Selamat datang di Ruang Bimbingan Konseling (BK) MA ARIFAH
KOMUNIKASI ASERTIF
Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:
Menjelaskan pengertian dan pentingnya komunikasi asertif
Membedakan jenis-jenis komunikasi
Menunjukkan perilaku komunikasi asertif dalam berbagai situasi
Menggunakan teknik komunikasi asertif dalam menyampaikan pendapat dan menolak ajakan secara sopan
KOMUNIKASI ASERTIF
Peserta didik MA sedang berada pada masa remaja akhir, di mana kemampuan berkomunikasi sangat penting untuk membangun hubungan sosial yang sehat, menyampaikan pendapat dengan percaya diri, serta menghindari konflik yang tidak perlu. Komunikasi asertif membantu mereka mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara jujur tanpa melukai orang lain, sesuai dengan nilai-nilai Islami.
A. Pengertian Komunikasi Asertif
Komunikasi asertif adalah kemampuan menyampaikan pikiran, perasaan, kebutuhan, dan keinginan dengan jujur, jelas, sopan, dan penuh rasa hormat, tanpa merugikan orang lain.
Intinya: tegas tapi tetap sopan, berani tapi tetap menghargai orang lain.
B. Perbedaan Gaya Komunikasi
1. Pasif
o Tidak berani menyampaikan pendapat.
o Mudah mengalah meskipun dirugikan.
o Bahasa tubuh: menunduk, suara pelan, cenderung diam.
o Contoh: “Ya sudah, terserah kalian saja…” (padahal hatinya tidak setuju).
2. Agresif
o Menyampaikan pendapat dengan memaksa atau menyerang.
o Tidak peduli perasaan orang lain.
o Bahasa tubuh: menunjuk, suara keras, wajah marah.
o Contoh: “Kamu salah total, pokoknya harus ikut saya!”
3. Asertif
o Menyampaikan pendapat dengan jelas, jujur, dan sopan.
o Menghargai hak diri sendiri dan orang lain.
o Bahasa tubuh: kontak mata wajar, suara tenang, ekspresi bersahabat.
o Contoh: “Saya menghargai pendapatmu, tetapi saya punya pandangan berbeda.”
C. Ciri-Ciri Komunikasi Asertif
· Menggunakan bahasa yang jelas dan sopan.
· Nada suara tenang dan tidak berlebihan.
· Berani mengatakan “ya” atau “tidak” dengan alasan yang tepat.
· Menjaga kontak mata yang wajar.
· Menunjukkan sikap percaya diri, tetapi tetap menghargai orang lain.
· Mampu mengungkapkan perasaan tanpa menyakiti.
D. Manfaat Komunikasi Asertif
1. Meningkatkan rasa percaya diri.
2. Membantu mengurangi konflik dengan orang lain.
3. Membangun hubungan sosial yang sehat dan harmonis.
4. Membantu dalam pengambilan keputusan.
5. Membuat orang lain lebih menghargai kita.
6. Sesuai dengan nilai Islam: berkata baik, sopan, dan tidak menyakiti.
E. Contoh Kalimat Asertif
· Menolak ajakan negatif:
“Terima kasih sudah mengajak, tapi saya tidak bisa ikut karena ada kegiatan lain.”
· Berbeda pendapat:
“Saya mengerti maksudmu, tapi saya punya pendapat yang sedikit berbeda.”
· Mengungkapkan ketidaknyamanan:
“Saya merasa terganggu kalau kamu mengambil barang saya tanpa izin. Tolong minta izin dulu, ya.”
· Menghargai pendapat orang lain:
“Idemu bagus, bolehkah saya menambahkan ide lain?”
F. Latihan
1. Situasi 1: Kamu diajak teman untuk bolos → Tulislah jawaban asertif yang bisa kamu ucapkan.
2. Situasi 2: Kamu berbeda pendapat saat diskusi kelompok → Bagaimana cara menyampaikannya secara asertif?
3. Situasi 3: Kamu merasa tidak nyaman dengan ejekan teman → Kalimat asertif apa yang bisa kamu sampaikan?
G. Strategi Melatih Komunikasi Asertif
1. Latihan berkata “tidak” dengan sopan dan tegas.
2. Gunakan pernyataan “saya” (I statement) → contoh: “Saya merasa kecewa jika…”
3. Jaga bahasa tubuh (kontak mata, ekspresi wajah).
4. Latihan role play bersama teman.
5. Evaluasi diri setelah berkomunikasi.
H. Penguatan Nilai Islam
Komunikasi asertif sejalan dengan ajaran Islam untuk berbicara dengan baik dan benar.
QS. Al-Isra: 53
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik…”
Hadis Nabi SAW:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim)
I. Kesimpulan
· Komunikasi asertif = tegas + sopan + menghargai diri sendiri & orang lain.
· Berbeda dengan komunikasi pasif (lemah, takut) dan agresif (kasar, menyerang).
· Membawa manfaat besar: percaya diri, hubungan sehat, sesuai dengan adab Islam.
J. Tugas Mandiri:
Selama 3 hari ke depan, praktikkan komunikasi asertif dalam kehidupan sehari-hari (misalnya menolak ajakan, menyampaikan pendapat, atau mengungkapkan perasaan). Catat pengalamanmu dalam bentuk jurnal singkat.
STUDI KASUS – KOMUNIKASI ASERTIF
Judul: “Antara Setia Kawan dan Prinsip Diri”
Kasus:
Riko adalah siswa kelas 9 yang dikenal sopan dan tidak suka mencari masalah. Suatu hari, sahabatnya, Fajar, memintanya untuk membantunya mengerjakan PR Matematika dan menyuruh Riko untuk menyalin jawabannya di kertas Fajar. Riko merasa tidak nyaman karena tahu tindakan itu tidak jujur. Namun, karena tidak ingin merusak persahabatan mereka, ia bingung harus menjawab bagaimana.
Pertanyaan Diskusi:
1. Apa yang seharusnya dilakukan Riko?
2. Apa risiko jika Riko menuruti permintaan Fajar?
3. Bagaimana cara Riko menolak dengan cara asertif?
4. Apa perbedaan jika Riko bersikap pasif atau agresif dalam menanggapi Fajar?
Tujuan:
Membantu peserta didik belajar mengambil keputusan dan menyampaikan pendapat secara jujur tanpa merusak hubungan sosial.
SIMULASI PERAN (ROLEPLAY) – KOMUNIKASI ASERTIF
Judul: “Berani Bilang Tidak, Tanpa Menyakiti”
Tokoh:
· Siswa A (Andi) – Seorang siswa yang sedang belajar mengatakan "tidak"
· Siswa B (Roni) – Temannya yang sering memaksa
· Observer (bisa guru atau siswa lain) – Mengamati ekspresi asertif
Skenario:
Roni mengajak Andi bolos kelas untuk bermain game di warnet. Roni berkata:
“Ayo, sekali-kali aja. Toh gurunya juga sering datang telat. Lagian, semua teman kita juga ikut.”
Andi merasa tidak nyaman, karena ia tahu bolos itu salah, tapi juga tidak ingin dianggap tidak setia kawan.
Instruksi Simulasi:
1. Siswa A (Andi) berlatih mengatakan “tidak” secara asertif
2. Siswa B (Roni) mencoba membujuk beberapa kali
3. Setelah simulasi, peserta lain memberi umpan balik:
o Apakah ekspresi wajah, nada bicara, dan kata-kata Andi sudah asertif?
o Apakah Andi bisa menolak tanpa menyakiti perasaan Roni?
Contoh Kalimat Asertif:
“Maaf Ron, aku nggak bisa ikut. Aku menghargai kamu sebagai teman, tapi aku nggak nyaman kalau harus bolos. Aku lebih pilih tetap ikut pelajaran.”
Refleksi Setelah Kegiatan:
· Bagaimana perasaanmu saat menyampaikan atau menerima penolakan?
· Apa yang membuat komunikasi asertif terasa sulit?
· Bagaimana kamu akan menerapkan komunikasi asertif di kehidupan nyata?