Nama Desain Kaos : Abrams
Desain Nomor : 80
Tahun : 2023
Nama Alias : -
Seri : Bahnoo
Ide : Dwiki Himawan
Ilustrator : Dwiki Himawan
Pengarah Aksara : Dwiki Himawan
Ilustrator Aksara : Dwiki Himawan
Aksara : Kawi
---
---
#kaos #kaoskeren #kaosdistro #kaosaksara #kaosaksarajawakuno #bahnoo #aksaradinusantara #adn #kawi #aksarakawi #aksarakawikuno #akṣārakawi #aksarajawakuno #jawakuno #jawakuno😊
Entah mengapa, pada suatu ketika aku merenungi tentang pilihan Nabi Ibrahim untuk memilih dan menentukan sesembahan. Bulan dan Matahari pernah menjadi sesembahannya. Hingga kemudian nalarnya menuntun untuk mencari sesuatu yang lebih pantas untuk disembah.
Bentukan dengan lima ujung runcing ini biasa digunakan untuk simbolisasi bintang. Ya lima ujungnya memang ndak selalu runcing sih. Dan bintang riil nya juga berbentuk bulat.
Bintang mungkin tidak disebutkan menjadi sesuatu yang pernah disembah Nabi Ibrahim. Tetapi dalam lambang Pancasila, bintang dianggap representasi ketuhanan. Maka kami letakkan juga bintang pada ilustrasi ini.
Bulan menjadi salah satu entitas yang pernah menjadi sesembahan nabi Ibrahim. Hingga kemudian ia melihatnya tenggelam dan berpikir bahwa Tuhan kenapa tenggelam.
Bulan kini, bersama bintang, menjadi simbol dari Islam. Meskipun sebenarnya simbol bulan-bintang ini sudah muncul sebelum era Islam.
Matahari juga sempat menjadi entitas sesembahan Nabi Ibrahim. Sampai kemudian ia melihatnya tenggelam.
Dalam kebudayaan lama, semisal Mesir dan Maya (atau mungkin Aztec dan Inca) bahkan Jepang, Matahari menjadi salah satu entitas ketuhanan atau kedewataan.
Matahari adalah bintang. Bintang adalah benda ruang angkasa yang bisa memancarkan cahaya. Kalau benda ruang angkasa yang tidak bisa memancarkan cahaya disebut planet.
Sebenarnya yang banyak diceritakan mencari entitas ketuhanan adalah Laki-laki. Para Nabi selalu laki-laki kan?. Tapi aku yakin setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan melakukan pencarian yang sama. Tentu dengan banyak situasi yang berbeda.
Kemudian aku memilih anak perempuan untuk masuk ilustrasi. Anak perempuan ini rentan. Di lingkungan yang salah, ia bisa menjadi korban pelecehan. Bahkan direnggut masa depannya.
Kalau ia bisa survive dari masa kecil ke remaja, ia juga menghadapi kerentanan yang sama dengan ketika ia kecil.
Pun di masa dewasa. Selain ancaman dari luar, ancaman lain adalah dari dalam dirinya. Dari keinginan-keinginannya. Dari ketidakmampuannya membatasi diri.
Sebenarnya situasi itu berlaku di setiap manusia. Hanya saja entah mengapa, anak perempuan cukup menggambarkan itu semua. Menggambarkan kehidupan yang dihadapi amat penuh dengan tantangan.
Dan di situlah pencarian dilakukan.
Tulisan “menempuh perjalanan sunyi” menggunakan aksara Jawa Kuno / Kawi
“Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri”. Penggalan lirik lagu Sebelum Cahaya oleh Letto ini sangat memenuhi kepalaku.
Dari penggalan lirik itu, aku terbayang perasaan Nabi Muhammad, Sidharta Gautama, Pangeran Diponegoro, dan orang-orang lainnya yang tak terpahami.
Ketika orang-orang mengejar kekayaan, mengejar jabatan, popularitas, kekuasaan. Tiba-tiba seseorang yang punya previlege itu meninggalkannya. Memilih masuk ruang sunyi. Melepaskan kekayaan, jabatan, popularitas, dan kuasa.
Sebuah keputusan yang akan sangat tidak dipahami oleh masyarakat umum.
Tapi keputusan itulah yang justru membawa mereka pada pencerahan. Pada level baru kehidupan. Pada tugas dan tanggung jawab baru untuk memomong umat manusia. Yang sepertinya hanya pasti berujung kegagalan. Tapi tetap perlu dilakukan. Sebagai bukti perjuangan. Sebagai contoh, bahwa pencerahan tidak berhenti pada ruang-ruang sunyi. Ia juga perlu digunakan untuk menggerakkan perubahan.