Pengantar Pameran Melihat Suara
oleh : Prof. Dr. Narsen Afatara, M.S.
Menurut saya, jika kita menoleh ke belakang, katakanlah sekitar sepuluh tahun yang lalu, ada perbedaan penting yang patut diamati, direnungi, dan dinikmati hari ini. Perbedaan itu tercermin dalam karya-karya Irul, seorang perupa yang menempuh studi S1 di bidang seni patung. Namun, Irul bukan sekadar memperdalam seni patung. Ia menjelajah lintas medium, memadukan pendekatan mix media dan multimedia dalam proses kreatifnya. Ini menunjukkan keterbukaan dalam cara berpikir dan berkarya.
Meski berlatar belakang patung, Irul telah melampaui batas-batas konvensionalnya. Ia menjadikan seni patung bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai titik tolak. Baginya, seni patung hanyalah salah satu elemen dalam lanskap seni rupa yang lebih luas. Saya tidak ingin mengurung karyanya dalam istilah “modern” atau “kontemporer”, karena perdebatan istilah semacam itu kerap membuang energi. Yang lebih penting adalah bagaimana Irul hadir dalam situasi seni rupa Indonesia yang tengah vakum dan menawarkan sesuatu yang segar serta relevan.
Karya-karya Irul lahir dari proses perenungan dan pengendapan yang mendalam, terutama dalam kerangka akademik. Ia sangat obsesif terhadap kemandirian artistik. Risetnya tidak dimaksudkan untuk meniru atau mereproduksi seni masa lalu, tetapi menjadikannya sebagai titik referensi awal untuk kemudian menciptakan sesuatu yang baru. Dan menurut saya, ia berhasil. Ia menghadirkan seni rupa dengan bentuk dan spirit kekinian yang tidak dibuat-buat.
Kesadaran ini tidak hadir tiba-tiba. Saya tahu betul, di masa S1-nya Irul sempat mengalami ketidakpuasan dalam proses akademiknya, dan rasa itu di isi dengan mengikuti berbagai pameran dalam konteks grafis atau lukisan modern formal. Tetapi kini, dalam studinya di tingkat S2, ia telah menunjukkan lompatan kesadaran: bahwa riset bentuk dan ide bisa menjadi fondasi penting untuk penciptaan yang lebih bermakna dan mendalam. Ia tidak hanya membuat karya, tapi benar-benar membangun ruang pikir dan eksperimen artistik yang visioner.
Dalam pengamatan awal saya terhadap karya Irul, saya melihat semangat eksperimentasi yang kuat. Ia menembus batas-batas seni konvensional, meninggalkan ruang tradisional 3 dimensi, dan menjelajah kemungkinan penyajian yang lebih bebas. Inilah yang saya sebut sebagai ekspresi yang jujur, bukan dalam pengertian sentimental, tapi dalam semangat keberanian menciptakan dan merumuskan sesuatu yang betul-betul personal dan segar.
Memang, dalam diri Irul terdapat semacam konflik dan keraguan: tentang bentuk karya seni seperti apa yang layak hadir di ruang publik. Namun keraguan itu ia jawab sendiri dengan riset—dalam ide maupun bentuk. Riset ini bukanlah proses sembarangan, melainkan proses penuh risiko intelektual dan emosional. Ia menggali pemahaman dari berbagai konsep seni, pengetahuan budaya, dan bahkan ranah di luar dunia seni itu sendiri.
Salah satu hal yang menonjol dari karya Irul adalah eksplorasinya terhadap bahasa isyarat. Ia tidak hanya melihatnya sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai sumber kekayaan visual dan kultural. Ia mencoba “mendesak” bahasa isyarat agar memiliki daya ekspresi baru, bukan sekadar sebagai alat komunikasi fungsional, tetapi sebagai bahasa artistik yang terbuka, lentur, dan berdaya cipta. Ini adalah bentuk pengakuan dan penghargaan terhadap bahasa Tuli sebagai sumber pengetahuan dan keindahan.
karya-karya Irul bukan sekadar bentuk baru, tetapi juga jembatan menuju ruang penerimaan. Ia tidak datang dengan tekanan, tetapi dengan pemahaman, melalui pikiran dan perasaan yang terbuka. Ia mencoba merekonstruksi bentuk bahasa isyarat, layaknya kaligrafi kuno,tulisan paku atau aksara simbolik lainnya. Irul memperkaya semua itu menjadi bentuk-bentuk visual yang bermakna.
Dalam proses ini, Irul seperti kaligrafer Tiongkok yang menghabiskan tinta untuk meniru goresan sang master. Bedanya, Irul bukan meniru, tapi men-transformasi potongan-potongan bahasa isyarat menjadi bentuk visual baru. Ini bukan sekadar gambar atau lukisan dalam pengertian konvensional. Ini adalah hasil dari riset bentuk yang mendalam, proses yang panjang, dan tafsir artistik terhadap bahasa yang tak bersuara.
Studi S2 ini menurut saya membuka kemungkinan besar untuk dilanjutkan secara akademik hingga jenjang S3. Bahkan jika tidak melalui jalur akademis, karya Irul tetap punya potensi menjadi temuan penting seperti halnya rumus Einstein atau penemuan Edison yang spektakuler. Namun kalau bisa tetap pada jalur akademis supaya Penyebarannya bisa menjangkau perguruan tinggi seni maupun sekolah-sekolah untuk difabel yang kini mulai tumbuh di Indonesia.
Apakah pengamatan saya ini keliru? Mungkin. Tetapi menurut saya tidak. Karena saya mengalami sendiri dan bisa mengaitkannya dengan peta seni rupa kontemporer kita saat ini. Dalam arus utama seni rupa pun, riset bentuk dan ide Irul menawarkan sesuatu yang baru. Ia tidak perlu terjebak dalam kategori “modern”, “tradisi”, atau “kontemporer” . Irul telah sampai pada temuan yang murni, menghubungkan bahasa Tuli dan seni rupa bukan sekadar sebagai simbol, tapi sebagai bentuk pengalaman dan proses artistik yang otentik. Dan itu yang kita saksikan hari ini.
Huruf Isyarat menjadi Monster? Ikuti Grapyak Monster ini !
oleh : Dr. Sn. Angga Kusuma Dawami, S.Sn., M.Sn.
Grapyak monster adalah gambar yang terinspirasi dari bahasa isyarat alfabet BISINDO yang direspon dengan karakter monster yang biasa Chairol Imam buat. Kita tau, fungsi utama bahasa adalah untuk berkomunikasi. Bahasa memungkinkan manusia untuk berbagi pikiran, perasaan, dan informasi dengan orang lain. Betul bahwa, teman Tuli membutuhkan bahasa Isyarat.
Bahasa isyarat adalah bahasa yang menggunakan gerakan tangan, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh untuk berkomunikasi. Ada banyak jenis bahasa isyarat yang berbeda di seluruh dunia, dan orang tuli sering menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi satu sama lain atau dengan orang-orang yang memahami bahasa isyarat. Karya ini sepertinya berakar pada keramahan (jawa:grapyak) yang ingin dihadirkan oleh Chairol Imam untuk merespon bahasa isyarat.
Indonesia sendiri mengenal sekurang-kurangnya 2 tipe bahasa isyarat, Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI), dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Yang pertama merupakan adaptasi dari American Sign Language (ASL) yang mengakar pada kosa kata bahasa orang Dengar diadaptasi ke isyarat. Orang Dengar paham, karena susunan bahasanya sesuai percakapan sehari-hari, tapi Orang Tuli? Disinilah karya Grapyak Monster menjadi titik pertama untuk mendalami keramahan dalam komunikasi Tuli. Dimana Imam, berusaha keras menangkap makna dari sebuah kalimat (dengan sistem linguistik orang Dengar).
Akar pemikiran ini yang sepertinya menjadikan Chairol Imam ingin mengungkapkan huruf bahasa isyarat sebagai respon dirinya sebagai seniman. Memulai karya dari refleksi orang Dengar terhadap dasar dari huruf untuk sebuah bahasa, merupakan ide yang coba dikembangkan oleh Chairol Imam dalam deformasi karya-karya monsternya.
Bahasa isyarat membawa Imam pada dimensi imajiner betapa ketakutan orang Tuli tetap berpaku pada bahasa yang ditetapkan orang dengar. Dengan keramahaman orang Tuli untuk menjembatani masalah ini, Imam mencoba menjadi bagian yang tidak terpisahkan melalui karya Grapyak. Kedekatan Imam dengan alfabet isyarat juga karena semenjak SMK dirinya bersinggungan dengan teman Tuli, bertukar pikiran, diskusi, dan juga berkegiatan di dalamnya. Tapi bukankah kita harus dalam konvensi yang sama untuk memahami sebuah komunikasi.
Saya merasa, karya ini merupakan awalan untuk memahami realitas yang terjadi pada Tuli dan Dengar, Bahasa Isyarat bukan hanya sebagai alat bantu dengar tetapi juga sebagai bentuk asimilasi budaya antara orang Dengar dan orang Tuli.
Selamat menikmati karya ini, siapa tau kita jadi semakin tertarik untuk memahami budaya Tuli seutuhnya. Menjadi minoritas itu tidak menyenangkan, mari kita belajar.