Maret 2024 Edisi #29
Ditulis oleh : Sean Katondho Henas
Membandingkan diri dengan sesuatu yang bukan kapasitas kita sudah seperti rutinitas bagi kebanyakan orang saat ini. Mengingat Media Sosial selalu menjadi alat canggih yang menemani kita disetiap aktivitas. Tak jarang kita memperhatikan kesuksesan hanya dari apa yang sudah unggah orang lain pada ponsel genggam. Melirik ke beranda aplikasi yang berisikan foto dengan barang yang hanya ada 100 unit di dunia, foto saat menonton idola kesukaan, foto ditempat destinasi wisata yang belum pernah kita datangi ataupun sekedar foto ketika sedang berkunjung ke tanah suci.
Saat-saat seperti ini, waktu emas terasa berlalu tanpa kita sadari dan itu adalah bagian dari perjalanan yang tidak selalu indah. Stagnansi yang sifatnya sementara pasti pernah dirasakan setiap manusia. Kita belajar mengurai arti dari setiap petunjuk yang diberikan oleh kehidupan. Rotasi peradaban membawa kita untuk menerima bahwa perkembangan selalu ada, meskipun dalam bentuk yang tidak terlihat atau dirasakan.
Keraguan selalu bisa menghampiri dikala waktu rebah kita datang. Siapa diri ini? Apa yang sedang kita cari? Kemana kaki ini akan menuntun langkah pergi? Diwaktu renungan itu, ketidakpercayaan diri pun ikut bermunculan. Apa yang akan terjadi jika kita mengambil langkah X? Apakah jalan yang kita ambil sudah tepat? Bagaiman jika ditengah perjalanan akan terasa berat? Apakah kita bisa melaluinya? Kita adalah manusia yang enggan akan jeda.
Refleksi diri adalah sebuah bentuk penguatan fondasi sebelum kita melanjutkan perjalanan dengan ekspektasi yang menyertainya. Perlahan kita mulai menyadari bahwa yang melelahkan bukan perangai berdiam diri dan berharap, tetapi berdiam dengan menolak untuk menerima. Meski nyatanya ekspektasi tidak sejalan dengan realita. Tidak ada cara lain, selain menerimanya. Tidak apa untuk sekedar berpura-pura baik ditengah kerumunan lalu pulang dengan sepasang bola mata yang sembab. Tidak ada yang salah. Jedalah sejenak. Dimanapun kita berada saat ini, buatlah diri kita senyaman mungkin. Kita sama sama tau, alasannya dengan jelas mengapa pertikaian dikepala ini belum juga usai. Dan jika kita belum mengetahui alasannya, tidak apa juga. Kita masih punya waktu untuk menyadarinya.
Apapun yang terjadi. Berapa lama pun waktu yang terpakai. Kita semua akan sampai pada satu pijakan dalam hidup dengan bekas luka yang abadi dan cukup untuk kita tertawakan sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan. Jika dirasa lelah, berhenti dulu sebentar. Rasakan tempo napas yang melambat, teratur dan melegakan. Yakinkan diri untuk menjalankan hari - hari dengan lebih tenang. Pastikan kita bisa untuk terus menjadi versi yang terbaik.
#Tidak ada yang harus menunggu kesempurnaan untuk merasakan kebahagiaan