Juli 2024 Edisi #40
Ditulis oleh : Kalista Cahyani
Banyak dari kita yang sudah tidak asing lagi mendengar kata “Agile” atau yang biasa kita artikan “satset” dalam Bahasa gaulnya. Tetapi apakah kamu pernah mendengar mengenai “Agile Organization” dan “Tradisional Organization”? Apa perbedaan 2 konsep tersebut yang saat ini sudah diadopsi oleh perusahaan-perusahaan besar?
Dalam organisasi bisnis telah mengalami evolusi signifikan seiring berjalannya waktu. Salah satunya yaitu transisi dari konsep Tradisional Organization menjadi Agile Organization.
Gambar diatas merupakan bentuk ilustrasi dari konsep Tradisional Organization dan Agile Organization, dimana Paramida menggambarkan konsep Tradisional Organization dan Lingkaran menggambarkan Agile Organization.
Pada Tradisional Organization, struktur digambarkan dalam bentuk piramida. Dimana jabatan tertinggi berada di posisi paling atas, sedangkan jabatan terendah berada di paling bawah. Biasanya pada struktur ini terdapat hierarki yang sudah sangat jelas, dengan perintah yang dimulai dari atas dan turun ke bawah melalui berbagai birokrasi. Sebagai eksekutor yang berada dibawah, akan terbagi ke dalam beberapa divisi seperti marketing, produksi, finance, sales dan lainnya dengan tugas yang spesifik. Dalam menjalankan tugasnya, masing-masing divisi ini akan bekerja secara individu atau tidak terlibat kerja sama dengan divisi lainnya.
Sedangkan pada Agile Organization diilustrasikan sebagai sebuah lingkaran. Pada konsep ini, posisi jabatan dan komando tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah tindakan/aksi yang dilakukan oleh individu yang berada pada posisi tersebut. Berbeda dengan Traditional Organization dimana wewenang dipusatkan pada puncak organisasi (Hierarki), dalam Agile Organization wewenang didistribusikan ke seluruh organisasi (Holakratik). Selain itu Agile Organization juga memungkinkan perpindahan anggota tim dan tugas dengan cepat, serta menuntut sumber daya di dalamnya yang harus fleksibel.
Sebenarnya, perbedaan dua sistem organisasi ini terletak pada penggunaan sumber dayanya. Dalam sistem Agile Organization, sumber daya dapat diperoleh dari berbagai sumber dibandingkan dengan Traditional Organization. Agile Organization bersifat lebih fleksibel, memungkinkan perubahan sumber daya sesuai kebutuhan. Sebaliknya, pada sistem Traditional Organization, sumber daya telah dibagi ke dalam divisi-divisi, dan masing-masing divisi tidak dapat saling bertukar sumber daya. Maka dapat dilihat bahwa Agile Organization di bentuk bukan dari departemen atau divisi yang bekerja secara terpisah, melainkan sebagai tim yang memiliki berbagai keahlian berbeda.
Lalu, bagaimana dengan leader? Apakah leader tidak dibutuhkan lagi? Tentu saja tidak. Leader memiliki peran penting dalam organisasi ini. Mereka memberikan arahan dan menyusun strategi tindakan. Peran leader juga termasuk memudahkan dan memfasilitasi tim untuk mengambil tindakan yang tepat sesuai arahan yang telah ditetapkan, sehingga tim dapat bekerja dengan lebih fleksibel.
Jadi dapat kita simpulkan bahwa perbedaan utama dari agile organization dan traditional organization terletak pada karakteristiknya. Agile Organization dapat dianalogikan seperti mikroorganisme yang fleksibel dan mampu beradaptasi dengan keadaan atau lingkungan baru. Sedangkan Traditional Organization dapat diibaratkan seperti mesin yang sudah terprogram. Sistem ini menuntut pekerja untuk menjalankan tugasnya sesuai arahan, dan tidak banyak ruang untuk inovasi. Keterbatasan inovasi ini disebabkan oleh kurangnya kerja sama antar sumber daya dalam organisasi. Tetapi bukan berarti Traditional Organization tidak bagus untuk diterapkan, Traditional Organization akan bagus untuk diterapkan apabila keadaan organisasi sedang berada pada posisi yang stabil dan situasi pasar dapat diprediksi.