Karena Setiap Pertemuan Membawa Hikmah yang bermakna
Dalam setiap pertemuan, selalu ada hikmah yang dapat kita bawa pulang. Ada pertemuan yang sederhana, adapula yang meninggalkan kesan bermakna.
Ada kalanya, saat berbicara dengan seseorang, kita merasa ikut bersemangat. Bukan karena ia memberikan nasihat panjang atau memiliki jawaban untuk setiap masalah.
Hanya dari cara orang itu mendengarkan, berbicara, atau memandang kehidupan, ada sesuatu yang membuat hati terasa lebih ringan.
Namun, ada pula percakapan yang membuat kita pulang dengan pikiran yang lebih penuh. Bukan berarti orang yang kita temui adalah orang yang tidak baik. Bisa jadi, ia juga sedang menjalani banyak hal yang tidak kita ketahui.
Setiap orang membawa keadaan batinnya masing-masing
Aku belajar, bahwa setiap orang membawa keadaan batinnya masing-masing ketika bertemu dengan orang lain.
Hal itu membuatku berpikir bahwa energi seseorang tidak selalu berasal dari seberapa baik kehidupannya.
Seseorang bisa saja sedang menghadapi banyak masalah, tetapi tetap mampu memberikan ketenangan kepada orang lain. Seseorang yang dari luar terlihat baik-baik saja mungkin masih sibuk berdamai dengan banyak hal di dalam dirinya.
Mungkin karena itu, aku mulai memahami bahwa kehidupan bukan tentang menjadi seseorang yang selalu positif.
Di saat yang sama, aku juga belajar bahwa :
menjadi baik bukan berarti harus selalu tersedia bagi semua orang. Ada batas yang tetap perlu dijaga. Bukan karena kita berhenti peduli, tetapi karena diri sendiri juga perlu dihargai.
Aku juga belajar bahwa berbuat baik tidak berarti harus selalu mengikuti setiap perkataan atau keinginan orang lain. Kita boleh mendengarkan, mempertimbangkan, dan menghargai seseorang, tetapi tetap perlu memiliki pertimbangan sendiri tentang apa yang baik untuk kita.
Ada saatnya kita membantu, dan ada saatnya kita berkata tidak. Keduanya tidak membuat kita menjadi seseorang yang kurang baik.
Setiap kehidupan memiliki waktunya masing-masing
Kita tetap boleh lelah. Boleh kecewa. Boleh merasa tertinggal. Bahkan, sesekali membandingkan diri dengan orang lain mungkin merupakan bagian dari perjalanan manusia. Namun, kita perlu berhati-hati agar perasaan itu tidak membuat kita lupa melihat perjalanan kita sendiri.
Sering kali, ketika melihat pencapaian orang lain, kita hanya melihat hasil akhirnya. Kita melihat seseorang sudah sampai di suatu tempat, tetapi tidak mengetahui berapa banyak langkah yang ia lalui untuk sampai ke sana.
Sementara itu, kita mungkin sedang berdiri di tengah perjalanan sendiri dan merasa tertinggal.
Padahal, setiap kehidupan memiliki waktunya masing-masing.
Aku pun masih belajar mengenai hal ini. Belajar untuk tidak terlalu sering melihat perjalanan orang lain hingga lupa menghargai langkah yang sedang aku jalani. Belajar menerima bahwa tidak semua hal harus terjadi pada waktu yang sama.
Mungkin kita tidak selalu dapat memilih siapa yang kita temui, tetapi kita masih dapat memilih bagaimana kita hadir bagi orang lain.
Kita mungkin tidak selalu mampu memberikan solusi. Tidak selalu memiliki kata-kata yang tepat. Namun, terkadang mendengarkan dengan sungguh-sungguh, berbicara dengan lembut, atau sekadar tidak membuat seseorang merasa sendirian sudah cukup berarti.
Sebab, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dibawa seseorang dalam diamnya.
Mungkin ada orang yang sedang berjuang tanpa banyak bercerita. Mungkin ada yang sedang belajar menerima dirinya sendiri. Mungkin ada pula yang hanya membutuhkan satu percakapan sederhana untuk kembali percaya bahwa hidup masih memiliki banyak hal baik.
Mencari energi baik untuk diri dan orang-orang di sekitar
Aku ingin belajar menjadi seseorang yang tidak hanya mencari energi baik dari orang lain, tetapi juga berusaha menghadirkan energi baik itu bagi orang-orang di sekitar.
Bukan berarti harus selalu tersenyum atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Cukup dengan menjadi manusia yang berusaha tidak menambah berat langkah orang lain.
Pada akhirnya, setiap pertemuan mungkin meninggalkan sesuatu. Ada yang memberi semangat, ada yang mengajarkan kesabaran, dan ada pula yang membuat kita lebih mengenal diri sendiri.
Dan mungkin, itulah salah satu hal indah dari bertemu dengan banyak manusia: kita tidak hanya mengenal mereka, tetapi perlahan belajar mengenal diri kita sendiri.
Tentang bagaimana kita ingin diperlakukan.
Tentang bagaimana kita ingin memperlakukan orang lain.
Dan tentang energi seperti apa yang ingin kita tinggalkan setelah sebuah pertemuan berakhir.
Kita tidak dapat mengendalikan penilaian orang lain
Jika suatu hari seseorang mengingat kita, semoga bukan karena kita memiliki kehidupan yang sempurna, melainkan karena pernah ada sedikit kebaikan yang membuat perjalanan mereka terasa lebih ringan.
Bisa saja ada perkataan yang pernah salah, sikap yang pernah melukai, atau kehadiran kita yang meninggalkan kesan kurang baik.
Namun, mungkin yang terpenting bukan bagaimana kita memastikan semua orang selalu mengingat kita dengan baik.
Kita tidak dapat mengendalikan ingatan dan penilaian orang lain. Yang masih bisa kita lakukan adalah belajar dari setiap kesalahan, memperbaiki apa yang dapat diperbaiki, dan berusaha agar setelah mengenal kita, ada lebih banyak kebaikan yang tertinggal daripada luka.
Sebab, kita semua pernah menjadi seseorang yang salah. Dan mungkin, menjadi manusia bukan tentang meninggalkan kesan yang selalu sempurna, melainkan tentang terus belajar menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Pada akhirnya, setiap pertemuan akan meninggalkan sesuatu. Entah sebuah semangat, sebuah pelajaran, atau bahkan sebuah pengingat tentang bagaimana kita ingin memperlakukan orang lain.
Dan jika suatu hari seseorang mengingat kita, semoga ia tidak hanya mengingat siapa kita dahulu, tetapi juga kebaikan yang pernah kita coba tinggalkan dalam perjalanan mereka.
Sebab, kita semua pernah menjadi seseorang yang salah. Dan mungkin, menjadi manusia bukan tentang meninggalkan kesan yang selalu sempurna, melainkan tentang terus belajar menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Aku juga belajar bahwa setiap orang meninggalkan sesuatu dalam diri kita, tetapi tidak semuanya harus kita bawa dalam perjalanan.
Kita boleh menerima kebaikan, mendengarkan pandangan, dan belajar dari orang lain, tanpa harus mengikuti setiap perkataan atau pengaruh yang datang kepada kita.
Karena, menjaga energi yang kita bawa juga berarti belajar memilih apa yang layak kita simpan dan apa yang cukup kita jadikan hikmah dan pelajaran bagi kehidupan.
Referensi
David, Susan. Emotional Agility: Get Unstuck, Embrace Change, and Thrive in Work and Life. Avery, 2016.
Brown, Brené. The Gifts of Imperfection: Your Guide to a Wholehearted Life. Hazelden, 2010.