Indonesia menjadi negara yang menghasilkan karet alam terbesar kedua di dunia. Hal ini diperinci dengan produksi karet kering Indonesia tiap tahun rata-rata mencapai 3,37 juta ton atau berkontribusi terhadap hampir seperempat produksi karet dunia (Puspa, 2022). Penggunaan karet salah satunya digunakan sebagai bahan utama ban kendaraan bermotor. Di Eropa, terdapat lebih dari 300 juta ban kendaraan yang diganti setiap tahunnya. Kendaraan yang dimaksud yaitu kendaraan berpenumpang dan kendaraan truk (ETRMA, 2019). Permasalahandari adanya penumpukkan limbah ban bekas ini tidak hanya terjadi di Eropa. Namun, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta turut menjadi korban dalam menumpuknya limbah ban atau yang memiliki istilah lain berupa end life tire (ELT). Peneliti menemukan permasalahan limbah ELTdi area sekitar peneliti yaitu di daerah Gondolayu, Yogyakarta. Para penjual ban bekas di daerah ini biasa menumpuk ban bekas hingga menunggu konsumen datang. Ban yang tidak segera terbeli akan menumpuk hingga membuat lingkungan menjadi kumuh. Lebih lanjut, potensi perkembangbiakan nyamuk akan terjadi khususnya pada musim hujan karena terdapat ruang pada ban yang dapat menjadi genangan air. Kejadian ini akan sangat membahayakan Kesehatan masyarakat serta mencemari lingkungan.
Jenis sampah lain yang membutuhkan waktu lama untuk terurai yaitu sampah dari limbahstyrofoam. Styrofoam menjadi material yang sulit untuk terurai dan membutuhkan waktu sekitar 500-1.000.000 tahun untuk terurai (Puspa, 2022). Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat sebanyak 27.000 hingga 590.000 ton sampah yang didominasi oleh styrofoam masuk ke laut Indonesia pada tahun 2018 (Antara, 2019). Dikutip dari website bernama Jurnal Depok, terdapat puluhan kubik sampah styrofoam terbuang begitu saja di Kali Licin, Depok, Jawa Barat. Sampah-sampah styrofoam yang tertumpuk kerap memenuhi kali hingga menjadi pemicu terjadinya banjir di kawasan Jembatan Grogol. Selain mengganggu kenyamanan, mengakibatkan banjir, dan memicu pendangkalan kawah kali, salah satu warga Depok bernama Alwi mengatakan bahwa keberadaan stryrofoam yang tercemar kerap menimbulkan bau tidak sedap (Tarmuji, 2023). Setelah melewati proses penguraian, styrofoam tidak sepenuhnya aman melainkan berubah menjadi mikroplastik yang lebih berbahaya untuk ekosistem
Masyarakat harus menangani kondisi ini bersama dengan pemerintah sebab permasalahan ini menjadi tugas besar bersama. Pada penelitian sebelumnya, peneliti telah meneliti maggot sebagai salah satu media yang bermanfaat untuk membantu mengatasi permasalahan limbah organik. Saat ini, peneliti mempunyai insiatif untuk memberikan solusi permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh sampah anorganik berupa limbah ban dan limbah styrofoam. Inovasi yang peneliti lakukan yaitu membuat komposit pengganti atap rumah yang dinamakan dengan BANSTYRO (Ban Styrofoam). Peneliti menerapkan metode 3R yaitu Reuse, Recycle, dan Reduce untuk menjalankan penelitian ini. Penelitian ini diharapkan mampu mengurangi risiko kesehatan dan pencemaran lingkungan serta membuat inovasi solusi berkelanjutan dengan memanfaatkan limbah ban dan limbah styrofoam menjadi barang bernilai jual dan guna tinggi.