SEJARAH DEPARTEMEN MATA RSPAD SEBAGAI PEMBELAJARAN
DAN PEMACU SEMANGAT TERUS MAJU KE MASA DEPAN
Departemen Mata pertama kali dipimpin oleh Dr. Marsetio pada tahun 1950 dengan dibantu oleh seorang asisten yaitu Zr. Bea. Kemudian pada tanggal 1 Mei 1958, di mana masih berlaku keadaan darurat perang, dr. A. Quemena menerima sepucuk surat perintah dari Kementerian Pertahanan untuk bekerja di RSPAD guna memerkuat pelayanan di Poliklinik Mata bersama dr. Marsetio.
Pada awalnya Bagian Mata merupakan Poliklinik mata sederhana yang sebarisan dengan Bagian THT dan Gigi di lantai 1. Saat itu Poliklinik Mata hanya terdiri dari ruang kecil yang dimanfaatkan sebagai ruang administrasi, dan ruang lainnya dengan ukuran 3x5,5 m yang digunakan sebagai ruang refraksi merangkap ruang periksa dokter. Alat-alat yang digunakanpun serba sederhana, hanya berupa bingkai dan lensa coba untuk refraksi, serta kaca pembesar/ loupe, dan sinar matahari. Untuk memeriksa kasus-kasus khusus, pemeriksaan dilakukan di kamar gelap: suatu ruangan yang benar-benar gelap seperti ruangan untuk mencuci film, karena pada saat itu pemeriksaan funduskopi dan segmen anterior masih menggunakan lampu yang sederhana.
Sebelum tahun 1958, tindakan operasi mata dilakukan di kamar operasi mata yang sangat sederhana. Suatu kamar yang luas, hanya berisi satu tempat tidur kayu dan diterangi lampu 100 watt. Setelah beberapa waktu, kamar operasi mata mendapat bantuan lampu dan meja operasi dari “kamar V”. Pada periode kepemimpinan dr. Firman Karim (1972 – 1986) bergabunglah beberapa dokter ahli mata lulusan FKUI. Namun tenaga ahli yang tangguh tanpa peralatan memadai memang takkan ada artinya, dan hal inilah yang akhirnya menggugah pimpinan untuk meremajakan RSPAD. Pada saat Unit II Bedah berdiri, Bagian Mata mendapat 1 kamar operasi lengkap dengan peralatan mutakhir, termasuk operating microscope.
Poliklinik mata ditata sesuai dengan subspesialisasi setelah pembangunan Poliklinik tahap I selesai. Departemen Mata mulai menempati Gedung lantai 2 sayap utara di mana masing-masing ruangan dilengkapi peralatan canggih dan termodern di Indonesia pada masa itu.
RSPAD Gatot Soebroto mencatat sejarah sebagai tempat dilaksanakannya operasi vitrektomi dan fakoemulsifikasi pertama di Indonesia. Tahun 1983 operasi vitrektomi (bedah vitreous) pertama dilakukan dengan menggunakan alat vitrektomi generasi pertama oleh Dr. Darwan M. Purba, Sp.M dan asistennya Dr. Syahruddin Muhayan, Sp.M. Tahun 1985, operasi Bedah Katarak Fakoemulsifikasi pertama dilakukan oleh Dr. Abdul Firman Karim, Sp.M dengan teknik dan supervisi Prof. Dardenne, mentornya dari Jerman.
Pada 1 Januari 2014, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mulai beroperasi. Pada masa ini, jumlah pasien yang datang berkurang dari waktu sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya sistem rujukan berjenjang yang berlaku pada sistem BPJS Kesehatan, sehingga RSPAD Gatot Soebroto sebagai salah satu rumah sakit rujukan di tingkat tertinggi hanya mendapatkan kasus-kasus yang tidak dapat ditangani di rumah sakit pada tingkat di bawahnya.
Tahun 2016, dengan adanya pembangunan Cerebrovascular Intensive Care Unit (CICU) di Gedung lantai 2 sayap utara, Departemen Mata dipindahkan ke lantai 5 di sayap yang sama. Saat ini departemen mata memiliki 1 ruang administrasi, 1 ruang refraksi dengan 3 tempat pemeriksaan, 12 ruang praktek dokter, 1 ruang diagnostik, 1 ruang tindakan (untuk tindakan laser dan bedah minor), ruang ganti pria dan wanita, ruang tata usaha, ruang kepala departemen, ruang kepala bagian pelayanan medis, ruang kepala urusan poliklinik mata, ruang koordinator pendidikan, serta ruang makan.
Sesuai dengan rincian organisasi dan tugas RSPAD Gatot Soebroto yang telah ditetapkan, Departemen Mata memiliki kewajiban untuk melaksanakan pelayanan kesehatan diagnostik, kuratif, promotif, dan preventif di bidang ilmu kesehatan mata terhadap pasien rawat jalan serta rawat inap.
MASA-MASA KEPEMIMPINAN
Hingga saat ini tercatat 13 dokter yang pernah menjabat sebagai Kepala Departemen Mata sejak tahun 1950 sampai dengan sekarang.
1. dr. Marsetio (1950 – 1960)
Pada masa persiapan penyerahan Leger Hospitaal Batavia kepada Tentara Nasional Indonesia, Letkol Dr. Marsetio turut membantu Kolonel Dr. Suselo bersama Letkol Dr. Senduk (ahli bedah) dan Dr. Imam Sujudi (ahli kebidanan dan kandungan).
dr. Marsetio memulai kepemimpinan di bagian mata dibantu oleh Zr.Bea pada tahun 1950.
2. dr. A. Quemena (1960 – 1972)
Sejak meninggalnya dr. Marsetio pada tahun 1960, dr. A. Quemena memimpin bagian mata dan bekerja sendiri di bagian mata hingga pada tahun 1966 bagian mata mendapat bantuan seorang dokter asisten.
3. dr. Abdul Firman Karim (1972 – 1986)
dr. Abdul Firman Karim adalah seorang lulusan FKUI yang menggantikan dr. A. Quemena. Pada masa kepemimpinan dr. Firman, bagian mata memasuki era modernisasi. Berturut-turut terdapat penambahan tenaga dokter asisten, yaitu dr. Ietje, dr. Nangoy dan dr. Soebiyantoro. Pada masa ini bergabung pula dokter ahli mata lulusan FKUI, yaitu dr. Bondan Hariono Sp.M, dr. Darwan M. Purba Sp.M, dr. Sanjoto Sp.M, dan dr. Suyono Yudodibroto Sp.M. Untuk memerkuat pelayanan di bidang kesehatan mata, dokter mata RSPAD dikirim ke klinik/ rumah sakit terkemuka di luar negeri. Dr. Sanjoto mempelajari strabismus di Amsterdam, dr. Darwan M. Purba Sp.M dikirim ke Boston, USA, untuk mendalami bidang vitreoretina. Sedangkan dr. Abdul Firman memperdalam operasi katarak dan lensa di New York, dr. Bondan Hariono Sp.M memelajari trauma mata di New York pada tahun 1980 dan selama 2 tahun di Rumah Sakit Militer Yugoslavia, (1981-1983).
Pada masa ini pula sejumlah ruangan disesuaikan dengan subspesialisasi masing-masing tenaga ahli dan dilengkapi dengan peralatan yang cukup sophisticated sehingga sempat membuat iri hati beberapa dokter ahli mata dari rumah sakit lain. Peralatan yang sudah tersedia saat itu cukup lengkap meliputi slit lamp di setiap ruang pemeriksaan, Oftalmoskop direk dan indirek, USG mata untuk menilai segmen posterior, Tonograf untuk mengetahui keadaan pengaliran cairan bolamata intraokular, Tonometri, FFA, autorefractometer, streak retinoscopy, Kampimetri, Vitrektomi, Keratoplasti, Alat radial keratotomy, NdYag laser, Argon laser, ElektroOculografi (EOG), Elektroretinografi (ERG) untuk menilai aktivitas listrik sel-sel retina, Fakoemulsifikasi dan implantasi lensa, Sinoptofor untuk pemeriksaan dan latihan otot bola mata. Selain itu, terdapat pula laboratorium protesa estetik untuk pasien-pasien yang membutuhkan protesa mata.
Pada tahun 1980, bagian mata RSPAD mengadakan simposium pertama tentang trauma mata, serta mulai tahun 1982 mengadakan Seminar Oftalmologi yang rutin diadakan setiap tahun, selama 5 tahun berturut-turut. Pada masa kepemimpinan dr. Firman pula operasi Vitrektomi dan Fakoemulsifikasi pertama di Indonesia dilakukan di RSPAD.
4. dr. Bondan Hariono, Sp.M (1986 – 1992)
dr. Bondan Hariono, Sp.M mendalami ilmu trauma mata di New York dan Okuloplasti di Yugoslavia. Dalam kepemimpinan beliau, dilakukan pengadaan alat operasi katarak untuk bakti sosial dan dimulailah kegiatan bakti sosial operasi katarak yang pertama kali dilaksanakan di Timor-timur dalam suasana konflik pada tahun 1991. Kegiatan bakti sosial pun terus berlanjut ke daerah Irian Jaya dan Kalimantan Barat. Saat menjabat Kepala Departemen Mata, dr. Bondan, Sp.M sangat memerhatikan anak buah dan keluarganya tetapi tidak jarang pula menegur langsung apabila dokter maupun perawat melakukan kesalahan. Pada masa kepemimpinan beliau, dr. Juniati V. Pattiasina, Sp.M memerdalam ilmu tentang strabismus di Belanda, dan dr. Naila Karima, Sp.M memerdalam ilmu tentang cranio facial, vitreoretina, serta pain management di Adelaide, Australia.
dr. Bondan Hariono, Sp.M merupakan salah satu dokter mata yang pernah menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit RSPAD pada tahun 1993 – 1995. Selama kepemimpinannya sebagai Kepala Rumah Sakit, kesejahteraan pegawai juga meningkat.
5. dr. Syahruddin Muhayan, Sp.M (1992 – 2002)
Pada kepemimpinan dr. Syahruddin Muhayan, Sp.M, kekeluargaan di antara personil Departemen mata sangat kuat. Beliau dikirim ke Jerman untuk melaksanakan pendidikan vitreoretina dan craniofacial di Adelaide, Australia Selatan, di bawah supervisi dr. David J. David. Pada periode ini, Departemen Mata RSPAD mendapatkan alat Phaco Universal II dan Argon Laser.
6. dr. Oemar Said, Sp.M (2002 – 2005)
Bila sebelumnya bakti sosial bayak dikerjakan di luar rumah sakit, pada masa kepemimpinan dr. Oemar Said, Sp.M, bakti sosial juga dilakukan di dalam RSPAD dengan bekerja sama dengan Lembaga lain seperti Lions Club.
7. dr. Trining, Sp.M (2005 – 2007)
Dalam masa kepemimpinan dr. Trining Sp.M, rasa kekeluargaan di bagian mata sangat terasa. dr. Trining Sp.M bahkan mengundang para personel departmen mata untuk datang ke acara kebersamaan ke rumah beliau di Semarang.
8. dr. Herman Nur, Sp.M (2009 – 2011)
Pada masa kepemimpinan dr. Herman Nur, Sp.M, Departemen Mata mendapat sebuah mesin fakoemulsifikasi baru serta sebuah mesin vitrektomi baru yang disertai dengan alat fakoemulsifikasi. Sejak tahun 2009, RSPAD mengadakan pelatihan fakoemulsifikasi yang diikuti oleh dokter-dokter spesialis mata dari berbagai instansi lain. Pelatihan tersebut terus berlanjut hingga kepemimpinan dr. Bennadi Natawidjaja, Sp.M.
9. dr. Freddy W. Arsyad, Sp.M (2011 – 2012)
Sebelum menjabat sebagai kepala departemen, pada tahun 2007-2009 dr. Freddy W. Arsyad, Sp.M sempat menjabat sebagai Pelaksana Harian (Lakhar) Kadep Mata. Pada kepemimpinnya, dr. Freddy W. Arsyad, Sp.M yang juga seorang ahli vitreoretina, operasi vitrektomi kembali dikerjakan secara rutin di RSPAD.
10. dr. Bennadi Natawidjaja, Sp.M ( 2012 – 2015)
Selama kepemimpinan dr. Bennadi, pendidikan mahasiswa kedokteran yang menjalani kepaniteraan di Departemen Mata RSPAD cukup mendapat perhatian. Setiap akhir rotasi, diadakan judisium yang dihadiri oleh dokter-dokter mata selaku tenaga pendidik untuk menentukan kelulusan mahasiswa.
11. dr. Donny Aldian, Sp.M (2015 – 2016)
Saat menjadi Kabagyanmed, sebelum menjabat sebagai Kadep, dr. Donny Aldian Sp.M merupakan sosok yang memulai perjalanan Dokter Spesialis Mata dalam Kontingen Garuda (Konga) UNIFIL pada tahun 2010 yang dilakukan di bawah koordinasi TNI. Dalam masa jabatannya sebagai Kepala Departemen Mata yang relatif singkat, dilaksanakan dua seminar kesehatan mata oleh Departemen Mata RSPAD dengan hasil memuaskan.
12. dr. Subandono Bambang Indrasto, Sp.M (2016 – 2018)
Pada awal masa kepemimpinan dr. Subandono Bambang Indrasto, Sp.M di tahun 2016 Departemen Mata dipindahkan dari lantai 2 ke lantai 5 Sayap Utara Gedung Prof. Satrio. dr. Subandono Bambang, Sp.M merintis pembaharuan alat-alat pemeriksaan dan diagnostik mata, antara lain slit lamp dan Refracting Unit. Pada Agustus 2020, dr. Subandono Bambang, Sp.M memperoleh kenaikan pangkat sebagai Brigadir Jenderal dan saat ini beliau menjabat sebagai Kepala Satuan Pengawas Internal (KaSPI) RSPAD Gatot Soebroto.
13. dr. Wahyu Triyanto, Sp.M (2019 – sekarang)
Pada masa kepemimpinan dr. Wahyu Triyanto, Sp.M, dunia termasuk Indonesia sedang mengalami pandemi COVID-19. Suatu masa yang mengubah banyak hal, termasuk di bidang pelayanan kesehatan mata. Salah satunya karena pemeriksaan fisik mata yang dilakukan dalam jarak yang sangat dekat dengan pasien, sehingga meningkatkan risiko terpaparnya virus COVID-19. Saat ini walaupun COVID 19 belum dinyatakan berakhir, pelayanan kesehatan di Departemen Mata masih dapat terlaksana dengan baik.
Pada masa kepemimpinan dr. Wahyu, Sp.M pula diadakan pembaharuan alat-alat penunjang medis seperti berupa Slit Lamp dengan monitor, sehingga dapat memudahkan pemberian edukasi kepada pasien maupun untuk proses pengajaran kepada mahasiswa.
KEMAMPUAN DI BIDANG MEDIS DAN PENUNJANG MEDIS
Sejak tahun 2019 hingga kini Departemen Mata RSPAD Gatot Soebroto dipimpin oleh Kolonel Ckm dr. Wahyu Triyanto, Sp.M. Adapun dokter spesialis mata lain yang memerkuat Departemen Mata, adalah:
1. dr. Subandono Bambang Indrasto, Sp.M (Oftalmologi Umum)
2. dr. Muhammad Irsan, Sp.M (Vitreoretina)
3. dr. Handy Hernandy Yuliawan, Sp.M (Oftalmologi Umum)
4. dr. Trisihono, Sp.M (Vitreoretina)
5. dr. Puranto Budi Susetyo, Sp.M (Vitreoretina)
6. dr. Ariawan Priguna, Sp.M (Oftalmologi Umum)
7. dr. Rommel Aleddin, Sp.M (Oftalmologi Umum)
8. dr. Amalia Yuli Lestari, Sp.M (Glaukoma)
9. dr. Astrid Chairini Chairi, Sp.M (Pediatrik Oftalmologi)
10. dr. Herman Nur, Sp.M (Oftalmologi Umum)
11. dr. Donny Aldian, Sp.M (Vitreoretina)
12. dr. Juniati V. Pattiasina, Sp.M (Strabismus)
13. dr. Naila Karima, Sp.M (Rekonstruksi, Okuloplasti, dan Onkologi)
Selain memiliki Dokter Spesialis Mata yang ahli di bidangnya, Departemen Mata RSPAD Gatot Soebroto juga dilengkapi dengan sejumlah alat-alat diagnostik dan terapi. Saat ini Departemen Mata dilengkapi dengan alat-alat diagnostik seperti: Optical Coherence Tomography (OCT), Humphrey Visual Field Analyzer, Biometri, keratometri, dan foto fundus yang disertai dengan fluorescein fundus angiography. Sedangkan sebagai penunjang untuk terapi, Departemen Mata memiliki 1 mesin laser Nd-Yag dan 1 mesin laser argon.
Dalam melakukan operasi, bagian mata memiliki kamar operasi khusus di Instalasi Kamar Operasi lantai 2, yaitu Operatie Kamer (OK) VII. OK VII dilengkapi dengan 1 mesin fakoemulsifikasi, 1 mesin vitrektomi+fakoemulsifikasi, dan 2 mikroskop, yang salah satunya dapat merekam dan disambungkan ke layar televisi, sehingga dapat mendokumentasikan prosedur yang dikerjakan serta memberikan visualisasi yang lebih jelas sebagai bahan belajar bagi mahasiswa.
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
Departemen Mata didukung oleh dokter spesialis mata dengan berbagai keseminatan dan perawat, turut serta dalam pengembangan Ilmu Kesehatan Mata di Indonesia, dengan melakukan kegiatan ilmiah berupa seminar maupun pelatihan.
Pada tahun 1980, bagian mata RSPAD pertama kali menggelar simposium yaitu Simposium Trauma Mata bekerjasama dengan PERDAMI. Kegiatan ilmiah tak berhenti sampai di situ saja, secara berkelanjutan bagian mata RSPAD mengadakan Seminar Oftalmologi I sampai dengan Seminar Oftalmologi V setiap tahunnya sejak tahun 1982 sampai tahun 1986.
Kegiatan ilmiah yang pernah diselenggarakan Departemen Mata RSPAD yang bersifat nasional antara lain:
- Simposium Trauma Mata (1980)
- Seminar Oftalmologi RSPAD Gatot Soebroto I (1982)
- Seminar Oftalmologi RSPAD Gatot Soebroto II (1983)
- Seminar Oftalmologi RSPAD Gatot Soebroto III (1984)
- Seminar Oftalmologi RSPAD Gatot Soebroto IV (1985)
- Seminar Oftalmologi RSPAD Gatot Soebroto V (1986)
- Workshop Tatalaksana Wet AMD/ DME dan Penyuntikan Intravitreal (2013)
- Seminar Ilmiah “Diagnosis dan Penatalaksanaan Glaukoma” (2016)
- LUCID (2016)
- Workshop Biometri (2019)
- Penulisan Case Report dengan judul “An Optic Nerve Avulsion Due to A Gun Shot Injury : A Case Report” (dipublikasikan di Jurnal Oftalmologi bulan Agustus 2021)
Selain itu, RSPAD Gatot Soebroto sebagai rumah sakit pendidikan merupakan salah satu tempat belajar bagi mahasiswa dari berbagai institusi di Indonesia. Departemen Mata sejak tahun 1989 menerima mahasiswa pendidikan profesi dokter, atau yang lebih dikenal sebagai co-assistant (co-ass), dari beberapa Universitas seperti Universitas Sebelas Maret, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta, Universitas Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsi), Universtitas Trisakti, Universitas Kristen Krida Wacana, Universitas Pelita Harapan, dan Universitas Atma Jaya. Selama proses pendidikan di Departemen Mata, para mahasiswa diharap dapat mengenali hingga menatalaksanakan penyakit-penyakit mata sesuai dengan standar kompetensi yang berlaku bagi dokter umum.
Departemen Mata RSPAD Gatot Soebroto juga telah berkontribusi dalam bidang kesehatan dengan melakukan penelitian. Tercatat pada Buku Kenangan Peresmian Gedung Poliklinik Tahap II RSPAD Gatot Soebroto pada tahun 1988, Departemen Mata telah merilis hasil penelitian dengan judul “Hasil Penelitian Stereopsis pada Usia Lanjut” yang dilakukan oleh dr. Sanjoto bersama dengan dr. Pandji Akbar serta Asuhan Keperawatan Pasien Katarak oleh Zr. E. Tumirah.
Pembagian kacamata gratis dalam rangka HUT RSPAD Gatot Soebroto ke-72 tahun 2022
Pembagian kacamata gratis
Bakti sosial operasi katarak dalam rangka HUT RSPAD Gatot Soebroto ke -73 tahun 2023
Tim Baksos PPRC
Pulau Selaru 2018