Sulawesi Tenggara merupakan provinsi yang sama dengan provinsi lainnya di Indonesia, dimana pada provinsi ini juga mempunyai beberapa suku yang tinggal di dalamnya. Suku-suku yang ada pada wilayah Sulawesi Tenggara ini masing-masing juga mendirikan kerajaan kecil yang ikut mewarnai sejarah dari provinsi ini.
Bukan hanya itu, suku-suku yang ada pada provinsi tersebut juga mempunyai beberapa kebudayaan masing-masing, contohnya adalah rumah adat. Dimana terdapat 4 jenis rumah adat Sulawesi Tenggara yang mempunyai sejarah dan juga keunikan masing-masing, diantaranya adalah sebagai berikut.
Rumah Adat Laikas
Sumber : romadecade.org
Laikas atau bisa juga disebut dengan Laila Taba merupakan rumah adat Sulawesi Tenggara yang pada umumnya dihuni oleh suku Tolaki. Suku tersebut bisa ditemukan di wilayah Kota Kendari, Konawe Selatan dan Utara serta Kolaka Utara.
Dulunya, raja yang memimpin wilayah ini bisa dikatakan seseorang yang cukup terkenal, yakni Haluoleo. Dimana masyarakat sekitar mempunyai kepercayaan animisme, tetapi setelah masuknya agama Islam ke wilayah ini, menjadikan mereka beralih masuk ke dalam Agama Islam.
Rumah adat yang dimiliki oleh suku Tolaki juga masih mendapat pengaruh dari kepercayaan masyarakat sebelumnya dengan menggunakan analogi tubuh. Dimulai dari bagian depan rumah yang melambangkan kedua tangan dan dagu.
Pada bagian tengah rumah diibaratkan sebagai dua lutut serta pusat bagian tengah diibaratkan sebagai tali pusar. Untuk bagian belakang rumah diumpamakan sebagai kaki kanan dan juga kiri, sedangkan untuk pusat bagian belakang melambangkan alat vital.
Bentuk Rumah Adat Laikas
Rumah adat Laikas mempunyai bentuk seperti rumah panggung, dimana bangunannya terdiri dari tiga atau empat lantai. Bagian tersebut antara lain adalah sebagai berikut.
Bagian kolong yang biasanya dipakai untuk memelihara hewan ternak, tempat penyimpanan alat-alat pertanian dan juga tempat untuk rehat. Selain digunakan untuk tempat hewan ternak, kolong rumah juga ternyata dibangun dengan tujuan untuk menghindari banjir, menghindari hewan buas dan juga membuatnya rumah labuh dingin.
Bagian kedua adalah bagian atas yang juga difungsikan untuk melakukan berbagai macam kegiatan.
Bagian ketiga atau bagian tengahnya yang menyimbolkan perwujudan dari alam semesta.
Pada bagian depan dari rumah adat ini juga berbentuk simetris, dimana pada bagian depan terdapat ruangan yang cukup besar dan difungsikan untuk tempat menerima tamu.
Tangga dari rumah ini juga terbilang cukup unik, karena memang dilengkapi dengan atap, berbeda dengan beberapa rumah adat lainnya.
Pembuatan Rumah Adat Laikas
Arsitektur dari rumah adat Sulawesi Tenggara ini konon katanya dipengaruhi oleh beberapa suku lain, yakni dari suku Bugis, Luwu, dan juga Makassar. Sehingga rumah adat ini mempunyai bentuk ornamen yang beragam.
Bahan yang digunakan untuk membuat rumah adat ini juga terbilang cukup unik, dimana pada saat proses pembangunan rumah tidak dibutuhkan berbagai bahan logam sedikitpun. Karena memang rumah tidak dibangun dengan menggunakan paku, maka biasanya masyarakat akan menggantinya dengan menggunakan bahan material yang alami.
Yakni atap yang terbuat dari bahan material kayu, tetapi suku Tolaki juga bisa membuatnya dengan menggunakan bahan material berupa rumbai alang-alang atau Nipah. Sedangkan pada tiang rumah menggunakan bahan material balok kayu, dengan dinding yang juga dibangun dengan menggunakan papan kayu.
Semua material tersebut kemudian akan disatukan menjadi sebuah bangunan bersamaan dengan serat kayu atau pasak kayu. Dalam pembuatan rumah adat ini biasanya masyarakatnya akan menamakan sikap semangat gotong royong.
Maksudnya disini adalah apabila ada masyarakat yang akan membangun rumah, maka masyarakat yang satu dan yang lainnya akan ikut membantu dengan sukarela. Hal tersebut sangatlah bagus untuk selalu menjaga kerukunan antar masyarakatnya.
Rumah Adat Mekongga
Sumber : rumahadatindonesia.com
Mekongga merupakan salah satu daerah yang dulunya juga berbentuk kerajaan. Kerajaan Mekongga merupakan kerajaan yang bisa dikatakan cukup unik, karena banyak yang mempercayai bahwa kerajaan ini dulunya berhubungan dengan titisan dewa atau semacamnya, raja ini mempunyai salah satu raja yakni Raja Latambaga yang mampu membawa perubahan untuk Mekongga.
Selama masa pemerintahannya, raja Latambaga telah berhasil menyatukan berbagai kelompok masyarakat yang ada di Sini. Salah satu nilai yang diajarkan oleh beliau adalah tentang gotong royong pada saat pembangunan rumah.
Filosofi Rumah Adat Mekongga
Rumah adat Mekongga dulunya dibangun oleh Raja Latambaga yang dijadikan sebagai tempat untuk pertemuan dari pemangku adat. Dimana rumah ini berbentuk rumah panggung tanpa sekat.
Pada zaman ini, alat yang digunakan untuk proses pembangunan rumah sudah terbilang cukup maju, karena adanya pengaruh para pedagang yang berasal dari Luwu.
Sesuai dengan nilai yang sudah diajarkan oleh raja, bahwa rumah adat Sulawesi Tenggara ini dikerjakan dengan bergotong royong, baik dimulai dari pemilihan bahan hingga proses dalam mendirikan rumah.
Tetapi karena seiring berjalannya waktu, rumah adat Mekongga menjadi lapuk dan sudah tidak terurus. Bahkan, sempat juga rumah adat ini mengalami kepunahan dan yang tersisa hanya gambar dokumentasinya saja pada masa penjajahan Belanda.
Setelah Indonesia mereka, wilayah ini telah dimekarkan dan juga dijadikan sebuah kabupaten dengan nama Kolaka. Pada masa ini, masyarakat sekitar kembali membangun rumah adat dengan tetap memperhatikan nilai-nilai dari keaslian rumah. Tetapi masih tetap memberikan sedikit modifikasi pada beberapa bagian dengan ornamen-ornamen yang khas.
Ciri Khas dan Keunikan Rumah Adat Mekongga
Bangunan dari rumah adat ini terbilang cukup luas dengan bentuk segi empat. Dimana luasnya bisa mencapai 2 Ha dan berbentuk seperti rumah adat panggung.
Rumah ini juga mempunyai tiang penyangga yang berjumlah 12 buah, dimana jumlah tiang tersebut melambangkan 12 pemimpin yang berpengaruh di wilayah Mekongga. Tiang ini selain berfungsi sebagai hiasan juga ternyata difungsikan sebagai tiang penyangga bangunan rumah.
Kemudian keunikan lainnya adalah rumah ini mempunyai anak tangga yang berjumlah 30 dimana angka tersebut melambangkan akan helai bulu sayap burung Kongga. Tangga ini juga berfungsi sebagai penghubung antara permukaan tanah dan juga lantai pertama hunian.
Rumah Adat Banua Tada
Sumber : romadecade.org
Rumah adat Banua Tada merupakan salah satu rumah adat Sulawesi Tenggara, dimana rumah adat ini dibangun dengan bahan material kayu serta berbentuk rumah panggung. Dalam proses pembangunannya rumah ini tidak menggunakan paku sama sekali.
Rumah adat Banua ini bisa kalian temukan di wilayah Pulau Buton yang pada umumnya ditinggali oleh masyarakat Suku Wolio. Banua Tada berasal dari bahasa Buton yakni “Banua” yang diartikan sebagai rumah dan kata “Tada” yang mempunyai arti Siku.
Menurut sejarahnya, rumah adat ini pertama kali dibangun pada masa Raja Buton yang pertama yakni Wa Kaa Kaa. Rumah ini dibuat dengan tujuan untuk menghormati raja mereka, dimana pada saat itu rumah dibangun dengan bentuk yang masih sederhana tanpa hiasan apapun.
Tapi tepat pada sekitar tahun 1491 yakni pada waktu sultan pertama dari Kesultanan Buton meninggal, rumah adat ini mulai mengenal berbagai hiasan-hiasan yang membuat rumah semakin menarik.
Bahan Material Pembuatan Rumah Adat Banua Tada
Dalam proses pembangunannya rumah adat ini terbuat dari bahan material kayu dengan kualitas yang unggul, misalnya adalah kayu nangka, kayu jati dan juga bayem. Khusus untuk kayu pohon nangka biasanya digunakan untuk kerangka atap.
Sedangkan pada bagian lantainya, rumah adat ini dibangun dengan menggunakan bahan bambu yang sebelumnya telah direndam dengan menggunakan air garam. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman, rumah adat ini mengalami perubahan pada pondasi rumah yang sudah mulai menggunakan bata dan juga lantainya yang menggunakan papan kayu.
Pada rumah adat ini juga terdapat beberapa simbol hiasan yang dipengaruhi oleh konsep serta ajaran tasawuf. Dimana hiasan tersebut tidak boleh dipasang secara sembarangan karena simbol tersebut pastinya mempunyai makna tersendiri.
Simbol yang diberikan biasanya melambangkan nilai-nilai dari kebudayaan, cerita peradaban dari kesultanan di masa lalu hingga menerapkan kearifan lokal yang ada.
Rumah Adat Bharugano Wuna
Sumber : maitewuna.com
Rumah adat Bharugano Wuna merupakan rumah adat Sulawesi Tenggara yang dijadikan tempat tinggal oleh suku Muna. Dimana suku Muna dikenal telah menjalin hubungan kekerabatan dengan Kerajaan Buton dari silsilah Raja Waa Kaa Kaa.
Rumah adat ini juga bisa dikatakan mempunyai bentuk yang sangat sederhana dan mencerminkan masyarakat Muna itu sendiri. Tiang rumah ini terbuat dari kayu yang kecil dengan dinding yang terbuat dari kulit kayu serta lantai yang terbuat dari bambu.
Pada umumnya rumah ini juga tidak menggunakan paku sana sekali. Melainkan hanya menggunakan sistem ikat yang mengandalkan kulit rotan atau kulit dari kayu waru.
Rumah ini juga berbentuk seperti rumah panggung dengan bagian kolong rumah yang dimanfaatkan sebagai tempat untuk menyimpan alat dan juga hasil dari pertanian. Pemerintah kabupaten Muna tepatnya pada tahun 2017 berinisiatif untuk kembali membangun rumah adat suku Muna dan juga secara resmi memberinya nama Bharugo Wuna yang mempunyai arti tiangnya berjumlah 99.
Jumlah tiang tersebut menyimbolkan nama-nama Allah (Asma’ul Husna). Kemudian terdapat juga ruangan lainnya yang berada di samping kanan , disebut sebagai tambi dan pada bagian depannya juga mempunyai bagian lain yang difungsikan sebagai teras.