Sejarah tradisi Pasar Bandeng merupakan kegiatan tahunan masyarakat Gresik, menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri. Bandeng adalah salah satu komoditas unggulan Gresik yang cukup melimpah ruah.
Tradisi ini pun menjadi salah satu momen yang ditunggu masyarakat. Tradisi ini sudah menjadi acara rutin, sejak Sunan Giri berkuasa memimpin Kerajaan Giri Kedaton.
Pasar Bandeng mulai dilakukan karena banyaknya santri yang membawa pulang bandeng sebagai oleh-oleh selepas iktikaf di Gresik.
Konon, Sunan Giri melihat potensi ikan bandeng yang cukup melimpah sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk meningkatkan taraf kehidupan mereka. Dari situ, tradisi pasar bandeng diadakan, mulai dari lomba hingga lelang yang bisa dilihat dan diikuti seluruh masyarakat Gresik.
Semakin meriahnya tradisi itu membuat pengunjung pasar tidak hanya dari Gresik, tetapi juga dari daerah sekitar. Bahkan, lokasi yang dulu hanya ada di sekitar Pasar Krempyeng, kini semakin meluas dari Jalan Suryo hingga Alun-alun Kabupaten Gresik.
Tradisi malem selawe sudah banyak yang mengetahui, khususnya bagi masyarakat Gresik. Apa itu malem selawe? Tradisi ini merupakan sebuah tradisi masyarakat Giri yang sudah ada sejak zaman Sunan Giri, salah satu tokoh Wali Songo, salah satu penyebar Islam di Jawa.
Menurut sejarah, tradisi malam selawe merupakan kegiatan rutin yang dilakukan di zaman Sunan Giri. Seorang penyiar agama Islam di Pulau Jawa. Saat itu, sebelum mudik, Raden Paku (Sunan Giri) mengajak para santrinya beri'tikaf di Masjid Giri dengan harapan mendapat berkah malam istimewa di Bulan Ramadhan.
Putra Alm KH. Muchtar Jamil, Fakhruddin Fakhry mengatakan malem selawe berarti mendekati hari ke-25 Ramadhan. Malam selawe berlangsung semua jalan sunan giri disana terdapat banyak makanan yang di jual dan pastinya banyak peminatnya.
NMalam Satu Suro merupakan hari penting yang tercatat dalam kalender Jawa, ditandai sebagai awal dari bulan Sura atau Suro.
Perayaan ini bertepatan dengan tanggal 1 Muharam dalam kalender Hijriah. Malam Satu Suro adalah momen khusus yang merujuk pada hari pertama dalam kalender Jawa, yang bersamaan dengan bulan pertama dalam kalender Hijriah, yaitu Muharam.
Oleh sebab itu, perayaan Malam Satu Suro kerap kali bersamaan dengan Tahun Baru Islam atau 1 Muharam. Masyarakat Jawa menggunakan istilah Suro atau Sura untuk menyebut bulan.
Istilah suro berasal dari bahasa arab Asyura, yang berarti sepuluh. Dalam dialek Jawa, istilah ini kemudian dilafalkan menjadi Suro atau di beberapa daerah, dikenal sebagai Suran.
Peringatan Malam Satu Suro biasanya diperingati pada malam hari setelah magrib di hari sebelum tanggal 1 Sura atau 1 Muharam.
Ini didasarkan pada keyakinan Jawa bahwa pergantian hari dimulai saat matahari terbenam pada hari sebelumnya.