Desember 2023 Edisi #17
Ditulis oleh : Kalista Cahyani
Pada bulletin edisi 13 kita telah membahas mengenai budaya kerja Jepang yaitu budaya 5S yang diantaranya terdiri dari Seiri (Ringkas), Seiton (Rapih), Seiso (Resik), Seiketsu (Rawat), Shitsuke (Rajin). Pada edisi kali ini kita akan membahas konsep 5S yang ke dua yaitu ‘Seiton’ yang berarti menyimpan barang di tempat yang tepat atau dalam tata letak yang benar. Konsep ‘Seiton’ ini dapat diturunkan menjadi budaya 5T, yang diantaranya yaitu Teiro, Teiryo, Teichi, Teimei, dan Teishoku.
Teiro (Menetapkan rute)
Konsep Teiro menekankan pada penciptaan bagian dan batasan yang jelas dalam ruang kerja. Hal ini dapat melibatkan penandaan garis di lantai, memberikan sudut siku-siku, dan menggunakan penghalang atau pagar untuk menentukan area dan jalur tertentu untuk barang dan aktivitas
Teiryo (Menetapkan kuantitas)
Konsep ini melibatkan penentuan jumlah minimum atau jumlah barang yang diperlukan untuk suatu aktivitas. Langkah ini membantu mengurangi kelebihan inventaris dan pemborosan dengan hanya menyimpan apa yang diperlukan
Teichi (Mengatur posisi)
Konsep ini mengatur suatu barang agar mudah diakses dan digunakan secara efisien. Langkah ini dapat membantu mengoptimalkan alur kerja dan mengurangi pergerakan yang tidak diperlukan.
Teimei (Memberikan nama)
Konsep ini melibatkan pelabelan lokasi penyimpanan dengan menuliskan nama atau simbol. Teknik dan manjemen visual ini memudahkan karyawan untuk menemukan barang-barang yang dicarinya, dan meningkatkan ketertiban di ruang kerja
Teishoku (Mengatur warna)
Konsep ini berfokus pada penggunaan warna berbeda untuk mengurangi pemborosan yang terkait dengan gerakan yang tidak perlu. Kode warna dapat membantu dengan cepat membedakan antara item, lokasi, atau tugas, meminimalkan waktu dan upaya yang dihabiskan untuk mencari atau memindahkan barang.