Senjata samurai yang paling terkenal adalah katana, pedang melengkung dengan satu sisi tajam yang menjadi simbol mereka. Selain katana, samurai juga menggunakan berbagai senjata lain seperti wakizashi (pedang pendek), yari (tombak), naginata (tombak berbilah panjang), yumi (busur panjang Jepang), dan tanegashima (senapan sumbu).
Mandau adalah senjata tradisional suku Dayak di Kalimantan yang memiliki fungsi beragam, mulai dari alat kerja sehari-hari, senjata perang, hingga simbol budaya dan spiritual. Senjata ini terbuat dari bilah besi dengan pegangan dan sarung yang sering dihiasi ukiran dan ornamen khas.
"Panah Papua" merujuk pada busur dan anak panah tradisional yang merupakan senjata paling populer di Papua, digunakan untuk berburu dan berperang. Senjata ini terbuat dari bahan alami seperti kayu untuk busur dan mata panah dari tulang, bambu, atau batu, dan terkadang dilapisi racun tumbuhan untuk menambah daya serang. Beberapa jenis panah khusus juga ada, seperti "Panah Supa" untuk perang dan "Panah Warn Wakiwy" untuk berburu.
eris adalah senjata tradisional Nusantara dari Indonesia yang memiliki bilah asimetris, sering kali berkelok, dan dianggap sebagai pusaka budaya dengan makna simbolis, filosofis, serta kekuatan magis. Selain sebagai senjata, keris juga berfungsi sebagai simbol status, perlengkapan upacara adat, dan barang seni yang bernilai estetika tinggi.
rencong adalah senjata tradisional yang berasal dari Aceh, Indonesia. Senjata ini memiliki bentuk unik seperti huruf 'L' dan dulunya digunakan untuk bela diri, pertahanan, dan perlawanan terhadap penjajah. Saat ini, rencong lebih berfungsi sebagai simbol keberanian dan kebanggaan masyarakat Aceh serta menjadi bagian dari upacara adat
merujuk pada pisau atau senjata tajam yang digunakan oleh para raja atau pemimpin Mesir Kuno, terutama dalam konteks upacara keagamaan atau ritual. Salah satu pisau yang terkenal adalah pisau perunggu yang ditemukan dalam makam Firaun atau dalam konteks pemakaman, yang berfungsi sebagai simbol kekuatan dan status. Pisau ini juga kadang digunakan sebagai bagian dari peralatan upacara atau untuk tujuan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pisau yang paling terkenal adalah Pisau Tutankhamun, yang ditemukan dalam makam raja Tutankhamun di Lembah Para Raja pada tahun 1922 oleh arkeolog Howard Carter. Pisau ini memiliki hulu yang indah dan terbuat dari bahan berkualitas tinggi, dengan bilah yang terbuat dari besi meteorit—bahan yang sangat langka pada masa itu, karena besi tidak diproduksi secara luas oleh peradaban Mesir Kuno. Selain itu, pisau-pisau semacam ini sering kali dihiasi dengan ukiran atau ornamen yang menunjukkan status atau kekuasaan pemiliknya. Dalam konteks budaya Mesir Kuno, pisau juga sering dianggap sebagai benda sakral yang memiliki makna spiritual dan simbolis, sering dipakai dalam upacara pemakaman untuk melindungi roh orang yang telah meninggal atau untuk digunakan dalam proses pemakaman itu sendiri.