menumpuk di dalam tubuh dan menimbulkan gejala.
Cairan yang harusnya keluar melalui urine, justru menumpuk di dalam tubuh sehingga menyebabkan pembengkakan. Demikian pula dengan zat sisa metabolisme tubuh yang menumpuk akan menimbulkan gejala-gejala seperti mual, muntah dan gatal. Pada fase ini pasien penyakit ginjal kronis perlu perawatan khusus yang dinamakan terapi penggantian ginjal seperti cuci darah (HD/Hemodialisis), cuci perut (PD/Peritoneal Dialysis) atau cangkok ginjal (transplantasi). Dari pilihan-pilihan terapi pengganti ginjal, transplantasi merupakan cara terbaik fungsi ginjal seutuhnya secara normal. Sebab, pilihan terapi lain (dialisis) hanya mengganti sebagian dari fungsi ginjal.
Persiapan Transplantasi Ginjal
Transplantasi ginjal merupakan suatu tindakan medis dengan tujuan mengembalikan atau membantu meningkatkan fungsi ginjal pasien yang mengalami kegagalan. Kegagalan fungsi ginjal terjadi jika sudah kehilangan lebih dari 90% fungsi ginjal secara normal atau kemampuan ginjal secara normal atau kemampuan ginjal mencuci darah kurang dari 15 mL/menit/1,73 m2 luas permukaan tubuh.
Sebelum masuk pada proses pembedahan, rangkaian persiapan harus dilalui oleh pendonor dan penerima transplantasi ginjal. Persiapan ini umumnya melalui beberapa tahap, mulai dari pemeriksaan kesehatan, menunggu donor ginjal, evaluasi pra-transplantasi, hingga menjaga kondisi tubuh.
Dalam prosedur tindakan medis, seperti transplantasi ginjal, di RSPAD Gatot Soebroto sendiri menitikberatkan pada aspek hukum yang berlaku sebagai bagian penting dari rangkaian proses medis , Sebelum tindakan medis, dilakukan proses advokasi untuk memverifikasi apakah donor ginjal legal secara hukum dan bukan untuk tujuan komersial.
Beberapa hal yang merupakan rangkaian persiapan yang penting untuk dipahami oleh pasien agar transplantasi ginjal menjadi optimal yang meliputi :
Pemeriksaan Kesehatan
Dokter perlu memastikan kondisi tubuh pasien penerima maupun pendonor ginjal telah sesuai dengan syarat untuk menjalani operasi transplantasi ginjal. Dokter akan mengevaluasi kesehatan secara keseluruhan dengan melakukan serangkaian pemeriksaan medis, seperti tes darah, rontgen foto dada, EKG,CT Scan. MRI dan lain sebagainya.
Menunggu Donor Ginjal
Ginjal diharapkan didapatkan dari donor yang mempunyai hubungan keluarga. Hal ini dikarenakan keluarga umumnya memiliki beberapa kesamaan, seperti golongan darah, genetik, dan lain sebagainya. Menggunakan ginjal dari donor keluarga dapat meminimalisir risiko terjadinya kegagalan transplantasi ginjal. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan donor ginjal didapatkan dari orang di luar keluarga.
Evaluasi Pra-Transplantasi
Apabila pendonor ginjal telah ditetapkan, dokter kemudian akan melakukan evaluasi pra-transplantasi. Evaluasi pra-transplantasi merupakan serangkaian pemeriksaan kecocokan antara pasien dengan ginjal pendonor. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya komplikasi atau penolakan ginjal pasca-transplantasi.
Efek Samping Pasca Transplantasi
Seiring perkembangan dunia medis, banyak hal terutama risiko serta efek samping pasca-transplantasi lebih bisa diminimalisir. Meskipun tingkat komplikasi serius dari transplantasi ginjal sudah menurun dalam beberapa dekade terakhir, namun bukan berarti penerima donor ginjal bebas dari risiko.
Sebagian besar komplikasi terjadi dalam beberapa bulan pertama pasca-transplantasi. Namun, dapat juga terjadi setelah beberapa tahun, sehingga komplikasi dibedakan menjadi komplikasi jangka pendek dan jangka panjang.
Komplikasi jangka pendek yang sering terjadi biasanya berkaitan dengan operasi dan infeksi. Infeksi yang sering terjadi adalah infeksi saluran kemih. Ada juga yang terkena infeksi serius lainnya, seperti Pneumonia dan Cytomegalovirus (CMV) yang memerlukan perawatan di rumah sakit.
Penolakan akut dari tubuh. Hal ini berarti sistem kekebalan tubuh secara tiba-tiba mulai menyerang ginjal transplantasi karena mengenalnya sebagai jaringan asing. Selain itu ada juga kasus sumbatan bekuan darah dapat menyumbat pada arteri yang memperdarahi ginjal yang ditransplantasikan.
Pada komplikasi jangka panjang lebih sering terjadi ke arah resistensi terhadap obat-obatan Imunosupresan mencegah sistem kekebalan tubuh menyerang ginjal yang ditransplantasikan.
Lalu ada pula resiko diabetes dan hipertensi yang dapat terjadi pasca-trasplantasi ginjal akibat pemakaian obat-obat Imunosupresan.
Efek samping pada tindakan yang memerlukan prosedur bedah besar ini tidak bisa diprediksi dan solusinya adalah memberikan obat serta tindakan lain yang dibutuhkan sesuai dengan resiko yang terjadi.
Pasien yang telah mendapatkan transplantasi ginjal akan beradaptasi dengan sesuatu yang baru yaitu kehidupan sehari-hari dengan organ ginjal yang berasal dari luar tubuhnya, baik itu pendonor yang berasal dari keluarganya atau juga dari orang lain.
Transplantasi mempunyai beberapa keungulan dibandingkan dengan dialisis (HD/Hemodialisis/cuci darah atau CAPD/Countinous Ambulatory Peritoneal Dialysis/ Cuci air / Cuci Perut).
Angka harapan hidup untuk pasien transplantasi ginjal jauh lebih tinggi daripada pasien dengan HD atau CAPD.
Keuntungan transplantasi ginjal bagi pasien penyakit ginjal kronik adalah :
Pasien lebih sehat
Secara umum, transplantasi ginjal merupakan metode terbaik untuk penanganan penyakit ginjal kronik tahap akhir. Dengan adanya ginjal sehat yang didapt dari donor, maka fungsi ginjal untuk pengeluaran zat sisa (racun) maupun cairan menjadi normal kembali sehingga meningkatkan kualitas hidup.
Harapan hidup lebih lama
Pasien penyakit ginjal kronik tahap akhir yang menjalani prosedur transplantasi memiliki rata-rata harapan hidup yang lebih lama dibandingkan pasien yang menjalani prosedur dialisis (HD/CAPD)
Lebih Ekonomis
Dalam jangka panjang, prosedur tarnsplantasi ginjal terhitung lebih ekonomis dibandingkan dialisis. beban Finansial bagi pasien maupun penjamin menjadi lebih ringan tentunya.