Sarana Untuk Menyampaikan Informasi Seputar Obat dan Perbekalan Farmasi Lainnya Kepada Masyarakat
Sarana Untuk Menyampaikan Informasi Seputar Obat dan Perbekalan Farmasi Lainnya Kepada Masyarakat
disampaikan oleh apt. Yardi, Ph.D
Ketika kita menggunakan suatu obat, tentunya yang kita harapkan adalah kesembuhan. Sembuh dari penyakit yang sedang dialami. Efek menyembuhkan yang diharapkan dari obat ini disebut dengan efek terapi atau efek utama dari obat. Pertanyaannya adalah apakah obat hanya memiliki efek terapi ? Jawabannya "tidak". Kita sering mendengar bahwa banyak masyarakat yang takut untuk menggunakan obat kimia karena memiliki efek samping. Efek samping ini juga merupakan efek lain yang bisa ditimbulkan oleh obat. Efek obat bisa kita jelaskan sebagai berikut :
· Efek terapi : Efek ini adalah efek yang diharapkan dari suatu obat. Misalnya paracetamol dengan dosis 500 mg dapat menurunkan panas tubuh orang dewasa atau pada dosis yang lebih kecil untuk anak-anak. Glibenklamid memberikan efek terapi menurunkan kadar gula pada penderita diabetes. Satu obat bisa memiliki beberapa khasiat/ efek terapi. Misalnya parasetamol, disamping menurunkan suhu tubuh, obat tersebut juga berefek meredakan rasa nyeri seperti nyeri akibat sakit kepala atau gigi. Amlodipin bisa digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi dan angina.
· Efek samping : Efek samping merupakan efek yang dapat ditimbulkan oleh obat selain efek terapinya. Efek ini terjadi pada dosis terapi. Tingkat kejadian efek samping ini sangat bervariasi antara satu obat dengan obat lainnya. Efek samping ini juga tidak dialami oleh semua orang, karena masing-masing orang memiliki kepekaan dan kemampuan untuk mengatasi efek ini secara berbeda-beda. Efek samping suatu obat bisa lebih banyak dibandingkan efek terapinya. Contohnya adalah amlodipin (obat tekanan darah tinggi). Efek samping yang umum terjadi adalah jantung berdebar (sampai 4,5%), nyeri perut (1.6%), mual (2.9%), sakit kepala (7.3%), lemas (4.5%), dan lain-lain. Persentase dalam tanda kurung menunjukkan jumlah kejadian. Angka tersebut menunjukkan bahwa efek samping obat hanya terjadi pada beberapa persen penggunanya saja. Tidak selamanya efek samping ini merugikan. Pada kondisi tertentu efek ini bisa dimanfaatkan. Misalnya efek mengantuk akibat obat antihistamin, bermanfaat pada anak yang sedang batuk flue agar bisa beristirahat dengan baik. Efek samping ini bisa diperkirakan, tetapi ada juga yang tidak, seperti reaksi alergi. Reaksi alergi yang mungkin sudah sering kita dengar misalnya alergi terhadap penisilin. Beberapa kejadian lain seperti ada konsumen obat yang mengalami reaksi pada kulitnya yang seperti terbakar setelah mengkonsumsi suatu obat.
· Efek toksik : Toksik berarti racun. Berefek toksik artinya obat bisa menyebabkan keracunan. Beda antara obat dan racun terletak pada dosisnya. Jika obat digunakan pada dosis yang melebihi dosis terapinya, obat tersebut akan berefek sebagai racun. Obat bisa menyebabkan keracunan pada berbagai anggota tubuh terutama anggota tubuh yang banyak dilewati oleh aliran darah. Contonya adalah ginjal (cefalexin, cisplatin, gentamisin); hati (contoh obat parasetamol, isoniazid, clorpromazin); paru-paru (contoh obat amiodaron, bleomisin ); sistem reproduksi (contoh obat kanker bisa menimbulkan fertilitas pada pria ); dan lain-lain.
Sebagai pengguna obat. Kita sebaiknya memahami berbagai efek yang bisa ditimbulkan oleh obat yang sedang kita gunakan. Baik efek terapi, efek toksik dan juga efek sampingnya. Pemahaman ini sangat diperlukan agar kita bisa lebih waspada terhadap segala kemungkinan yang bisa terjadi. Misalnya setelah mengkonsumsi suatu obat, apabila terjadi efek samping yang telah kita ketahui sebelumnya, tentunya hal ini tidak akan membuat kita menjadi panik. Kita tinggal memperkirakan, jika efek samping yang terjadi masih bisa ditolerir, kita bisa terus menggunakan obat tersebut. Tetapi sebaliknya, jika efek samping obat tadi dirasakan sangat mengganggu, kita bisa dengan cepat memberitahukannya kepada dokter ataupun apoteker untuk dicarikan jalan keluarnya. Misalnya dengan mencari obat lain yang memiliki khasiat sama, dengan efek samping yang lebih ringan. Informasi mengenai efek obat ini bisa diperoleh dari dokter, apoteker atau sumber-sumber lainnya.