Aksara Bali
Aksara Bali
Tentang Aksara Bali
Aksara Bali adalah sistem tulisan tradisional yang digunakan di Bali untuk menulis bahasa Bali, Sanskerta, Kawi, dan kadang juga bahasa Indonesia. Aksara ini merupakan turunan dari aksara Brahmi India yang telah berusia ribuan tahun.
Struktur Aksara Bali
Dalam penulisannya, aksara Bali terdiri dari:
Aksara Wianjana (huruf konsonan)
Pangangge Suara dan Pangangge Tengenan
Berdasarkan penggunaannya, aksara Bali terdiri dari:
Aksara Wreastra
Aksara Swalalita
Aksara Modre
Serta dilengkapi dengan:
Angka Bali
Fungsi dan Penggunaan
Aksara Bali digunakan dalam lontar, prasasti, upacara adat, dan kini mulai dihidupkan kembali di ruang digital.
Tujuan Pelestarian
Dengan memahami dan menggunakan aksara Bali, kita ikut menjaga warisan budaya yang penuh nilai spiritual, historis, dan estetis.
Aksara Wreastra adalah jenis aksara Bali yang digunakan untuk menulis bahasa Bali sehari-hari (lumrah). Aksara Wreastra ditulis menggunakan aksara Wianjana (huruf konsonan) seperti berikut:
Ketika ingin mematikan bunyi vokal "a" di tengah-tengah kata/kalimat, maka huruf setelahnya akan berubah menjadi gantungan/gempelan yang dimiliki oleh masing-masing aksara, seperti di bawah ini.
Contoh penggunaan gantungan dan gempelan, yaitu:
a. Kata "jadma" → ᬚᬤ᭄ᬫ᭟
b. Kata "tanpa" → ᬢᬦ᭄ᬧ᭟
Selanjutnya, pangangge suara. Ketika ingin memberikan vokal pada aksara, maka akan ditambahkan pangangge suara seperti dibawah ini.
Contoh penggunaan penganggé suara:
sampi = ᬲᬫ᭄ᬧᬶ᭟
siku = ᬲᬶᬓᬸ᭟
dosén = ᬤᭀᬲᬾᬦ᭄᭟
semaga = ᬲᭂᬫᬕ᭟
Pangangge tengenan digunakan ketika ingin mematikan vokal "a" pada akhir kata/kalimat, dan juga sebagai shortcut untuk beberapa huruf mati, seperti ng, r, dan h tanpa menggunakan adeg-adeg.
Contoh penggunaan penganggé tengenan:
simpang = ᬲᬶᬫ᭄ᬧᬂ᭟
atur = ᬳᬢᬸᬃ᭟
sipah = ᬲᬶᬧᬄ᭟
jepun = ᬚᭂᬧᬦ᭄᭟
Catatan:
a. Penggunaan cecek juga terdapat aturannya, seperti berikut ini.
Contoh ditengah-tengah kata:
sangkét = ᬲᬂᬓᬾᬢ᭄᭟ → ᬲᬗ᭄ᬓᬾᬢ᭄᭟
Contoh penggunaan cecek yang benar (diakhir kata):
barang = ᬩᬭᬂ᭟
Contoh menghindari aksara tumpuk tiga:
angklung = ᬳᬂᬓ᭄ᬮᬸᬂ᭟
Contoh penggunaan cecek pada kata dengan pengucapan berulang:
pingping = ᬧᬶᬂᬧᬶᬂ᭟
Contoh penggunaan cecek pada kata dengan pengucapan berulang, tapi mendapat pangiring anusuara:
mingping = ᬫᬶᬂᬧᬶᬂ᭟
Contoh penggunaan cecek dengan kata yang mendapat seselan (imbuhan ditengah kata):
bréngbéng (kata dasar: béngbéng) = ᬩ᭄ᬭᬾᬂᬩᬾᬂ᭟
b. Aturan penggunaan bisah adalah sebagai berikut (beserta contohnya).
Contoh penggunaan bisah yang benar (diakhir kata):
kelih = ᬓᭂᬮᬶᬄ᭟
Contoh ketika ditengah-tengah kata:
cihna = ᬘᬶᬳ᭄ᬦ᭟
Contoh penggunaan bisah pada kata dengan pengucapan berulang:
cahcah = ᬘᬄᬘᬄ᭟
Contoh penggunaan bisah pada kata dengan pengucapan berulang, tapi mendapat pangiring anusuara:
nyahcah = ᬜᬄᬘᬄ᭟
c. Terkait dengan surang, dapat digunakan di kondisi manapun, asalkan huruf 'r' mati, baik di awal, tengah, maupun akhir kalimat.
d. Untuk adeg-adeg, hanya dapat digunakan di akhir kata/kalimat. Beda cerita jika terdapat pola kalimat yang menyebabkan munculnya aksara tumpuk tiga. Terkait aturan tersebut akan dipaparkan lebih jelas di kolom "Aturan Pasang Aksara".
Tambahan: terdapat 2 tambahan pangangge lainnya, yaitu ardasuara dan anusuara.
a. Ardasuara terdiri atas: 'y', 'r', 'l', 'w'
b. Anusuara terdiri atas: 'ny', 'm', 'n', 'ng'
Aksara Swalalita adalah jenis aksara yang digunakan menulis Bahasa Kawi (Jawa Kuno), Bahasa Bali Tengahan, Bahasa Sanskerta, dan digunakan untuk menulis kidung, kakawin, dan juga sloka. Jika ingin menulis aksara ini, maka wajib memperhatikan pasang pageh dan tanda diakritik pada tiap huruf.
Aksara Swalalita juga mempunyai gantungan dan gempelannya masing-masing, seperti pada tabel berikut.
Aksara Suara berfungsi untuk menuliskan kata yang huruf awalnya adalah salah satu dari huruf A, I, U, É, O, atau Ai. Ditambah, apabila kata tersebut merupakan kata serapan bahasa asing, maka aksara Suara, digunakan untuk mempertegas pelafalannya.
Contohnya dalam aksara Suara, kata Amerika bisa ditulis dengan jelas sebagai “A-mé-ri-ka”bukan “ha-mé-ri-ka”.
Aksara Modre adalah jenis aksara Bali yang digunakan untuk menulis hal-hal sakral, seperti japa mantra, rerajahan, dan hal-hal sakral lainnya. Menulis aksara Modre tentu tidak boleh sembarangan, karena dianggap suci dan memiliki kekuatan magis. Aksara tipe ini memiliki berbagai macam rupa, tetapi umumnya ditandai dengan adanya diakritik ulu candra atau ulu ricĕm. Pembahasan mengenai rupa dan jenis modre dapat ditemukan pada lontar dengan judul krakah atau griguh.
Dalam aksara Bali, terdapat juga sistem penulisan angka (wilangan) seperti berikut:
Terkait penulisan angka, bisa langsung ditulis seperti contoh di bawah ini.
478 = ᭔᭗᭘
607 = ᭖᭐᭗
1869 = ᭑᭘᭖᭙
1999 = ᭑᭙᭙᭙
2020 = ᭒᭐᭒᭐
Dalam sistem penulisan aksara Bali, terdapat beragam jenis tanda baca yang mempunyai fungsinya masing-masing, seperti tabel di bawah ini.
Beberapa aturan dalam penulisan aksara Bali, adalah sebagai berikut.
Bila dalam satu kata, aksara na bertemu dengan aksara r, maka akan menggunakan na rambat.
Contoh:
karna = ᬓᬃᬡ᭟
sarana = ᬲᬭᬡ᭟
truna = ᬢ᭄ᬭᬸᬡ᭟
Bila aksara na mati bertemu dengan ja atau ca, maka 'n' akan berubah menjadi 'ny'.
Contoh:
sanja = ᬲᬜ᭄ᬚ᭟
panca = ᬧᬜ᭄ᬘ᭟
Jika aksara sa bertemu dengan ca, maka aksara sa akan menjadi sa saga.
Contoh:
suci = ᬰᬸᬘᬶ᭟
pascima = ᬧᬰ᭄ᬘᬶᬫ᭟
lascarya = ᬮᬰ᭄ᬘᬃᬬ᭟
Jika aksara sa bertemu ka, maka aksara sa berubah menjadi sa sapa.
Contoh:
kasa = ᬓᬱ᭟
ksatria = ᬓ᭄ᬱᬢ᭄ᬭᬶᬬ᭟
suksma = ᬲᬸᬓ᭄ᬱ᭄ᬫ᭟
paksi = ᬧᬓ᭄ᬱᬶ᭟
Menghindari aksara tumpuk tiga, maka diperbolehkan menggunakan adeg-adeg atau cecek di tengah kata.
Contoh kata yang menggunakan adeg-adeg:
Tamblingan = ᬢᬫ᭄ ᬩ᭄ᬮᬶᬗᬦ᭄᭟
samblung = ᬲᬫ᭄ ᬩ᭄ᬮᬸᬂ᭟
Contoh kata yang menggunakan cecek:
angklung = ᬳᬂᬓ᭄ᬮᬸᬂ᭟
Penggunaan la lenga dan ra repa untuk menghindari penggunaan pepet.
Contoh:
rejang = ᬭᭂᬚᬂ → ᬋᬚᬂ᭟
lesung = ᬮᭂᬲᬸᬂ → ᬍᬲᬸᬂ᭟
Semua kata yang didahulukan dengan vokal 'i' dan setelahnya terdapat bunyi 'ya', maka wajib menggunakan nania.
Contoh:
tabia = ᬢᬩᬶᬬ᭟ → ᬢᬩ᭄ᬬ᭟
titiang = ᬢᬶᬢᬶᬬᬂ᭟ → ᬢᬶᬢ᭄ᬬᬂ ᭟
Semua kata yang didahulukan dengan vokal 'u' dan setelahnya terdapat bunyi 'wa', maka wajib menggunakan suku kembung.
Contoh:
kakua = ᬓᬓᬸᬯ᭟ → ᬓᬓ᭄ᬯ᭟
kuangén = ᬓᬸᬯᬗᬾᬦ᭄᭟ → ᬓ᭄ᬯᬗᬾᬦ᭄᭟
Jika huruf d bertemu dengan aksara 'nya', maka huruf d akan berubah menjadi 'j'.
Contoh:
yadnya (yajña) = ᬬᬚ᭄ᬜ᭟
pradnya (prajña) = ᬧ᭄ᬭᬚ᭄ᬜ᭟
Penulisan singkatan yang ditulis dengan bagaimana cara kita mengucapkan singkatan tersebut dan berisi carik siki diawal dan diakhir singkatan.
Contoh:
SMA → és ém a →᭞ᬏᬲ᭄ᬏᬫ᭄ᬅ᭞
APBD → a pé bé dé → ᭞ᬅᬧᬾᬩᬾᬤᬾ᭞
Penulisan kata yang berisi angka.
Nama intansi, contoh: SMA Negeri 5 Denpasar = ᭞ᬏᬲ᭄ᬏᬫ᭄ᬅ᭞ ᬦᭂᬕ᭄ᬭᬶ᭞ ᭕᭞ ᬤᬾᬦ᭄ᬧᬲᬃ᭟
Alamat, contoh: Jalan Sanitasi, Nomor 2, Denpasar Selatan, Denpasar = ᬚᬮᬦ᭄ᬲᬦᬶᬢᬲᬶ᭞ ᬦᭀᬫᭀᬃ᭞ ᬍ᭞ ᬤᬾᬦ᭄ᬧᬲᬃᬲᭂᬮᬢᬦ᭄᭞ ᬤᬾᬦ᭄ᬧᬲᬃ᭟
Tempat dan Tanggal, contoh: Denpasar, 20 Mei 2025 = ᬤᬾᬦ᭄ᬧᬲᬃ᭞ ᭒᭐᭞ ᬫᬾᬳᬶ᭞ ᭒᭐᭒᭕᭟