Sulawesi Tenggara atau Sultra merupakan sebuah provinsi yang terletak di sebelah tenggara Pulau Sulawesi. Luas wilayah Provinsi Sultra adalah 38.140 km², sedangkan luas perairannya sekitar 110.000 km². Provinsi ini terbagi menjadi 17 wilayah administratif kabupaten-kota. Provinsi yang beribu kota di Kendari ini memiliki populasi penduduk sebanyak 2 ,755 juta jiwa berdasarkan sensus penduduk tahun 2020. Provinsi yang terkenal dengan keeksotisan laut Wakatobi ini memiliki beragam suku bangsa asli. Berikut adalah suku bangsa asli Sulawesi Tenggara.
Suku Buton adalah salah satu suku terbesar di Sulawesi Tenggara yang mendiami Kepulauan Buton. Orang Buton dikenal sebagai pelaut ulung, yang sejak lama merantau ke berbagai daerah menggunakan perahu tradisional. Selain merupakan masyarakat pelaut, masyarakat Buton juga sejak zaman dulu sudah mengenal pertanian. Komoditas yang ditanam antara lain padi ladang, jagung, singkong, ubi jalar, kapas, kelapa, sirih, nanas, pisang, dan segala kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Mereka juga memiliki ciri khas dalam sistem penamaan, di mana nama laki-laki diawali dengan awalan "La" dan perempuan dengan "Wa".
Secara umum, orang Buton adalah masyarakat yang mendiami wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Daerah-daerah itu kini telah menjadi beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara, diantaranya Kota Baubau, Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Selatan, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana, Kabupaten Muna, dan Kabupaten Muna Barat.
Disebutkan bahwa mata biru indah yang dimiliki oleh orang Buton ternyata sudah turun temurun dari nenek moyang mereka yang disebabkan oleh sindrom bernama Sindrom Waardenburg. Biasanya sindrom tersebut dialami 1 dari 42.000 orang.
Selain efeknya yang terkadang mengejutkan pada pigmentasi mata termasuk menyebabkan warna mata yang berbeda, sindrom tersebut juga dapat menyebabkan hilangnya pendengaran. Selain itu, defisiensi pigmentasi yang menjadikan mata biru cerah, namun bisa pula hanya sebelah mata saja yang berwarna biru sementara mata lainnya berwarna hitam atau coklat.
Biasanya sindrom disebabkan oleh mutasi dari beberapa gen. Mutasi tersebut bisa mempengaruhi sel-sel saat masih tahap perkembangan embrio. Alhasil, seseorang yang terlahir dengan mutasi tersebut akan memiliki mata biru di salah satu atau kedua bola matanya.
Bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku ini ialah Bahasa Buton, meskipun mereka juga fasih berbahasa Indonesia dan bahasa daerah lain karena faktor migrasi.
Suku Buton
Sumber : idntimes.com
Suku Tolaki
Sumber : detik.com
Suku Tolaki merupakan suku asli Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. Suku ini dikenal dengan kulit putih dan rambut lurus. Suku Tolaki merupakan suku asli daerah di daratan tenggara pulau Sulawesi, namun suku ini terpengaruh banyak sekali budaya Melayu yang membuatnya berbeda dari suku lain di Sulawesi. Suku Tolaki tersebar di 7 kabupaten/kota di provinsi Sulawesi Tenggara yang meliputi Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Konawe Kepulauan, Kolaka, Kolaka Utara, dan Kolaka Timur.
Mereka memiliki budaya yang kuat, termasuk sistem komunikasi bertutur yang disebut mekuku, yang digunakan dalam interaksi formal maupun informal. Rumah adat mereka, Laika, juga sangat khas, berbentuk panggung dengan tiang kayu sebagai penyangga.
Bahasa Tolaki adalah bahasa utama suku ini, dengan dialek khas yang digunakan di daerah tertentu.
Suku Culambacu adalah suku yang berasal dari daerah Kolaka dan sekitarnya. Masyarakat suku ini sangat menjunjung tinggi budaya mereka, terutama dalam mempertahankan bahasa Culambacu.
Bahasa ini masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam keluarga, komunitas, maupun dalam berinteraksi dengan sesama suku Culambacu.
Keunikan Suku Culambacu adalah sangat menjaga tradisi mereka, meskipun di zaman modern ini, mereka tetap mempertahankan bahasa dan adat istiadat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Suku Culambacu
Sumber : sultra.tribunnews.com
Suku Kulisusu
Sumber : butonpos.fajar.co.id
Suku Kulisusu berasal dari wilayah Kulisusu, Sulawesi Tenggara, yang dikenal dengan masyarakat petani yang bergantung pada curah hujan dan hasil bumi.
Keagamaan mereka mencakup campuran tradisi lokal dan agama yang berkembang di masyarakat. Masyarakat Suku Kulisusu juga dikenal dengan upacara-upacara yang sangat mengikat kehidupan sosial mereka.
Mata Pencaharian suku Kulisusu diantaranya adalah petani ladang dan sawah yang menggantungkan hidup pada hasil bumi.
Orang Muna adalah masyarakat Suku Bangsa Muna, yang mendiami seluruh Pulau Muna, dan pulau-pulau kecil disekitarnya, serta sebagian besar Pulau Buton khususnya bagian Utara, Utara Timur Laut, selatan dan Barat Daya Pulau Buton, Pulau Siompu, Pulau Kadatua dan Kepulauan Talaga ( wilayah administrasi Kabupaten Buton Selatan dan Buton Tengah) Sulawesi Tenggara. Suku Muna memiliki kebudayaan yang kaya, termasuk upacara adat yang penting, seperti upacara karya bagi wanita yang memasuki usia dewasa. Proses ini dianggap sebagai syarat penting sebelum menikah dan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup individu.
Pada Masyarakat Muna terdapat upacara lingkaran hidup dalam kehidupan individunya, yang dimulai dari upacara kelahiran sampai sampai pada upacara kematian. Untuk melaksanaka upacara tersebut seorang individu harus melalui tahap-tahap. Salah satu tahap tersebut adalah tahap peralihan masa kanak-kanak kemasa dewasa khususnya wanita ada upacara yang mereka sebut upacara Karia.
Upacara karia merupakan upacara yang sangat penting dalam rangka upacara-upacara adat disepanjang hidup individu pada masyarakat Muna. Upacara karia merupakan upacara inisiasi yang dilakukan kepada setiap wanita yang memasuki usia dewasa. Menurut pemahaman Masyarakat Muna, bahwa seorang wanita tidak boleh menikah jika belum melalui proses upacara Karia. Jika dilanggar, akan merasa tersisih dan akan dikucilkan dalam masyarakatnya.
Tradisi Kasambu merupakan tradisi turun temurun yang diadakan oleh masyarakat suku Muna, Sulawesi Tenggara. Tradisi ini merupakan bentuk syukuran terhadap kesalamatan seorang Istri yang akan melahirakan anaknya. Tradisi ini biasa diadakan menjelang kelahiran, biasanya pada bulan ke-7 atau bulan ke-8. Prosesi kasambu dimulai dengan kedua pasangan suami -istri saling menyuapi. Sekali menyuap harus dimakan satu kali atau dihabisi, bila tidak maka sisanya diberikan kepada anak disekitarnya yang telah dipersiapkan. Anak yang dipersiapkan ini diambil dari keluarga dekat. Pekerjaan menyuapi kemudian dilanjutkan oleh anggota keluarga lain kepada pasangan tersebut. Makna lahiryah prosesi ini, yaitu menyatukan kedua keluarga pihak suami dan istri, sedangkan makna batinyah merupakan wahana perkenalan bagi si janin terhadap lingkungan keluarga kelak ia akan dilahirkan. Tradisi ini ditutup dengan pembacaan doa selamat yang dipimpin oleh seorang pejabat agama setempat/pemuka agama/imam.
Dan keistimewaan Suku Muna ini adalah sangat menjunjung tinggi tradisi dan nilai-nilai kehidupan dalam komunitas mereka, yang tercermin dalam upacara adat dan peralihan hidup setiap individu.
Suku Muna
Sumber : pinterest.com dan antarafoto.com
Suku Moronene
Sumber : selasar.com
Suku Moronene tinggal di Pulau Kabaena dan sebagian di kawasan Kabupaten Buton. Mereka dikenal sebagai masyarakat yang hidup dengan tradisi yang sangat terjaga.
Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai petani, mengolah berbagai komoditas seperti kopi, kacang mede, dan kakao.
Keistimewaan Suku Moronene adalah Masyarakat Moronene hidup dengan ketergantungan yang kuat terhadap alam dan tradisi, dengan sedikit interaksi dari luar daerah karena keterbatasan transportasi.
Suku Wolio adalah suku yang berasal dari Kepulauan Buton, yang kini telah tersebar di berbagai wilayah, termasuk Indonesia bagian timur, Maluku, dan Papua. Masyarakat Wolio memiliki bahasa pemersatu yang disebut bahasa Wolio, yang menjadi bahasa utama dalam Kesultanan Buton.
Keistimewaan: Suku Wolio memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari Kesultanan Buton, yang menjadikan bahasa mereka sebagai bahasa pemersatu dalam kerajaan.
Pekerjaan utama suku Wolio adalah bertani, fokus utama hasil panen mereka adalah padi. Selain padi adapula tanaman jagung, ubi kayu, ubi jalar, sayur-sayuran, dan berbagai jenis buah-buahan. Selain menjadi petani, masyarakat di suku Wolio adapula yang menjadi nelayan.
Tradisi Suku Wolio diantaranya adalah sebagai berikut:
Pernikahan di suku Wolio bersifat monogami. Oleh karena itu setelah menikah, pengantin pria harus ikut tinggal di rumah pengantin perempuan, kecuali suami (pengantin pria) sudah memiliki rumah pribadi.
Pekande-kandea mempunyai arti makan-makan. Makna dari tradisi tersebut adalah bentuk rasa syukur kepada Allah swt atas rezeki yang telah masyarkat terima. Tradisi ini dilakukan pada bulan syawal. Tradisi ini juga biasanya untuk menyambut tamu. Namun adapula yang memanfaatkan tradisi ini untuk mecari jodoh.
Laki-laki diwajibkan mencari nafkah, sedangkan perempuan mempunyai tugas mengurus seluruh keperluan rumah tangga. Meski begitu, dalam hal pendidikan tidak ada batasan atara perempuan dan laki-laki.
Suku Wolio juga memiliki tradisi memberi lubang rahasia di rumahnya. Mereka memilih kayu terbaiknya untuk diberi emas sebagai tanda pintu rahasia tersebut.
Goraana Oputa/Maludju Wolio yaitu tradisi masyarakat dalam merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Tradisi ini berawal dari kebiasaan di kerajaan Buton. Tradisi ini diawali dari membaca kitab berjanji.
Qunua, yaitu tradisi yang dilakukan masyarakat Buton pada pertengahan bulan Ramadhan. Tradisi ini diawali dengan ibadah Salat tarawih tepat pada pukul 24.00, lalu dilanjutkan dengan doa qunut, lalu ditutup oleh sahur bersama.
Tuturiangana Andaala, biasa dikenal dengan sedekah laut. Tradisi ini dilakukan agar diberikan kelancaran saat beraktivitas di laut. Tradisi ini dilakukan oleh laki-laki yang membawa empat sesajen dari rakit kecil yang terbuat dari bambu. Setelah dilakukan do’a lalu kambing jantan disembelih dan darahnya diambil dengan gelas bambu. Darah kambing tersebut kemudian diletakkan di samping rakit sesaji.
Mataa yaitu ritual adat yang digelar masyarakat Buton etnik cia-cia di desa Laporo yang merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen yang diperoleh.
Karia'a yaitu pesta adat masyarakat Buton yang berada di Kaledupa untuk menyambut anak-anak yang sedang beranjak dewasa. Pesta Rakyat ini diiringi dengan tarian-tarian yang dilakukan oleh pemangku adat, bersama orang tua kemudian memanjatkan doa bersama anak-anak mereka yang bertujuan untuk membekali anak-anak mereka dengan nilai-nilai moral dan spiritual.
Posuo (pingit) yaitu pesta adat masyarakat Buton yang ditujukan pada kaum wanita yang memasuki usia remaja sekaligus menyiapkan diri untuk berumah tangga.
Suku Wolio
Sumber : national-g-force.blogspot.com dan selasar.com
Referensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Buton
https://egindo.com/mengenal-suku-buton-si-mata-biru-dan-mencari-jodoh/
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Tolaki
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Muna
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Wolio
https://www.kompas.com/stori/read/2023/03/16/190000379/suku-bangsa-asli-di-sulawesi-tenggara