Telur asin merupakan makanan yang sudah sangat familiar di lidah orang Indonesia. Disisi lain bidang biologi sangat berperan dalam proses fermentasi telur asin. Dalam fermentasi ini garam yang terdapat pada adonan luar telur akan menembus cangkang yang nantinya akan memberikan rasa asin pada telur. Fermentasi yang digunakan dalam pembuatan telur asin yaitu fermentasi spontan sebab, dalam tidak ditambahkan bakteri atau starter dalam pembuatannya. Tetapi, bakteri bertumbuh dalam proses fermentasinya. Bakteri yang berperan yaitu asam laktat dan halofilik, asam laktat menghasilkan asam laktat yang memberi rasa asam, menghambat bakteri jahat, dan membuat telur asin awet lebih lama. Bakteri Halofilik bakteri ini tahan garam dan membantu memecah protein dalam telur, mengubah teksturnya. Telur asin ini juga merupakan hasil fermentasi yang terjadi akibat pertukaran zat dalam larutan sehingga menghasilkan keragaman mikroorganisme dan mikrobia oleh garam. Fermentasi yang dilakukan secara konvensional umumnya memerlukan banyak waktu agar telur tersebut dapat terfermentasi dengan baik.
Fermentasi yang dilakukan secara konvensional umumnya memerlukan banyak waktu agar telur tersebut dapat terfermentasi dengan baik. Telur asin ini juga merupakan hasil fermentasi yang terjadi akibat pertukaran zat dalam larutan sehingga menghasilkan keragaman mikroorganisme dan mikrobia oleh garam. Fermentasi yang dilakukan secara konvensional umumnya memerlukan banyak waktu agar telur tersebut dapat terfermentasi dengan baik. Salah satunya dengan melakukan penambahan faktor seperti suhu. Pada suhu ruangan telur dapat terfermentasi dengan baik dalam 10 hari sedangkan pada suhu rendah fermentasi akan lebih lama. Semakin tinggi suhu juga sangat berpengaruh dalam proses fermentasi sehingga dengan adanya konsep fisika yaitu melalui rangkaian seri, dapat mempercepat waktu fermentasi telur tersebut sehingga tidak memerlukan waktu yang lama untuk menghasilkan telur asin. Fermentasi dari telur asin pun tergolong mudah, namun tak banyak orang tahu bahwa telur asin dapat dijadikan usaha dan peluang bagi mereka yang masih mencari pekerjaan, serta mengasah kreativitas masyarakat dalam membuat suatu inovasi yang baru terhadap telur asin.
Kreativitas kita kini semakin sering diuji di dalam kehidupan kita sehari-hari, entah dalam hal soft skill maupun hard skill. Tak menutup kemungkinan juga diuji melalui bagaimana cara kita memiliki penghasilan dari usaha pribadi kita, telur asin menjadi salah satu makanan yang dapat menghasilkan peluang pekerjaan. Telur asin tidak memerlukan keahlian khusus, namun telur asin sendiri memerlukan ketelatenan dan juga kesabaran sang produsen. Kreativitas dan inovasi masyarakat pun diuji melalui produksi telur asin mereka, karena seperti yang kita ketahui telur asin memiliki rasa yang sudah paten dari dulu, namun jika masyarakat mau berinovasi tidak ada larangan untuk mengkreasikan rasa dari telur asin sendiri.
Tetapi dari inovasi untuk memproduksi telur asin dengan rasa yang berbeda, juga pasti akan menemui rintangan yang akan menghambat masyarakat untuk memproduksi telur asin yang baik. Rintangan yang dihadapi pun beragam, seperti keterbatasan bahan dan alat, keterbatasan dalam pengetahuan mengenai bagaimana caranya mem-fermentasi telur asin, lalu mendapatkan telur bebek / ayam yang busuk, mengalami kebusukkan pada saat fermentasi dan masih banyak lagi rintangan yang dihadapi sebagai produsen telur asin. Beberapa masyarakat pasti ada yang keberatan dengan resiko tersebut, di lain sisi pun masih banyak masyarakat yang menghargai telur asin dengan mengkonsumsinya.
Masyarakat yang mengkonsumsi telur asin pun akhirnya turut membantu meningkatkan penjualan telur asin dan juga membantu melestarikan tradisi dan budaya lokal. Pembuatan telur asin seringkali melibatkan metode pembuatan yang tradisional dengan berbagai rasa yang unik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Peningkatan peminat telur asin dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Hal tersebut dapat meningkatkan pendapatan dari usaha penjualan telur asin. Usaha baru dalam penjualan telur asin dapat mengubah hierarki sosial, di mana perilaku usaha kecil bisa mendapatkan status yang lebih tinggi.
Selain itu proyek ini bertujuan untuk agar kami dan masyarakat dapat memahami proses pengawetan telur menggunakan teknik fermentasi sederhana. Pertama kami menyiapkan bahan utama berupa telur bebek, garam, serbuk batu bata hingga bumbu-bumbu yang bertujuan sebagai perasa. Bahan ini kami gunakan karena kami yakin bahan ini efektif dalam proses fermentasi telur asin. Kami menghancurkan batu bata hingga menjadi serbuk, lalu mencampurkan serbuk batu bata tersebut dengan air, garam, dan bumbu yang akan dipakai hingga adonan mencapai bentuk yang diinginkan. Sembari menunggu adonan siap dibuat, beberapa dari kami mengamplas lapisan telur supaya pori” yang ada di telur terbuka dan rasanya bisa masuk kedalam telur.
Kemudian telur yang sudah diamplas dibalut dengan adonan yang sudah dibuat hingga tertutup rapat. Setelah telur sudah dibalut letakkan di wadah fermentasi yang akan ditutup dengan kain/plastik guna menjaga kelembaban yang ada di dalam wadah tersebut. Proses fermentasi ini membutuhkan waktu kurang lebih 14 hari untuk mencapai tingkat rasa yang diinginkan. Melalui proyek ini, kami ingin masyarakat bisa tahu bagaimana proses fermentasi telur asin, bagaimana telur bisa memiliki rasa asin, dan bagaimana cara agar fermentasi telur asin ini bisa berhasil tanpa ada kegagalan.
Telur asin sendiri mampu menjadi sarana mata pencaharian karena pembuatannya yang cukup mudah, yang diperlukan hanya kesabaran dan ketelatenan dari setiap produsen yang membuat. Memang biologi dan fisika sangat berpengaruh pada pembuatan telur asin ini. Namun, itu semua akan berjalan ketika telur asin mulai difermentasikan. Mari, jadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang rendah pengangguran dan kriminalitas.