Desember 2023 Edisi #20
Ditulis oleh : Kalista Cahyani
Pada Kaizen Semester 2 lalu, terdapat 2 tools yang dapat digunakan oleh peserta dalam melaksanakan improvementnya diantaranya yaitu PDCA dan juga Desain thinking. Mungkin sebagian orang lebih mengenai konsep PDCA dari pada desain thinking, maka dari itu kita akan belajar bersama-sama mengenai apa itu konsep desain thingking.
Desain thinking meletakkan fokus utamanya pada kebutuhan dan sudut pandang pelanggan, sehingga pemecahan masalah dengan menggunakan metode ini dapat memberikan manfaat salah satunya adalah meningkatkan kepuasan pelanggan. Desain thinking memberikan ruang untuk belajar dari kegagalan, menelaah mengapa kegagalan itu terjadi dan mengapa harus diperbaiki.
Secara definisi, Design thinking merupakan pendekatan untuk memecahkan masalah yang menitikberatkan pada pelanggan. Dengan kata lain, kebutuhan pelanggan menjadi prioritas utama untuk menciptakan solusi. Karena fokus utamanya adalah membantu pelanggan mengatasi masalahnya dan mencapai tujuan yang diinginkan, aspek inilah yang membuat design thinking berbeda dengan pendekatan-pendekatan lain yang berpusat pada teknologi atau kompetitor.
Terdapat 5 tahapan yang harus dilalui dalam menyelesaikan masalah dengan metode desain thinking, diantaranya yaitu:
1. Empathize, tahap pertama ini sangat penting karena pada tahap ini dibutuhkan pengetahuan mengenai apa yang dibutuhkan oleh pelanggan. Untuk mengetahui apa yang dibutuhkan oleh pelanggan, maka diperlukan empati yang dalam sehingga dapat merasakan kendala apa yang dihadapi oleh pelanggan
2. Define, pada tahap ini masalah yang sudah didapat dari tahap empathize didefinisikan untuk mendapatkan masalah utamanya
3. Ideate, di tahap ini ide-ide untuk menyelesaikan masalah dikumpulkan. Mencari ide-ide tersebut dapat dilakukan dengan brainstorming, mindmapping, hingga bodystorming (roleplay)
4. Prototype, pada tahap ini beberapa ide yang telah dikembangkan tadi akan dibuat prototype. Tahapan ini dilakukan untuk menguji coba apakah produk yang dibuat sudah sesuai dengan yang direncanakan. Solusi yang ditawarkan pada tahap ini dapat diterima, diperbaiki, atau bahkan ditolak, oleh karena itu fungsi tahapan ini memang untuk mempertanyakan ulang apakah produk yang ada sudah dapat menjawab permasalahan pelanggan atau tidak.
5. Test, di tahap ini prototype yang telah dibuat diujikan kepada pelanggan. Sebenarnya testing ini bersifat opsional, tetapi dengan melakukan testing, perancang dapat memaksimalkan kembali produk yang telah dibuat melalui feedback yang didapatkan dari pelanggan.
Source: bppk.kemenkeu.go.id