A. Pengertian Adab dan Silaturahmi
Adab secara bahasa artinya kesopanan ramah, budi pekerti menerapkan akhlak. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menyebutkan:
وَالْأَدَبُ اسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلًا وَفِعْلًا وَعَبَّرَ بَعْضُهُمْ عَنْهُ بِأَنَّهُ الْأَخْذُ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ
Artinya: "Al adab artinya menerapkan segala yang dipuji oleh orang, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga mendefinsikan, adab adalah menerapkan akhlak-akhlak yang mulia" (Fathul Bari, 10/400).
Secara etimologi, kata adab berasal dari Bahasa Arab yakni Addaba Yu'adibu - Ta'diban yang dapat diartikan sebagai sebuah proses mendidik atau pendidikan. Sedangkan dalam bahasa Yunani, adab (etika) diambil dari kata ethicos atau ethos, yang artinya kebiasaan, perasaan batin, dan kecenderungan hati untuk melakukan suatu perbuatan. Jadi, adab adalah aturan atau norma mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama. Norma tentang adab ini digunakan dalam pergaulan antar manusia, antar tetangga, dan antar kaum. Secara keseluruhan, adab memiliki arti segala bentuk sikap, perilaku atau tata cara hidup yang mencerminkan nilai sopan santun, kehalusan, kebaikan, budi pekerti atau akhlak.
Sementara, dalam syarahnya Al-Tausyih Syarh Al-Jami' As-shahih disebutkan bahwa adab adalah selalu melakukan hal-hal yang baik atau memiliki akhlak- akhlak yang baik. Adab juga kaitannya dengan akal, karena akal yang baik akan membentuk adab seseorang yang baik pula.
B. Kedudukan Adab dalam Islam
Imam Malik pernah menyampaikan kepada para muridnya, "Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu." Begitu pula yang diperintahkan ulama-ulama lainnya. Islam lebih meninggikan dan memuliakan orang-orang yang memiliki adab/akhlak daripada mereka yang berilmu. Ini juga yang menjadi misi utama kenabian Rasulullah Saw. Rasulullah bersabda,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتِمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak." (HR. Al-Baihaqi).
Banyaknya ilmu yang dimiliki oleh seseorang akan menjadi sia-sia jika tidak memiliki adab atau akhlak dalam dirinya. la akan kesulitan menemukan jalan yang semestinya, karena adab dan akhlaklah yang menjadi pembatas serta memberikan arahan bagaimana menyikapi ilmu tersebut.
Jadi, kualitas diri seseorang bukan dilihat dari seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tetapi bagaimana akhlaknya dalam memanfaatkan ilmunya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang mulia akhlaknya."
Adab menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan, baik kehidupan sendiri, keluarga, maupun sosial. Dengan adab, seorang Muslim yang sejati akan menjadi mulia di hadapan Allah dan Rasul-Nya serta sesama manusia.
Sumber: https://www.detik.com/hikmah/dakwah/d-6716083/adab Tak hanya itu, adab menjadi salah satu amal yang bisa ditanamkan kepada diri sendiri sebagai bekal pahala di akhirat kelak. Disebutkan dalam hadits, "Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia." (HR. Tirmidzi)
C. Pengertian Silaturahmi
Kata silaturahmi sudah sangat sering kita dengar dilingkungan kita masing- masing, namun cerita pendek dibawah ini penting untuk dibaca agar membantu kita lebih mudah dalam memahami secara utuh melalui contoh langsung. Beriktu cerita pendek kisah Haji Ali yang inspiratif untuk kita.
Selanjutnya teman-teman dapat memahami makna silaturhami dengan mengunjungi link: https://muhammadiyah.or.id/2021/06/silaturahmi-atau- silaturahim agar pemahaman dari cerita pendek diatas lebih lengkap dan sempurna.
D. Cara Menjalin Silaturhami
Menjalin silaturahmi antar umat Islam sangat diwajibkan oleh Allah SWT. Keutamaan menjaga silaturahmi sangat bermanfaat bagi kehidupan dan kegiatan sehari-hari. Oleh sebab itu, silaturahmi yang baik harus selalu dijalin. Dengan adanya silaturahmi maka akan tercipta suatu hubungan yang baik. Kerukunan akan terjalin dan suasana tentram tercipta saat bertemu satu sama lain.
Allah Swt berfirman dalam surat An-Nisa ayat 36.
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْنِى وَالْيَتَنى لا وَالْمَسْكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ
وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًا
Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak- anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.
E. Cara Menjaga Hak-Hak Tetangga
Kita pada umumnya mengharapkan tinggal dalam suatu lingkungan yang harmonis. Lingkungan yang saling menghargai, tidak saling menyakiti antara yang satu dengan yang lain, baik dalam bentuk perbuatan maupun hanya sekedar ucapan. Tidak berselisih walaupun di dalamnya terdapat orang yang berbeda-beda. Betapa indahnya! Kami yakin bahwa kita semua menginginkannya.
Islam berusaha mewujudkan hal tersebut dan salah satu metodenya adalah dengan menekankan bagi pemeluknya untuk menunaikan hak-hak para tetangga. Islam memerintahkan untuk senantiasa berbuat baik terhadap tetangganya dan tidak menyakiti mereka. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri" (QS. An Nisaa': 36).
Orang yang tidak berbuat baik kepada tetangganya, bahkan tetangganya merasa terganggu dengan perbuatan ataupun perkataannya yang keji, maka orang seperti ini berhak untuk masuk neraka. Rosululloh Saw bersabda," Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya" (HR. Bukhori dan Muslim).
Beberapa hak tetangga yang wajib kita ditunaikan adalah:
a.) Tidak menyakitinya baik dalam bentuk perbuatan maupun perkataan
Dalilnya telah disebutkan di atas. Sebagian kaum muslimin merasa 'enjoy' menyakiti tetangganya dengan cara menggunjing dan menceritakan kejelekannya. Wahai saudaraku, sungguh ucapan itu telah menyakiti tetangga kita walaupun dia tidak mengetahuinya.
Menolongnya dan bersedekah kepadanya jika dia termasuk golongan yang kurang mampu. Termasuk hak tetangga adalah menolongnya saat dia kesulitan dan bersedekah jika dia membutuhkan bantuan. Rosululloh Saw bersabda, "Barangsiapa yang menghilangkan kesulitan sesama muslim, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan dari berbagai kesulitan di hari kiamat kelak" (HR. Bukhori). Beliau juga bersabda, "Sedekah tidak halal bagi orang kaya, kecuali untuk di jalan Allah Swt atau ibnu sabil atau kepada tetangga miskin..." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
b). Menutup kekurangannya dan menasihatinya agar bertaubat dan bertakwa kepada Allah Swt.
Jika kita mendapati tetangga kita memiliki cacat maka hendaklah kita merahasiakannya. Jika cacat itu berupa kemaksiatan kepada Allah Ta'ala maka nasihatilah dia untuk bertaubat dan ingatkanlah agar takut kepada adzab-Nya. Rosululloh Saw bersabda, "Barangsiapa menutupi aib muslim lainnya, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat kelak" (HR. Bukhori).
c). Berbagi dengan tetangga
Jika kita memiliki nikmat berlebih maka hendaknya kita membagikan kepada tetangga kita sehingga mereka juga menikmatinya. Rosululloh Saw bersabda, "Jika Engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya dan bagikan kepada tetanggamu" (HR. Muslim). Dan tidak sepantasnya seorang muslim bersantai ria dengan keluarganya dalam keadaan kenyang sementara tetangganya sedang kelapan kenyang sementara tetangga sebelahnya kelaparan" (HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod).