Islam menyatakan bahwa umat Islam merupakan umat yang tengah-tengah yaitu dalam menyelesaikan sesuatu dengan tanpa kecondongan ke kanan atau pun ke kiri. Rasulullah bersabda:
“Sebaik baik persoalan adalah sikap sikap moderat.”
Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:
“Dan sebaik baik amal perbuatan adalah yang pertengahan, dan agama Allah itu berada di antara yang beku (konstan) dan mendidih (relatif).”
Dalam Islam, tawasuth terbagi menjadi tiga dimensi yaitu akidah, akhlak,
dan syariat.
1. Dimensi akidah
Dalam dimensi akidah, ada setidaknya dua persoalan yaitu, 1) Ketuhanan antara atheisme dan politheisme. Islam ada di antara atheisme yang mengingkari adanya Tuhan dan poletheisme yang memercayai adanya banyak Tuhan. Islam adalah Monotheisme, yakni paham yang memercayai Tuhan Yang Esa.
2) Manusia di antara jabr dan ikhtiyār. Beberapa aliran mengatakan bahwa perbuatan manusia adalah paksaan dari Allah, dan aliran lain mengatakan perbuatan manusia adalah mutlak dari diri sendiri. Dalam Islam, tidak ada keterpaksaan mutlak dan tidak ada kebebasan mutlak.
2. Dimensi akhlak
Salah satu persoalan dalam akhlak tasawuf ialah peribadatan antara syariat dan hakikat. Dalam ibadah, Islam menggunakan kacamata syariat dan hakikat. Karena syariat tanpa hakikat adalah kepalsuan dan hakikat tanpa syariat merupakan omong kosong.
3. Dimensi syariat
Persoalan yang muncul pada dimensi syariat adalah antara kemaslahatan individu dan kolektif. Dalam hal ini, Islam berorientasi pada terwujudnya kemaslahatan induktif dan kolektif secara bersama sama. Akan tetapi, kalau terjadi pertentangan maka didahulukan kepentingan kolektif