Welcome to My Blogger!
DAFTAR ISI
Baiklah bapak/ibu semuanya. Setelah saya membaca Modul 1.1.A. Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara yang mana bapak tokoh nasional kita (KHD) membedakan makna pendidikan dan pengajaran. Pendidikan adalah proses pembelajaran bersifat sepanjang waktu dan pengajaran adalah proses dari penyampaian nilai-nilai pendidikan itu sendiri.
Ada cocok bapak/ibu?
Salam penggerak.. 😁
Apa bagian yang paling menarik bagi saya? Mengapa?
Apa tujuan pendidikan yang dapat dilihat dari video ini pada zaman Kolonial?
Apa persamaan dan perbedaan antara proses pembelajaran pada zaman Kolonial dengan proses pembelajaran saat ini?
Bagian yang paling menarik dari video tersebut adalah kehadiran taman siswa yang dipelopori oleh Ki hajar Dewantara. Dimana terjadi terjadi perubahan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Taman siswa sebagai gerbang emas kemerdekaan dan kebebasan bangsa. Pendidikan yang sebelumnya hanya dinikmati oleh kalangan tertentu, dengan kehadiran taman siswa terjadi pemerataan dalam mendapatkan hak pendidikan.
Tujuan pendidikan pada zaman kolonial adalah membantu usaha dagang mereka.
Persamaannya memberikan pengetahuan dan keterampilan. Sedangkan perbedaannya, jika pada masa kolonial pendidikan dibuat untuk kepentingan mereka dan hanya pada golongan tertentu saja. Pendidikan masa kini didesain untuk kepentingan siswa dan semua mendapatkan hak pendidikan yang sama.
Apa intisari pemikiran KHD tentang pendidikan?
Bagaimana Anda memandang diri Anda sebagai pembelajar (guru) dan pemelajar (murid) jika dikaitkan dengan pemikiran KHD?
Berikut saya paparkan jawaban saya dalam format audio pada link drive di bawah ini: Jika anda menggunakan email belajar.id klik disini dan jika anda menggunakan email pribadi klik disini!
Setelah memaknai konsep dalam materi di modul 1.1 ini, pertanyaan yang masih muncul di benak saya adalah:
Kenapa di saat saya jadi pendidik harus menjadi pelaku pelaksana konsep/ filosofi pendidikan sebagus ini?
Kenapa tidak di masa saya menjadi peserta didik dari dulu? Padahal dari dulu saya sangat megidamkan proses pembelajaran yang berorietasi pada murid seperti saat KURMER ini!
Dipastikan nilai-nilai guru Penggerak ada lima sebagaiman yang telah dipaparkan oleh kawan-kawan. Baik itu (mandiri, kolaboratiof, inovatif, reflektif dan berpihak pda murid) Namun, ada pertanyaan dari saya apa perbedaan antara berpihak pada murid dengan berpusat pada murid?
Menurut Bapak/Ibu, apa saja hal yang bekerja secara alami pada diri seorang manusia dan mempengaruhi bagaimana manusia dalam berperilaku?
Menjurut hemat saya, ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi karakter dan perilaku manusia, antara lain: 1. Dari sisi pengetahuannya, 2. Keahliannya (skilnya) dan 3. kemampuannya dalam bersikap dan bertindak. Ketiga hal ini saling berkesinambungan satau dengan lain. Yang mana ketiga hal itu dapat mempengaruhi setiap manusia pada umumnya ke arah baik ataupun buruk. Di antara ketiga hal di atas ada satu hal yang paling sulit dimiliki oleh manusia pada umumnya, yaitu kemampuannya dalam bersikap dan bertindak. karena , butuh kemampuan kontrol diri (hawa nafsu) yang unggul untuk menuju perilaku manusia yang bermartabat dan berkarakter.
Bagaimana Bapak/Ibu memahami cara kerja otak, 5 kebutuhan dasar manusia, tahap tumbuh-kembang anak berserta pengaruhnya pada pembentukan kebiasaan dan nilai-nilai hidup manusia? Mengapa demikian?
Menurut Bapak/Ibu nilai-nilai apa yang perlu dikuatkan sebagai guru penggerak? Mengapa demikian?
Menurut pemahaman saya dari bacaan materi di atas. Setiap manusia memilik pengatur dan pengontrol yang luar biasa diberikan oleh Allah yang bernama OTAK sebagai pengatur dan HATI sebagai pengawas. Hal ini dikarenakan, manusia yang setiap detik selalu melalui proses meskipun itu kecil (detik. second). Yang mana proses inilah yang harus dimanfaatkan oleh setiap insan sebaik-baiknya. Jika bagus pemanfaatannya maka bagus pula hasilnya.
Menurut saya nilai dari ilmu psikologi. dikarenakan ilmu ini sangatlah amat perlu dan penting bagi setiap orang yang hari-harinya berinteraksi dengan orang-orang lainnya. Teritama kita guru, yang tugasnya mencerdaskan anak bangsa serta memanusiakan manusia.
Sebelum Bapak/Ibu mempelajari materi pada sesi ini, silakan renungkan apa makna dari pernyataan: manusia merdeka adalah manusia yang berdaya dalam memilih dan mereka termotivasi dari dalam?
Manusia yang bebas dalam berfikir, bebas dalam bersikap adalah sosok manusia yang mampu hidup dalam lingkungan masyarakat dan bermanfaat bagi orang banyak. Hal ini tak luput dari motivasi dari jati diri si manusia itu sendiri.
Manakah dari nilai-nilai Guru Penggerak yang dikuatkan setelah Bapak/Ibu memahami teori pilihan dan motivasi intrinsik?
Tindakan spesifik apa yang dapat dilakukan untuk menguatkan diri Bapak/Ibu sendiri untuk memberdayakan murid dalam memilih jalan kodratnya sekaligus menguatkan tumbuhnya motivasi intrinsik mereka dalam mengejawantahkan Profil Pelajar Pancasila?
Setelah memahami teori pilihan dan motivasi intrinsik, maka yang harus dikuatkan adalah semua nilai-nilai guru penggerak, mulai dari mewujudkan kepemimpinan, mandiri, reflektif, inovatif, kolaborasi, dan yang paling penting berpihak pada murid. Lantaran dengan adanya kemampuan-kemapuan ini untuk memilih secara rasional dan motivasi yang berasal dari internal tanpa rangsangan atau pengaruh dari luar, maka potensi terpendam pada diri peserta didik akan teroptimalkan dengan sendirinya.
Ada banyak kegiatan spesifik yang bisa saya lakukan sebagai guru penggerak untuk menguatkan tumbuhnya motivasi intrinsik dalam jati diri murid untuk menanamkan nilai-nilai dari Profil Pelajar PAncasila (P3), antara lain: Mempelajari ilmu agama dan menerapkannya, membangun kelompok diskusi yang harmonis dengan guru dan murid, sharing sebelum mulainya pembelajaran, membuat kegiatan P5/ project dengan seru, menyenangkan dan bermakna, aktif mendengarkan murid saat dalam pembelajaran dan selalu membersamai murid dalam kegiatan sekolah
Menurut Bapak/Ibu, bagaimana struktur sistemik lingkungan dalam pembentukan nilai-nilai dalam diri seseorang?
Lingkungan memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap seseorang. Lingkungan buruk dapat merusak nilai-nilai diri seseorang begitupun sebaliknya. Namun, hal ini dapat dibentengi dengan karakter seseorang yang sudah kokoh dan paten karena internalnya sudah kuat maka pengaruh dari luarnya pun akan sulit mempengaruhi (merusak) jati dirinya.
Apa kaitan antara diagram identitas gunung es dengan penumbuhan Profil Pelajar Pancasila pada murid dan transformasi pendidikan?
Apa konsekuensi logis dari diagram identitas gunung es pada peran saya sebagai Guru Penggerak dalam transformasi pendidikan?
Kesadaran dan pemahaman terhadap diagram identitas gunung es bisa membuat Kita mengoptimalkan penumbuhan Profil Pelajar Pancasila pada murid. Alasannya karena dengan diagram identitas gunung es, maka Kita menyadari bahwa potensi siswa lebih banyak yang tidak terlihat daripada yang muncul ke permukaan. Selanjutnya juga, terkait dengan Profil Pelajar Pancasila, maka semestinya Kita menyadari bahwa potensi karakter tersebut lebih banyak berada di alam bawah sadar, atau wilayah yang tidak ditampakkan oleh peserta didik.
Adapun konsekuensi logis diagram identitas gunung es pada peran saya adalah sebagai penuntun karakter yang tak tampak pada murid sehingga dengan keberhasilan mewujudkan identitas gunug es diharapkan transformasi pendidikan di Indonesi bisa terwujud. Peran guru penggerak dalm transformasi Pendidikan adalah menjadi pemimpin dan teladanbagi lingkungan di sekelilingnya dengan nilai-nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpusat pada muird.
Setelah memaknai konsep dalam materi di modul 1.2 ini, pertanyaan yang masih muncul di benak saya adalah .....
Diantara 5 nilai-nilai guru penggerak...
Nilai manakah yang paling pokok untuk sikuasai oleh guru penggerak? Ataupun semuanya harus dikuasai oleh GP?
Sebagai guru penggerak saya memimpikan "Murid-murid yang Berakhlaqul Karimah dengan Nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila, Mengikuti Zaman dan Aktif di Lingkungan Masyarakat". Dengan berlandaskan beberapa hal antara lain:
Senantiasa Beriman dan Bertaqwa kepada Allah
Senantiasa Belajar Secara Mandiri dan Kreatif
Mengutamakan Pendidikan Karakter bagi Murid
Senantiasa Belajar Secara Aktif dan Kolaboratif
Memanfaatkan Fasiltias Sekolah dengan Optimal
Namun untuk mencapai itu semua tidaklah mudah mengingat keterbatasan saya maka dari itu saya membutuhkan kritik dan saran dari kawan-kawan semuanya.
Tugas Bapak/Ibu adalah menceritakannya tahap demi tahap menggunakan kanvas B-A-G-J-A.
Klik tombol Buat Salinan
Setelah selesai diisi, klik tombol Bagikan/Shared file kanvas BAGJA yang sudah Bapak/Ibu buat agar bisa dibaca oleh CGP lain
Berikut saya lampirkan bayangan impian saya dengan menggunakan rumus B-A-G-J-A pada format link ini!
Pertanyaan pemandu untuk pemapar:
Apa dan mengapa harapan saya penting untuk dijadikan visi?
Pertanyaan pemandu untuk penyimak:
Apa (sudut pandang, kalimat yang digunakan, harapan) yang dapat saya apresiasi dari visi rekan saya?
Sebagai manusia normal pada umumnya sudah pasti menjadikan harapan mereka menjadi visi dalam kehidupan mereka. Namun, tak selamanya harapan yang baik menjadi visi yang baik. Adakalanya harapan seseorang menghalalkan segala cara sehingga tidak menguntungkan orang banyak bahkan merugikan khalayak orang banyak. Maka dari itu sudah sewajarnya selaku guru penggerak memiliki harapan yang mulia dan bermanfaat bagi khalayak orang banyak seperti harapan saya ingin "menumbuhkan akhlaqul karimah dengan nilai profil pelajar pancasila". hal ini saya jadikan sebagai visi saya dikarenakan menurut saya pendidikan karakter pada anak jauh lebih harus diutamakan terlebih dahulu agar dapat memudahkan proses transfer pengetahuan lainnya. Adapun yang dapat saya apresiasi dari visi rekan saya (Bpk. Darmawan) begitu jelas dan terarah. Rekan saya mempunyai harapan dan visi yang sangat mulia yaitu 'Mewujudkan siswa yang berkarakter (Berahlaqul karimah)mandiri kratif menuju merdeka belajar'.
Apa hal yang mencerahkan saya sebagai pendidik di sepanjang proses menyusun visi pribadi saya itu?
Bagaimana saya membayangkan penerapan inkuiri apresiatif dalam konteks saya sehari-hari sebagai pendidik?
Dalam menyusun visi pribadi saya selaku pendidik saya merasakan beberapa hal, antara lain:
Pengetahuan dan pemahaman yang mendalam terkait hal yang ingin saya capai
Saya melakukan identifikasi nilai dan tujuan saya ke depan
Saya mampu belajar dari pengalaman ataupun mereview ulang
Saya berkoordinasi dengan rekan pendidik lainnya di sekolah saya
Saya mencoba browsing tentang penelitian dan pembaruan terkait hal yang ingin saya capai
Saya melakukan muhasabah diri sebagai wujud refleksi dan evaluasi diri saya
Hal yang saya bayangkan dalam penerapan inkuiri apresiatif dalam konteks sebagai pendidik adalah saya akan menerapkan model BAGJA sebagai proses PERUBAHAN yang akan dibuat, yaitu antara lain:
Dengan memahami kekuatan atau potensi positif apa yang dimiliki baik dari dalam diri maupun lingkungan
Menyusun rencana perubahan atau visi sesuai dengan pendekatan inkuiri apresiatif.
Melakukan evaluasi terhadap hal positif yang ada dan berkolaborasi dengan semua pihak demi terwujudnya visi tersebut
Mengidentifikasi kendala/ masalah yang muncul dan mencari solusi bersama dengan mengedepankan musyawarah/ kolaborasi.
Bekerja sama dengan berbagai unsur (seperti kepala sekolah, guru, murid, orangtua murid, pemangku kepentingan, dan unsur masyarakat) untuk berbagi peran agar terwujudnya perubahan ini
Mengkomunikasikan hal ini dalam lingkungan sekolah secara rutin untuk evaluasi demi perubahan.
Sebagai persiapan untuk berdiskusi bersama instruktur,ada beberapa hal yang perlu Anda laksanakan, yaitu menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang akan disampaikan kepada instruktur ketika pertemuan tatap maya dengan instruktur.
Beberapa pertanyaan yang akan menguatkan pemahaman saya akan materi konsep di Modul 1.3 ini adalah:
Anda saja saya lebih dulu belajar terkait materi dalam modul ini. Kira-kira sejauh mana sudah penerapan yang sudah saya laksanakan?