BAB I : PENDAHULUAN
Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari bahan-bahan alami, seperti kotoran hewan, bagian tubuh hewan, dan tumbuhan yang bermanfaat untuk penyuburan tanah. Menurut Rinsema (1993), pupuk organik yang baik mutunya bermanfaat untuk memperbaiki dan mempertahankan kesuburan tanah. Dalam aplikasinya, pupuk organik ini pada umumnya diberikan melalui tanah namun dapat juga diberikan melalui daun (Musnamar, 2004).
Berbagai bahan limbah dapat dibuat untuk dibuat sebagai pupuk organik, contoh: limbah rumah tangga, pabrik makanan, dan hewan ternak. Pupuk organik dibuat hingga menghasilkan unsur hara (mikro dan makro) yang berperan penting dalam proses pembentukan klorofil, pembentukan enzim dalam tanaman, serta pembentukan lemak dan karbohidrat. Pupuk organik dapat dijadikan dua jenis yaitu : pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Pupuk organik cair dapat dibuat dengan memanfaatkan sampah, seperti kulit bawang, kulit pisang dan sisa-sisa sayuran dengan cara merendam sampah tersebut di air dan ditunggu selama 2 malam. Cairan pupuk organik tersebut dapat digunakan untuk tanaman yang terserang hama kutu putih, ulat, dan serangga penggangu. Sedangkan ampas hasil rendaman dicampurkan dengan media tanah agar tanaman tumbuh dengan subur karena mengandung kalsium dan fosfor pada kulit bawang.. Penyemprotan pupuk cair dilakukan pada saat sore menjelang malam hari saat cuaca saat tidak hujan dan rutin dilakukan agar tanaman tetap terhindar dari serangan hama.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana proses pengolahan sampah organik menjadi pupuk biopestisida?
2. Apa saja unsur yang terkandung dalam pupuk biopestida?
3. Apa manfaat yang didapat jika tanaman diberi pupuk biopestisida?
1.3 TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan penggolahan:
1. Mengetahui cara pengolahan sampah organik menjadi pupuk bio-pestisida
2. Mengetahui manfaat dari mengolah pupuk bio-pestisida dari sampah organik
3. Mengetahui pemanfaatan sampah organik yaitu : kulit bawang, kulit pisang dan sisa sayuran
1.4 MANFAAT PENULISAN
Hasil pengolahan ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis sebagai berikut:
1. Mengurangi sampah organik rumah tangga
2. Meminimalisasi polusi dan pencemaran yang ditimbulkan oleh sampah organik rumah tangga
BAB II : KERANGKA KONSEP
2.1 Sampah Organik
1. Pengertian
Sampah organik merupakan sampah yang mudah membusuk, dan berasal dari sisa makanan, sayuran, dedaunan kering, dan sejenisnya. Sampah jenis ini mudah terurai secara alami dan dapat dimanfaatkan dengan prosedur yang benar.
2. Masalah Sampah Organik
Pada lingkungan dampak yang terjadi menyebabkan punahnya flora dan fauna serta menyebabkan kerusakan pada unsur – unsur alam seperti terumbu karang, tanah, perairan hingga lapisan ozon. Selain itu dapat menimbulkan bau busuk yang berdampak pada kesehatan.
2.2 Biopestisida
1. Pengertian
Menurut Mazid (2011) biopestisida adalah bagian daripada adanya pestisida biokimia yang sejatinya tersusun dari beragam senyawa-senyawa alami dan bersifat tidak meracuni yang digunakan untuk mengendalikan Organisme Penganggu Tanaman dalam bidang pertanian.
2. Fungsi Biopestisida
Biopestisida bermanfaat bagi tanaman karena menjaga kesehatan tanaman, mengendalikan serangan hama dan penyakit serta dapat menyuburkan tanaman.
2.3 Pupuk Organik
1. Pengertian
Pupuk Organik merupakan pupuk yang terdiri dari sisa-sisa tanaman hewan dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk cair atau padat.
2. Manfaat Pupuk Organik
Pupuk organik memiliki beberapa manfaat yang baik bagi tanaman, seperti meningkatkan struktur tanah dan membantu tanah menjadi lebih subur. Karena pupuk organik memiliki kandungan seperti nitrogen, fosfor, kalium yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman.
2.4 Pupuk Kimia
1. Pengertian
Pupuk yang dibuat secara kimia atau bisa disebut juga dengan pupuk buatan. Pupuk kimia bisa dibedakan menjadi pupuk kimia tunggal dan pupuk kimia majemuk. Pupuk kimia tunggal hanya memiliki satu macam hara, sedangkan pupuk kimia majemuk memiliki kandungan hara yang lebih lengkap.
2. Masalah Pupuk Kimia
Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dapat memicu kerusakan lingkungan contohnya seperti tanah mengeras hal ini disebabkan penggunaan pupuk kimia meningkatkan kadar asam diidalam tanah, asam klorida dan asam sulfat dalam tanah melarutkan remah-remah tanah yang kaya akan mineral oleh karena itu tanah kehilangan pororitasnya.
BAB III : METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Metode pengolahan yang digunakan adalah metode deskriptif komparatif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian dengan metode studi perbandingan dilakukan dengan cara membandingkan persamaan dan perbedaan sebagai fenomena untuk mencari faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya suatu peristiwa tertentu. Adapun cara lainnya dengan memperbandingkan faktor atau variabel mana yang paling berpengaruh terhadap perubahan yang terjadi pada hasil penelitian yang sedang berlangsung.
Tujuan dari metode deskriptif ini adalah untuk membuat gambaran atau lukisan secara sistematis, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta antarfenomena yang diselidiki.
3.2 Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di suatu rumah di daerah Bandung Barat
Tempat: Jl. Sariwangi Blok J no.15A
Waktu : 14 Februari 2023 – 24 Februari 2023
3.3 Sampel Penelitian
Objek yang digunakan yaitu tanaman selada kemudian membandingkannya dengan tanaman selada yang diberi pupuk biopestisida dan tanaman selada yang diberi pupuk kimia. Penelitian ini berlangsung selama sepuluh hari. Dengan menyemprotkan cairan biopestisida yang telah dibuat. Waktu penyemprotan dilakukan pada sore menjalang malam hari saat cuaca tidak hujan.
3.4 Proses Penelitian
Penelitian dimulai dengan pengumpulan bahan utama pembuatan pupuk biopestisida, kemudian mengolahnya dengan merendam bahan tersebut di dalam air selama dua malam. Selanjutnya cairan tersebut dipisahkan dengan ampasnya, lalu cairan tersebut baru bisa dipakai setelah mencampurkannya dengan air yang massa perbandingannya 1:10.
BAB IV : HASIL PENELITIAN
4.1 Hasil Penelitian
Penelitian dimulai dengan pengumpulan bahan utama pembuatan pupuk biopestisida, kemudian mengolahnya dengan merendam bahan tersebut di dalam air selama dua malam. Selanjutnya cairan tersebut dipisahkan dengan ampasnya, lalu cairan tersebut baru bisa dipakai setelah mencampurkannya dengan air yang massa perbandingannya 1:10. Sedangkan, agar ampasnya tidak terbuang sia-sia, bisa dijadikan pupuk padat yang dicampur dengan media tanah.
Dapat disimpulkan bahwa pada hari pertama selada yang ditanam masih berupa kuncup. Pada hari kedua, kuncup daun selada semakin lebar. Pada hari ketiga, mulai tumbuh daun-daun kecil. Pada hari keempat dan seterusnya, daun-daun pun semakin lebar dan berlapis-lapis, serta siap dipanen.
Didalam kulit bawang terdapat senyawa acetogenin yang memiliki keistimewaan sebagai anti-feeden yang bermanfaat sebagai penolak serangga atau hama, sehingga mereka enggan memakan tanaman. Bahkan, keistimewaan tersebut berpotensi membunuh hama atau serangga. Selain itu, kulit bawang memiliki hormon auksin dan giberilin yang berfungsi sebagai hormon pertumbuhan. Disamping itu, jika sudah diolah menjadi biopestisida, kulit bawang memiliki beberapa tambahan senyawa lain, yaitu kalium, kalsium, dan fosfor.
Manfaat yang didapatkan dari penelitian ini yaitu tanaman selada yang diberi pupuk biopestisida tidak akan terserang dari organisme pengganggu tanaman dan penyakit. Selain itu, kualitas daunnya lebih baik karena memiki daun yang hijau dan segar, serta rasa daunnya yang cenderung tidak pahit. Manfaat lain yaitu, tanaman selada yang diberi pupuk biopestisida memiliki ketahanan yang lebih lama dibandingkan pupuk kimia.
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan, bahwa diketahui proses pengolahan sampah organik rumah tangga, kulit bawang menjadi pupuk biopestisida adalah : merendam kulit bawang selama dua hari. Selain itu, manfaat yang didapat dari tanaman selada yang diberi pupuk biopestisida adalah tidak terserang dari hama kutu putih, ulat, serangga-serangga pengganggu, tanaman tumbuh dengan subur, kualitas daun selada lebih segar dan rasanya tidak pahit, daya simpannya juga lebih lama dibanding selada yang menggunakan pupuk kimia. Kandungan unsur yang terdapat dalam kulit bawang diantaranya: acetogenin, hormone auksin dan giberilin, kalium, kalsium, dan fosfor yang bermanfaat sebagai penolak serangga dan hama, serta menyuburkan tanaman.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian berjudul “Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga Menjadi Pupuk Biopestisida”, maka penulis memiliki beberapa saran yang dapat dievaluasi kembali sebagai acuan selanjutnya agar bisa lebih baik, yaitu :
1. Membandingkan perbedaan pertumbuhan tanaman selada pupuk kimia secara langsung.
2. Memanfaatkan sampah organik rumah tangga lainnya seperti kulit pisang agar tidak terbuang sia-sia.
DAFTAR PUSTAKA
“Pemanfaatan Kulit Bawang Merah untuk Tanaman” http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/94229/Pemanfaatan-kulit-bawang-merah-untuk-tanaman/
“Apa Itu Biopestisida?”
https://pustaka.setjen.pertanian.go.id/index-berita/apa-itu-biopestisida
“Pemanfaatan Limbah Kulit Bawang Sebagai Pestisida dan Pupuk Organik”
https://ummaspul.e-journal.id/pengabdian/article/download/4229/1601
“Pupuk Kimia Memiliki Kekurangan dan Kelebihan?”
http://www.litbang.pertanian.go.id/tahukah-anda/223/
“Biopestisida Sebagai Pengendali Organisme Penganggu Tanaman (OPT) Yang Ramah Lingkungan”
https://pertanian.trunojoyo.ac.id/wp-content/uploads/2012/03/9JUNED-EMBRYO-1.pdf