Jump to a question:
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), anestesia berarti hilangnya rasa pada tubuh terutama rasa nyeri yang disebabkan oleh pengaruh obat bius.
Anestesia (pembiusan) adalah tindakan medis yang dilakukan untuk memfasilitasi operasi, prosedur medis, atau tes, sehingga Anda nyaman dan bebas rasa sakit selama tindakan tersebut.
Jenis atau teknik anestesi yang dipilih bergantung pada faktor-faktor seperti prosedur, kondisi kesehatan, dan preferensi Anda.
Puasa sebelum prosedur yang memerlukan anestesi umum, anestesi regional, atau sedasi dan analgesia prosedural diperlukan untuk menurunkan risiko dan severitas (derajat berat) aspirasi paru.
Aspirasi paru perioperatif adalah aspirasi (masuknya) isi lambung ke paru, yang terjadi setelah induksi anestesi, selama prosedur, atau segera setelah prosedur. Komplikasi aspirasi paru meliputi, tetapi tidak terbatas pada: pneumonia aspirasi, gangguan pernapasan, dan morbiditas terkait.
Puasa sebelum prosedur yang memerlukan anestesi umum, anestesi regional, atau sedasi dan analgesia prosedural:
Cairan bening boleh dikonsumsi hingga 2 jam sebelum prosedur. Cairan ini tidak boleh mengandung alkohol. Contoh: air, jus buah tanpa ampas, teh bening, dan kopi hitam.
ASI dapat dikonsumsi hingga 4 jam sebelum prosedur
Susu formula bayi dapat dikonsumsi hingga 6 jam sebelum prosedur elektif
Makanan ringan atau susu non-manusia dapat dikonsumsi hingga 6 jam sebelum prosedur
Waktu puasa tambahan (misalnya, 8 jam atau lebih) mungkin diperlukan jika pasien mengonsumsi makanan yang digoreng, makanan berlemak, atau daging.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), analgesia berarti kehilangan kemampuan untuk merasakan sakit saat dalam keadaan sadar.
Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), analgesia berarti tidak ada rasa sakit sebagai respons terhadap rangsangan yang biasanya menyakitkan.
Status fisik ASA adalah sistem klasifikasi yang dibuat oleh American Society of Anesthesiologists dan digunakan untuk menilai dan mengomunikasikan komorbiditas medis pra-anestesi pasien..
Sistem klasifikasi ini tidak memprediksi risiko perioperatif, tetapi jika dikombinasikan dengan faktor-faktor lain (misalnya, jenis operasi, kerapuhan, tingkat dekondisi), sistem ini dapat membantu dalam memprediksi risiko perioperatif.
Penetapan status fisik merupakan keputusan klinis yang didasarkan pada berbagai faktor. Status fisik dapat ditentukan pada berbagai waktu selama penilaian pra-anestesi Anda, namun demikian penetapan akhir status fisik diberikan oleh dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif setelah mengevaluasi, pada hari dimana Anda akan mendapatkan tindakan anestesi.
Anestesi umum adalah tindakan medis berupa anestesi (pembiusan) yang menggunakan obat-obatan untuk membuat Anda kehilangan kesadaran sepenuhnya selama operasi. Anda akan tertidur, tidak merasakan sakit, dan tidak memiliki ingatan tentang prosedur yang dilakukan.
Anestesi umum diberikan oleh/atau di bawah arahan dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif melalui sungkup muka yang dipasang di atas hidung dan mulut atau infus yang dipasang di pembuluh darah balik/vena (biasanya di lengan/tangan). Selama anestesi umum bekerja banyak fungsi tubuh Anda akan melambat atau membutuhkan bantuan agar dapat bekerja secara efektif. Selama operasi, akan dipantau detak jantung, tekanan darah, pernapasan, dan tanda-tanda vital lainnya untuk memastikan semuanya normal dan stabil sementara Anda tetap tidak sadarkan diri dan bebas dari rasa sakit.
Setelah operasi selesai, obat akan dihentikan dan kesadaran dipulihkan. Beberapa pasien merasa baik-baik saja saat bangun tidur; yang lain mengalami gejala seperti mual, muntah, atau menggigil. Tenggorokan Anda mungkin terasa tidak nyaman karena selang pernapasan. Setelah menjalani operasi besar, Anda juga mungkin akan merasakan nyeri dan ketidaknyamanan selama masa pemulihan, yang mungkin akan semakin parah seiring dengan memudarnya efek anestesi umum. Dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif Anda akan membantu mengatasi keluhan-keluhan tersebut.
Sedasi adalah tindakan medis untuk membuat Anda merasa rileks. Tergantung pada prosedurnya, tingkat sedasi dapat minimal (membuat Anda mengantuk tetapi dapat berbicara) hingga dalam (Anda tidak mengingat prosedurnya).
Jenis anestesi ini sering digunakan untuk prosedur invasif minimal seperti kolonoskopi.
Anestesi regional adalah tindakan medis berupa teknik anestesi (pembiusan) yang dilakukan dengan menyuntikkan obat anestesi lokal di sekitar saraf atau area saraf tertentu sehingga memblokir rasa nyeri pada bagian tubuh tertentu. Anda tetap dalam keadaan sadar atau mengantuk, tetapi area tubuh yang diblok tersebut tidak akan merasakan nyeri atau sensasi sakit selama prosedur atau operasi berlangsung.
Jenis anestesi regional meliputi anestesi neuraksial seperti blok spinal dan epidural, serta blok saraf tepi/perifer pada saraf tertentu di lengan, tungkai, atau bagian tubuh lain.
Komplikasi perdarahan dapat terjadi setelah teknik anestesi neuraksial (spinal atau epidural) atau blok saraf tepi. Jika perdarahan terjadi pada lokasi yang terfiksasi, tidak terkompresi, dan/atau tersembunyi, seperti kanalis spinalis atau kompartemen psoas, akibatnya bisa sangat fatal.
Pembaruan standar pencegahan tromboemboli vena perioperatif (VTE) dan adanya obat-obatan antitrombotik yang semakin kuat (poten), mengakibatkan kekhawatiran mengenai meningkatnya risiko pendarahan setelah blok neuraksial dan blok saraf tepi yang dalam.
Contoh terapi antitrombotik:
Antikoagulan: apixaban, rivaroxaban, dabigatran, heparin, warfarin
Antiplatelet: clopidogrel, prasugrel, ticagrelor, abciximab, eptifibatide, tirofiban, cilostazol
Laporkan penggunaan terapi antitrombotik atau trombolisis kepada dokter sebelum anestesi dan pembedahan. Lakukan penghentian terapi antitrombotik atau trombolisis sesuai instruksi dokter.
Kombinasi anestesi adalah penggunaan beberapa teknik anestesi (pembiusan) untuk memfasilitasi suatu prosedur, seperti kombinasi anestesi umum dan blok epidural, kombinasi anestesi umum dan blok saraf tepi, kombinasi blok spinal dan epidural, kombinasi blok spinal dan blok saraf tepi.
Blok spinal adalah tindakan medis berupa teknik anestesi (pembiusan) regional dimana obat anestesi lokal diberikan secara langsung ke dalam ruang cairan tulang belakang (ruang subaraknoid) di punggung bagian bawah. Obat ini memblokir rasa sakit dan gerak pada tubuh bagian bawah, sehingga Anda tetap sadar atau mengantuk tetapi tidak merasakan apa-apa di area operasi.
Blok epidural adalah tindakan medis berupa teknik anestesi (pembiusan) regional di mana obat anestesi lokal disuntikkan ke dalam ruang epidural, yaitu ruang di sekitar tulang belakang yang berada di antara ligamentum flavum dan dura mater (selaput pelindung saraf tulang belakang). Tujuannya adalah untuk memblokir transmisi sinyal nyeri dari saraf-saraf di area tersebut sehingga Anda tidak merasakan nyeri pada bagian tubuh yang terkait, sehingga Anda tetap sadar atau mengantuk tetapi tidak merasakan apa-apa di area operasi.
Blok saraf tepi adalah tindakan medis berupa teknik anestesi (pembiusan) regional di mana obat anestesi lokal disuntikkan di dekat saraf atau sekelompok saraf tertentu (pleksus) untuk mematikan rasa di area tubuh tertentu, seperti lengan atau tungkai, guna meredakan nyeri selama dan setelah prosedur medis. Metode ini dapat mengurangi kebutuhan anestesi umum dan membantu mengendalikan nyeri pascaoperasi secara efektif.
Blok bidang fascia adalah tindakan medis berupa teknik anestesi (pembiusan) regional yang melibatkan penyuntikan obat bius lokal ke dalam bidang (ruang) di antara dua lapisan fascia (jaringan ikat yang mengelilingi otot dan organ). Teknik ini bertujuan memblokir saraf yang melewati atau berada di dalam lapisan fascia tersebut untuk mengurangi nyeri pascaoperasi.
Prosedur operasi yang memungkinkan Anda pulang pada hari yang sama. Pengelolaan anestesi pada pasien bedah rawat jalan membutuhkan pemilihan kasus dan teknik yang tepat agar pemulihan cepat, efektif, dan aman dari risiko komplikasi.
Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan terkait dengan, atau menyerupai yang terkait dengan, kerusakan jaringan aktual atau potensial.
Nyeri selalu merupakan pengalaman pribadi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis, psikologis, dan sosial.
Melalui pengalaman hidup, individu mempelajari konsep nyeri.
Keluhan (laporan) seseorang tentang suatu pengalaman sebagai nyeri harus dihormati.
Meskipun nyeri biasanya memiliki peran adaptif, nyeri dapat berdampak buruk pada fungsi dan kesejahteraan sosial serta psikologis.
Keluhan berupa deskripsi verbal hanyalah salah satu dari beberapa perilaku untuk mengekspresikan nyeri. Seseorang yang tidak mampu berkomunikasi bukan berarti orang tersebut tidak sedang mengalami nyeri.
Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri akut adalah nyeri yang terjadi secara tiba-tiba, awalnya tajam atau intens, dan berfungsi sebagai tanda peringatan adanya penyakit atau ancaman bagi tubuh. Nyeri akut disebabkan oleh cedera, operasi, penyakit, trauma, atau prosedur medis yang menyakitkan dan umumnya berlangsung dari beberapa menit hingga kurang dari enam bulan. Nyeri akut biasanya hilang ketika penyebab yang mendasarinya diobati atau disembuhkan. Nyeri akut dapat berkembang menjadi nyeri kronis.
Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri kronis adalah nyeri yang menetap atau berulang selama lebih dari 3 bulan. Nyeri ini bersifat multifaktorial, faktor biologis, psikologis, dan sosial berkontribusi terhadap sindrom nyeri.
Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri nosiseptik adalah nyeri yang timbul akibat kerusakan aktual atau ancaman kerusakan pada jaringan non-saraf dan disebabkan oleh aktivasi nosiseptor.
Catatan:
Istilah ini dirancang untuk membedakan nyeri neuropatik.
Istilah ini digunakan untuk menggambarkan nyeri yang terjadi pada sistem saraf somatosensori yang berfungsi normal, berbeda dengan fungsi abnormal yang terlihat pada nyeri neuropatik.
Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri neuropatik adalah nyeri yang disebabkan oleh lesi (cedera) atau penyakit pada sistem saraf somatosensori.
Catatan:
Nyeri neuropatik adalah deskripsi klinis (dan bukan diagnosis) yang membutuhkan lesi yang dapat dibuktikan atau penyakit yang memenuhi kriteria diagnostik neurologis yang telah ditetapkan.
Istilah lesi umumnya digunakan ketika pemeriksaan diagnostik (misalnya pencitraan, neurofisiologi, biopsi, tes laboratorium) menunjukkan kelainan atau ketika terdapat trauma yang jelas.
Istilah penyakit umumnya digunakan ketika penyebab yang mendasari lesi diketahui (misalnya stroke, vaskulitis, diabetes melitus, kelainan genetik).
Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri nosiplastik adalah nyeri yang timbul akibat perubahan nosisepsi meskipun tidak ada bukti jelas adanya kerusakan jaringan aktual atau yang mengancam yang menyebabkan aktivasi nosiseptor perifer atau bukti adanya penyakit atau lesi (cedera) pada sistem somatosensori yang menyebabkan nyeri.
Catatan:
Pasien dapat mengalami kombinasi nyeri nosiseptif dan nosiseptif.
Modalitas terapi nyeri adalah cara atau metode yang digunakan untuk mengatasi rasa nyeri. Modalitas terapi nyeri dapat digunakan secara tunggal (unimodal) atau dengan kombinasi (multimodal), sebagai berikut:
Obat (Farmakologi)
Penggunaan obat untuk mengurangi nyeri, seperti parasetamol, anti-inflamasi nonsteroid (mis. ibuprofen, asam mefenamat, natrium diklofenak), opioid (mis. morfin)
Non-Obat (Non-Farmakologi)
Pendekatan Fisik, seperti kompres panas atau dingin pada area yang sakit; terapi fisik atau latihan ringan untuk mengurangi nyeri otot dan sendi; relaksasi atau teknik pernapasan untuk mengurangi stres penyebab nyeri
Pendekatan Psikososial dan Psikoterapi, seperti dukungan psikologis agar pasien lebih kuat menghadapi rasa sakit (mis. konseling dan terapi perilaku kognitif); teknik distraksi atau guided imagery (mengarahkan pikiran ke hal lain)
Prosedur Medis
Blok saraf, yaitu menyuntikkan obat anestesi lokal untuk memblokir sinyal nyeri di saraf tertentu
Injeksi steroid untuk mengurangi peradangan penyebab nyeri
Radiofrekuensi, terapi dengan gelombang radio untuk mengurangi nyeri kronis
Pembedahan
Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif adalah Dokter dengan kualifikasi lanjutan, memiliki Kompetensi spesifik yang terukur, mampu secara mandiri dan bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan klinis termasuk pengambilan keputusan klinis pada fase akhir kehidupan (end of life clinical decision making), penegakan diagnosis, dan penatalaksanaan komprehensif terhadap kelompok penyakit, gangguan fungsi, atau kondisi kesehatan yang memerlukan anestesi, pengendalian nyeri, dukungan dan pengamanan jalan napas, ventilasi dan sirkulasi, stabilisasi serta pemulihan gangguan organ maupun multiorgan, serta tata laksana perawatan intensif dan kegawatdaruratan, melalui penerapan teknik anestesi umum dan regional, manajemen perioperatif, pengelolaan nyeri, dukungan organ vital, intervensi dan prosedur emergensi presisi berbasis bukti, serta praktik perawatan intensif mutakhir untuk menjamin efektivitas, keamanan, dan rasionalitas terapi, berlandaskan pendekatan promotif, preventif, kuratif, paliatif, dan rehabilitatif, serta mengutamakan keselamatan pasien (patient safety), mencegah bahaya yang dapat dihindari (zero preventable harm), dan menegakkan etika profesi kedokteran yang luhur sebagaimana diamanatkan dalam sumpah Dokter.
Kepkonsil No HK.01.02/KKI/1294/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif
Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Subspesialis Anestesi Regional atau Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Konsultan Anestesi Regional adalah Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif dengan kualifikasi lanjutan, memiliki kompetensi spesifik yang terukur, mampu secara mandiri dan bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan klinis, penegakan diagnosis, dan penatalaksanaan komprehensif terhadap kelompok penyakit, gangguan fungsi, atau kondisi kesehatan dengan kompleksitas sangat tinggi, refrakter, atau jarang, pada Pasien yang memerlukan anestesi dan pengendalian nyeri melalui prosedur dan intervensi anestesi regional presisi injeksi tunggal atau kontinu berbasis bukti pada sistem saraf perifer, sentral, otonom, dan sistem muskuloskeletal dengan atau tanpa panduan pencitraan, serta terapi nyeri unidisiplin, multidisiplin, atau interdisiplin yang aman untuk tata laksana nyeri perioperatif, akut, dan kronik, menjamin efektivitas, keamanan, dan rasionalitas terapi berlandaskan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, serta mengutamakan keselamatan pasien (patient safety), mencegah bahaya yang dapat dihindari (zero preventable harm), serta menegakkan etika profesi kedokteran yang luhur sebagaimana diamanatkan dalam sumpah Dokter.
Kepkonsil No HK.01.02/KKI/1294/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif
ESRA-DRA diplomate adalah dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif tersertifikasi ESRA European Diploma of Regional Anaesthesia oleh European Society of Regional Anaesthesia and Pain Therapy.
ESRA-DRA diplomate memiliki kompetensi yang holistik tentang teknik anestesi regional dan terapi nyeri akut, termasuk pada pasien berisiko tinggi, mulai dari bayi baru lahir hingga lansia.
ESRA-DRA telah tersertifikasi UEMS-CESMA. CESMA adalah badan penasihat UEMS yang bertujuan memberikan rekomendasi dan saran mengenai penyelenggaraan ujian dokter spesialis di Eropa.
ESRA-DRA diplomate adalah dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif tersertifikasi ESRA European Diploma of Pain Medicine oleh European Society of Regional Anaesthesia and Pain Therapy.
ESRA-DPM diplomate memiliki kompetensi di bidang terapi nyeri yang bekerja secara mandiri maupun dalam tim nyeri multidisiplin.
ESRA-DPM telah tersertifikasi UEMS-CESMA. CESMA adalah badan penasihat UEMS yang bertujuan memberikan rekomendasi dan saran mengenai penyelenggaraan ujian dokter spesialis di Eropa.