Low Vision
Apa itu Low Vision?
Low vison adalah daya tajam penglihatan yang sangat rendah, lebih rendah dari 1/300 daya tajam penglihatan normal. Suatu kondisi dimana terjadi kerusakan pada fungsi penglihatan, dengan tajam penglihatan <6/18 atau luas lapangan pandang <10 derajat dari titik fiksasi, namun masih potensial melakukan kegiatan-kegiatan tertentu.
Definisi WHO menyebutkan, jika kacamata biasa atau lensa kontak tidak dapat mengembalikan ketajaman penglihatan seseorang ke keadaan normal, berarti ada kerusakan pada sistem penglihatannya, orang tersebut dikatakan menderita low vision. Tajam penglihatannya setelah koreksi refraktif >3/60 – <3/10 dan lapang penglihatannya < 10o. Jelaslah low vision berbeda dengan buta. Penderitanya cuma kehilangan sebagian penglihatannya dan masih memiliki penglihatan sisa yang dapat ditingkatkan bila difungsikan dengan benar.
Berdasarkan perkiraan WHO kasus low vision itu angkanya 3 – 4 kali lebih besar dari angka kebutaan. Di Indonesia diperkirakan jumlah anak usia 0 – 15 tahun berjumlah 70 juta orang. Prevalensi kebutaan pada anak-anak adalah 0,9/1000 anak, jadi diperkirakan jumlah anak dengan low vision adalah 210.000 orang.
Penyebab utama low vision adalah :
Anak-anak dengan low vision adalah kelompok yang perlu mendapat perhatian dan perlu dilakukan intervensi agar tidak berlanjut dan tidak menjadi penderita tunanetra.
Berkaitan dengan low vision mata kurang awas maka idetifikasi dan penemuan kasus termasuk skrining pada anak sekolah merupakan upaya yang dapat dilakukan pada tingkat pelayanan dasar. Selanjutnya pada tingkat sekunder dan tertier koreksi kelainan yang refraksi yang dirujuk dari tingkat primer perlu diantisipasi dengan penyediaan kaca mata yang terjangkau.
Apa ciri-ciri dari Low Vision?
Terdapat beberapa ciri low vision yang membedakannya dengan buta atau gangguan penglihatan lain, yaitu:
Adanya titik buta di pusat
Penglihatan malam yang buruk
Penglihatan kabur
Silau (sensitif terhadap cahaya)
Kehilangan penglihatan hampir sepenuhnya
Bagaimana mengatasi Low Vision?
Sebelum menentukan cara yang tepat mengatasi low vision, dokter mata akan memastikan diagnosis dengan melakukan sejumlah pemeriksaan mata. Selanjutnya, dokter akan mengidentifikasi penyebab yang mendasari untuk memberikan pengobatan yang tepat.
Misalnya, jika penurunan penglihatan yang Anda alami terjadi akibat retinopati diabetik, pengobatan diabetes menjadi cara utama untuk memulihkan dan mempertahankan penglihatan Anda.
Meski kondisi low vision bersifat permanen dan tidak bisa diatasi dengan kacamata, lensa kontak, atau operasi, penggunaan alat bantu visual bisa membantu mempertajam penglihatan.
Alat bantu visual bisa meningkatkan ketajaman penglihatan dan meningkatkan kualitas hidup penderita low vision. Beberapa jenis alat bantu visual yang mungkin direkomendasikan oleh dokter untuk mengatasi low vision adalah sebagai berikut:
Selain alat bantu visual, Anda juga bisa mulai mempertimbangkan untuk menggunakan berbagai perangkat non-optik yang bisa memperjelas penglihatan Anda, seperti:
Perangkat lunak yang menyederhanakan penggunaan komputer dengan pembesaran dan fitur pembaca teks (text-to-speech)
Bahan cetak atau dokumen dengan teks berukuran besar
Rekaman audio
Perlengkapan lampu khusus
Jam tangan atau ponsel dengan kontras tinggi dan ukuran angka yang besar
Jika Anda atau keluarga Anda memiliki kondisi Low Vision, silahkan konsultasikan masalah Anda kepada Konsultan Low Vision kami di RSPADGS. Tim kami akan dengan senang hati membantu Anda.