Pembuatan atap rumah ramah lingkungan BANSTYRO pun tidak luput dari keempat aspek tersebut. Pengujian dilakukan dengan membagi sampel menjadi tiga. Perincian dari perbandingan dapat dilihat pada tabel berikut:
Seluruh pengujian yang dilakukan selalu berdasarkan standar SNI 0096:2007, yaitu:
A. Beban lentur
Genteng beton harus mampu menahan beban lentur minimal seperti tabel di bawah ini.
B. Penyerapan Air
Penyerapan air maksimal 10%.
C. Ketahanan terhadap rembesan air (impermeabilitas)
Tidak boleh ada tetesan air dari permukaan bagian bawah genteng dalam waktu 20 jam ± 5 menit.
Pengujian kuat lentur dengan metode destruktif dilakukan sebab genting harus mampu menahan beban yang berada di atasnya. Uji kuat lentur ini menguji seberapa besar berat beban yang dapat ditahan oleh sampel ketika mesin pembeban diaktifkan. Langkah pertama uji kuat lentur dimulai dengan mengukur sampel menggunakan penggaris yang bersatuan sentimeter. Uji ini dilanjutkan dengan meletakkan kayu sebagai perata beban yang dijepit di antara sampel dengan penekan beban. Selanjutnya, mesin pembeban diaktifkan dengan memutar tuas beban. Ketika tuas pada mesin pembeban diaktifkan, massa beban yang ditekankan pada sampel akan semakin bertambah. Perubahan massa beban yang terjadi dapat diukur melalui alat ukur bernama manometer (alat yang digunakan untuk mengukur tekanan). Pengujian dilakukan dengan mengamati perubahan angka pada manometer pembebanan hingga menunjukkan angka maksimal dan mengamati perubahan sampel hingga penurunan maksimal.
Syarat mutu SNI 0096:2007 menerapkan mengenai ketentuan beban lentur yang diterapkan pada genting beton. Beban ditunjukkan dengan satu Kilo Newton (kN) pada semua sampel yang diuji. Syarat mutu tersebut menyatakan bahwa genting beton non-interlock dapat menahan beban lentur minimal sebesar 550 Newton (0.55 kN). Hal ini pun, berkaitan erat tergantung tinggi dan sampel profil yang diujikan. Peneliti melakukan uji kuat lentur dengan tujuan mengetahui beban maksimal yang dapat ditahan oleh masing-masing sampel.
Pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa sampel A dan B memiliki hasil yang berbeda dengan sampel C. Sampel A dan B mampu menahan beban dengan berat yang sama, yaitu 0,33 kN atau setara dengan 330 N. Pada sampel C, dihasilkan bahwa beban maksimal yang dapat ditahan oleh sampel tersebut adalah 0,44 kN atau setara dengan 440 Newton. Perincian dari hasil uji kuat lentur yang dilakukan menghasilkan nilai-nilai antara lain sebagai berikut pada Tabel 4.
Dari pengujian kuat lentur yang dilakukan, dapat dianalisis bahwa sampel C memiliki potensi menahan beban paling baik di antara sampel A dan B. Sehingga, dapat diperkirakan bahwa semakin banyak massa pasir dan ban yang terkandung, maka kekuatan sampel akan semakin besar. Bertambah dan berkurangnya ketebalan sampel pun berpengaruh terhadap hasil beban maksimal yang dapat ditahan walaupun perbandingan komposisinya lebih rendah dari sampel yang lain. Selain itu, panjang tumpuan sampel tidak berpengaruh terhadap hasil beban maksimal yang dapat ditahan sejak mesin pembeban diaktifkan.
Hasil uji kuat lentur yang dilakukan menunjukkan berbagai hasil yang berbeda-beda. Perbandingan antara komposisi masing-masing sampel berpengaruh terhadap hasil yang tersaji. Pengujian kuat lentur menghasilkan bahwa masing-masing sampel BANSTYRO tidak dapat menahan kekuatan daya lentur melebihi 550 Newton atau 0,55 kN sesuai syarat mutu SNI 0096:2007. Dengan hasil tersebut, dapat diperkirakan bahwa BANSTYRO dapat berpotensi menjadi genting beton ringan.
Uji Serapan adalah pengujian yang membandingkan antara berat awal dan berat akhir pada suatu sampel. Berat awal dihitung dengan cara menimbang sampel yang telah direndam selama 24 jam sementara berat kering dihitung setelah sampel di oven dengan temperatur 105 110 °C selama 24 jam dan diletakkan pada desikator untuk penyerapan uap air selama ± 2 jam. Pada pengujian serapan ini, ban memiliki keunggulan karena sifatnya yang tidak menyerap air. Hal ini membuat BANSTYRO memiliki potensi dalam uji serapan.
Syarat mutu SNI 0096:2007, menyatakan syarat mutu uji serapan pada genting benton. Syarat mutu SNI adalah penyerapan air maksimal 10%. Pengujian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui nilai presentase penyerapan air pada BANSTYRO. Guna mengetahui seberapa besar presentase penyerapan air maka dilakukan perendaman selama 24 jam dan memasukkan BANSTYRO pada oven. Melalui hal tersebut, peneliti dapat dengan mudah mengukur nilai presentase penyerapan. Hasil dari uji serapan yang telah dilakukan menghasilkan nilai seperti yang tertera pada Tabel 5.
Melalui perhitungan rumus, diperkirakan bahwa sampel B dan sampel C memiliki potensi serapan yang memenuhi syarat mutu SNI yaitu penyerapan maksimal 10%. Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa sampel A memiliki presentase 12,58%, sampel B memiliki presentase 9,18%, sementara sampel C memiliki presentase 9,30% sehingga kedua sampel tersebut telah memenuhi SNI. Sampel B memiliki serapan yang lebih baik dari sampel C. Hal yang dapat kita ketahui melalui uji penyerapan ini yaitu, massa ban, styrofoam, semen, dan pasir dapat memengaruhi hasil uji.
Pada penelitian ini, produk yang diteliti merupakan gabungan dari beberapa benda yang memiliki sifat dan karakteristik yang bermacam-macam. Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini memanfaatkan limbah yang membahayakan kesehatan tubuh dan mengotori lingkungan. Sifat ban dan styrofoam yang digunakan pada penelitian ini masing-masing memiliki sifat tahan air. Selain itu, sifat styrofoam yang tergolong pada jenis plastik expanded polystyrene sehingga dapat menahan kebocoran yang terjadi (Setyowati, dkk, 2017). Dengan adanya sifat tahan air dan tahan bocor tersebut, diperkirakan terdapat potensi untuk mencegah kebocoran jika diterapkan sebagai atap rumah.
Syarat mutu menurut SNI 0096:2007, menyatakan syarat uji kebocoran yaitu tidak boleh ada tetesan air dari permukaan bagian bawah genting dalam waktu 20 jam ± 5 menit. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui potensi BANSTYRO dalam sifat kebocoran sesuai dengan syarat mutu SNI 0096:2007. Guna mengetahui kebocoran pada BANSTYRO, maka kedua sampel BANSTYRO dikelilingi dengan pembatas yang terbuat dari seng. Hal ini dilakukan agar memudahkan peneliti dalam mengamati banyak air yang jatuh ke tanah ketika air Gambar 5. Uji Serapan Sampel A Berat awal 0.8871 gram Gambar 6. Uji Serapan Sampel A Berat kering 0.7755 gram Gambar 7. Uji Serapan Sampel B. Berat Awal 0.7743 gram Gambar 8. Uji Serapan Sampel B Berat kering 0.7032 gram Gambar 9. Uji Serapan Sampel C Berat awal 0,7811 gram Gambar 10. Uji Serapan Sampel C Berat awal 0,7084 gram ditungkan di atas sampel. Uji coba kebocoran dilakukan dengan menuangkan air secukupnya di sisi permukaan bagian atas sampel BANSTYRO. Setelah itu, peneliti mengobservasi ada ataupun tidaknya kebocoran pada sisi permukaan bagian bawah selama 20 jam ± 5 menit.
Uji kebocoran dilakukan dengan menempatkan ketiga sampel di tempat yang sama dengan meminimalisir intensitas sinar ultraviolet. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya perbedaan proses evaporasi yang memungkinkan terjadi. Berdasarkan hasil eksperimen dari uji kebocoran yang tertera pada, diperkirakan bahwa sampel A, B, dan C tidak terjadi kebocoran. Perkiraan tersebut diperkuat dengan tidak adanya tetesan air dari permukaan bagian bawah genting yang jatuh ke tanah dalam waktu 20 jam ± 5 menit. Artinya, sampel A, B, dan C memenuhi syarat mutu SNI 0096:2007. Hasil dari uji kebocoran yang dilakukan menghasilkan nilai-nilai seperti pada Tabel 6.
Berdasarkan uji coba kebocoran yang dilakukan, diperkirakan semakin banyak massa ban, styrofoam, semen, dan pasir yang digunakan sebagai campuran, maka semakin besar potensi untuk menahan kebocoran yang terjadi. Dalam penelitian ini, perkiraan tersebut diperkuat dengan adanya bukti bahwa sampel A, B, C tidak ada tetesan air dari permukaan bagian bawah genting dalam waktu 20 jam ± 5 menit setelah air dituangkan.
Pengujian temperatur dalam penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui besar temperatur di bawah sinar matahari yang dapat ditahan oleh masing-masing sampel. Pengujian ini dilakukan dengan cara menaruh sampel A, B, dan C diatas bata yang sudah di tata mengelilingi dengan ukuran ruangan sebesar 11 cm x 4.5 cm x tinggi 22 cm. Setiap sampel dijemur di bawah sinar matahari selama 30 menit. Kemudian dilakukan pengukuran terhadap masing-masing sampel. Pengukuran ini dilakukan dengan mengarahkan termometer pada bagian atas permukaan dan bagian bawah (dalam) permukaan untuk mengetahui perbandingan besar temperatur dari kedua permukaan.
Temperatur di atas atap mewakili kondisi di luar ruangan atau kondisi di “luar rumah” sedangkan temperatur di bawah atap tersebut mewakili kondisi di dalam ruangan atau kondisi di “dalam rumah” (jika atap BANSTYRO sudah terpasang). Untuk sampel A, temperatur luar ruangan adalah 42,8°C, sementara temperatur di dalam ruangan mencapai 29,7°C. Dengan cara yang sama, perbedaan temperatur luar ruangan unruk sampel B yaitu 43,6°C dan di dalam ruangan sebesar 30,5°C. Selain itu, sampel C menunjukkan suhu 44,2°C di luar ruangan dan 30,8°C di dalam ruangan. Sehingga, semakin besar massa ban dan styrofoam maka suhu ruangan yang dihasilkan semakin rendah.