Selamat datang di halaman Biologi sel dan Molekuler
Pokok Bahasan :
Konsep biologi sel dan molekuler
Teori tentang sel
Penggolongan sel
Organel sel
Struktur, morfologi, dan fungsi sel
Transport seluler
Struktur asam nukleat
Dasar-dasar genetika
Genetika molekuler
Mutasi genetic
Kode genetic
Sintesa protein
Diagnostik molekuler
Endokrinologi reproduksi
Embriologi
Sel adalah blok-blok pembangun (building blocks) hidup bagi tubuh yang bekerja secara teratur dengan level kerumitan yang paling tinggi. Saat ini dunia sains membuktikan bahwa sel yang merupakan unit struktural dan fungsional terkecil makhluk hidup terdiri dari pembangkit-pembangkit daya yang menghasilkan energi yang dimanfaakan sel, pabrik-pabrik yang menghasilkan enzim dan hormon untuk aktivitas penting dalam kehidupan, bank data tempat penyimpanan seluruh informasi penting tentang semua hal yang harus dihasilkan dan dikerjakan, sistem dan pipa-pipa pengankutan rumit yang menyalurkan bahan-bahan mentah dan hasil-hasil dari satu tempat ketempat lainnya, laboratorium–laboratorium dan kilang canggih untuk menguraikan bahan-bahan mentah dari luar menjadi bagian-bagian yang berguna, ratusan mesin yang menghacurkan materil apa saja yang masuk yang diannggap berbahaya bagi tubuh dan memiliki perangkat semacam telepon seluler yang memudahkan sel saling berkomunikasi.
Seluruh organisme dibangun atas sel, ibarat sebuah bangunan yang berdiri koko menjulang kelangit yang dibangun dari kumpulan batu bata yang tersusun rapi. Dalam hierarki biologis sel merupakan level organisasi sederhana yang dapat hidup. sel adalah unit dasar struktural dan fungsional organisme. Molekul dapat bergabung membentuk organel yang secara struktural membangun sel, misalnya nukleus berisi informasi hereditas dan mitokondria membuat ATP yang digunakan sel sebagai sumber energi.
Sebelum tahun 1500 SM, tidak ada yang melihat sel secara kasat mata. Sel diamati setelah penemuan mikroskop sederhana yang memungkinkan orang dapat mengamati obyek dengan ukuran yang kecil. Mikroskop merupakan alat yang dapat membuat objek-objek kecil terlihat tampak lebih besar. Dua nilai penting sebuah mikroskop yaitu daya pembesaran dan daya penguraian atau resolusi. Pembesaran mencerminkan berapa kali lebih besar obyeknya terlihat dibandingakan dengan ukuran aslinya seangkan daya urai merupakan kejelasan citra atau jarak minimum dua titik yang dapat dipisahkan dan masih dapat dibedakan sebagai dua titik terpisah.
Tercatat dalam sejarah penemuan sel bahwa Robert Hooke merupakan orang pertama yang melihat sel menggunakan mikroskop sederhananya. Hooke mengamati struktur irisan gabus. Irisan gabus yang diamatinya tampak bagian-bagian seperti sarang lebah (honeycomb). Hooke menyebut bagian-bagian tersebut sebagai cellulae atau ruang kecil yang saat ini dikenal sebagai “SEL”. Kira-kira bersamaan waktunya dengan penemuan Robert Hooke, Antony van Leeuwenhoek seorang mahasiswa ilmu pengetahuan alam berkebangsaan Belanda melakukan pengamatan secara teliti dengan mikroskop buatannya, ia dapat melihat bentuk makhluk-makhluk kecil. Hasil pengamatan di lihat olehnya diberi nama Infusoria atau hewan tuangan. Setelah bertahun-tahun, peneliti terus menerus menggunakan dan memperbaiki kualitas mikroskop. Pada tahun 1838 peneliti Jerman Matthias Schleiden menyatakan bahwa tumbuhan terdiri dari sel-sel. Beberapa tahun sesudahnya Theodor Schwan 1839 mempublikasikan teorinya tentang sel yang sampai hari ini diakui sebagai teori sel, yaitu setiap organisme terdiri dari sel dan beberapa sel, Sel meruapakan unit dasar struktural semua organisme. Teori ini kemudian disempurnarnakan dan ditambahakan oleh Rudolf Virchow 1855 yaitu Sel dihasilkan dari sel-sel sebelumnya.
Pengetahuan sel berkembang dengan sangat pesat, yang sebelumnya dengan mikroskop sederhana hanya melihat struktur utuh sebuah sel atau penamapakan morfologi, kemudian berkembang dapat mengamati organel-organel sel (anatomi sel) dan diera teknologi ini perkembangan tentang sel tidak hanya berpusat pada struktur pembangun organel atau fungsi tiap organel tetapi bergerak merambah pada wilayah molekular, upaya merekayasa DNA secara artifial yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya keilmuan baru biologi molekuler dan bioteknologi.
Sel merupakan struktur yang sangat terorganisasi yang terdiri atas empat komponen makro molekul yaitu protein, asam nukleat, lipid dan polisakarida. Susunan dan komposisi kimia makromolekul pada sel yang berbeda membuat organisme berbeda antara satu dan yang lainnya. Melalui kerja terkoordinasi tiap-tiap komponen sel mampu melakukan fungsi-fungsi dasar tertentu yang penting bagi kelangsungan hidup sel itu sendiri dan tugas khusus yang memberi kontribusi pada pemeliharaan homeostatis. Sel-sel terorganisasi sesuai dengan kekhususan mereka menjadi sistem tubuh yang mempertahankan lingkungan internal yang stabil bagi kelangsungan hidup tubuh secara keseluruhan. Semua fungsi tubuh akhirnya akan bergantung pada aktivitas tiap-tiap sel yang menyusun tubuh.
Sel dapat dipandang dari dua aspek pertama sebagai mesin (chemical machines), yang menjalankan transformasi kimia dengan katalis enzim, kedua, peranti sandi (coding function) analog dengan komputer yang menyimpan dan mengolah informasi genetika (DNA) yang dapat diturunkan kepda keturunannya melalui reproduksi.
Organisme hidup dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu jasad hidup seluler dan jasad hidup non seluler. Jasad hidup seluler tersusun atas unit berupa sel. Beberapa contoh jasad hidup seluler yaitu hewan, tumbuhan, jamur, bakteri dan manusia. Batasan jasad hidup seringkali tidak dapat diterapkan secara pasti, misalnya pada virus yang dianggap sebagai batas antara jasad hidup dan jasad mati. Virus memiliki untaian asam nukleat yang terbungkus mantel protein, membuatnya sulit untuk dihancurkan. Sebuah virus tidak dapat membuat faktor pembawa sifat tanpa adanya inang, karena virus memiliki DNA atau RNA, tetapi tidak keduanya. Virus merupakan parasit obligat intraseluler yang hanya dapat bereplikasi di dalam sel inang yang hidup. Sekali masuk ke dalam sel inang hidup, virus ikut campur dalam metabolisme sel inang, membuat virus sulit untuk dikontrol secara kimiawi. Sebelum virus memasuki sel, partikel virus bebas disebut virion. Virion tidak dapat tumbuh atau membawa fungsi biosintetis atau biokimia karena virion bersifat tidak beraktivitas (inert) secara metabolis.
Ditinjau dari segi satuan dasar individu makhluk hidup dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu makhluk hidup bersel tunggal (unicellular) dan makhluk hidup bersel banyak (multicellular). Organisme uniseluler merupakan organisme yang hanya memiliki satu sel yang menjalankan seluruh aktivitas hidupnya misalnya bakteri, arkaea dan yeast (Saccharomyces sp.). Hewan, jamur, tumbuhan merupakan organisme yang memiliki sel yang banyak yang kemudian terspesialisasi dan berdiferensiasi membentuk jaringan.
Secara struktural, terdapat dua jenis sel, yaitu sel prokariotik dan sel eukariotik. Kata prokariot (prokaryote) berasal dari bahasa Yunani pro, artinya “sebelum”dan karyon, artinya “kernel”atau nukleus. Ciri utama sel prokariot yaitu tidak ada pembagian ruang yang jelas diantara kompartemen selnya. Semua komponen termasuk bahan genetiknya (DNA) terletak di dalam sitoplasma. Sel prokariot tidak memiliki organel spesifik sebagaimana pada sel eukariot. sel-sel prokariot, dapat dibedakan menjadi 2 kelompok besar (domain) yaitu arkhaea dan bakteria. Konsep domain merupakan konsep klasifikasi organisme terbaru yang diusulkan oleh Woese 1990. Sel prokariota merupakan sel terkecil diantara organisme. Sebagian besar sel prokariota berdiameter 0,5—2,0 mm. Sel terkecil yang dikenal adalah mikoplasma yang memiliki diameter antara 0,1 sampai 1,0mm sangat jauh berbeda dengan sel eukariot (darah merah) yang berdiameter 7,5 mm.
Sel Prokariot
Secara struktural organel dan komponen penyusun sel prokariot relatif sederhana, selnya merupakan entitas organismenya. Kederhanaan komponen menyusunnya menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji dan ditelaah yang mampu secara terpadu melaksanaakan metabolisme. Beberapa organel atau perangkat yang dimiliki sel prokariot yang menjadi kekhusussan selnya yaitu: (1) Appendages yang terdiri atas flagel,fimbri, pili, (2) glikokaliks terdiri atas, kapsul, lapisan S, (3) granula, (4) plasmid dan dinding sel.
Appendages merupakan struktur nonseluler yang biasanya dipakai sebagai alat gerak atau kolonisasi misalnya flagel, fimbri dan pili. Banyak prokariot dapat bergerak dengan bantuan suatu struktur khusus yang disebut flagel atau organel lokomotor. Flagel sangat tipis dan dapat dilihat dengan pewarnaan khusus. Flagel memiliki panjang 10-20 mikrometer dan diameter 0,01-0,02 mikrometer serta membentuk rangkainya yang berbeda.
Fimbri dan pili merupakan struktur filamen pendek yang tersusun atas protein dan menonjol kepermukaan sel. Keberadaan fimbri pada bakteri patogen memungkinkan sel untuk melekat pada permukaan termasuk jaringan hewan atau membentuk biofilm seperti pada bakteri penyebab sifilis Neisseria gonorrhoea. Pili secara struktur mirip fimbri tetapi lebih panjang dan hanya ada satu atau beberapa pili pada permuakaan sel. Pili berperan sebagai alat seks atau terlibat dalam proses konjugasi yaitu proses transfer genetik (mating;kawin) antara sel donor (+) dan sel resipien (-).
Kapsul atau lapisan lendir terdiri atas material mukosa polisakarida di permukaan sel. Lapisan ini dapat tebal atau tipis, kaku atau fleksibel bergantung ciri kimianya. Lapisan yang kaku merupakan matriks ketat dapat menahan partikel kecil seperti tinta india dan bentuk ini disebut kapsul. Lapisan yang mudah merubah dan tidak menahan partikel yang visualisasinya sulit untuk diamati merupakan lapisan lendir. Lapisan polisakarida berperan dalam pelekatan terhadap substrat permukaan yang padat. Bakteri patogen yang akan memasuki sel perlu berikatan secara spesifik pada komponen permukaan sel inang dan pengikatan ini diperantarai oleh polisakarida permukaan. Kapsul sel bakteri patogen sangat sulit dicerna oleh fagosit dari sistem imunitas tubuh. Dalam kasus yang lain kapsul dapat mengikat sejumlah air guna melindungi sel dari dehidrasi.
Lapisan S merupakan materil glikoprotein. Disebut lapisan S karena bentuknya yang halus (smooth). Lapisan S dapat ditemukan pada bakteri tipe Gram positif dan Gram negatif. Lapisan ini berfungsi membungkus permukaan sel dan berperan sebagai dinding sel tambahan.
Granula atau tubuh inklusi dalam sel umumnya berfungsi sebagai cadangan energi untuk unit pembangunan. Granula dapat dilihat dengan bantuan mikroskop cahaya. Salah satuh granula yang umum ditemui pada bakteri adalah asam poli-β hidroksibutirat (PHB) yang merupakan bahan dasar pembentukan bioplastik. Banyak mikrorganisme dapat mengakumulasi fosfat anorganik dalam bentuk granul polifosfat. Granul tersebut dapat didegradasi dan digunakan sebagai sumber fosfat untuk asam nukleat atau fosfolipid.
Plasmid merupakan DNA eksrakromosom yang dikenal pada bakteri, merupakan DNA berutas ganda dan berbentuk sirkular. Terdapat dalam jumlah yang berbeda-beda dari satu spesies ke spesies yang lain. Hasil studi yang telah terkumpul dapat diketahui berbagai jenis plasmid dengan fungsi yang berbeda-beda. Sebagai contoh pada E. coli diketahui ada tiga jenis plasmid yaitu plasmid F berperan dalam proses konjugasi, plasmid R membawa gen-gen yang resistensi terhadap antibiotik dan plasmid Colichine. Dalam keadaan normal plasmid dapat dihilangkan dengan metode curing tanpa menggangu pertumbuhan selnya. Keberadaan plasmid dalam sel tidak mutlak, suatu sel dapat kehilangan plasmid tampa menggangu kemampuan hidupnya, sedang kromosom keberadaannya mutlak, sel tidak dapat hidup tanpa kehadiran kromosom. Ukuran plasmid bervariasi tetapi umumnya lebih kecil daripada DNA kromosom, akan tetapi ternyata banyak plasmid yang berukuran besar, yang disebut mega plasmid, yaitu Rhizobium, Agrobacterium, Alcaligenes, Pseudomonas an Paracoccus spp, diketahui ukuran plasmidnya lebih besar daripada materi genetik bakteri lainnya.
Rangka dasar dinding sel bakteri adalah murein peptidoglikan. Murein tersusun dari N-asetil glukosamin dan N-asetil asam muramat, yang terikat melalui ikatan 1,4-β-glikosida. Pada N-asetil asam muramat terdapat rantai pendek asam amino: alanin, glutamat, diaminopimelat, atau lisin dan alanin, yang terikat melalui ikatan peptida. Peranan ikatan peptida ini sangat penting dalam menghubungkan antara rantai satu dengan rantai yang lain. Komponen dan struktur dinding sel prokariot ini sangat unik, dan tidak dijumpai pada sel eukariotik.
Sel Eukariot
Sel eukariot pada sel hewan dan sel tumbuhan, organisasi komponen selnya jauh lebih teratur dariapda sel prokariot karena sudah ada pembagian ruang yang jelas antara komponen sel yang satu dengan komponen sel yang lainnya. Nah, untuk melihat perbedaan sel prokariot dan eukariot tersajikan pada. Bahan genetik sel eukariot berada dalam nukleus sehingga alur informasi genetiknya berbeda dengan sel prokariot. Komponen sel eukariot lebih beragam dibandingkan dengan prokariot serta memiliki tingkat kerumitan dari sisi struktural dan fungsional organel-organel penyusunnya. Secara sederhana sel hewan dan sel tumbuhan relatif sama akan tetapi ada beberapa perbedaan substansial baik secara struktural atau fungsional. Terdapat beberapa organel yang hanya khusus ditemukan pada sel hewan pun juga organel yang menjadi kekhususan sel tumbuhan. Misalnya kehadiran dinding sel dan kloroplas yang menjadi sifat struktural khusus sel tumbuhan yang menjadi pembeda utama dengan sel hewan.
Sebagian besar sel memiliki tiga subdivisi utama, yaitu membran plasma atau membran sel, nukleus dan sitoplasma. Membran plasma adalah suatu struktur membranosa yang sangat tipis yang membungkus setiap sel, memisahkan isi sel dari sekitarnya. Membran plasma tidak sekedar sebuah penyekat pasif, melainkan juga berperan sebagai filter yang mempunyai kemampuan memilih dan memilah bahan apa saja yang dapat melintasinya. Bahan-bahan yang diperlukan oleh sel dimudahkan untuk memasukinya sementara limbah hasil produksi dalam sel dikeluarkan. Cairan yang terkandung dalam sel tubuh dikenal secara kolektif sebagai cairan intrasel (CIS) dan cairan luar sel sebagai Cairan ekstrasel (CES). Secara umum membran biologis terdiri dari satu fosfolipid lapis ganda (double layer) dan lipid yang lain serta berbagai macam protein dan karbohidrat yang terperangkap di dalam atau melekat dipermukaan bilayer lipid.
Nukleus merupakan komponen sel terorganisasi tunggal paling besar, dapat dilihat sebagai sebuah struktur bulat atau oval tersendiri, biasanya terletak dekat dengan bagian tengah sel. Nukleus dikelilingi oleh suatu membran berlapis ganda, yang memisahkan dari bagian-bagian sel lain. Di dalam nukleus terdapat materi genetik sel, DNA yang memiliki dua fungsi penting. Pertama, DNA memberikan kode atau instruksi untuk mengarahkan sintesis berbagai protein struktural dan enzimatik. Dengan mengarahkan jenis dan jumlah berbagai enzim dan protein lain yang diproduksi, nukleus secara tidak langsung mengatur berbagai aktivitas sel dan berfungsi sebagai pusat kontrol sel. Kedua, DNA berfungsi sebagai cetak biru genetik selama replikasi sel untuk memastikan bahwa sel mengasilkan sel anak persis sama dengan induknya. Lebih jauh lagi, pada sel-sel sistem reproduksi, cetak biru DNA berfungsi untuk mewariskan karakteristikgenetik ke generasi selanjutnya.
Sitoplasma adalah bagaian interior sel yang tidak ditempati oleh nukleus. Sitoplasma mengandung sejumlah struktur tersendiri, yang sangat terorganisasi dan terbungkus membran. Organel tersebar luas di dalam massa kompleks mirip gel yang disebut sitosol. Bagian sitoplasma sisasnya yang tidak ditempati oleh organel terdiri dari sitosol, suatu massa yang semicair yang diikat oleh jaringan protein yang membentuk sitoskeleton.
Kelangsungan hidup setiap sel bergantung pada kemampuan mereka mempertahankan kandungan cairan intrasel yang khas untuk tiap-tiap jenis sel, walaupun komposisi cairan ekstrasel yang mengelilinya sangat bervariasi. Perbedaan komposisi cairan di dalam dan di luar sel dipertahankan oleh membran plasma. Membran plasma adalah suatu lapisan lipid dan protein yang sangat tipis yang membentuk batas terluar dari setiap sel dan membungkus cairan intrasel.
Membran merupakan pelindung utama pada beberapa jenis sel khususnya sel hewan, subtansi kimia yang menyusunnya memberikan kekuatan dan kelenturan untuk melindungi sel dari pengaruh lingkungan ekstrasel. Membran sel memiliki fungsi yang sangat beragam yang mengambarkan akan pentingnya keberadaannya bagi sel. Beberapa fungsi membran sel secara umum yaitu, (1) membran melindungi sel, membran sel berperan sebagai barriers permeabel cairan intrasel dan ekstrasel, (2) membran memiliki fungsi spesifik, beberapa jenis protein yang melekat pada lapisan fosfolipid memiliki fungsi yang sangat penting bagi aktivitas sel secara umum. Beberapa jenis protein memainkan peran vital khususnya perannya sebagai katalis, reseptor, protein transport, protein penguat sel dll. (3) membran meregulasi transportasi berbagai molekul. Membran sebagai pintu masuk untuk mempermudah dan menyulitkan atau menyeleksi setiap molekul yang hendak masuk atau keluar sel. Ada molekul-molekul yang mudah berdifusi menembus membran, misalnya air, oksigen, etanol atau senyawa lain yang larut dalam lipid. Model difusi seperti ini dikenal dengan difusi sederhana. Namun juga sebaliknya beberapa molekul besar seperti gula dan asam amino memerlukan jalur transportasi khusus (protein transport), model seperti ini dikenal dengan difusi yang terfasilitasi,(4) membran mendeteksi dan meneruskan signal listrik dan kimia, (5) membran merupakan rumah telepon untuk komunikasi sel. Membran memiliki reseptor yang memungkinkan untuk dapat berkomunikasi intra dan inter sel.
Nukleus merupakan komponen sel yang paling penting yang berfungsi sebagai pusat pengaturan dan kendali aktivitas sel. Nukleus dikelilingi oleh membran berlapis ganda yang memisahkan dari bagian-bagian sel lain. nukleus berisi materi genetik berupa DNA, yang berfungsi untuk memproduksi protein yang diperlukan sel. DNA juga dapat menyimpan informasi genetik dan mengirimkannya ke generasi berikutnya. Di dalam nukleus terdapat materi genetik sel, DNA yang memiliki dua fungsi penting.
Pertama, DNA memberikan instruksi untuk mengarahkan sintesis berbagai protein struktural dan enzimatik. Dengan mengarahkan jenis dan jumlah berbagai enzim dan protein lain yang diproduksi, nukleus secara tidak langsung mengatur berbagai aktivitas sel dan berfungsi sebagai pusat kontrol sel.
Kedua, DNA berfungsi sebagai cetak biru genetik selama replikasi sel untuk memastikan bahwa sel mengasilkan sel anak persis sama dengan induknya. Lebih jauh lagi, pada sel-sel sistem reproduksi, cetak biru DNA berfungsi untuk mewariskan karakteristikgenetik ke generasi selanjutnya.
Sitoplasma adalah bagaian interior sel yang tidak ditempati oleh nukleus. Sitoplasma mengandung sejumlah struktur tersendiri, yang sangat terorganisasi dan terbungkus membran. Bagian sitoplasma yang tidak ditempati oleh organel terdiri dari sitosol, suatu massa yang semicair yang diikat oleh jaringan protein yang membentuk sitoskeleton. Sitoskeleton sel terdiri atas mikrotubulus, filamen aktin dan filamen intermediet. Selain itu sitoplasma memgandung timbunan karbohidrat, lipid dan pigmen. Didalam Sitoplasma tersuspensi berbagai organel. Orgaanelorganel tersebut memiliki fungsi spesifik. Berikut diuraikan secarasingkat organel yang terdapat dalam sitoplasma :
A. Ribosom
Ribosom merupakan organel tidak bermembran yang dibentuk dalam nukleolus. Ribosom berfungsi untuk mensintesis protein (translasi).
Ada dua jenis ribosom yang dapat ditemukan pada sel, yaitu ribosom bebas dan ribosom yang melekat pada retikulum endoplasma (RE).
Ribosom merupakan organel tidak bermembran yang dibentuk dalam nukleolus. Ribosom berfungsi untuk mensintesis protein (translasi). Ada dua jenis ribosom yang dapat ditemukan pada sel, yaitu ribosom bebas dan ribosom yang melekat pada retikulum endoplasma (RE). luar sel, seperti dalam sekresi protein atau untuk membangun membran sel.
B. Retikulum Endoplasma
RE merupakan organel bermembran yang memiliki ruangan-ruangan membentuk seperti anyaman. RE terdiri atas RE kasar (rough). dan RE halus (smooth). RE kasar disebut demikian disebabkan adanya ribosom yang menempel.
RE kasar memproduksi protein yang akan diekspor keluar sel. RE halus tidak berhubungan dengan sintesis protein. RE halus digunakan untuk metabolisme lipid, karbohidrat dan steroid seperti progesteron dan testosteron. Di dalam sel hati, enzim RE halus membantu melepaskan glukosa ke dalam aliran darah dan menonaktifkan atau mendetoksifikasi obat yang larut dalam lemak atau zat yang berpotensi berbahaya, seperti alkohol, pestisida, dan karsinogen. Pada beberapa sel seperti sel hati, sel ginjal, sel usus, RE kasar memiliki enzim glukosa 6 fosfatase yang berfungsi melepaskan fosfat dari senyawa glukosa 6 fosfat.
C. Aparatus Golgi
Aparatus Golgi merupakan organel sel yang terdiri dari tumpukan membran pipih yang disebut sisterna. Sisterna pada aparatus Golgi tidak berhubungan secara fisik, hal ini berbeda dengan sisterna pada RE.
Aparatus Golgi terlibat dalam proses modifikasi, penyimpanan, dan distribusimolekul-molekul seperti protein dan lipid. Aparatus Golgi memiliki cis dan trans. Protein yang berasal dari RE kasar diangkut melalui vesikel transpor menuju aparatus Golgi. Protein yang diterima melalui sisi cis aparatus Golgi mengalami modifikasi meliputi delesi beberapa asam amino, penambahan karbohidat dan modifikasi lainnya. Molekul hasil modifikasi disimpan sementara waktu dibagian sisterna. Molekul tersebut kemudian keluar melalui sisi trans aparatus Golgi dalam bentuk vesikel transport ke lokasi tujuan seperti membran sel.
D. Lisosom
Lisosom merupakan kantong bermembran pada sel eukariot yang mengandung enzim hidrolitik. Enzim hidrolitik dan membran lisosom berasal dari pertunasan sisi trans aparatus Golgi. Lisosom memainkan peran fagositosis di mana sel menelan dan mencerna partikel. Produk pencernaan tersebut dapat berupa gula sederhana, asam amino, dan berbagai monomer lain yang dimanfaatkan bagi sel.
Selain itu lisosom memiliki kemampuan autofagi. Lisosom mencerna komponen seluler yang telah mengalami kerusakan.Produk autofagi tersebut selanjutnya dapat kembali dapat digunakan oleh sel.
E. Periksisom
Peroxisom merupakan vesikel kecil yang dibatasi oleh membran yang mengandung enzim yang memecah asam lemak, asam amino, dan hidrogen peroksida. Hidrogen peroksida adalah produk samping dari pemecahan asam lemak dan asam amino dan dapat bersifat toksik bagi sel. Enzim dalam peroksisom memecah hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen. Sel-sel yang aktif dalam detoksifikasi, seperti sel hati dan ginjal, memiliki banyak peroksisom.
Peroksisom pada hewan memiliki beberapa fungsi lain, antara lain detoksifikasi senyawa berbahaya lainnya (seperti metanol, etanol, format, dan formaldehida) dan katabolisme zat-zat yang tidak biasa (seperti asam amino D).
Beberapa peneliti berspekulasi bahwa peroksisom juga terlibat dalam regulasi kadar oksigen di dalam sel dan mungkin berperan dalam penuaan.
F. Proteosom
Proteosom merupakan organel yang terdapat pada daerah sitosol dan inti sel. Proteosom berfugsi mendaur ulang protein dalam sel yang rusak atau cacat. Proteosom mengandung banyak enzim protease yang melakukan pemotongan pada peptida kecil. Peptida kecil yang terbentuk dari aktivitas enzimatik protease berlanjut dengan aktivitas enzim lain yang memecah peptida menjadi asam amino yang selanjutnya dapat dibentuk ulang menjadi protein baru melalui mekanisme translasi.
G. Mitokondria
Mitokondria merupakan organel yang memiliki membrab luar (outer membrane) dan membran dalam (inner membrane). Membran luar memiliki bentuk yang halus sedangkan membran dalam memiliki lipatan-lipatan yang disebut cristae. Mitokondria memiliki DNA sendiri (DNA mitokondria) yang menyediakan tempelate DNA untuk mensintesis beberapa protein mitokondria.
Mitokondria merupakan situs utama produksi adenosin trifosfat (ATP) dalam sel. Enzim yang terletak di krista dan matriks bertanggung jawab atas produksi ATP. ATP yang dibentuk dimanfaatkan untuk keperluan sel, misalnya metabolisme dan kontraksi otot. Mitokondria bisa berjumlah ratusan hingga ribuan bergantung selnya. Umumnya sel-sel yang aktif secara fisiologis seperti sel otot, hati dan ginjal memelukan ATP yang sangat banyak, konsekuensinya adalah sel-sel tersebut memiliki jumlah mitokondria yang besar.
H. Sentrosom
Sentrosom merupakan organel sel yang terletak di dekat nukleus. Sentrosom terlibat dalam pembentukan mikrotubulus selama pembelahan sel. Sentrosom juga diketahui berperan penting dalam pengaturan dan pembagian bahan genetik (DNA) selama pembelahan sel.
Sentrosom pada sel hewan biasanya terkait dengan dua sentriol yang dikelilingi oleh bahan granular difus yang disebut bahan perisentriolar. Masing-masing sentriol tersebut terdiri atas sembilan set triplet mikrotubulus yang membentuk cincin. Sentriol terlibat dalam pembentukan silia dan flagel.
Cilia
Cilia merupakan komponen sel seperti bulu halus yang terdapat pada permukaan sel. Tidak semua jenis sel memiliki cilia, jika ada pada suatu sel biasanya jumlahnya berkisar ribuan per selnya. Cilium berbentuk silinder yang terdiri atas mikrotubulus yang tertata secara teratur. Cilia memiliki kemampuan untuk bergerak dan mendorong bahan-bahan di atas permukaan sel. Contohnya, pada sel permukaan yang melapisi saluran pernapasan, cilium dapat membantu memindahkan lendir beserta partikel debu yang terperangkap di dalamnya ke arah atas dan menjauh dari paru-paru. Dengan cara ini, cilium dapat membantu menjaga kebersihan paru-paru dengan menghilangkan sisa-sisa debu dan kotoran.
Flagel
Flagella memiliki struktur mirip dengan cilia, akan tetapi lebih panjang dan biasanya sel hanya memiliki satu per selnya.Flagelum pada sel berfungsi sebagai alat gerak. Sel sperma yang memiliki flagella memungkinkanya dapat bergerak maju mundur untuk mendorong sel sperma mencapai sel telur.