Bisnis Kopra ini berada di Desa Sinar Jati, Dusun 1 Sinar Jati, Kabupaten Pesawaran, Lampung.
Produksi
Kopra secara tradisional diparut dan digiling kemudian direbus dalam air untuk mengekstrak minyak kelapa yang terkandung di dalamnya. Produknya digunakan dalam budaya pulau-pulau di Samudra Pasifik dan menjadi salah satu produk komersial berharga di Laut Selatan dan Asia Selatan pada 1860s. Saat ini, proses ektraksi minyak kelapa dilakukan dengan menumbuk kopra untuk diambil minyaknya (70%) dengan produk samping yang dikenal sebagai copra meal (30%). Setelah minyak diekstrak, kelapa yang tersisa terdiri atas 18–25% protein dan sangat banyak serat pangan yang tidak dapat dimakan oleh manusia dalam jumlan yang besar. Produk samping ini biasanya digunakan sebagai pakan hewan pemamah biak.[2]
Produksi kopra – memecahkan cangkang dan mengeringkannya – biasanya dilakukan ketika pohon kelapa tumbuh besar. Kopra dapat dibuat dengan mengeringkan kelapa menggunakan matahari, asap, maupun tempat pembakaran khusus. Pengeringan menggunakan panas Matahari membutuhkan area yang lebi besar dan cahaya Matahari yang cukup. Metode ini biasa dilakukan dengan memotong kelapa menjadi dua, kemudian merendam kulit kelapa dan menghadapkan daging kelapa ke arah Matahari. Setelah dua hari, daging kelapa dapat dilepaskan dari kulitnya dan proses pengeringan dapat selesai hingga tiga atau lima hari berikutnya.
Tujuan pengeringan kelapa menjadi kopra adalah untuk mengekstraksi minyak yang terkandung di dalam daging kelapa tersebut. Kopra yang baik harus memiliki kadar air sekitar 6-7 % saja jika lebih dari angka tersebut kopra akan rentan rusak dan berjamur sehingga mutu nya pun rendah.
Proses pengeringan kopra dilakukan dengan dua metode yakni dikeringkan alami dengan cahaya matahari (sun drying) dan dikeringkan menggunakan panas buatan (artificial drying system) yakni dengan metode pemanasan langsung dengan smoke drying system dan metode pemanasan tidak langsung dengan mesin pengering
dilakukan dengan metode tradisional yakni dengan menata kelapa di ruang terbuka dan dijemur di bawah sinar matahari hingga kering. Jika cuaca sedang bagus, diperlukan waktu 2 hari penjemuran lalu kelapa akan ducungkil dari tempurung nya kemudian dijemur lagi hingga waktu sekitar 3 hari. Proses keseluruhan pengeringan metode ini membutuhkan waktu kurang lebih sekitar 4-5 hari.
Kelebihan metode Sun Drying System
Biaya lebih murah
tidak membutuhkan alat khusus
tidak memerlukan listrik atau bahan bakar tertentu
Kapasitas produksi lebih banyak
kelemahan Sun Drying System
tidak bisa mengontrol panas karena sangat tergantung cuaca
kualitas kopra tidak stabil dan tidak merata
kemungkinan bertumbuh jamur jika proses pengeringan terlalu lama atau perubahan cuaca
Membutuhkan lahan yang luas
Seperti nama nya, artificial drying system dilakukan dengan membuat panas buatan sehingga tak perlu tergantung dengan kondisi cuaca. Metode pengeringan artificial drying system inipun terbagi lagi menjadi 3 cara yaitu dengan cara pemanasan langsung dengan metode asap (smoke drying system), pemanasan tidak langsung dengan oven (oven drying system) dan menggunakan metode pemanasan rumah UV.
1.Smoke Drying System
disebut dengan smoke drying system karena memang proses nya dilakukan dengan cara memanaskan dan mengeringkan kelapa dengan asap. Buah kelapa akan ditata pada rak-rak bambu dengan dinding yang terbuat dari daun kelapa. Bagian bawah rak adalah tempurung kelapa kering yang dibakar sehingga menimbulkan asap panas ke atas dan asap inilah yang akan mengeringkan daging kelapa yang terletak di atas rak-rak pembakaran di dapur api tersebut. Ciri khas metode pengasapan ini adalah kopra berbau asap dengan permukaan kecokelatan.
Kelebihan smoke drying system
Praktis, tidak membutuhkan lahan yang luas
Tidak membutuhkan listrik, karena kopra diasap menggunakan sabut atau kayu yang dibakar
Tidak membutuhkan lahan yang luas untuk menjemur
Kelemahan smoke drying system
Tingkat kekeringan tidak merata. Sebagian sisi terkadang masih basah.
Kopra berbau asap
Warna cenderung kecokelatan sehingga hasilnya hanya bisa jadi kopra regular/asalan (kopra dengan grade paling rendah)
2.Oven Drying System
metode ini diperlukan biaya lebih karena menggunakan alat pengering khusus yakni oven khusus. Hal inilah yang juga membuat metode pengeringan tidak langsung ini dikenal juga dengan sebutan oven drying system. Kelapa ditata di dalam oven pengering dan ditutup rapat lalu dipanaskan dengan suhu 40 – 80 derajat celcius.
Panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar tempurung kelapa kering akan menghasilkan asap yang dialirkan oleh blower untuk mengaliri oven pengering kopra. Cara ini memang membutuhkan penanaman modal yang lebih banyak namun korpa yang dihasilkan akan berkualitas lebih baik dengan warna kopra yang putih, minyak yang dihasilkan beraroma dan memiliki rasa lebih bagus.
Kelebihan Oven Drying System
Tidak bergantung pada sinar matahari, sehingga proses produksi bisa berlangsung meskipun curah hujan sedang tinggi.
Tingkat kekeringan merata, karena suhu dan waktu bisa diatur.
Proses pengeringan paling cepat. Hanya sekitar 18 jam.
Kopra yang dihasilkan kualitasnya paling baik.
Kelemahan Oven Drying System
Membutuhkan modal yang lebih besar untuk investasi mesin pengering
Membutuhkan tenaga listrik, setidaknya untuk menyalakan blower yang mengalirkan uap panas.
Kapasitas produksi terbatas, karena sangat bergantung pada kapitas mesin. Bila ingin meningkatkan kapasitas produksi maka harus menambah jumlah mesin pengering atau menambah volume kapasitas mesin tersebut, sehingga itu akan berbanding lurus dengan investasi yang dikeluarkan.
3.Metode Pengeringan dengan Rumah UV
Konsep pengeringan dengan Rumah UV tetap menggunakan sinar matahari sebagai pengering utama nya. Beda nya dengan metode dijemur langsung, rumah UV terdiri dari atap dan dinding yang terbuat dari plastik transparan sehingga sinar matahari bisa menembus plastik tersebut dan panas nya bisa mengeringkan daging kelapa yang sudah ditata di dalam nya.
Metode rumah UV ini juga disebut sebagai metode efek rumah kaca. Cahaya matahari yang panas akan dipantulkan oleh lantai sehingga daging kelapa di dalam nya akan mengalami peningkatan suhu dan lambat laun akan mengering menjadi kopra.Cara ini tentu saja lebih efektif sebab bahan kopra akan tetap terkena sinar matahari namun tetap terlindungi apabila terjadi perubahan cuaca seperti mendung dan hujan.
Di dalam rumah UV terdapat dua lantai/lapisan atas dan bawah. Lapisan bawah berjarak sekitar 1 meter dari tanah untuk melindungi bahan kopra dari kelembaban tanah. Umum nya lapisan atas akan lebih cepat kering karena terkena sinar matahari langsung. Kopra yang diproduksi menggunakan rumah UV hasilnya akan lebih bagus dari metode pengeringan lain karena panas yang dihasilkan pada rumah UV lebih merata. Hawa panas yang terjebak di dalam rumah UV membuat kopra yang dijemur di dalamnya akan lebih cepat kering. Kopra Putih dan kopra edible biasa di produksi dengan menggunakan metode ini.
Kelebihan Metode Pengeringan dengan Rumah UV
Tingkat kekeringan lebih merata
Lebih minim jamur yang umumnya diakibatkan oleh perubahan cuaca yang ekstrem.
Kopra lebih cepat kering
Suhu lebih stabil
Tidak membutuhkan tenaga listrik
Kelemahan Metode Pengeringan dengan Rumah UV
Membutuhkan biaya ekstra untuk membuat rumah UV
Bergantung pada sinar matahari sehingga rentan terhadap perubahan cuaca
Membutuhkan lahan yang luas
Produksi kopra dimulai dari perkebunan kelapa. Pohon kelapa biasanya diberi jarak 9 meter satu sama lain, dengan kerapatan 100–160 pohon kelapa per hektar. Sebuah pohon kelapa umumnya menghasilkan sekitar 50–80 kelapa per tahun dan pada 1999 di Vanuatu, satu kilogram kopra dapat menghasilkan uang senilai US$0,20. Dengan demikian, seorang petani kelapa saat itu dapat menghasilkan pemasukan sebesar US$120 hingga US$320 per tahun untuk tiap hektar kebun kelapa yang dimilikinya. Pada November 2012, menurut data Bank Dunia, harga rata-rata kopra telah naik dua kali lipat, menjadi sekitar US$577 per ton.[3]
Pada 2017 nilai ekspor global kopra berkisar antara $145 hingga 146 juta. Eksportir kopra terbesar di dunia adalah Papua Nugini dengan 35% total ekspor kopra dunia, disusul oleh Indonesia (20%), Kepulauan Solomon (13%), dan Vanuatu (12%). Importir terbesar kopra adalah Filipina, mengimport kopra senilai $93,4 juta atau sekitar 64% total impor kopra dunia.[4]
Produk samping (copra meal) dapat digunakan sebagai pakan kuda dan hewan ternak lainnya. Kandungan minyak dan protein yang tinggi dapat membuat hewan ternah menjadi lebih gemuk. Protein dalam kopra yang dipanaskan memiliki kualitas yang tinggi dan baik untuk domba dan rusa karena tidak pecah dalam rumen.
Minyak kelapa dapat diekstrak secara mekanis maupun menggunakan pelarut (seperti heksana). Kopra yang diekstrak secara mekanis mampu menghasilkan 8–12% minyak, sementara kopra yang diekstrak menggunakan pelarut mengandung hanya 2–4% minyak. Copra meal kualitas premium daoat mengandung 20–22% protein curah dan kurang dari 20ppb aflatoksin.[6] Kopra berkualitas tinggi juga mengandung <12% karbohidrat nonstruktural (NSC)[7] sehingga baik digunakan untuk pakan kuda yang rentan terhadap gangguan pencernaan, tidak tahan insulin, kolik, dan asidosis.[8]