A. Latar Belakang Penelitian
Energi tak terbarukan banyak digunakan oleh masyarakat luas karena harganya yang terjangkau dan mudah untuk didapatkan. Energi tak terbarukan (nonrenewable energy) yang dimaksud adalah energi yang didapatkan dari sumber daya alam dengan jumlahnya yang terbatas sehingga memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menggantikannya atau bahkan akan habis suatu saat. Energi tersebut digunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam keperluan rumah tangga, salah satunya penggunaan liquified petroleum gas (LPG) pada kompor gas.
Berdasarkan data yang dikutip dari artikel dataindonesia.id, konsumsi LPG di Indonesia mencapai 72,92 juta barel setara minyak (BOE) pada 2021. LPG tersebut berasal dari penyulingan minyak bumi yang tidak dapat digunakan dalam jangka panjang karena persediaannya akan habis. Beberapa masyarakat telah beralih dari kompor gas ke kompor listrik. Namun, penggunaan kompor listrik tidak bisa menjadi alternatif karena sebagian besar pembuatannya tetap berasal dari pembakaran batu bara. Oleh karena itu, dibutuhkan alternatif lain yang dapat diperbarui dan digunakan secara berkelanjutan.
Pada biogas, limbah organik diproses agar menghasilkan gas metana yang dapat digunakan sebagai energi alternatif. Biogas mengubah limbah tersebut menjadi gas metana dan karbon dioksida. Lama proses pembentukan gas metana bergantung pada tipe penggunaan dan jumlah setiap produksinya. Secara umum, gas tersebut akan terbentuk dalam kurun waktu tiga minggu sebelum dapat digunakan. Saat ini energi biogas belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat umum dan baru digunakan oleh perusahaan-perusahaan industrial karena diperlukan waktu yang lama untuk membentuk satu produk biogas. Dengan demikian, diperlukan unsur atau bahan tertentu yang dapat menunjang percepatan produksi gas metana pada biogas.
B. Rumusan Masalah Penelitian/ Pertanyaan Penelitian
Mengacu pada latar belakang yang sudah tercantum di atas, maka rumusan masalah yang dapat diambil adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana perbedaan yang terjadi pada reaktor biogas dengan limbah organik yang masing-masing reaktor diberikan katalisator telur ayam, kacang kedelai, dan Effective Microorganism (EM4)?
2. Katalisator mana yang paling efektif untuk mempercepat pembentukan gas metana pada reaktor biogas?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui perbedaan yang terjadi pada reaktor biogas dengan limbah organik yang masing-masing reaktor diberikan katalisator telur ayam, kacang kedelai, dan Effective Microorganism (EM4).
2. Mengetahui katalisator yang paling efektif untuk mempercepat pembentukan gas metana pada reaktor biogas.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
a. Dapat memberikan manfaat bagi peneliti untuk memperluas pengetahuan mengenai energi alternatif biogas
b. Dapat mengetahui apabila bahan telur ayam, kacang kedelai, dan Effective Microorganism (EM4) bisa meningkatkan produksi biogas
2. Bagi Pihak Lain
a. Dapat mengurangi konsumsi bahan bakar yang tidak terbarukan
b. Dapat menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan
A. Pengertian Biogas
Dalam jurnal (Aidha, 2017) biogas merupakan salah satu dari banyaknya sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan juga dikembangkan di Indonesia. Hasil gas dari proses biogas tersebut berasal dari berbagai macam limbah organik seperti sampah biomassa juga limbah kotoran. Limbah tersebut kemudian bisa dimanfaatkan menjadi biogas melalui proses anaerobic digestion. Hal ini dilakukan dengan harapan akan mengurangi pengaruh dari penggunaan bahan bakar fosil yang hingga kini masih ramai digunakan oleh masyarakat Indonesia. Adapun keuntungan dari penggunaan sistem biogas ini yaitu lebih ramah lingkungan, merupakan energi terbarukan tidak seperti bahan bakar fosil, juga produk akhirnya bisa digunakan sebagai pupuk organik. Hingga kini pemanfaatan limbah biomassa seperti sampah organik belum dikelola dengan optimal. Padahal jenis sampah ini selalu menumpuk di pemukiman masyarakat. Apabila tidak dikelola dengan baik, sampah organik tentu akan berdampak langsung bagi lingkungan juga kesehatan manusia. Maka, diperlukan cara lain untuk bisa mengelola hal tersebut yang lebih efektif, salah satunya dengan memanfaatkan energi alternatif biogas. Bila diuraikan secara rinci, pembentukan biogas melibatkan tiga proses utama, yaitu proses hidrolisis, pengasaman (asidifikasi), dan metanogenesis.
Hidrolisis
Hidrolisis merupakan tahap awal dari proses fermentasi. Tahap ini merupakan pemecahan bahan organik menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan menggunakan senyawa kompleks yang memiliki sifat mudah larut, seperti lemak, protein, dan karbohidrat. Langkah ini juga dapat diartikan sebagai perubahan struktur dari bentuk polimer menjadi bentuk monomer. Senyawa yang dihasilkan dalam proses hidrolisis antara lain senyawa asam organik, glukosa, etanol, CO2 dan senyawa hidrokarbon lainnya. Mikroorganisme menggunakan senyawa ini sebagai sumber energi untuk melakukan aktivitas fermentasi.
Pengasaman (Asidifikasi)
Senyawa-senyawa yang terbentuk pada tahap hidrolisis digunakan oleh mikroorganisme sebagai sumber energi pada tahap selanjutnya, yaitu pengasaman atau asidifikasi. Pada tahap ini, bakteri akan menghasilkan senyawa-senyawa asam organik seperti asam asetat, asam propionat, asam butirat, dan asam laktat serta produk sampingan berupa alkohol, CO2, hidrogen, dan zat amonia.
Metanogenesis
Bakteri metanogen seperti Methanococcus, Methanosarcina, dan Methanobacterium mengubah produk lanjutan dari tahap pengasaman menjadi gas metana, karbon dioksida, dan air yang merupakan komponen penyusun biogas
Berdasarkan proses tersebut didapatkan rumus (Saragih & M.K., 2010) sebagai berikut:
Glukosa karbon dioksida metana
C6H12O6 -----> 3(CO2) + 3(CH4)
B. Pemanfaatan Sampah Organik
Berdasarkan artikel (Dana Mitra Keluarga, 2014) sampah merupakan sisa hasil aktivitas manusia yang terkadang menimbulkan masalah. Seiring berjalannya waktu, volume sampah yang tidak sebanding dengan kapasitas pengolahan menimbulkan masalah seperti pencemaran lingkungan dan bau yang mengganggu aktivitas manusia. Sampah organik akan mengalami pembusukan yang nantinya akan menimbulkan bau dari gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2). Gas metana hasil pembusukan sampah dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar biogas. Gas metana juga menentukan energi dan kalor yang dihasilkan pada biogas. Semakin tinggi kandungan metana, maka semakin besar kandungan energi (nilai kalor) pada biogas. Sebaliknya, semakin kecil kandungan gas metana, semakin kecil nilai kalor. Rumah tangga sebagai penghasil sebagian besar sampah organik berpotensi menghasilkan biogas yang bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari.
Sampah organik tersebut ditambahkan air sesuai takaran kemudian dimasukkan ke dalam reaktor penampungan yang digunakan dalam proses fermentasi. Biogas yang diperoleh dari sampah organik bertujuan untuk meringankan beban rumah tangga dan menjadi sumber energi alternatif baru dan terbarukan yang dampaknya relatif kecil terhadap pencemaran lingkungan.
C. Katalis Pembusukan
Limbah yang digunakan pada proses produksi biogas memerlukan tahapan pembusukan. Limbah tersebut memerlukan waktu pembusukan hingga tiga minggu untuk menghasilkan gas metana yang efektif digunakan sebagai bahan dasar bahan bakar alternatif. Sebagai hasilnya, diperlukan katalis pembusukan yang dapat mengoptimalkan waktu untuk satu produksi biogas. Produksi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor (Pambudi dan Suhendi, 2018) yaitu sebagai berikut.
1. Kondisi Lingkungan
Lingkungan yang digunakan untuk produksi biogas harus dalam keadaan anaerob, yaitu keadaan saat lingkungan tersebut hampa udara. Jika terjadi kebocoran pada reaktor, tidak ada gas metana yang dihasilkan.
2. Jenis Bakteri
Tiga jenis bakteri terlibat dalam pembuatan biogas, yaitu bakteri pembentuk asam, bakteri pembentuk asetat dan bakteri pembentuk gas metana. Bakteri pembentuk asam tersebut memecah bahan organik menjadi asam lemak, lalu bakteri pembentuk asetat mengubah asam lemak dan senyawa netral yang lebih besar dari metanol menjadi asetat dan hidrogen. Bakteri pembentuk metana kemudian menguraikan kembali lebih lanjut menjadi biogas.
3. Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman atau biasa disebut dengan pH (Power of Hydrogen) yang terlalu asam atau terlalu basa sangat mempengaruhi kinerja dari mikroorganisme. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dikatakan bahwa salah satu faktor penting dalam proses fermentasi anaerob adalah pH. pH dalam reaktor penampungan harus dijaga pada kisaran 6,8-7 di mana proses fermentasi anaerob berlangsung pada kisaran pH 6-8 dengan pH optimum sekitar 7.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, bahan penambah yang bisa digunakan sebagai katalis pembentukan pada biogas adalah sebagai berikut.
1. Asam Amino
Asam amino dapat diperoleh dari bahan yang memiliki kandungan protein seperti telur dan kacang-kacangan. Berdasarkan jurnal (Martasanti, 2002) telur ayam memiliki kandungan asam amino sebanyak 17 macam dengan kadar sebagai berikut: asam aspartat 0,95%, treonin 0,34%, serin 0,51%, asam glutamat 1,16%, glisin 0,30%, alanin 0,49%, valin 0,28%, metionin 0,15%, isoleusin 0,28%, tirosin 0,25%, fenilalanin 0,43%, lisin 0,44%, histidin 0,15%, arginin 0,47%, prolin 0,30%.
Setelah melalui proses hidrolisis, protein yang terdapat pada telur ayam akan membentuk asam amino yang nantinya akan dibutuhkan pada proses asidifikasi untuk membentuk gas metana yang diperlukan pada biogas. Dijelaskan dalam jurnal (Arifin, 2016) bahwa sebagian besar limbah pabrik tempe merupakan limbah cair yang mengandung air sisa dari pemasakan kedelai dan air rendaman kedelai.
Limbah air tempe tidak hanya mengandung padatan terlarut, tetapi juga padatan yang terendapkan seperti biji kedelai yang hancur selama pengolahan. Dampak dari limbah padat belum terasa terhadap lingkungan karena dapat digunakan untuk pakan ternak. Namun, limbah cair akan mengakibatkan bau tidak sedap dan mencemari sungai jika dibuang ke dalamnya
Melihat karakteristik limbah cair tempe di atas, limbah cair tempe tergolong limbah cair yang banyak mengandung bahan organik dan biasanya bersifat biodegradable atau mudah terurai oleh mikroba. Kondisi tersebut sangat menguntungkan untuk diolah dengan proses biologis, yaitu pemanfaatan kehidupan mikroba untuk mengurai zat organik.
2. Bakteri Pengurai
Bakteri pengurai umum digunakan dalam produksi pupuk juga biogas organik. Salah satu bakteri pengurai yang dapat digunakan adalah Effective Microorganism (EM4). Berdasarkan jurnal (Irawan & Suwanto, 2016) Effective Microorganism (EM4) merupakan suatu cairan berwarna coklat dengan aroma asam manis yang mengandung campuran beberapa mikroorganisme hidup yang berguna dalam proses penyerapan unsur hara tanah. Mikroorganisme atau kuman dengan sifat menguntungkan itu terdiri dari bakteri 6 fotosintetik, bakteri asam laktat, ragi, actinomycetes, dan jamur peragian. EM4 yang digunakan untuk mempercepat dekomposisi adalah inokulan dari jenis EM4. Inokulan mikroorganisme yang terdiri dari 90% Lactobacillus sp ini menghasilkan asam laktat yang dapat mempercepat penguraian bahan organik seperti lignin dan selulosa.
D. Percepatan Pembusukan
Pembusukan sampah organik dapat terjadi segera setelah buah dan sayur dipanen. Hal ini disebabkan oleh kandungan air sebesar 90 persen atau lebih pada sebagian besar buah dan sayuran. Saat buah dan sayur dipetik, aliran air yang merupakan sumber terpenting buah dan sayur terputus. Ini berarti buah dan sayur kehilangan kelembapan yang menyebabkan pembusukan.
Udara kering di dalam lemari es juga dapat memicu pembusukan buah dan sayur. Hal ini juga berlaku untuk udara yang terlalu lembap karena dapat menjadi tempat berkembang biaknya mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Saat mikroorganisme ini tumbuh, enzim dilepaskan sehingga proses dekomposisi berlangsung secara cepat.
Jika terlalu banyak terkena sinar matahari, kulit buah dan sayur yang merupakan pelindung terpenting mudah membusuk. Lapisan luar yang membusuk ini disebut fotodegradasi; yang menyebabkan perubahan warna, hilangnya rasa, vitamin dan protein.
E. Definisi Operasional
Berdasarkan latar belakang dan kajian teori yang sudah dipaparkan sebelumnya, perlu definisi secara operasional untuk beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini. Berikut ini adalah definisi operasional dari istilah yang digunakan.
1. Gas metana adalah gas yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah organik.
2. Biogas adalah gas alami yang dihasilkan dari penguraian bahan organik oleh bakteri yang dapat digunakan sebagai sumber energi.
3. Katalisator adalah sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru atau mempercepat suatu peristiwa. Katalisator yang digunakan untuk mempercepat pembentukan gas metana pada biogas sampah organik adalah telur ayam, kacang kedelai, dan bakteri pengurai EM4.
Proses Utama Pembentukan Biogas
A. Desain Penelitian
Penelitian kami merupakan bentuk eksperimen penelitian dari sampah organik sebagai bahan utama yang nantinya akan diproduksi tiga jenis biogas dengan telur ayam, kacang kedelai, dan Effective Microorganism (EM4) sebagai katalisatornya. Pada penelitian ini hasil akhir produksi gas metana, nyala api, dan efektivitas waktu untuk setiap biogas dibandingkan.
B. Prosedur Penelitian
1. Perencanaan
a. Penelitian ini dilakukan untuk memenuhi proyek kolaborasi
b. Ide dan referensi yang kami dapatkan berawal dari beberapa artikel dan jurnal yang menjelaskan tentang biogas
c. Masalah yang dirumuskan adalah bagaimana proses dan terjadinya biogas yang diberikan pada masing-masing reaktor dengan katalis yang berbeda
2. Perancangan
a. Pengumpulan alat dan bahan
- Bahan reaktor biogas: ember 18,9 liter, selang akuarium, pipa 1,5 inch, fitting plastik, valve/katup udara, dan konektor selang
- Alat bantu: gunting, cutter, lem tembak, dan Dextone (lem epoxy)
- Bahan baku biogas: sampah organik
- Katalisator biogas: telur ayam, kacang kedelai, dan EM4
b. Tahap pembuatan reaktor biogas
- Langkah pertama, siapkan ember, buat dua lubang pada tutup ember sesuai dengan diameter pipa dan diameter selang
- Langkah kedua, masukkan pipa 1,5 inch sepanjang 20 cm agar pipa terendam volume sampah organik. Setelah itu, di antara pipa dan tutup ember direkatkan menggunakan lem sampai tidak ada celah udara keluar masuk
- Langkah ketiga, masukkan konektor selang dan rekatkan menggunakan lem
- Langkah keempat, fitting plastik dipasangkan di atas tutup botol yang tersambung dengan reaktor biogas melalui selang plastik, ujung fitting yang lainnya dipasangkan valve yang berfungsi sebagai katup pengatur udara
- Langkah terakhir, siapkan pentil stainless pada ujung selang.
3. Penelitian
Setelah ketiga reaktor biogas siap digunakan, maka langkah berikutnya adalah.
3.1. Penelitian pada reaktor dengan katalisator telur ayam
a. Langkah pertama, masukkan 7 kg sampah organik yang sudah dicacah atau ditumbuk, kemudian tambahkan 1,5 liter air sebagai media
b. Langkah kedua, tambahkan 1 kg telur ayam sebagai katalis
c. Langkah ketiga, tutup ember rapat-rapat, rekatkan dengan lakban
d. Pastikan valve/katup udara pada posisi tertutup
e. Lakukan pengecekan dan pengambilan data sampling secara periodik setiap tiga hari sekali selama sembilan hari
f. Dengan mengamati volume botol, apakah terjadi perubahan volume botol? Lakukan sesuai dengan poin e
g. Dengan membakar ujung pentil bola menggunakan pemantik, apakah terjadi proses pembakaran gas metana pada ujung pentil bola? Lakukan sesuai dengan poin e
3.2. Penelitian pada reaktor dengan katalisator kacang kedelai
a. Langkah pertama, masukkan 7 kg sampah organik yang sudah dicacah atau ditumbuk, kemudian tambahkan 1,5 liter air sebagai media
b. Langkah kedua, tambahkan 1 kg kacang kedelai sebagai katalis
c. Langkah ketiga, tutup ember rapat-rapat, rekatkan dengan lakban
d. Pastikan valve/katup udara pada posisi tertutup
e. Lakukan pengecekan dan pengambilan data sampling secara periodik setiap tiga hari sekali selama sembilan hari
f. Dengan mengamati volume botol, apakah terjadi perubahan volume botol? Lakukan sesuai dengan poin e
g. Dengan membakar ujung pentil bola menggunakan pemantik, apakah terjadi proses pembakaran gas metana pada ujung pentil bola? Lakukan sesuai dengan poin e
3.3. Penelitian pada reaktor dengan katalisator EM4
a. Langkah pertama, masukkan 7 kg sampah organik yang sudah dicacah atau ditumbuk, kemudian tambahkan 1,5 liter air sebagai media
b. Langkah kedua, tambahkan delapan sendok makan EM4 sebagai katalis
c. Langkah ketiga, tutup ember rapat-rapat, rekatkan dengan lakban
d. Pastikan valve/katup udara pada posisi tertutup
e. Lakukan pengecekan dan pengambilan data sampling secara periodik setiap tiga hari sekali selama sembilan hari
f. Dengan mengamati volume botol, apakah terjadi perubahan volume botol? Lakukan sesuai dengan poin e
g. Dengan membakar ujung pentil bola menggunakan pemantik, apakah terjadi proses pembakaran gas metana pada ujung pentil bola? Lakukan sesuai dengan poin e
C. Subjek dan Tempat Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah objek yang mampu memberikan informasi untuk merumuskan suatu masalah. Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah biogas yang terbuat dari sampah organik serta bahan penambahnya yang diteliti kemampuannya untuk mempercepat pembentukan gas metana.
2. Tempat Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat kegiatan penelitian dilakukan. Penelitian ini dilaksanakan di SMAS Laboratorium Percontohan UPI. Lokasi ini dipilih karena memudahkan proses penelitian yang tidak memerlukan banyak mobilisasi biogas dari tempat penyimpanannya.
Rancangan Reaktor Penampungan dan Indikator Biogas (Dokumentasi Pribadi)
A. Hasil Produksi Gas Metana
Di hari pemeriksaan pertama, tiga hari setelah biogas dibuat, mulai terlihat adanya gas metana dari biogas dengan tambahan bakteri pengurai EM4. Biogas dengan tambahan telur ayam dan kacang kedelai tidak menunjukkan perubahan.
Di hari pemeriksaan kedua, enam hari setelah biogas dibuat, tidak terlihat lagi adanya gas metana dari tiga biogas dengan bahan penambah berbeda. Biogas dengan tambahan telur ayam kemungkinan mengalami kebocoran karena tercium baunya.
Di hari pemeriksaan ketiga, sembilan hari setelah biogas dibuat, pengujian dengan korek gas mendeteksi adanya gas metana pada biogas dengan tambahan kacang kedelai dan bakteri pengurai EM4.
B. Volume Indikator
Di hari pemeriksaan pertama, indikator dari ketiga biogas dengan bahan penambah berbeda belum terlihat bekerja optimal untuk menampung gas hasil pembusukan. Di hari pembuatan biogas, indikator biogas dengan tambahan bakteri pengurai tidak terkompresi secara maksimal sehingga terlihat lebih banyak gas hasil pembusukan jika dibandingkan dengan indikator biogas dengan bahan penambah lainnya.
Di hari pemeriksaan kedua, tidak ada perubahan yang terlihat pada bentuk ketiga indikator biogas dibandingkan bentuk indikator pada pemeriksaan pertama.
Di hari pemeriksaan ketiga, perubahan volume pada ketiga indikator masih belum terlihat.
C. Uji Nyala Api
Di hari pemeriksaan pertama, tidak terlihat adanya pengaruh pada nyala api yang dipengaruhi oleh ketiga biogas yang diujicobakan.
Di hari pemeriksaan kedua, tidak terlihat adanya pengaruh pada nyala api yang dipengaruhi oleh ketiga biogas yang diujicobakan.
Di hari pemeriksaan ketiga, dapat terlihat adanya gas yang dihasilkan dari ketiga biogas. Keberadaan gas metana dapat terlihat dari perubahan yang terjadi pada nyala api yaitu dengan adanya percikan pada api yang dipengaruhi oleh biogas dengan zat penambah kacang kedelai. Terlihat juga sedikit percikan pada api yang dipengaruhi oleh biogas dengan zat penambah bakteri pengurai (EM4). Namun, tidak terlihat adanya gas metana pada uji coba nyala api dari biogas dengan zat penambah telur karena gas yang terlihat muncul tidak menyebabkan perubahan pada nyala api.
D. Perhitungan Perolehan Waktu Produksi
Penelitian ini hanya berlangsung selama 10 hari masa produksi dan tiga kali pengecekan gas setiap tiga hari sekali terhitung setelah hari pertama produksi. Pada penelitian ini, diterapkan formula volume sampah organik sebanyak setengah dari wadah yang digunakan. Perbandingan bahan utama/sampahorganik dengan katalisator telur ayam dan katalisator kacang kedelai adalah 7:1. Sementara itu, sampah organik dengan katalisator bakteri pengurai (EM4) memiliki perbandingan 7:0,12. Dari formula yang ditetapkan, diperoleh gas metana sembilan hari setelah biogas diproduksi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa belum ada katalisator yang efektif dalam mempercepat masa produksi biogas. Apabila formula yang sama digunakan produksi gas metana pada biogas akan terbentuk secara lebih optimal jika dilakukan perpanjangan proses pembusukan. Hal tersebut terjadi karena hasil produksi gas metana akan berbanding lurus dengan waktu yang diperlukan dalam proses pembusukan.
Hasil Pengecekan Biogas Setiap Katalisator Hari ke-1
Hasil Pengecekan Biogas Setiap Katalisator Hari ke-2
Hasil Pengecekan Biogas Setiap Katalisator Hari ke-3
A. Simpulan
Berdasarkan simpulan yang telah dipaparkan, saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut.
1. Katalisator yang menggunakan bahan asam amino seperti telur ayam dan kacang kedelai tidak menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Gas metana yang dihasilkan sulit untuk dideteksi karena tidak ada nyala api saat dilakukan pengecekan rutin. Namun, biogas dengan telur ayam sebagai katalisatornya memiliki kemungkinan adanya gas metana karena mengeluarkan bau pekat.
Sementara itu, biogas yang menggunakan bakteri pengurai atau kacang kedelai sebagai katalisator menunjukan hasil akhir yang cukup untuk membuktikan adanya gas metana yang diproduksi. Terlihat dari adanya percikan api setelah dilakukan pengecekan berkala.
2. Pada eksperimen ini diperoleh hasil bahwa produksi biogas dapat dipercepat menggunakan katalisator tambahan. Setelah melalui 10 hari masa produksi biogas dengan tiga jenis katalisator, dapat disimpulkan bahwa biogas dengan tambahan bakteri pengurai (EM4) lebih efektif digunakan jika dibandingkan dengan biogas dengan tambahan telur ayam dan kacang kedelai. Lamanya waktu produksi biogas sampah organik yang ditambahkan katalis belum menunjukkan hasil yang signifikan untuk digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti LPG. Selain itu, biogas memerlukan biaya yang lebih banyak dibandingkan LPG yang mudah dijangkau oleh masyarakat dari berbagai kalangan.
B. Saran
Berdasarkan simpulan yang telah dipaparkan adapun saran yang dapat kami berikan sebagai berikut:
Untuk menghindari terjadinya kebocoran pada biogas dapat dilakukan pengecekan bahan dasar dari setiap alat juga wadah yang digunakan. Dipastikan kembali bahwa bahan yang digunakan kedap udara sehingga meminimalisir terjadinya kebocoran gas.
Untuk meminimalisir terjadinya beberapa kegagalan akibat human error pada saat tahap produksi dapat lebih berhati-hati pada setiap langkah kerja yang akan dilakukan.
Untuk mengalirkan gas yang lebih optimal pada wadah indikator, diperlukannya lubang saluran yang lebih besar agar gas yang timbul bisa mengalir secara maksimal ke indakator sehingga dapat terlihat katalisator manakah yang lebih efektif menghasilkan gas metana dari volume indikator tersebut.
Untuk mendapatkan hasil gas yang lebih optimal sehingga benar bisa digunakan sebagai bahan bakar alternatif, perlunya memperhatikan segala faktor yang dapat menghambat produksi ataupun faktor yang dapat mempercepat produksi gas seperti faktor ketahanan wadah dan suhu tempat penyimpanan biogas.
DAFTAR PUSTAKA
Aidha, E. R., & Septriani, Y. (2017). Studi Perolehan Biogas dari Sampah Organik dan Alga (Sargassum SP). Jurnal Sains dan Teknologi Vol 17 no 1.
Arifin, W. (2016). Rancangan Bangun Alat Konversi Biogas Limbah Cair Tempe dan Pengujian dengan Penambahan Variasi Campuran Sekam Padi. Diambil kembali dari ums.ac.id: http://eprints.ums.ac.id/41975/1/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf
Dihni, V. A. (2021). Layanan Konsumen & Kesehatan: databoks. Diakses pada 1 Maret 2023, dari databoks: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/11/22/mayoritas-rumah-tangga-indonesia-menggunakan-gas-elpiji-untuk-memasak
Irawan, D., & Suwanto, E. (2016). Pengaruh EM4 (Effective Microorganisme) Terhadap Produksi Biogas Menggunakan Bahan Baku Kotoran Sapi. Lampung: Turbo: Jurnal Proram Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Metro.
Martasanti , F. Y. (2002). Perbandingan Kadar Asam Amino Pada Telur Ayam Arab Hasil Persilangan Dan Telur Ayam Kampung Dengan High Speed Amino Acid Analyzer. Surabaya : Fakultas Farmasi UBAYA. Diambil kembali dari Perpustakaan Universitas Surabaya: https://digilib.ubaya.ac.id/index.php?page=view/daftarpustaka_detail&key=150709
Maschun. (2014). News & Article: Dana Mitra Lingkungan . Diakses pada 15 Februari 2023, dari Dana Mitra Lingkungan : https://dml.or.id/news-articles/biogas-sampah-rumah-tangga.html
Saragih, B. R., & M.K., I. G. (2010). Analisis potensi biogas untuk menghasilkan energi listrik dan termal pada gedung komersial di daerah perkotaan (Studi kasus pada Mal Metropolitan Bekasi). Depok: Universitas Indonesia.
Pambudi, S., Kirom, M. R., & Suhendi, A. E. (2018). Pengaruh Kadar Keasaman (pH) Terhadap Biogas Dengan Menggunakan Campuran Kotoran Hewan dan Substrat Kentang Busuk Pada Reaktor Anaerob. Bandung: Fakultas Teknik Elektro Universitas Telkom.
Widi, S. (2022). Sektor Riil: Energi & SDA: DataIndonesia.id. Diakses pada 28 Februari 2023, dari DataIndonesia.id: https://dataindonesia.id/sektor-riil/detail/konsumsi-lpg-indonesia-capai-7292-juta-barel-pada-2021