Bisnis Kopra ini berada di Desa Sinar Jati, Dusun 1 Sinar Jati, Kabupaten Pesawaran, Lampung.
Menjadi pedagang kopra merupakan pekerjaan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Haji Zubaidi.
Bahkan, pada saat dia ikut bekerja sebagai tenaga pen-cungkil kelapa, tak tebersit sedikit pun untuk menggeluti usaha sebagaimana usaha yang sudah dijalankan oleh Muhammad Ridwan, yang tidak lain adalah juragannya sendiri.
Di kampungnya di Jawa Barat, Muhammad Ridwan adalah satu-satunya orang yang menggeluti usaha kopra. Sementara Haji Zubaidi, saat itu bernama Ikram, merupakan salah seorang karyawannya.
Sebagaimana karyawan yang lain, Ikram datang pada jam delapan pagi dan baru pulang pada jam setengah lima sore. Ikram bersama beberapa karyawan lainnya menerima upah harian dari pekerjaannya mencungkil kelapa bahan baku kopra.
Setelah kurang lebih satu tahun Ikram bekerja sebagai tenaga pencungkil kelapa di perusahaan kopra milik Pak Ridwan, dia kemudian berinisiatif untuk membeli kelapa di pasar dan kemudian memasoknya ke majikannya sendiri.
Dengan demikian, Ikram memiliki pemasukan tambahan di luar gaji harianya sendiri. Cara itu dilakukan oleh Ikram dengan sangat tekun.
Ada satu alasan lagi kenapa Ikram mencoba mengembangkan usahanya seperti itu, yaitu saat anak pertamanya lahir.
Tapa disangka-sangka sebelumnya, usaha yang ditekuni Ikram berkembang dengan cukup baik. Bahkan, dia sudah punya pemasok kelapa tetap sehingga dia tidak merasa kesulitan lagi untuk mencari kelapa di pasaran sebagaimana sebelum-sebelumnya pernah dia alami.
Mengingat usaha barunya berkembang cukup baik, Ikram kemudian mengajukan permohonan kepada majikannya untuk berhenti bekerja dan memilih menjadi pemasok bahan-bahan kopranya saja.
Majikannya tidak keberatan. Apalagi waktu itu Ikram berjanji kalau akan menjual kelapa dagangannya hanya kepada majikannya itu.
Waktu terus berjalan sampai kemudian sebuah cobaan datang kepadanya. Usaha kopra milk Ridwan bangkrut sehingga keadaan itu menimbulkan masalah bagi usaha Ikram.
Dari kejadian itu, tak hanya majikannya yang mengalami kerugian, Ikram pun mengalami banyak kerugian karena kelapa dagangannya hanya laku dijual murah di pasaran.
Cobaan tak cukup sampai di situ saja. Setelah mengalami kerugian, kejadian yang tak kalah tragis juga kembali datang kepada Ikram.
Anak pertamanya, waktu itu berumur dua tahun, mengalami demam berdarah yang cukup parah. Karena tak ada pemasukan, terpaksa Ikram berutang kepada bank untuk biaya pengobatan anaknya.
"Karena saya tak punya jaminan, saya akhirnya meminjam sertifikat tanah milik tetangga," kenang Ikram.
Setelah anaknya sembuh, saat itu Ikram kembali dibuat pusing oleh cicilan yang harus dibayar kepada pihak bank setiap bulannya.
Untuk itulah, Ikram mencari usaha baru dengan cara menjadi calo. Usaha barunya ini pun tak berlangsung lama. Setelah merasa lelah menjadi calo, Ikram pun beralih profesi menjadi petugas kebersihan yang tugasnya menyapu jalanan setiap hari.
"Karena selalu bergelut dengan sampah, tubuh dan wajah saya pun ikut-ikutan kotor. Tetapi, karena itulah saya dipanggil oleh Pak Mundzir, pemilik sertifikat tanah yang saya pinjam itu. Pak Mundzir itu guru agama. Orangnya baik dan suka menolong tetangga."
Menurut Ikram, saat dia dipanggil oleh Pak Mundzir, dia ditanya macam-macam tentang pekerjaannya.
Dan, Ikram pun mengatakan apa yang sudah ia kerjakan selama ini untuk dapat menebus sertifikat itu.
"Saya masih ingat. Waktu itu, Pak Mundzir bilang begini, "Pak Ikram, wajah bapak kusut, seperti tak pernah kena air wudhu. Kalau mau dipermudah oleh Allah Swt, jangan lupa shalat, jangan lepas-lepas dari wudhu, dan kalau bisa kerjakan puasa Daud. Insya Allah, semua keinginan Pak Ikram akan terkabul!," demikian pesan yang disampaikan pak Mundzir.
Ikram mengakui, sejak menjadi calo sampai petugas kebersihan jarang sholat.
Sejak mendapatkan petuah dari pak Mundzir, Ikram yang sebelumnya memang termasuk orang yang rajin ibadah menjadi kembali tergugah kesadarannya.
Ia berniat untuk bisa kembali pada keadaannya seperti yang dulu. Bahkan, sejak saat itu pula dia berniat melakukan puasa Daud seperti yang dikatakan Pak Mundzir sebelum pindah tugas.
Pada saat Ikram melakukan puasa Daud, dia masih tetap menjadi petugas kebersihan. Bahkan, Ikram berjanji untuk tetap berpuasa meskipun sangat berat cobaannya.
"Cobaan terberat datang dari teman sendiri. Kalau kita sedang istirahat sehabis nyapu, biasanya teman-teman beli minuman, makanan, dan menyantapnya bareng-bareng. Tapi, karena saya puasa, kadang jadi bahan gojlokan."
Tetapi, Ikram tak bergeming. Dia tetap kukuh pada niatnya untuk puasa Daud dengan harapan agar semua doanya terkabulkan.
Kurang lebih dua tahun menjadi petugas kebersihan sambil tetap terus melakukan puasa Daud, Ikram akhirnya bisa kembali menabung dengan uang gajinya.
Bahkan, dengan uang tabungannya itu, dia kembali berjanji untuk menekuni usaha lamanya, yaitu berdagang kelapa.
"Tapi, ternyata Allah Swt. berkehendak lain. Saya tak jadi pedagang kelapa. Malah menjadi pengusaha kopra, menggantikan usaha majikan saya dulu, Pak Ridwan."
Saat ini, Ikram berhasil membangun usaha kopranya. Meski tidak begitu besar, namun ternyata usahanya itu mampu memberangkatkan dirinya naik haji hingga kemudian bergelar Haji Zubaidi.
Dengan sepuluh karyawannya, Ikram atau Haji Zubaidi terus menjalankan usaha kopranya dan sekaligus tetap mempertahankan puasa Daud, yang menurutnya telah banyak memberi kemudahan hidupnya. Wallaahu'alam