Bandung, Sabtu 13 September 2025 — Yayasan Fathul Huda Bandung kembali menyelenggarakan kegiatan rutin bulanan At-Ta’dib bagi guru dan staf MIMHa. Kegiatan kali ini dilaksanakan di ruang kelas 7 MTs Informatika MIMHa, dengan menghadirkan narasumber Ibu Nia R. Raihanah, S.Psi., Psikolog.
Pada kesempatan ini, tema yang diangkat adalah “Diagnosa Akademik dan Strategi Pembelajaran Terdiferensiasi”. Tema tersebut dipilih karena sangat relevan dengan tantangan guru masa kini yang dihadapkan pada keberagaman karakter, minat, serta kemampuan belajar peserta didik di dalam kelas.
Dalam pemaparannya, Ibu Nia menekankan bahwa diagnosa akademik merupakan langkah awal yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Guru perlu memahami kondisi awal siswa—baik dari sisi kemampuan, minat, maupun gaya belajarnya—sebelum menentukan strategi mengajar.
Beliau mengibaratkan guru seperti seorang dokter. Sebelum memberikan “obat”, dokter harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Begitu pula guru, perlu “mendiagnosa” kebutuhan belajar siswa agar pembelajaran yang diberikan benar-benar tepat sasaran dan bermakna.
Setelah diagnosa akademik dilakukan, langkah berikutnya adalah menerapkan pembelajaran terdiferensiasi.
Pembelajaran terdiferensiasi bukan berarti guru harus membuat kurikulum yang berbeda-beda untuk setiap anak. Intinya, guru menyesuaikan cara mengajar dengan kebutuhan, minat, dan gaya belajar siswa agar semua anak mendapat kesempatan belajar yang optimal.
Ada tiga aspek utama dalam pembelajaran terdiferensiasi:
Diferensiasi Konten (Materi)
Materi disusun dengan tingkat kesulitan yang beragam sesuai kemampuan siswa.
Diferensiasi Proses (Cara Belajar)
Guru dapat menggunakan metode yang variatif, seperti diskusi, eksperimen, proyek kreatif, hingga permainan edukatif.
Diferensiasi Produk (Hasil Belajar)
Siswa diberi kebebasan mengekspresikan pemahamannya, misalnya melalui presentasi, poster, tulisan, atau karya seni.
Dalam praktiknya, pembelajaran terdiferensiasi bisa diterapkan secara fleksibel dan menyenangkan, misalnya:
Siswa yang gemar olahraga belajar Matematika melalui simulasi skor pertandingan.
Siswa yang menyukai seni memahami IPA dengan menggambar siklus air.
Siswa yang senang bernyanyi menghafal kosakata bahasa asing lewat lagu.
Siswa dengan minat sains diberi tantangan eksperimen sederhana.
Siswa yang kuat di bidang bahasa mengekspresikan materi lewat cerita atau puisi.
Pendekatan ini membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan dunia siswa, sehingga mereka lebih antusias dan terlibat aktif di kelas.
Melalui kegiatan At-Ta’dib ini, guru dan staf MIMHa tidak hanya mendapatkan wawasan baru, tetapi juga didorong untuk langsung mempraktikkan pembelajaran terdiferensiasi di kelas masing-masing.
Kepala MTs Informatika MIMHa menegaskan bahwa upaya ini sejalan dengan komitmen yayasan dalam membangun proses belajar yang ramah, menyenangkan, dan mampu mengoptimalkan potensi unik setiap peserta didik.
Dengan mengikuti kegiatan At-Ta’dib secara rutin, para guru MIMHa diharapkan semakin profesional, adaptif, dan siap menghadapi dinamika pendidikan modern, sehingga mampu mengantarkan peserta didik menjadi generasi yang berkarakter, unggul, dan siap menghadapi masa depan.