“Write what you think, share what you mean.”
Tangerang Selatan, (23/5) – Menulis mungkin terdengar seperti hal yang sederhana. Tinggal menentukan topik, merangkai kata, lalu menyelesaikannya. Kenyataannya, memulai tulisan justru sering menjadi bagian yang paling sulit. Ada kalanya sudah memiliki banyak hal yang ingin disampaikan, tetapi bingung harus memulainya dari mana. Berangkat dari hal tersebut, PKA PKN STAN 2026 menyelenggarakan Workshop #1 Kepenulisan pada Sabtu, 23 Mei 2026 secara daring.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi Pengurus dan Awardee PKA 2026 untuk belajar bahwa menulis tidak hanya berkaitan dengan tugas kuliah atau kewajiban akademik. Di luar itu, tulisan dapat menjadi cara untuk menyampaikan pendapat, menceritakan pengalaman, menyimpan pemikiran, atau bahkan membagikan sesuatu yang mungkin bermanfaat bagi orang lain. Karena itu, peserta diajak untuk melihat proses menulis dengan cara yang lebih sederhana dan dekat dengan keseharian mereka.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ketua PKA dan pengenalan narasumber sebelum masuk ke sesi materi. Pembahasan kemudian berjalan secara interaktif, mulai dari bagaimana menemukan ide ketika merasa tidak tahu harus menulis apa, mengembangkan ide yang sudah ditemukan, hingga menyusun tulisan agar gagasan yang ingin disampaikan tidak terasa berantakan. Peserta juga diperkenalkan pada bagaimana kemampuan menulis dapat dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan, baik untuk akademik, organisasi, maupun publikasi.
Meski dilakukan melalui Zoom Meeting, suasana kegiatan tetap terasa cukup hidup. Peserta diberi kesempatan untuk bertanya dan membagikan kesulitan yang mereka alami ketika menulis. Beberapa pertanyaan yang muncul juga terasa dekat dengan pengalaman mahasiswa sehari-hari. Di sela-sela materi, mini games turut diberikan untuk mencairkan suasana sebelum kegiatan kembali dilanjutkan.Tidak hanya berhenti pada materi, peserta kemudian diberikan tugas essay dengan topik bebas. Di bagian ini, peserta mulai berhadapan langsung dengan tantangan yang sebenarnya: menuangkan sesuatu yang ada di kepala menjadi tulisan. Ada proses memilih ide, menentukan apa yang ingin disampaikan, lalu mencoba menyusunnya menjadi beberapa paragraf yang saling terhubung. Mungkin hasilnya belum sempurna, tetapi dari situlah proses belajar benar-benar dimulai. Sebab, kemampuan menulis tidak terbentuk hanya dengan mengetahui banyak kata atau memahami teori. Menulis membutuhkan kebiasaan untuk mencoba, membaca kembali, menemukan bagian yang kurang, kemudian memperbaikinya. Tulisan pertama mungkin masih terasa kaku atau belum sesuai harapan, tetapi tulisan berikutnya selalu punya kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, Workshop #1 bukan hanya tentang bagaimana menulis dengan baik, tetapi tentang keberanian untuk mulai menulis. Dari sebuah ide sederhana yang awalnya hanya tersimpan di kepala, peserta belajar memberinya bentuk melalui kata-kata. Dan mungkin, dari tulisan-tulisan sederhana itulah akan lahir gagasan yang dapat dibaca, dibagikan, dan membawa sesuatu yang berarti bagi orang lain.