-Ir.Soekarno (dalam Buku Kumpulan Kata-Kata Mutiara Kesejarahan (2010) yang diterbitkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Direktorat Nilai Sejarah)
Dani dan keluarganya selesai melaksanakan ibadah bersama. Bapak Dani memberanikan diri untuk memberi tahu anggota keluarganya. Ia diberhentikan dari pekerjaannya karena pabrik tempatnya bekerja terdampak pandemi Covid 19.
“Bapak mau keliling jualan donat kentang, ya, Bu! Ibu siap bantu Bapak membuat donatnya, ya?” ucap Bapak Dani.
“Ibu selalu siap membantu Bapak,” jawab Ibu Dani.
“Bapak, aku boleh tidak bantu jual donatnya di sekolah?” sahut Dani.
“Ya, Tuhan, terima kasih ya, Nak. Kamu memang anak yang baik, mau bersedia membantu keluarga ini,” Bapak Dani menanggapi.
Ternyata Dani tidak menjual donatnya di sekolah saja. Ia kembali berjualan donat keliling ke rumah-rumah sepulang sekolah. Sorenya ia tetap mengaji. Malamnya, ia selalu belajar untuk mengulangi pelajaran dan belajar untuk pelajaran hari berikutnya.
“Nak, apa kamu tidak capek setiap hari seperti ini?” tanya Bapak kepada Dani yang sedang belajar.
“Tidak, Pak. Dani senang sekali melakukannya,” jawab Dani.
“Kalau lelah melakukan ini semua, kamu fokus saja belajar. Biar bapak dan ibu saja yang berjualan,” ucap Bapak menegaskan.
“Tidak Pak, tidak apa-apa. Dani justru jadi punya uang tabungan dari hasil jualan donat. Dani mau beli sepatu baru, Pak,” jawab Dani menyakinkan.
“Bapak bangga sama kamu, Dani. Bapak jadi teringat semangat para pahlawan bangsa ini yang gagah berani, pantang menyerah, dan rela berkorban harta dan nyawa dalam melawan penjajah demi meraih kemerdekaan Indonesia,” ucap Bapak memuji Dani.
“Oh ya, Pak. Tadi di sekolah, Bu Ika juga mengatakan bahwa kita harus memiliki karakter seperti karakternya para perumus Pancasila, seperti berani berjuang dan berkata benar, berjiwa besar, menghargai pendapat orang lain, mengutamakan persatuan bangsa, pantang menyerah, dan rela berkorban. Makanya, Dani sangat semangat Pak, belajar dan membantu Bapak berjualan donat,” ucap Dani memberi tahu.
“Anak bapak memang hebat luar biasa,” sahut Bapak memuji Dani
Keluarga Dani terus berusaha dan berdoa setiap hari. Akhirnya mereka mampu menjalani kehidupan sehari-hari dalam keadaan serba kecukupan. Ayah sudah punya kios sendiri dan Dani punya sepatu baru dari hasil tabungannya sendiri. Benar apa kata sebuah ungkapan, “Hasil tidak akan mengkhianati usaha”.
(Sumber Buku Pendidikan Pancasila Siswa Kelas IV)
29 Mei 1945
31 Mei 1945
1 Juni 1945
Berikut ini beberapa contoh sikap yang ditampilkan oleh para tokoh pendiri negara pada saat merumuskan Pancasila:
a. Menghargai perbedaan pendapat
Pada saat musyawarah perumusan Pancasila banyak sekali tokoh yang mengemukakan gagasannya mengenai rumusan dasar negara tersebut, di antaranya Muhammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno. Mereka masing-masing mengemukakan gagasan yang cemerlang. Akan tetapi meskipun demikian pendapat tersebut tidak semuanya dapat dijadikan keputusan. Kondisi tersebut tidak membuat para tokoh berlomba-lomba untuk mempengaruhi peserta musyawarah yang lain untuk memilih pendapat yang dikemukakannya, namun mereka justru mendorong tokoh yang lainnya untuk mengemukakan gagasan yang lain. Mereka juga tidak memaksakan pendapatnya kepada yang lain.
Sikap yang ditampilkan para tokoh tersebut menunjukkan bahwa mereka menghargai perbedaan pendapat. Mereka menganggap perbedaan pendapat sebagai keuntungan bagi bangsa Indonesia. Mereka kemudian mencari titik persamaan di antara perbedaan pendapat tersebut dengan selalu berlandaskan kepada kepentingan bangsa dan negara.
b. Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara
Para tokoh yang ikut merumuskan Pancasila tidak hanya berasal dari satu golongan saja. Mereka berasal dari berbagai golongan. Agama dan suku bangsa mereka juga berbeda. Akan tetapi mereka ikut serta dalam proses perumusan Pancasila dengan tujuan utama memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara. Mereka mengesampingkan kepentingan golongannya. Hal tersebut bisa kita lihat ketika para anggota PPKI dari kalangan umat Islam menerima perubahan isi sila pertama Pancasila. Mereka tidak ngotot mempertahankan isi sila yang tercantum dalam rumusan Piagam Jakarta, akan tetapi mereka sadar bahwa kepentingan bangsalah yang harus diutamakan.
c. Menerima hasil keputusan bersama
Tokoh-tokoh pendiri negara yang tergabung dalam PPKI pada saat merumuskan perubahan Piagam Jakarta memberi teladan dalam menerima keputusan bersama. Pada saat itu PPKI menerima masukan agar rumusan dasar negara pada Piagam Jakarta diubah. Seluruh anggota PPKI tidak nenolak masukan tersebut. Para anggota PPKI bermusyawarah untuk mencari jalan keluar yang terbaik demi keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Pada akhirnya, para anggota PPKI berhasil mencapai kesepakatan. Perubahan Piagam Jakarta disetujui sebagai keputusan bersama. Keputusan tersebut bukanlah keputusan perseorangan, namun merupakan keputusan yang telah dipertimbangkan secara matang. Semua anggota PPKI menerima dan melaksanakan keputusan tersebut secara ikhlas dan bertanggung jawab.
d. Mengutamakan persatuan dan kesatuan
Proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara dilakukan melalui proses musyawarah untuk mufakat dalam sidang BPUPKI. Pada sidang tersebut, semua anggota BPUPKI diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasannya mengenai rumusan dasar negara, kemudian dibahas dan didiskusikan bersama. Dengan demikian dalam persidangan tersebut muncul perbedaan pendapat, akan tetapi meskipun demikian mereka tetap mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Perubahan Piagam Jakarta dilakukan untuk mencegah perpecahan. Demi persatuan dan kesatuan isi sila pertama Pancasila yang terdapat dalam rumusan Piagam Jakarta diubah dari Ketuhanan, dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.